Istri Bayaran Milik Tuan Raja

Istri Bayaran Milik Tuan Raja
Bab 91 Mungkinkah Aku Bersamanya?


__ADS_3

Alvian melepaskan tangan Cleantha dan berbalik.


Sorot netranya menatap Cleantha seolah meragukan apa yang didengarnya.


"Clea, apa benar kamu mencintai aku? Jangan-jangan kamu hanya kasihan melihatku. Atau merasa berhutang budi padaku? Tidak mungkin perasaanmu berubah secepat itu," tanya Alvian tidak percaya.


Cleantha merasa malu sekaligus menyesal. Tidak seharusnya ia kelepasan bicara tentang perasaannya. Namun ia melakukan itu demi bisa mengurangi kesedihan yang dirasakan Alvian.


"Mungkin Bapak tidak mempercayai kata-kata saya dan menganggap saya terlalu mudah berpindah hati. Saya dulu memang mencintai Tuan Raja, tapi cinta itu membuat saya tersiksa. Setiap hari saya terbebani oleh rasa bersalah. Apalagi jika saya melihat Ivyna, Kak Vira, juga ayah saya yang duduk di kursi roda. Saya merasa sudah mengkhianati mereka semua."


"Meskipun Kak Vira berbuat jahat pada saya, dia tetaplah seorang istri yang tersakiti. Dan sebaik apapun saya, saya tetaplah wanita yang merebut suaminya. Saya tidak mau hidup dengan beban ini terus-menerus seumur hidup saya," lanjut Cleantha dengan mata berkaca-kaca.


"Clea, jangan berkata begitu. Aku mengerti posisimu," tutur Alvian menenangkan Cleantha.


"Bagi saya cinta bukan sekedar perasaan atau kemesraan fisik. Perasaan bisa pudar dan luntur kapan saja. Yang saya butuhkan adalah ketenangan, kedamaian, kepercayaan, dan rasa saling menghargai. Dan Bapaklah yang selalu melindungi saya, menghargai saya sebagai wanita, dan ada di sisi saya ketika saya terluka," kata Cleantha terisak.


"Clea, jika itu alasanmu, aku bisa menerimanya. Tapi Kakakku sedang dalam proses perceraian dengan Zevira. Jika kamu rujuk dengannya, kamu akan menjadi istri satu-satunya. Kamu juga sedang mengandung anaknya. Apa kamu yakin lebih memilih untuk bersamaku?" tanya Alvian menatap mata Cleantha dalam-dalam.


Cleantha mengangguk perlahan.


"Tapi boleh saya tahu kenapa Bapak mau menerima saya? Tuan Raja sudah membuang saya karena menganggap saya barang bekas. Bapak masih lajang dan punya segalanya. Saya merasa tidak pantas untuk Bapak," kata Cleantha tertunduk sedih.


"Clea, aku mencintaimu bukan karena alasan tertentu. Aku memang ingin melindungimu dan membuatmu bahagia."


"Kak Raja selalu menjadi nomor satu di segala bidang. Di sekolah, di keluarga, di antara teman-temannya dan juga di perusahaan. Dia paling unggul, dikagumi, dan mendapatkan segala yang terbaik yang tidak dimiliki orang lain. Karena itu dia tidak bisa terima jika orang lain menyentuh miliknya," jelas Alvian.


"Sedangkan aku...aku hanyalah nomor dua. Aku terbiasa menjadi urutan yang kedua setelah kakakku. Di mata papaku, mamaku, dan semua orang. Bahkan saat kecil, dengan senang hati aku menerima mainan atau baju yang pernah dipakai oleh Kak Raja. Mungkin ini sudah menjadi nasibku, tidak terkecuali dalam hal cinta. Tapi aku tidak keberatan, karena aku sendiri yang menginginkannya."


Perkataan tulus Alvian membuat Cleantha semakin tersentuh.

__ADS_1


Apa yang menimpa Alvian mirip dengan yang dialaminya sejak kecil. Ia adalah anak kedua yang tak dianggap di dalam keluarga. Berbeda jauh dengan Keyla, kakaknya. Barangkali kesamaan takdir inilah yang mempertemukannya dengan Alvian. Meskipun hubungan mereka harus diawali dengan sebuah tragedi yang menyakitkan, bahkan belum terselesaikan hingga kini.


"Dari tadi kita bicara terus disini. Sebenarnya perutku lapar, boleh aku mencicipi masakanmu?"


"Boleh, Pak, saya sudah menyiapkannya di meja makan," jawab Cleantha menghapus air matanya.


"Mulai sekarang jangan memanggilku "Pak" karena aku merasa sangat tua. Jika kita berdua saja, panggil namaku "Alvian" atau "Al". Dan jangan berbicara menggunakan bahasa yang formal."


"I...iya, Pak," jawab Cleantha merasa belum terbiasa memanggil nama Alvian.


Cleantha nampak was-was ketika Alvian menyuapkan mie goreng ke mulutnya. Baginya makanan itu lezat, namun belum tentu hal yang sama dirasakan oleh Alvian.


"Tidak enak ya?" tanya Cleantha merasa rendah diri.


"Aku sudah lama merindukan masakan rumah. Jadi menurutku masakanmu ini sangat enak. Aku akan senang sekali jika setiap pulang kerja ada wanita cantik yang menyiapkan masakan untukku," sambung Alvian terlihat menikmati masakannya.


Cleantha merasa bahagia melihat Alvian bisa tersenyum lagi. Sebenarnya Cleantha ingin menanyakan masalah apa yang sedang dihadapi Alvian. Namun ia membatalkan niatnya karena tidak ingin merusak suasana hati Alvian yang sudah membaik. Ia akan menunggu waktu yang tepat untuk menanyakannya secara langsung.


"Clea, besok aku hanya akan bekerja setengah hari sampai makan siang. Aku ingin istirahat untuk menenangkan diri. Apa kamu mau menemani aku menonton film sepulang kerja?" tanya Alvian.


"Menonton film? Apa ini artinya Pak Alvian mengajak aku berkencan?"


pikir Cleantha gelisah.


Pasalnya ia belum pernah berpacaran dengan seorang pria. Meskipun pernah menikah dengan Raja, tapi jarang sekali ia melakukan kegiatan romantis layaknya sepasang kekasih yang saling mencintai.


"Lagi-lagi kamu melamun saat aku mengajakmu bicara. Apa kamu tidak suka menonton film?" tanya Alvian mengamati Cleantha.


"Suka, Pak, maksud saya Al," jawab Cleantha tergagap.

__ADS_1


"Kalau kamu lebih nyaman memanggilku "Pak",aku tidak akan memaksamu. Film apa yang kamu suka? Wanita biasanya suka film drama," kata Alvian menahan senyumnya melihat ekspresi menggemaskan Cleantha.


"Terserah Bapak saja. Saya suka film apa saja, kecuali film horor. Karena saya paling takut dengan hantu."


"Kalau begitu, besok aku akan menjemputmu jam lima sore. Pulanglah tepat waktu dan jangan membuatku menunggu. Anggap saja ini perintah dariku sebagai atasanmu."


"Iya, Pak. Saya tidak akan terlambat," jawab Cleantha sambil membereskan meja makan.


"Tidurlah, Clea. Ini sudah malam. Biar aku yang mencuci piringnya."


"Bapak mau mencuci piring?" tanya Cleantha membelalakkan matanya. Ia tidak percaya jika seorang Tuan Muda seperti Alvian mau melakukan pekerjaan rumah tangga.


"Kenapa? Jangan meremehkan kemampuanku. Aku sudah biasa hidup mandiri di luar negri. Hal seperti ini tidak sulit bagiku. Sekarang istirahatlah," tutur Alvian meyakinkan Cleantha.


"Selamat malam, Pak," ucap Cleantha berlalu meninggalkan dapur.


Sebelum menuju ke kamarnya, Cleantha menoleh sekali lagi. Ia terharu melihat semua yang diperbuat Alvian untuknya.


Jika saja roda waktu bisa diputar ulang, ia berharap mereka bisa bertemu lebih awal ketika dirinya belum menikah. Bukan dalam keadaan seperti sekarang, dimana ia terlanjur mengandung seorang bayi.


...****************...


Ny. Marina bangun pagi-pagi sekali. Ia tidak sabar untuk menghubungi informan kepercayaannya. Tujuannya hanya satu, melacak keberadaan Cleantha. Ia harus segera menjauhkan Cleantha dari Alvian. Bila sampai terlambat sedikit saja, maka masa depan putranya akan hancur berantakan.


"Selamat pagi, Tuan Leonard. Apa Anda sudah menerima foto yang saya kirimkan beserta data diri Cleantha?" tanya Ny. Marina.


"Sudah, Nyonya," jawab Tuan Leonard.


"Bagus. Tolong ikuti gadis itu seharian. Mulai dari pagi dia berangkat ke kantor Adhiyaksa Group hingga dia pulang ke rumah. Laporkan semua kegiatannya kepada saya. Tapi berhati-hatilah, Tuan Leon, jangan sampai putra saya melihat Anda. Dan yang paling penting dapatkan alamat tempat tinggalnya."

__ADS_1


"Baik, Nyonya. Saya akan segera melaporkan hasilnya pada Anda," jawab Tuan Leonard.


BERSAMBUNG


__ADS_2