
Cleantha meletakkan ponselnya di atas meja. Dia tidak mengirimkan balasan apapun kepada Raja. Meski kejutan manis yang dilakukan Raja membuatnya tersentuh, tapi ia tidak ingin menumbuhkan harapan palsu pada pria itu.
Cleantha kembali menghabiskan makan siangnya. Usai beristirahat sebentar, Cleantha membuka laci mejanya untuk mengambil flash disk. Namun saat membuka laci, ia menjatuhkan sesuatu.
Cleantha memungut benda itu yang ternyata adalah sebuah undangan.
"Aku sampai lupa kalau harus menghadiri resepsi pernikahan putranya Tuan Hadinata. Aku akan memberitahu Mama Marina nanti,"
pikir Cleantha menyimpan kembali undangan tersebut.
"Kriiingg," telpon Cleantha berdering dengan keras.
Ia mengangkat telpon itu dan segera menjawabnya.
"Selamat siang, Bu."
"Siang, Dion."
"Nanti jam dua siang, Ibu diminta oleh Tuan Raja untuk ikut meeting bersama Tuan Evander. Dia datang dari Singapura untuk melanjutkan kerja sama investasi dengan Adhiyaksa Group," kata Dion memberitahu Cleantha.
"Baik, Dion. Laporan apa saja yang perlu aku bawa?"
"Laporan keuangan enam bulan terakhir, Bu. Itu saja. Terima kasih," ucap Dion menutup telponnya.
Mendengar nama Evander, Cleantha teringat pada sosok pria yang dulu membuatnya sangat ketakutan. Pria itu pernah berbuat kurang ajar padanya di acara pesta Adhiyaksa Group. Beruntung ada Alvian yang menyelamatkannya dari cengkeraman Evander.
Cleantha menarik nafas dalam-dalam untuk menenangkan diri.
Kejadian itu sudah berlalu bertahun-tahun lamanya. Mungkin Evander telah berubah menjadi pria yang sopan. Kini dirinya juga berstatus sebagai janda Alvian. Mustahil dia akan mengulangi perbuatan yang sama selama berada di kantor Adhiyaksa Group.
Daripada mencemaskan Evander, Cleantha memilih fokus untuk menyiapkan laporan keuangan.
Tepat jam dua siang ia naik ke lantai sepuluh. Dion sudah menunggunya di depan pintu ruangan Raja.
"Bu, langsung masuk saja. Tuan Evander sudah ada di dalam bersama Tuan Raja."
Dion membukakan pintu untuk Cleantha dan membiarkan wanita itu masuk.
"Selamat siang," sapa Cleantha menghentikan pembicaraan dua lelaki tampan di depannya.
Kedatangan Cleantha membuat Raja dan Evander menoleh bersamaan. Evander bergegas bangkit dari kursinya dan mendatangi Cleantha.
"Siang, Cleantha. Aku senang kita bisa bertemu lagi."
Mata pria itu menelusuri tubuh Cleantha dari ujung kepala hingga ujung kaki. Bias kekaguman tergurat jelas di wajahnya.
Bagi Evander, Cleantha jauh lebih menarik setelah kini menjadi wanita yang matang. Barangkali memang benar yang dikatakan orang-orang bahwa janda muda lebih menggiurkan. Apalagi dirinya sendiri juga.seorang duda yang telah bercerai dua tahun yang lalu.
Detik berikutnya, Evander mengubah sikapnya menjadi sangat sopan.
"Aku turut berduka cita atas meninggalnya Tuan Alvian," kata Evander mengulurkan tangannya.
"Terima kasih, Tuan Evander," jawab Cleantha menerima uluran tangan pria itu.
"Panggil saja, Evan. Kita tidak perlu terlalu formal saat bicara. Selain rekan bisnis kita juga bisa menjadi teman," ucap Evander memamerkan senyumnya.
__ADS_1
Melihat Evander memegang tangan Cleantha cukup lama, raut wajah Raja menegang. Dari jarak dekat, ia mengetahui Evan tak henti menatap Cleantha. Seolah ia menginginkan wanita itu dengan hasrat yang menggebu-gebu.
"Ehemmm, Evan. Karena Cleantha sudah datang, kita mulai saja meetingnya. Cleantha akan menjelaskan perkembangan kondisi keuangan Adhiyaksa Group selama enam bulan terakhir. Dia tidak bisa terlalu lama disini karena ada meeting lanjutan dengan team finance," ucap Raja berusaha menjauhkan Evander dari Cleantha.
Cleantha mengernyitkan dahinya. Entah mengapa Raja bicara begitu padahal dia tidak memiliki jadwal meeting setelah ini.
Evander pun mengangkat bahunya.
"Okey, aku siap mendengarkan."
Cleantha duduk dan menyerahkan laporan keuangan yang dibawanya kepada Evander. Dengan piawai, ia bisa menjelaskan semua isi laporan keuangan sekaligus menjawab pertanyaan yang diajukan oleh sang investor. Kecerdasan yang ditunjukkan Cleantha menambah kekaguman yang dirasakan Evander.
"Wanita ini tidak hanya cantik dan memiliki tubuh yang indah, tapi juga cerdas. Dia sangat ideal menjadi kekasihku,"
batin Evander.
Sebagai lelaki, Raja sangat memahami arti tatapan Evander. Hal ini membuatnya terbakar api cemburu. Jika perlu ia akan menyuruh Evan menarik dana investasinya supaya temannya itu tidak bertemu lagi dengan Cleantha.
"Evan, apa masih ada yang perlu kamu tanyakan?" tanya Raja tidak suka.
"Aku rasa sudah cukup."
"Clea, kembalilah ke ruanganmu," tandas Raja.
Cleantha keheranan mengapa Raja ingin segera mengusirnya dari ruangan itu. Namun bola mata Raja yang menggelap, menandakan bahwa ia tidak ingin dibantah.
"Kalau begitu saya permisi," kata Cleantha undur diri.
"Tunggu dulu, Cleantha. Apa kamu juga diundang ke pesta pernikahan James Hadinata besok Sabtu?" tanya Evan tiba-tiba.
"Bagaimana jika kita berangkat bersama? Kebetulan aku tidak punya pasangan yang bisa menemaniku ke acara itu," ajak Evander.
"Cleantha tidak bisa pergi denganmu karena dia akan menghadiri resepsi bersamaku," potong Raja.
"Kalian akan datang bersama?" tanya Evander menaikkan kedua alisnya.
"Tentu saja. Aku dan Cleantha adalah satu keluarga. Wajar jika kami selalu datang berdua di berbagai acara."
Jawaban yang diberikan Raja mengejutkan Cleantha. Bisa-bisanya pria itu mengarang cerita mengenai kebersamaan mereka. Sungguh Raja terlalu percaya diri.
"Saya permisi," ucap Cleantha meninggalkan Raja dan Evander.
...****************...
Cleantha menelpon supir pribadinya. Biasanya supirnya itu selalu siap siaga untuk menjemputnya setelah dia menelpon. Tapi anehnya hari ini dia belum muncul juga.
"Halo, Pak Malik, kenapa belum datang? Apa Pak Malik terjebak kemacetan?" tanya Cleantha.
"Bukan, Nyonya, saya...."
Belum selesai Pak Malik menjawab, pintu ruangan Cleantha terbuka dari luar. Ia melihat Raja muncul tanpa permisi di hadapannya.
"Sedang menelpon siapa? Supirmu?" tanya Raja menyunggingkan senyum di sudut bibirnya. Membuat wajahnya terlihat lebih tampan.
"Pak, nanti saya hubungi lagi," kata Cleantha menutup telponnya.
__ADS_1
Cleantha menatap Raja dengan ekspresi kesal. Ia bahkan tidak menyebutkan nama Raja atau memanggilnya dengan sebutan "Tuan."
"Kenapa masuk ke ruangan saya tanpa mengetuk pintu?"
"Bukankah aku atasanmu dan kantor ini milikku juga. Aku bisa masuk kapan saja aku mau," jawab Raja santai. Ia kembali tersenyum melihat bunga mawar pemberiannya yang menghiasi meja Cleantha.
"Maaf, tapi ini sudah waktunya pulang. Kalau ingin membicarakan pekerjaan, lebih baik tunggu besok," jawab Cleantha dingin.
"Sayangnya tebakanmu keliru. Aku bukan ingin membicarakan pekerjaan, tapi mau mengantarmu pulang. Aku yang meminta Pak Malik untuk tidak menjemputmu hari ini. Jadi percuma saja kamu menelponnya, dia tidak akan datang," kata Raja enteng.
"Sejak kapan Pak Malik menuruti perintah orang lain? Apa dia sekarang sudah berpindah pekerjaan menjadi supir Tuan Raja? Ryan juga. Dimana dia? Kenapa tidak memberitahukan kepadaku kalau Tuan Raja masuk?"
batin Cleantha kesal.
"Kalau begitu saya akan pulang naik taksi," jawab Cleantha menyambar tasnya.
Dengan gerakan cepat, Raja menghalanginya di depan pintu. Pria itu menyilangkan kaki dan melipat tangannya di depan dada.
"Kamu baru bisa keluar dari sini jika pulang bersamaku."
"Biarkan saya keluar," jawab Cleantha berusaha menerobos pintu.
Sikap Cleantha yang keras kepala membuat Raja gemas. Ia merengkuh wanita cantik itu lalu mengurungnya dengan kedua lengannya yang kokoh, hingga Cleantha tidak dapat bergerak.
"Lepaskan saya atau saya akan berteriak," ancam Cleantha.
Seringai menggoda tecetak di bibir Raja.
"Teriak saja, tidak ada yang akan mendengar karena Ryan sudah aku suruh pulang. Kalaupun ada yang dengar juga tidak masalah. Kita akan tertangkap basah berduaan disini. Gosip akan menyebar di seluruh kantor. Dan saat itu terjadi kita berdua harus segera menikah demi menjaga nama baik keluarga dan perusahaan."
Jawaban Raja membuat Cleantha tidak berdaya. Ia tidak mengerti mengapa Raja berubah menjadi agresif sekaligus tidak tahu malu. Padahal dulu ia sangat menjaga image dan gengsinya sebagai pria.
"Kenapa diam? Apa kamu setuju untuk pulang bersamaku?" tanya Raja mendekatkan wajahnya. Tinggal beberapa inci dan bibir mereka akan bersentuhan.
Kedekatan antara mereka membuat Cleantha tidak tahan. Lebih baik mengalah dulu daripada ia terjerat oleh godaan pria ini.
"Iya, saya setuju. Lepaskan saya dan kita pulang sekarang. Anak-anak pasti sudah menunggu di rumah," jawab Cleantha gugup.
"Hmmm, anak-anak....Mereka pasti senang melihat Mommy dan Daddynya bersama," kata Raja melepaskan Cleantha. Namun detik berikutnya, ia memeluk pinggang Cleantha dan membawanya keluar dari ruang direktur.
Cleantha ingin sekali protes tapi tidak berani. Raja memperlakukannya dengan posesif seolah tidak ingin kehilangan dirinya barang semenit pun. Pria itu bahkan membukakan pintu mobil seakan ia adalah seorang ratu.
"Setelah ini kita akan makan malam berempat dengan anak-anak," kata Raja menatap Cleantha dengan sorot mata teduh. Ditatap seperti itu membuat degup jantungnya menjadi tidak beraturan.
"Kenapa perasaanku jadi kacau begini?"
batin Cleantha kebingungan.
**BERSAMBUNG
Malam nanti update lagi y.
Jangan lupa tinggalkan jejak komen, like, vote, dan hadiahnya.
Sebentar lagi author akan launching Novel Baru yang tidak kalah seru untuk kategori lomba. Stay tune**
__ADS_1