Istri Bayaran Milik Tuan Raja

Istri Bayaran Milik Tuan Raja
Bab 7 Seleksi Awal (Part 2)


__ADS_3

Cleantha mengikuti Bu Siska yang berjalan lurus memasuki sebuah ruangan berpintu kayu besar.


Meski tidak muda lagi, Bu Siska memiliki langkah kaki yang sama cepatnya dengan Edo, pria yang tadi mengantarkan Cleantha ke vila.


Barangkali semua karyawan Raja Adhiyaksa memang diwajibkan memiliki karakter seperti itu. Bergerak lincah secepat kilat untuk melasanakan tugas-tugasnya. Andai benar demikian, maka Cleantha yakin akan langsung tersisih pada putaran pertama.


"Duduk Nona," perintah Bu Siska mengayunkan tangannya ke arah kursi berwarna hitam.


"Iya, Bu."


Cleantha menggeser kursinya sangat hati-hati agar tidak menimbulkan suara berisik.


Di depan Cleantha terletak sebuah meja panjang dengan lapisan kaca tebal di atasnya. Sementara di seberang meja itu telah duduk seorang pria muda berjas hitam. Mata pria itu tak lepas menatap Cleantha semenjak ia memasuki ruangan.


Pria muda itu memiliki wajah yang lumayan menarik, ditunjang penampilan ala eksekutif kelas atas. Namun auranya terasa dingin bak sebongkah gunung es. Bahkan pancaran matanya seolah mampu membekukan lawan bicaranya, termasuk Cleantha.


Cleantha bisa mendengar gemuruh jantungnya sendiri yang ingin meloncat keluar dari rongga dadanya. Bernafas pun kini terasa sulit, ketika ia harus menghadapi satu wanita bertampang galak dan satu pria berwajah datar di hadapannya.


"Nona Cleantha, apa Anda tahu tujuan Anda mengikuti kompetisi ini?" tanya Bu Siska mengawali pembicaraan.


"Tentu saja, Bu. Saya mendaftar untuk menjadi pengasuh putri pemilik Adhiyaksa Group," jawab Cleantha meremas jari jemari tangannya sendiri yang terasa dingin.


"Lalu apakah Anda tahu siapa pemilik Adhiyaksa Group?" lanjut Bu Siska memicingkan matanya.


"Beliau adalah Tuan Raja Adhiyaksa."


"Dari mana Anda mendapat informasi itu, Nona? Kami tidak mencantumkan nama Tuan Raja di pengumuman kompetisi."


"Kebetulan kakak perempuan saya bekerja sebagai staf akuntansi di Adhiyaksa Multifinance."


Bu Siska manggut-manggut lalu mengetikkan sesuatu di laptopnya.


"Bagus, Nona. Minimal Anda sudah mengetahui sedikit tentang Tuan Raja. Bos kami adalah orang yang berwibawa, tegas, disiplin, dan pekerja keras. Beliau selalu menyeleksi setiap calon pegawainya dengan standar yang tinggi. Karena itu, hari ini Tuan Raja secara khusus menugaskan asisten pribadinya untuk membantu saya melakukan wawancara."


Bu Siska membetulkan letak kacamatanya sebelum memperkenalkan pria dingin yang duduk di sebelahnya.


"Ini adalah Tuan Dion Santosa, asisten pribadi Tuan Raja."


Cleantha menganggukkan kepala sebagai tanda hormat kepada sang asisten. Anehnya, ia merasa pernah mendengar nama Dion disebutkan oleh seseorang. Sayangnya ia tidak ingat siapa orang itu.


Bu Siska kembali memandang layar laptopnya lalu beralih kepada Cleantha.


"Berapa berat dan tinggi badan Anda, Nona?"


"Berat saya 46 kg, tinggi saya 160cm," jawab Cleantha singkat.


"Nona, Anda adalah lulusan sarjana akuntansi dengan nilai cum laude. Tapi kenapa Anda malah melamar sebagai pengasuh anak? Apakah Anda masih belum punya pekerjaan sampai sekarang?" tanya Bu Siska langsung pada intinya.


"Iya, Bu. Saya sudah melamar ke beberapa perusahaan tapi belum diterima," jawab Cleantha merasa malu.


"Jadi Anda ini pengangguran, Nona. Pantas saja Anda nekad mengikuti kompetisi yang tidak sesuai dengan kapasitas Anda. Mungkin juga Anda sedang mengalami kesulitan finansial," kata Bu Siska menarik kesimpulan sendiri.

__ADS_1


"Tuan Dion, sekarang giliran Anda yang bertanya pada Nona Cleantha," ucap Bu Siska penuh hormat.


Pria bernama Dion itu menggeser kursinya lebih mendekat ke meja.


"Nona Cleantha, disini tertulis bahwa status Anda lajang. Apakah Anda tidak memiliki pacar dan tidak sedang menjalin hubungan dengan seorang pria?"


Pertanyaan Dion yang menjurus ke masalah pribadi, membuat Cleantha tertegun.


Seolah bisa membaca pikiran gadis itu, Dion menambahkan penjelasan di belakang pertanyaannya.


"Saya harap Nona menjawabnya dengan jujur. Tuan Raja menginginkan pengasuh yang berstatus single. Tidak memiliki hubungan asmara. Urusan percintaan hanya akan mengganggu pekerjaan," tukas Dion menekankan suaranya.


"Saya...tidak memiliki pacar, Tuan," jawab Cleantha jujur.


Setelah menerima jawaban Cleantha, Dion membuat tanda ceklis pada selembar kertas yang dipegangnya.


"Berikutnya Nona, apa motivasi Anda mengikuti kompetisi ini? Dan jika Nona memenangkan uang seratus juta, uang itu akan digunakan untuk apa?"


Cleantha menarik nafas sejenak untuk menenangkan dirinya.


"Saya mengikuti kompetisi karena ingin memenangkan hadiah seratus juta. Bila saya menang, uang itu akan saya gunakan untuk melunasi hutang saya, Tuan. Ayah saya terserang stroke dan saya harus berhutang untuk membiayai operasinya."


Dion menaikkan alisnya ke atas saat mendengarkan jawaban Cleantha.


Ia mengamati tiap pergerakan tubuh Cleantha sekaligus mimik wajahnya. Mungkin saja asisten Raja itu diam-diam menguasai ilmu mikro ekspresi, sehingga bisa mendeteksi mana orang yang berkata jujur dan mana yang bohong.


"Seumpama Nona menang, apakah Anda bersedia terikat kontrak dengan Tuan Raja selama satu tahun? Selama kontrak berlangsung, Anda diwajibkan tinggal di kediaman Tuan Raja. Selain itu, Nona tidak boleh bertemu dengan keluarga Nona dan harus memenuhi setiap perintah dari Tuan Raja."


Terbayang di benaknya bahwa Raja Adhiyaksa adalah sosok yang dominan, arogan dan sangat menakutkan. Jika terpilih menjadi pengasuh putrinya, barangkali Raja akan meremukkan tulang-tulangnya bila ia berani melakukan kesalahan.


Namun ibarat menyeberang lautan, Cleantha sudah sampai di tengah-tengah. Ia tidak punya pilihan selain maju terus ke depan.


"I..iya, Tuan, saya bersedia terikat kontrak."


"Bagus, Nona. Ini pertanyaan terakhir dari saya."


Dion berdehem sebentar sebelum melanjutkan kata-katanya.


"Apakah Anda masih virgin, Nona? Maksud saya adalah...apakah Anda masih perawan dan belum pernah melakukan hubungan suami istri dengan seorang pria?"


Lagi-lagi pertanyaan Dion membuat Cleantha tercengang. Ia tidak menyangka jika pria itu sampai mengajukan pertanyaan memalukan kepada peserta kompetisi. Apalagi hal ini menyangkut kehormatan seorang gadis.


"Kenapa Tuan Dion menanyakan hal-hal yang tidak berhubungan dengan pengasuhan anak? Dia malah menjurus ke masalah pribadiku. Kompetisi ini semakin aneh saja,"


pikir Cleantha curiga.


"Nona, tolong jawab pertanyaan saya. Jawaban Nona kali ini akan menentukan apakah Nona lolos ke tahap berikutnya atau tidak. Dan ingat Nona harus jujur! Jika nanti Anda terbukti berbohong, maka Tuan Raja tidak akan segan menuntut Anda," tegas Dion masih mempertahankan ekspresi datarnya.


Pria itu nampak tidak merasa canggung, walaupun memaksa Cleantha mengungkapkan fakta tentang kesuciannya.


"Saya...masih virgin, Tuan. Saya tidak berbohong."

__ADS_1


Dion memberikan tanda ceklis untuk kedua kali pada kertasnya. Setelah itu, ia berbisik kepada Bu Siska.


"Baik, Nona Cleantha, sesi wawancara sudah selesai. Mari ikut saya ke ruang tunggu. Nona akan menerima pengumuman dari kami sekitar dua jam lagi," ucap Bu Siska berdiri dari kursinya.


Tanpa bertanya, Cleantha kembali mengikuti Bu Siska menuju ke ruangan lain di vila itu. Ia sendiri tidak mampu menghitung ada berapa banyak ruangan di vila Chrysant.


Bu Siska mendahului Cleantha menuju ke ruangan luas berkarpet putih. Disitu ada sederetan kursi yang telah berjajar rapi. Tiga orang pelayan wanita tampak berjaga mengawasi para peserta.


Apabila Cleantha tidak salah hitung, kurang lebih ada dua puluh gadis cantik yang menunggu bersamanya di tempat itu. Masih ditambah dua gadis lagi di luar sana.


"Pesertanya lumayan banyak dan mereka cantik-cantik. Mungkin mereka juga berpengalaman dalam mengasuh anak kecil. Peluangku sangat kecil untuk menang,"


pikir Cleantha pesimis.


"Silakan tunggu disini, Nona. Saya harap Nona menjaga ketenangan dan tidak perlu mengobrol dengan peserta lain," tegas Bu Siska sebelum melangkah pergi.


...****************...


Lebih dari dua jam, Cleantha menunggu hasil pengumuman dalam harap-harap cemas.


Kaki dan pinggangnya sudah terasa pegal akibat harus duduk berjam-jam tanpa melakukan pergerakan. Suasana di ruangan itu pun lengang layaknya di pemakaman. Tidak ada peserta yang berani membuka mulutnya karena takut akan terkena diskualifikasi.


Penantian panjang mereka baru berakhir saat terdengar bunyi derak pintu kayu terbuka dari luar.


Semua peserta menengok ke arah yang bersamaan. Mata mereka mengikuti ayunan langkah Bu Siska yang berjalan ke tengah ruangan.


"Selamat sore Nona, Nona. Maaf membuat kalian menunggu lama. Saya akan segera mengumumkan sepuluh peserta yang melaju ke tahap selanjutnya."


Bu Siska menyentuh layar tablet yang dipegangnya, lalu segera membacakan hasil wawancara.


"Peserta pertama yang lolos adalah Jessica Riana, yang kedua, Mirela Ananda,...."


Cleantha menyimak dengan seksama nama gadis yang disebutkan oleh Bu Siska. Hampir saja ia putus harapan, saat namanya tidak kunjung disebut hingga urutan kesembilan.


"Aku tidak diterima menjadi pengasuh. Pasti karena aku tidak memenuhi kualifikasi yang mereka inginkan,"


batin Cleantha sedih.


"Dan peserta kesepuluh atau yang terakhir lolos adalah...Nona Cleantha Hastomo."


Ucapan Bu Siska membuat Cleantha terhenyak. Suara wanita itu bagai nyanyian paling merdu yang pernah didengar telinganya. Bahkan Cleantha hampir saja menangis karena tidak percaya dengan keajaiban yang diterimanya.


"Bagi peserta yang tidak disebutkan namanya, silakan pulang. Terima kasih atas partisipasi kalian," ucap Bu Siska.


Dua orang pelayan mengantarkan para peserta keluar dari ruangan itu. Sementara kesepuluh peserta yang lolos tetap duduk di kursi mereka.


"Nona sekalian, malam ini kalian diizinkan pulang untuk berkemas. Besok pukul sepuluh pagi kalian harus kembali ke vila ini. Dan kalian harus tinggal selama beberapa hari untuk mengikuti seleksi berikutnya."


Bu Siska berhenti sejenak untuk meminum segelas jus yang diberikan oleh seorang pelayan.


"Mulai besok, Nyonya Zevira Adhiyaksa sendiri yang akan menilai sikap kalian. Jadi harap jaga sikap dan sopan santun, serta lakukan yang terbaik. Terima kasih," ucap Bu Siska mengakhiri pengumumannya.

__ADS_1


__ADS_2