
"Raja, kamu kenapa terluka begitu?" tanya Ny. Marina terkejut.
"Tadi Tuan Raja menangkis ranting pohon yang akan menimpa Almero, Ma," jawab Cleantha sambil menggendong Almero.
"Clea, biar Mama yang mengurus Almero. Lebih baik kamu bantu Raja mengobati lukanya."
"Iya, luka Raja harus segera diobati supaya tidak infeksi," sambung Tuan Bayu.
Tanpa menunggu persetujuan dari Cleantha, kedua orang tua itu membawa serta Almero dan Ivyna ke ruang makan. Mereka meninggalkan Cleantha berdua saja dengan Raja di ruang tamu.
Untung saja Mang Jaya cepat datang membawakan kotak obat.
"Nyonya, ini ada perban dan obat."
"Terima kasih, Pak."
"Saya tinggal dulu sebentar, Tuan, Nyonya. Saya mau memanggil istri saya supaya menyiapkan makan malam," pamit Mang Jaya.
Raja duduk bersandar di sofa tanpa mengatakan apa-apa.
Bila berdiam diri begini, lukanya terasa perih dan berdenyut.
Cleantha sepertinya paham dengan rasa sakit yang dialami Raja. Dengan sigap, ia membuka kotak obat lalu membersihkan luka Raja dengan alkohol.
"Sssshhhh," desis Raja ketika luka menganga itu tersentuh.
"Maaf, Tuan, apa sakit sekali? Saya akan pelan-pelan."
Raja tidak menjawab, lebih tepatnya ia khawatir bila kelepasan bicara. Ia hanya mengamati bagaimana cara Cleantha merawat lukanya dengan hati-hati.
Merasa diperhatikan oleh Cleantha seintens ini, membuat perasaan Raja menghangat.
Sekian lama ia merindukan perhatian dari wanita ini. Namun yang didapatnya selama bertahun-tahun hanyalah kekecewaan dan kepahitan. Cintanya bertepuk sebelah tangan karena Cleantha tidak lagi peduli padanya. Mantan istrinya itu kini hanya mencintai satu orang pria, yaitu Alvian. Bahkan ketika Alvian telah pergi, keadaan tetap tidak berubah.
Raja yakin saat ini pun Cleantha memperhatikannya hanya sebagai bentuk dari ucapan terima kasih. Kenyataan ini sungguh membuat Raja merasa lara sendiri.
"Kenapa aku masih saja mengharapkan wanita yang jelas-jelas tidak mencintai aku? Bodoh sekali,"
batin Raja kesal.
Cleantha mengerutkan dahinya melihat wajah Raja yang berubah masam. Padahal tadi paras tampan pria ini nampak begitu damai.
"Ada apa dengan Tuan Raja? Tadi dia terlihat senang, sekarang ekspresinya seperti orang yang sedang marah? Apa aku salah mengobati lukanya?"
pikir Cleantha keheranan.
"Tuan, sudah selesai," ucap Cleantha mengembalikan perlengkapan ke dalam kotak obat.
"Terima kasih. Aku akan ke kamar," kata Raja berlalu pergi. Pria itu melewati Cleantha tanpa menoleh lagi.
__ADS_1
Cleantha dibuat keheranan melihat sikap Raja yang mendadak berubah dingin. Tapi ia tidak terlalu menghiraukannya. Sekarang Cleantha hanya ingin menyusul Almero di ruang tengah lalu memeluk putranya itu.
"Nyonya Cleantha, masih ingat saya?" panggil Bi Imas yang baru saja memasuki vila.
"Bi Imas? Tentu saja saya masih ingat," kata Cleantha memegang tangan Bi Imas.
"Bagaimana, Nyonya? Nyonya sudah melahirkan anak laki-laki untuk Tuan Raja?" tanya Bi Imas penasaran.
Sebelum Cleantha menjawab, Bi Imas sudah melihat Almero di meja makan. Istri Mang Jaya itu menghampiri Almero dan memandanginya penuh kekaguman.
"Wah, ini dia Tuan Muda kecil. Kasep pisan. Tuan Raja pasti bangga," puji Bi Imas.
Sebenarnya Cleantha ingin menjelaskan bahwa Almero bukanlah anak Raja. Tapi jika dia melakukan hal itu, Bi Imas pasti akan bertanya panjang dan lebar. Dan mungkin akan butuh waktu semalaman untuk menceritakan seluruh kisah rumitnya pada Bi Imas.
...****************...
Suasana makan malam berlangsung hangat. Tuan Bayu mempererat keakraban di tengah keluarga itu dengan menceritakan beberapa pengalaman masa mudanya. Cleantha sampai tertawa mendengar kekonyolan yang dilakukan Tuan Bayu di waktu muda. Ayah Zevira itu memang memiliki kepribadian yang humoris dan menyenangkan. Berbeda jauh dengan karakter mendiang putrinya yang penuh kelicikan.
"Pa, Ma, aku mau istirahat dulu," kata Raja berdiri dari kursinya.
"Ivy, kamu mau ikut Daddy?" tanya Raja kepada Ivyna.
"Aku masih mau bermain dengan Almero, Daddy."
"Raja, ini baru jam delapan malam dan kamu sudah mau tidur?" tanya Tuan Bayu.
"Aku tidak selera makan, Ma. Mungkin karena rasa nyeri di lukaku. Aku cuma butuh tidur sekarang," jawab Raja.
"Kalau begitu, tidurlah," ucap Ny. Marina.
Seusai makan malam, Cleantha mengajak Almero dan Ivyna masuk ke kamar. Mereka sudah sepakat untuk tidur bertiga malam ini.
Ketika membuka pintu, Cleantha terhenyak. Kamar yang ditempatinya adalah kamar dimana dulu ia tidur bersama Raja. Furniturenya masih sama, begitu pula dengan tata letak kamar itu.
"Mommy, what's wrong with you? I'm sleepy," tanya Almero mengguncangkan lengan Cleantha yang sedang melamun.
"Sorry, Honey. Le'ts sleep together," kata Cleantha membelai punggung Almero.
Cleantha membacakan kisah seribu satu malam untuk Almero dan Ivyna, hingga kedua bocah itu tertidur.
Setelah memastikan mereka benar-benar pulas, Cleantha turun dari tempat tidur. Ia belum mengantuk sama sekali. Waktu juga baru menunjukkan pukul sembilan lewat tiga puluh.
Daripada bosan, Cleantha memilih keluar dari kamar untuk berjalan-jalan sebentar.
"Nyonya, Anda belum tidur? Kami ijin mau pulang," ucap Bi Imas dan Mang Jaya.
"Iya, Pak, Bi. Hati-hati di jalan."
"Bibi tadi membuat roti panggang. Bisa untuk camilan Nyonya dan Tuan. Tuan Raja masih duduk di teras depan," kata Bi Imas memberitahu Cleantha.
__ADS_1
"Terima kasih Bi."
Cleantha bergegas menuju ke dapur sambil berpikir. Seingatnya, Raja meninggalkan meja makan lebih dulu dengan alasan ingin istirahat. Namun sekarang ia malah duduk sendirian di teras vila.
Atau barangkali pria itu belum bisa tidur karena nyeri pada lukanya sekaligus merasa lapar. Raja memang hanya makan sedikit ketika makan malam.
"Aku akan membawakan roti ini dan membuatkan teh hangat untuk Tuan Raja,"
gumam Cleantha mengambil inisiatif.
Selesai dengan aktivitasnya, Cleantha membawa nampan kecil berisi roti dan dua gelas teh hangat.
Perlahan ia membuka pintu dan berjalan menuju ke teras.
Cleantha mendapati Raja sedang menatap ke arah hutan yang gelap. Belum pernah ia melihat Raja melamun sendirian seperti itu. Seolah-olah pikirannya tengah mengembara entah kemana.
"Tuan," sapa Cleantha.
Raja menoleh dan terkejut melihat kehadiran Cleantha di sampingnya.
"Kenapa kamu ada disini?" tanya Raja dingin.
"Kata Bi Imas Tuan duduk sendirian di teras. Kebetulan saya juga belum bisa tidur. Saya membawakan roti dan teh untuk Tuan. Tadi Tuan makan sedikit sekali," kata Cleantha.
"Aku tidak lapar," jawab Raja singkat.
"Tapi Tuan sedang terluka. Tuan butuh makan supaya...."
"Cukup, Clea! Tidak usah pura-pura peduli padaku. Aku tidak butuh balas budimu. Aku makan atau tidak, bukankah itu tidak penting untukmu?" potong Raja dengan nada ketus.
"Kenapa Tuan marah? Saya tulus memberikan perhatian pada Tuan."
Raja menghela nafas dalam-dalam.
"Kumohon Clea. Perhatianmu ini hanya akan membuat hatiku semakin terluka. Aku akan berharap yang bukan-bukan dan itu semakin menyisaku," tandas Raja terdengar putus asa.
"Apa maksud, Tuan?"
Raja menatap Cleantha dengan tajam. Tiba-tiba saja ia kehilangan kendali atas perasaan yang telah lama dipendamnya.
Raja meraih tangan Cleantha dan menggenggamnya erat-erat.
"Kamu harus mendengarnya malam ini."
"Selama kita menikah, sebenarnya aku sudah jatuh cinta padamu. Aku selalu memikirkan bagaimana cara terbaik untuk menyatakan cintaku. Tapi semua impianku kandas. Karena kesalahanku sendiri aku telah kehilangan dirimu. Dan saat aku menyesal, kamu telah berpaling pada Alvian. Itu membuatku sangat hancur," ucap Raja penuh kegetiran.
"Aku berusaha melupakanmu, tapi tidak bisa. Karena sampai sekarang aku...masih...mencintaimu," kata Raja terbata-bata.
BERSAMBUNG
__ADS_1