
"Clea, kenapa tidak menjawab pertanyaanku? Apa saja yang kamu lakukan di dalam?" tanya Raja kembali mengetuk pintu.
Bimbang dan kebingungan, itulah yang dirasakan Cleantha.
Sekali lagi ia mencoba membuka ritsleting gaunnya. Ternyata belum bisa terbuka juga.
"Cleantha, kamu mendengarku atau tidak?" panggil Raja dengan suara lantang.
"Iya, Tuan, tunggu sebentar."
Cleantha memandang gaunnya di depan cermin. Tak ada jalan keluar lain. Ia harus meminta bantuan seseorang agar keluar dari kesulitannya. Bila tidak maka ia harus rela tidur dengan mengenakan gaun pesta sepanjang malam.
Alhasil, ia harus meminta tolong pada Raja karena cuma pria itu yang ada di dekatnya.
"Tuan, bisakah membantu saya sebentar?" tanya Cleantha memberanikan diri.
"Membantu apa?" balas Raja dari balik pintu.
Perlahan, Cleantha membuka pintu kamar mandi. Melongokkan kepala keluar untuk melihat keadaan di sekitarnya.
Namun yang terlihat di depan matanya hanyalah Raja.
"Kenapa mengintip seperti itu? Tadi kamu mengatakan butuh bantuanku," tanya Raja penuh selidik.
Lidah Cleantha terasa kelu. Tak kuasa untuk menyampaikan permintaannya.
"Tu..an, bisa tolong saya...," tanya Cleantha sekali lagi sambil membuka pintu hanya selebar tiga ruas jari.
Melihat sikap Cleantha yang tidak wajar, Raja mengerutkan keningnya.
"Dari tadi kamu bilang minta tolong, minta bantuan, tapi kamu tidak mengatakannya dengan jelas," ucap Raja sedikit kesal.
"Bisakah Tuan membukakan ritsleting gaun saya? Ritsletingnya macet di bagian belakang. Saya tidak bisa membukanya sendiri," jelas Cleantha ragu-ragu.
"Kamu ingin aku membantumu, tapi kamu tidak mau membuka pintu. Kamu pikir aku bisa menyusut lalu menyelinap ke dalam kamar mandi?" balas Raja.
Ucapan Raja ada benarnya. Mana mungkin ia bisa memberikan pertolongan bila tidak dibiarkan masuk ke dalam. Lagipula untuk apa merasa khawatir. Tidak akan terjadi apapun di antara mereka.
Kejadian semalam hanyalah pelampiasan sesaat karena Raja sedang dikuasai kemarahan. Mustahil ada pengulangan untuk kedua kalinya. Toh tak ada perasaan cinta yang mengikat mereka berdua.
Tanpa menjawab pertanyaan Raja, Cleantha membuka pintu lebar-lebar dan membiarkan suaminya masuk.
__ADS_1
Ia sendiri segera berpaling menghadap ke cermin agar tidak beradu pandang dengan Raja.
"Ritsleting yang ini, Tuan, tolong tarik ke bawah," tutur Cleantha memberikan petunjuk dengan jarinya.
Dari pantulan cermin, Cleantha bisa melihat Raja berjalan mendekatinya.
Jemari pria itu bergerak, meraih ritsleting yang sudah terbuka seperempatnya.
"Yang ini?"
"Iya, Tuan."
Raja memegang ritsleting itu dengan kedua tangannya. Untuk kali pertama ia belum berhasil. Namun berikutnya dengan hentakan yang cukup keras, ia mampu menurunkan ritsleting itu hingga ke bawah.
Cleantha pun bisa merasakan hembusan nafas Raja di kulit punggungnya yang terbuka.
Ia buru-buru berbalik arah untuk menyembunyikan punggungnya. Sedangkan tangannya menahan bagian depan gaun agar jangan sampai ikut melorot.
Jika gaunnya terlepas, maka Raja dapat dengan leluasa melihatnya tanpa busana. Meskipun sesungguhnya lelaki itu sudah memiliki seluruh tubuhnya.
"Tuan bisa keluar sekarang," usir Cleantha seperti bicara pada teman sebayanya.
Cleantha merapatkan diri pada wastafel, berusaha menjaga jarak dari Raja. Tapi suaminya itu malah menyilangkan kedua tangan sambil menatapnya penuh makna.
"Maaf, Tuan. Saya lupa berterima kasih pada Anda. Tapi sekarang saya harus ganti baju. Saya janji tidak akan lama, setelah itu saya akan keluar dan Tuan bisa memakai kamar mandi ini."
"Bagaimana kalau aku tidak mau. Aku ingin ganti baju sekarang juga bersamamu," jawab Raja menaikkan alisnya.
Cleantha merasa terjepit. Ia sedang kehabisan akal untuk mengatasi situasi peliknya saat ini. Salahnya sendiri telah membangunkan seekor singa yang sedang tidur.
"Tuan, ruangan ini tidak nyaman jika dipakai oleh dua orang. Lebih baik kita bergantian saja," jawab Cleantha mencari alasan.
"Siapa bilang? Kamar mandiku cukup besar. Tidak masalah jika ditempati dua orang sekaligus."
"Kalau begitu saya yang akan keluar. Saya bisa ganti baju di kamar dan Tuan bisa tetap disini."
Cleantha merasa gaya bicaranya mulai tak karuan, seiring dengan degup jantungnya yang semakin cepat.
Cleantha mencari peluang untuk segera melarikan diri dari ruangan itu. Namun Raja bergerak lebih cepat dan menghalanginya di depan pintu.
"Mau kemana? Kamu belum membalas budi atas pertolonganku."
__ADS_1
"Sa...ya tadi sudah berterima kasih, Tuan," jawab Cleantha gugup.
"Terima kasih saja tidak cukup untukku."
Tanpa aba-aba, Raja menarik Cleantha ke dalam pelukannya lalu membalikkan tubuh gadis itu.
"Sekalian saja lepas gaunmu disini. Apa yang mau kamu sembunyikan dariku, aku juga sudah melihat semuanya. Bahkan aku tahu dimana letak tanda lahirmu," kata Raja di dekat tengkuk Cleantha.
Bulu kuduk Cleantha meremang. Hanya mendengar suara Raja dan desah nafasnya saja sudah membuat kulitnya bereaksi. Apalagi jika Raja sampai menyentuhnya, entah apa yang akan terjadi selanjutnya.
"Lepaskan saya, Tuan," ucap Cleantha meronta.
Namun Raja malah mempererat pelukannya di pinggang Cleantha.
"Sebelum kita pergi makan malam, kamu mengatakan keberadaanku tidak akan menganggumu. Lalu kenapa sekarang kamu gugup saat kita berdekatan? Apa kamu masih mengingat kejadian semalam?" tanya Raja menempelkan bibirnya di bahu Cleantha.
Cleantha menggigit bibir bawahnya. Entah mengapa kulitnya begitu sensitif pada sentuhan Raja. Ia ingin menghentikan semua ini sebelum terlambat. Namun tubuhnya seketika terasa kaku dan kebas. Tidak bisa bergeming sama sekali dari pelukan suaminya.
Cleantha yakin bila Raja semakin lama menggodanya, mungkin dia akan takluk di bawah pengaruh lelaki itu.
Raja berbisik di telinga Cleantha, sementara satu tangannya membelai lembut punggung istrinya.
"Apa yang kamu pikirkan sekarang? Kamu ingin aku mengulangi hal yang sama seperti kemarin?"
Tubuh Cleantha tiba-tiba menggigil. Dalam dirinya terjadi pertentangan hebat. Antara ketakutan, menginginkan tapi harus menjauh. Bahunya pun terguncang pelan menahan rasa sesak di dadanya.
Nampaknya Raja mengetahui bila istri mudanya itu masih merasa ketakutan.
Terlebih ada beberapa tanda merah yang melekat di tubuh Cleantha. Meski ia sengaja memberikan tanda itu di tempat yang tersembunyi, tetap saja terlihat jelas olehnya. Lagipula gadis itu pasti masih kesakitan karena pengalaman pertamanya yang menguras tenaga.
"Tidak perlu menyesali yang terjadi kemarin. Melayani suami sendiri adalah kewajiban, bukan hal yang memalukan. Aku minta maaf kalau sudah berlaku kasar padamu," tutur Raja melembut.
Cleantha terkesiap untuk sesaat. Dia tidak menyangka suaminya yang arogan itu bisa juga berbicara dengan lembut. Bahkan ia mau meminta maaf kepadanya. Sungguh suatu keajaiban.
"Apa ini benar-benar Tuan Raja yang aku kenal? Kenapa dia berubah baik padaku? Apa yang mengubahnya? Dan kenapa aku jadi berdebar-debar seperti ini?"
Tiba-tiba saja Raja melepaskan pelukannya lalu melangkah menuju pintu.
"Gantilah bajumu tapi jangan terlalu lama. Aku akan menunggu di luar."
Setelah Raja pergi, Cleantha bisa bernafas dengan lega. Ia bersyukur karena bisa terhindar dari bahaya terbesar yang mengancam perasaannya.
__ADS_1
Kini tujuan Cleantha hanya satu, yaitu segera tidur agar besok bisa berangkat ke kantor pagi-pagi sekali.
BERSAMBUNG