Istri Bayaran Milik Tuan Raja

Istri Bayaran Milik Tuan Raja
Bab 83 Salah Paham


__ADS_3

Selepas kepergian Alvian, Raja semakin kesal. Ia tidak percaya bahwa adiknya itu berani mengancamnya. Bahkan mengatakan secara gamblang akan merebut Cleantha bila ia tidak membatalkan proses perceraian.


"Kurang ajar! Apa Alvian bersungguh-sungguh dengan ucapannya?"


gumam Raja mencengkeram penanya kuat-kuat.


"Pasti dia hanya menggertak saja. Dia sudah memiliki tunangan, tidak mungkin bisa bersama dengan Cleantha. Dan kalau aku menuruti perkataan Alvian, dia akan meremehkan aku. Dia tidak akan menghormati aku lagi sebagai kakaknya."


Raja membuka pintu ruangannya dan melangkah keluar.


"Dion, tolong transferkan uang lima ratus juta ke rekening Cleantha. Setelah itu kita langsung berangkat meeting."


Dion tercengang mendengar perintah Raja.


"Lima ratus juta, Tuan?"


"Iya, cepat lakukan. Cleantha membutuhkannya. Lalu suruh Manajer HRD untuk memanggil Cleantha. Minta dia agar mengundurkan diri secepatnya dari perusahaan," tegas Raja.


Dion kembali dibuat keheranan dengan instruksi Raja yang satu ini.


"Tuan, apa Anda yakin ingin meminta Nona Cleantha mengundurkan diri? Dulu Anda sendiri yang memberikan pekerjaan padanya di bagian keuangan."


"Perintahku sudah jelas. Apa perlu aku mengulangnya, Dion? Aku akan membiayai kehidupan Cleantha dan anaknya. Jika dia terus berada di kantor ini, maka dia akan didera berbagai macam gosip yang tidak benar."


Mendengar Raja sudah meninggikan suaranya, mau tak mau Dion menurut. Tanpa membantah lagi, ia mengerjakan semua yang diperintahkan Raja.


Raja berjalan kembali ke ruangannya sambil mengangkat panggilan dari Tuan Mateo.


"Selamat siang, Tuan Raja, saya ingin mengabarkan bahwa pengacara Nyonya Zevira baru saja menghubungi saya. Hari ini Nyonya Zevira telah melayangkan surat gugatan cerai kepada Anda. Dia juga meminta hak asuh atas Ivyna."


Berita dari Tuan Mateo membuat Raja murka.


Masalah dengan Cleantha belum selesai, kini ia harus menghadapi persoalan rumit berikutnya.


"Saya akan memberikan bukti-bukti perselingkuhan Zevira kepada Anda. Tolong urus semuanya, Tuan Mateo. Pastikan Zevira kalah di pengadilan," tandas Raja.


"Tuan, lalu bagaimana dengan proses perceraian Anda dan Nyonya Cleantha? Apa Anda jadi membatalkannya?" tanya Tuan Mateo ingin memastikan.


"Tidak, biarkan saja prosesnya tetap berlangsung. Jika sudah ada putusan, segera hubungi saya," ucap Raja menutup telponnya.


...****************...


Dengan mengumpulkan segenap nyalinya, Cleantha masuk ke ruang finance. Berharap tidak ada yang akan mempertanyakan kenapa dia mendadak mual.


Lega rasanya ketika melihat teman-temannya sudah sibuk bekerja di meja masing-masing. Begitu pula dengan kakaknya, Keyla.


Nampaknya tidak ada yang mengungkit atau mempedulikan peristiwa di ruang meeting. Atau barangkali mereka sengaja pura-pura lupa agar suasana kerja tetap kondusif.


Cleantha menuju ke mejanya. Menyalakan komputer lalu bersandar pada kursi.


Tak lama, ia tenggelam lagi dalam kesibukan hingga sebuah notifikasi terkirim di ponselnya.


Mata Cleantha membelalak saat membaca isi pesan dari layanan Banking miliknya.


Ada yang telah mengirimkan sejumlah uang ke rekeningnya. Yang paling mengejutkan, pengirimnya adalah PT. Adhiyaksa Multifinance dan nominal yang dikirimkan begitu fantastis.


Cleantha menghitung ulang jumlah angka nol yang tertera di belakang angka lima.

__ADS_1


"Lima ratus juta rupiah, apa ini tidak salah? Lalu siapa yang mengirimkan uang sebanyak ini untukku? Apakah Tuan Raja yang melakukannya?"


pikir Cleantha menebak-nebak.


Belum hilang rasa terkejutnya, telpon di meja Cleantha berbunyi.


"Sore, Clea," sapa Pak Setyo lewat interkom.


"Selamat sore, Pak," jawab Cleantha sopan.


"Clea, barusan saya menerima telpon dari Ibu Rosalia, manajer HRD. Beliau memanggilmu. Datanglah segera ke ruangannya," kata Pak Setyo.


"Baik, Pak, saya akan menemui Ibu Rosalia sekarang," jawab Cleantha.


Cleantha bergegas keluar dari ruangan finance. Menuju ke dalam lift dan menekan tombol angka tiga.


Entah mengapa firasat buruk memenuhi hatinya.


Ada apakah gerangan hingga manajer HRD memanggilnya tanpa alasan yang jelas.


"Ting." Denting suara lift membuat Cleantha tersadar dari lamunannya.


Langkah kakinya terasa berat untuk melangkah ke ruangan HRD.


Setelah melewati area tempat para staf HRD bekerja, Cleantha berbelok ke ruangan berpintu kaca. Ia masih ingat betul dimana letak ruangan sang manajer.


Cleantha mengetuk pintu dua kali sebelum Bu Rosalia mengizinkannya masuk.


"Silakan duduk, Cleantha," kata Bu Rosalia.


"Terima kasih, Bu."


Raut wajah Cleantha berubah cemas.


"Memangnya ada apa, Bu?"


Bu Rosalia menghela nafas panjang sebelum menyampaikan kabar buruk kepada Cleantha.


"Maaf, Cleantha. Kamu diminta untuk mengundurkan diri dari perusahaan. Besok kamu bisa mengajukan surat resign kepada Pak Setyo untuk disampaikan secara resmi kepada saya," ucap Bu Rosalia terdengar prihatin.


Harapan Cleantha luruh seketika. Bumi yang dipijaknya seolah runtuh hanya dalam hitungan detik.


Selama ini ia masih bertahan karena memiliki pekerjaan yang menjadi tiang penyangga hidupnya. Namun kini satu-satunya harapannya telah direnggut tanpa ampun.


Tak ada pilihan lain. Ia harus berjuang sekuat tenaga untuk melawan ketidakadilan yang menimpanya.


"Ibu Rosalia, kesalahan apa yang saya perbuat sehingga saya dipaksa mengundurkan diri? Setahu saya seorang karyawan harus diberikan Surat Peringatan tingkat satu hingga tiga, sebelum dia diberhentikan dari pekerjaannya. Saya tidak pernah mendapat SP sama sekali, tapi mendadak saya dipaksa untuk resign. Saya tidak bisa menerima keputusan sepihak ini," tukas Cleantha.


"Cleantha, kamu memang tidak berbuat kesalahan di pekerjaanmu. Tapi ini berkaitan dengan masalah moralitas dan kenyamanan bekerja."


"Sebenarnya saya tidak enak mengatakan ini, tapi kamu diduga sedang hamil. Karena itu owner memintamu resign agar tidak tersebar lebih banyak desas desus di kantor," sambung Bu Rosalia berterus terang.


Jawaban Bu Rosalia membuat dada Cleantha bergemuruh. Kini jelas sudah siapa yang ingin memecatnya. Siapa lagi selain Alvian Adhiyaksa.


Bos divisi finance itu telah memaksanya untuk mengakui kehamilannya. Dan kini Alvian memecatnya karena merasa keberatan dengan kondisinya.


"Baik, Bu, terima kasih atas penjelasannya. Saya mengerti apa yang harus saya lakukan sekarang."

__ADS_1


...****************...


Bagaikan banteng yang terluka, Cleantha nekat pergi ke lantai sembilan. Ia merasa harus menuntut Alvian agar membatalkan keputusan untuk memecatnya. Bagaimanapun sebagai karyawan ia layak memperjuangkan haknya.


"Nona Cleantha, ada keperluan apa Anda datang kemari?" tanya asisten Alvian terkejut melihat Cleantha.


"Saya ingin bertemu Pak Alvian. Apa Beliau masih ada di ruangannya?" tanya Cleantha.


"Iya, Nona. Tapi Tuan Alvian sedang tidak ingin diganggu. Dan sebentar lagi Beliau juga akan pulang."


"Keperluan saya tidak bisa ditunda, Pak. Saya harus bicara dengan Pak Alvian sekarang juga," tukas Cleantha.


"Tunggu, Nona. Nona tidak bisa sembarangan masuk ke ruang direktur kalau Tuan Alvian tidak memanggil Nona," seru asisten Alvian berusaha mencegah Cleantha.


Namun Cleantha tidak mempedulikan larangan itu. Ia menerobos masuk ke dalam ruangan direktur.


Alvian yang sedang berkutat dengan laptopnya, seketika mengalihkan pandangan saat melihat kedatangan Cleantha.


"Clea, kenapa kamu kesini?" tanya Alvian terkesiap.


"Maaf, Tuan. Saya sudah melarangnya, tapi..."


"Sudahlah, biarkan saja," ucap Alvian menyuruh asistennya keluar.


"Pak, kenapa Anda kejam sekali pada saya?" tanya Cleantha dengan suara bergetar.


"Kejam? Aku tidak mengerti apa yang kamu maksudkan?"


"Bapak sudah mengetahui kalau saya hamil dan membutuhkan pekerjaan. Tapi Bapak sengaja memaksa saya resign meskipun saya tidak melakukan kesalahan apapun. Apa Bapak takut digunjingkan para karyawan karena dianggap menghamili saya?"


Alvian mengernyitkan dahinya.


"Aku tidak pernah berniat memecatmu. Kenapa kamu bicara begitu?"


"Bapak tidak perlu berpura-pura. Ibu Rosalia baru saja memanggil saya dan menyuruh saya menulis surat resign. Katanya itu perintah dari owner."


"Tapi bukan aku yang memerintahkan hal itu."


Alvian terdiam sejenak, ia langsung teringat pada Raja.


"Mungkin Kak Raja yang memintamu mengundurkan diri. Karena aku tadi bicara dengannya," ucap Alvian.


Mendengar pengakuan Alvian, Cleantha tidak dapat menahan diri.


Sudah cukup banyak tekanan yang dia tanggung hari ini, tapi Alvian malah memperparah keadaannya.


"Pantas saja, Tuan Raja mengirimkan uang lima ratus juta ke rekening saya. Lalu sekarang dia memecat saya. Dia menggunakan uang dan kekuasaannya untuk menutup mulut saya," tanya Cleantha berlinang air mata.


Entah karena dorongan hormon atau perasaannya yang terluka demikian parah, Cleantha melampiaskan kemarahannya pada Alvian.


"Ini semua gara-gara Bapak! Saya sudah bilang jangan bicara apapun pada Tuan Raja, tapi Bapak tidak mendengarkan saya. Apa Bapak puas bisa menambah kesulitan saya?" tanya Cleantha berlinang air mata.


"Clea, aku tidak pernah bermaksud menyakitimu," sangkal Alvian.


"Saya kira Bapak berbeda dengan orang-orang di sekitar saya. Tapi ternyata Bapak sama saja dengan mereka," kata Cleantha membalikkan punggungnya hendak berjalan pergi.


Tanpa diduga Cleantha, Alvian tiba-tiba mengejarnya dan menariknya ke dalam pelukannya.

__ADS_1


"Clea, jangan menangis. Maafkan aku karena sudah menyusahkanmu. Aku akan mengembalikan pekerjaanmu dan tidak akan membiarkanmu menderita lagi," kata Alvian mengucapkan janjinya.


BERSAMBUNG


__ADS_2