
Cleantha membalas uluran tangan Ayesha.
"Salam kenal, saya Cleantha."
Ayesha memamerkan senyum termanisnya.
"Sepertinya kita seumuran. Kita saling memanggil nama saja. Mungkin juga tidak lama lagi kita akan menjadi saudara ipar," kata Ayesha penuh percaya diri.
"Iya, Ayesha," jawab Cleantha.
Matanya tak lepas mengagumi paras rupawan gadis itu.
Bagi Cleantha, Ayesha sungguh pasangan yang sangat serasi untuk Alvian. Barangkali mereka telah ditakdirkan untuk menjadi sepasang suami istri.
"Al, kami duluan. Kami sudah selesai makan malam," kata Raja berpamitan pulang.
"Iya, Kak. Hati-hati."
"Bye Ivy," ucap Alvian sambil memberikan kecupan kepada keponakannya.
"Bye bye Uncle."
"Ayesha kami pulang dulu," kata Cleantha berpamitan pada Ayesha.
"Silakan. Semoga kita bisa bertemu lagi secepatnya, Cleantha."
Cleantha beralih menatap Alvian. Sesungguhnya ia merasa sungkan bila tidak berpamitan pada atasannya itu. Namun Cleantha bingung harus memanggil Alvian dengan sebutan apa.
Jika memanggil 'Pak Alvian' di depan Ayesha, sudah pasti akan menimbulkan tanda tanya besar bagi gadis itu. Namun bila memanggil nama saja, rasanya tidaklah pantas karena dia adalah bawahan Alvian.
Pada akhirnya Cleantha hanya menganggukkan kepala, sebagai gantinya berpamitan pada Alvian.
Sedangkan Alvian hanya membalas dengan senyuman.
Setelah Cleantha dan Raja pergi, Alvian mengajak Ayesha naik ke lantai dua restoran itu.
Ia menarikkan kursi untuk Ayesha sebagai tanda bahwa ia menghormati calon tunangannya itu.
Senyuman terukir di wajah Ayesha. Nampaknya ia semakin terpesona pada sosok Alvian yang tidak hanya tampan dan cerdas, tapi juga sopan terhadap wanita. Terlebih Alvian menjabat sebagai direktur do kantornya dan berasal dari keluarga terpandang.
Penilaian papanya tidak pernah salah. Alvian merupakan calon suami yang terbaik untuknya. Dimana lagi ia bisa menemukan pria yang lebih sempurna daripada Alvian Adhiyaksa.
"Al, aku tidak menyangka kalau Tuan Raja punya istri yang sebaya denganku. Tapi aku lihat putri mereka sudah berusia sekitar enam tahun. Itu artinya kakak iparmu menikahi Tuan Raja di usia yang masih belia, mungkin tujuh belas atau delapan belas tahun?" tanya Ayesha penasaran.
Alvian berdesah panjang sebelum menjawab pertanyaan Ayesha.
"Cleantha bukanlah ibu kandungnya Ivyna. Dia adalah istri kedua kakakku."
__ADS_1
Mata Ayesha terbuka lebar, seolah tak mempercayai penjelasan yang diucapkan Alvian.
"Istri kedua? Jadi Tuan Raja punya dua istri?"
"Iya. Ivyna adalah anak kakakku dengan istri pertamanya. Sekarang istri pertamanya itu sedang mengalami kelumpuhan akibat kecelakaan mobil," terang Alvian.
"Kasihan sekali istri pertama Tuan Raja. Kakinya lumpuh, suaminya malah menikah lagi."
Ayesha memiringkan bibirnya ke samping, seperti hendak memberikan cibiran.
"Berarti Cleantha itu wanita yang tidak baik. Dia mau saja menikahi pria yang sudah beristri. Di usianya yang masih muda, seharusnya dia punya banyak peluang untuk menikahi pria lajang. Aku yakin dia memilih Tuan Raja karena silau dengan harta kekayaannya."
"Ayesha, jangan menilai orang lain secara sepihak. Kamu belum mengenal siapa Cleantha. Kamu juga tidak tahu seperti apa kehidupan rumah tangga kakakku," balas Alvian menaikkan sedikit nada suaranya.
Mendengar ucapan Alvian yang membela Cleantha, hati Ayesha makin terusik. Ia bertambah yakin bila Cleantha merupakan wanita berkarakter negatif.
Cleantha pastilah seorang gadis yang ahli dalam hal merayu pria. Nyatanya Alvian pun ngotot membela kelakuan buruknya.
Apabila tidak berhati-hati, bisa saja Cleantha akan memikat Alvian lalu merebut lelaki itu dari sisinya. Sekali dayung, dua lelaki sekaligus akan didapatkan oleh Cleantha.
Tidak ada jalan lain selain mempercepat pertunangannya dengan Alvian.
"Sorry, Al, aku hanya berasumsi saja. Memang hak kakakmu untuk beristri lebih dari satu. Toh dia seorang pengusaha sukses dan berwajah tampan."
Setelah selesai memesan makanan pada pelayan, Ayesha mengibaskan rambutnya. Ia menatap Alvian dalam-dalam.
"Al, apa kamu menerima perjodohan kita? Tadi papaku dan mamamu bilang akan melaksanakan pertunangan kita bulan depan. Syaratnya kita berdua harus sama-sama setuju. Aku tidak keberatan dengan rencana itu. Bagaimana denganmu?" tanya Ayesha berterus terang.
Alvian tidak menyangka bila Ayesha akan secepat itu menyetujui perjodohan mereka. Ayesha memang gadis yang cantik dan sangat menarik. Namun entah mengapa hatinya belum merasa klik dengan gadis itu. Namun tidak ada salahnya ia memberi kesempatan pada Ayesha untuk membuatnya jatuh cinta.
...****************...
Ivyna menguap beberapa kali selama berada dalam perjalanan. Tak berselang lama, ia sudah tertidur pulas di dalam mobil.
Begitu tiba di rumah, Raja menggendong putri kecilnya itu menuju kamar.
Di belakang mereka, mobil Zevira sudah menyusul memasuki gerbang.
"Clea, tunggu," seru Zevira dari jendela mobilnya.
Cleantha berhenti dan menunggu hingga Zevira keluar dari mobilnya.
"Aku lihat tadi Raja menggendong Ivy. Apa kalian makan malam bersama Ivyna?"
"Iya, Kak."
Cleantha keheranan melihat binar bahagia di mata Zevira. Padahal waktu berangkat tadi, gurat kekecewaan tampak jelas di wajahnya. Apakah mungkin acara lelang berlian yang telah mengembalikan gairah hidup Zevira? Bisa jadi karena Zevira adalah seorang penggemar berlian sejati.
__ADS_1
"Aku kira kalian pergi kencan berdua. Bagus lah kalau begitu."
Zevira mencodongkan tubuhnya ke arah Cleantha.
"Besok giliranku yang pergi bersama Raja. Aku akan pergi ke sekolah Ivyna untuk mengambil raport. Setelah itu kami akan jalan-jalan bertiga, aku, Raja, dan Ivyna. Sekarang aku harus istirahat. Selamat malam, Cleantha," ucap Zevira tersenyum senang.
Bi Dewi mendorong kursi roda Zevira dengan cepat menuju kamarnya.
...****************...
Cleantha melangkah kembali ke kamarnya.
Rasanya begitu lega ketika ia mendapati kamar Raja masih kosong. Belum ada tanda-tanda keberadaan pemiliknya di kamar itu.
Tidak ingin membuang waktu, Cleantha buru-buru mengambil baju tidurnya. Kemudian ia bergegas menuju kamar mandi untuk melepas gaunnya.
Gaun pesta itu memiliki ritsleting di bagian leher hingga punggung belakang. Dan karena modelnya bodycon, ia harus membuka ritsleting tersebut sebelum bisa melepaskan keseluruhan gaunnya.
"Kenapa susah sekali untuk membukanya. Tadi sewaktu aku memakainya tidak sesulit ini,"
gerutu Cleantha berusaha menggerakkan ritsletingnya ke bawah.
Satu, dua, tiga kali ia mencoba. Ritsleting itu berhasil turun sedikit, namun tiba-tiba saja macet di tengah.
Dengan gemas, Cleantha menarik-narik ritsletingnya. Tapi ritsleting itu malah semakin terjepit, tidak mau bergerak sama sekali.
"Apa yang harus kulakukan? Apa aku paksakan saja melepas gaun ini tanpa membuka ritsletingnya?"
Pantang menyerah, Cleantha mencoba menurunkan tali sebelah kanan dan kiri pada lengan gaunnya. Berharap bisa mencopot gaun itu dengan cara melepasnya perlahan ke bawah.
"Ah, tidak bisa, sempit sekali! Gaun ini benar-benar menempel erat di tubuhku,"
pikir Cleantha kalut.
Dari luar kamar mandi, Cleantha bisa mendengar langkah kaki seseorang mendekat. Pastilah itu Raja yang sudah kembali ke kamarnya.
Benar saja dugaannya. Tak lama Raja mengetuk pintu kamar mandi dengan tidak sabar.
"Clea, apa kamu ada di dalam? Cepat sedikit, aku mau ganti baju," teriak Raja dari luar.
Mendengar Raja mengetuk pintu, kepanikan Cleantha makin bertambah.
Entah bagaimana ia harus mengatasi masalahnya kali ini.
Hanya tersisa dua pilihan. Pertama meminta bantuan pada Raja untuk membuka ristletingnya. Kedua tetap berdiam diri di kamar mandi hingga berhasil membuka gaunnnya sendiri.
Cleantha benar-benar bimbang menentukan keputusannya.
__ADS_1
"Tidak pilihan pertama sangat beresiko, aku harus menghindari kontak dengan Tuan Raja. Tapi sampai berapa lama aku harus berada di kamar mandi?"
BERSAMBUNG