
***Happy Reading.
Siapkan kipas agar tidak kepanasan. Bagi yang belum cukup umur, harap skip saja***.
Derasnya pancaran air hangat dari shower, tidak juga mampu meredakan kerisauan yang melanda Cleantha.
"Dag, dig, dug."
Irama dalam dadanya bahkan terus bergemuruh seperti genderang perang. Cleantha mengutuki kebodohannya sendiri yang mudah sekali tersulut oleh godaan dari suaminya. Padahal Raja hanya menyentuhnya sedikit saja. Namun kulitnya sudah begitu sensitif, seolah sangat merindukan jamahan pria itu.
Terlebih lagi dengan cerobohnya, ia telah memberikan persetujuan untuk melayani Raja malam ini. Sungguh suatu keputusan yang gila. Tampaknya ia telah kehilangan kewarasannya hingga melontarkan kalimat memalukan seperti itu.
Ibarat nasi sudah menjadi bubur. Sudah tidak ada lagi kesempatan untuk menarik ucapannya.
Cleantha ingin sekali berlama-lama di kamar mandi. Berendam di bathtub, memakai lulur mandi, atau melakukan apa saja untuk mengulur-ulur waktu. Tapi percuma saja. Trik itu tidak akan bertahan lama.
Paling-paling hanya akan berpengaruh selama beberapa menit. Sesudah itu ia tetap harus keluar dan menunaikan kewajibannya.
Detik ini juga Cleantha berharap ia mendadak jatuh pingsan. Dengan begitu Raja akan batal menagih janji yang terlanjur diucapkannya.
Setelah selesai mengeringkan tubuh dengan handuk, Cleantha mencari-cari bajunya. Tapi ia tidak menemukan satu helai pun disana. Bahkan piyama mandi pun tidak ada.
Ini semua pasti efek dari rasa gugupnya yang telah mencapai level paling maksimal.
"Bodoh, kenapa tadi aku masuk ke kamar mandi tanpa membawa pakaian sama sekali? Lalu aku harus keluar dengan memakai baju apa? Tidak mungkin aku mengenakan baju kerja yang sudah kotor ini,"
pikir Cleantha menepuk keningnya sendiri.
Dengan kalut, Cleantha mencari ide untuk mengatasi masalahnya. Tidak ada jalan keluar lain. Hanya ada handuk yang bisa dipakai untuk menutupi tubuhnya saat ini.
"Pakai handuk saja daripada aku beku karena kedinginan disini,"
gumam Cleantha sembari melilitkan handuk tebal itu di tubuhnya.
Cleantha mulai merasakan hawa dingin merayapi raganya akibat mandi terlalu lama.
"Kreekkk."
Suara derak pintu yang terbuka terdengar oleh telinga Raja. Dengan tidak sabar, Raja berdiri dari tepi tempat tidur.
Ia sudah menunggu Cleantha cukup lama, mungkin hampir satu jam.
Entah apa yang dilakukan istrinya itu di dalam sana. Mungkin ia berendam sabun aroma terapi atau cairan khusus agar bisa lebih memuaskannya. Apapun itu Raja tidak peduli. Ia bahkan rela menunggu semalaman demi bisa memiliki Cleantha.
Mata Raja lekat menatap Cleantha yang berjalan dengan langkah malu-malu. Istrinya itu hanya menggunakan balutan handuk, tanpa sehelai baju pun di tubuhnya. Jelas sudah, wanita cantik ini juga menginginkan semua berjalan cepat.
Barangkali Cleantha sengaja tampil begitu agar membangkitkan naluri primitifnya sebagai lelaki.
Jika memang itu tujuannya, Cleantha telah berhasil. Dengan langkah lebar, Raja menarik Cleantha hingga mereka saling menempel. Tidak ada jarak sedikit pun yang tersisa antar keduanya.
"Kamu mulai pintar menggodaku sekarang," tutur Raja merendahkan suaranya.
"A..apa maksud, Tuan?" tanya Cleantha tidak paham.
"Kamu hanya memakai handuk ini, supaya aku tidak perlu membuang waktu untuk melepasnya."
__ADS_1
"Eh, bukan Tuan. Saya lupa tidak membawa pakaian," jawab Cleantha tergagap.
"Apapun itu aku menyukainya. Kamu sudah mempermudah pekerjaanku."
Raja mulai menggerakkan jemarinya untuk membuka lilitan handuk itu. Namun ketika menyentuh bahu Cleantha, Raja merasakan kulit istrinya itu begitu dingin. Cleantha sedikit menggigil.
"Kamu kedinginan?" tanya Raja memeluk Cleantha.
"I..iya, Tuan."
"Ini karena kamu mandi terlalu lama. Tenang saja, aku akan segera menghangatkanmu. Kamu bahkan akan berkeringat setelah ini," bisik Raja di ceruk leher Cleantha.
Benar saja. Berada di dekapan Raja dan melekat pada da...danya yang bidang, membuat aliran darah Cleantha menghangat.
Raja memulai dengan usapan lembut pada bibir Cleantha.
Sambil mempererat dekapannya, Raja tidak tahan melihat bibir Cleantha yang merekah. Membuatnya semakin tergoda untuk menikmatinya dalam-dalam.
Tanpa sadar, Raja menarik tengkuk Cleantha lebih dekat padanya. Mencium bibir merah muda itu dengan intens, hingga Cleantha ikut terhanyut. Membiarkan Raja mengeksplor sambil memejamkan mata.
"Aku akan memperlakukanmu dengan lembut. Aku yang akan bekerja dan kamu bisa menikmatinya, Sayang," kata Raja kembali menghujani Cleantha dengan kecupan di kelopak mata, hidung, dan bawah telinganya.
Raja beralih ke leher jenjang Cleantha. Menelusuri dengan seduktif di sejumlah titik yang berbahaya.
Melihat Cleantha makin tersulut oleh rayuannya, Raja segera melepas handuk yang membalut tubuh Cleantha. Dan ia melakukannya dengan begitu mudah.
Aroma mawar yang lekat pada tubuh Cleantha menimbulkan sensasi tersendiri bagi Raja. Terlebih ketika melihat dua keindahan nan sintal milik Cleantha yang seolah menantang dirinya.
Tanpa aba-aba, Raja membawa Cleantha ke ranjang. Mendudukkan Cleantha ke pangkuannya, lalu menyesap kedua bukit itu secara bergantian.
Kalimat memalukan lolos begitu saja dari mulut Cleantha.
"Kamu menikmatinya, Clea?" tanya Raja sambil mengusap punggung istrinya.
Cleantha tidak mampu menjawab. Bagaimana bisa karena saat ini logikanya sudah lenyap. Ia tidak mampu berpikir jernih selain pasrah dalam kenikmatan yang ditawarkan Raja.
Dengan pengalamannya selama bertahun-tahun, Raja memang lihai dalam hal permainan cinta. Hanya saja kemampuannya itu terpaksa tidak dipergunakan semenjak hatinya terluka oleh pengkhianatan.
Pelan-pelan, Raja membaringkan Cleantha di atas ranjang. Ia terus bergerilya sambil memainkan jari jemarinya dengan nakal di bawah sana.
Cleantha sudah berada sepenuhnya dalam kuasa Raja. Setiap kali bibir Raja menyentuh bagian tertentu, ada gelora panas yang timbul di tubuhnya. Gelora itu menuntutnya untuk meminta lebih lagi kepada sang suami.
Raja merasa sudah berada di puncak tertinggi. Sebenarnya ia ingin lebih lama lagi memberikan kenikmatan pada Cleantha. Namun ia sudah tidak sanggup menguasai dorongan hasrat. Bahkan ia tidak pernah segila ini saat dahulu bersama Zevira.
"Kita langsung ke intinya, Sayang," kata Raja terengah-engah.
Seakan terhipnotis, Cleantha menuruti permintaan Raja. Tanpa memikirkan rasa malu, ia meremas rambut Raja kuat-kuat saat pria itu menenggelamkan miliknya ke dalam dirinya.
Raja sendiri merasa puas ketika berhasil mendobrak pintu yang sempit itu.
Ia ingin berlama-lama menikmati momen indah tersebut. Berada di dalam Cleantha sungguh membuatnya betah dan tidak ingin berhenti bergerak.
Raja memompa pinggangnya perlahan agar tidak menyakiti Cleantha. Beruntung kali ini Cleantha mampu mengimbangi iramanya. Bahkan sesekali istrinya itu turut membantu usahanya.
Roda waktu bergulir sangat cepat. Raja merasakan desakan yang tidak tertahankan, hingga hasrat yang dia pendam meledak begitu dahsyat.
__ADS_1
Sambil mengenggam tangan Cleantha, Raja mengeram panjang sebelum mengalirkan benih hangat ke dalam rahim istrinya.
Ia berharap dari percintaannya kali ini akan membuahkan hasil. Memiliki seorang anak dari Cleantha adalah impian terbesarnya saat ini.
"Sudah selesai, Sayang," kata Raja menjatuhkan tubuhnya ke samping Cleantha.
Masih mengatur nafas, Raja merasakan peluh memenuhi tubuhnya. Begitu pula dengan Cleantha.
Percintaan mereka memang sangat intens, hingga tubuh mereka terasa lengket meski berada di kamar dengan pendingin ruangan.
"Terima kasih, Clea. Kamu sudah melayaniku dengan baik. Aku tidak akan melupakan kenangan luar biasa ini," ucap Raja sambil mengecap telinga istrinya.
Cleantha sendiri masih lemas. Namun anehnya kali ini ia merasa bahagia.
Berbeda dengan percintaan pertamanya dengan Raja yang menguras air mata. Malam ini sikap Raja penuh dengan kasih sayang. Seakan-akan pria itu memiliki rasa cinta yang besar untuknya.
"Berbaringlah disini," kata Raja memberi isyarat agar Cleantha meletakkan kepala di dadanya.
Cleantha pun beringsut. Entah mengapa dia begitu penurut. Bahkan ia ingin bergelung semalaman dalam dekapan suaminya itu.
"Kamu yakin tidak akan ikut bersamaku?" tanya Raja sekali lagi.
"Tidak, Tuan. Hmmm, Tuan, boleh saya bertanya sesuatu?"
"Tentu saja," jawab Raja tersenyum.
Melihat senyuman yang terukir di wajah Raja, Cleantha makin terpesona. Baru sekali ini Raja tersenyum begitu tulus. Dan senyuman itu membuatnya semakin terlihat tampan.
"Apa Tuan yang mengirimkan perawat untuk Ayah saya?" tanya Cleantha memberanikan diri.
"Iya. Aku ingin ayah mertuaku mendapat perawatan yang terbaik. Apa kamu keberatan?"
"Tidak, Tuan. Saya justru ingin berterima kasih pada Tuan," jelas Cleantha.
Raja membelai rambut Cleantha sambil tetap memeluk istrinya.
"Clea, selama aku tidak ada kamu boleh menginap di rumah keluargamu. Aku tahu kamu pasti merindukan ayahmu."
Mata Cleantha membulat sempurna mendengar perkataan Raja. Hatinya serasa berbunga-bunga karena menerima hadiah termanis dari sang suami.
"Terima kasih, Tuan. Anda sangat baik pada saya," ucap Cleantha melingkarkan tangannya di tubuh Raja.
Raja bangkit sebentar dari tempat tidur, lalu mengambil kartu berwarna keemasan dari dompetnya.
"Ini untukmu. Pakailah untuk berbelanja dan membelikan semua keperluan ayahmu," kata Raja menyerahkan debit card kepada Cleantha.
"Tu..an, saya tidak membutuhkan ini."
"Kamu adalah istriku, sudah sewajarnya aku memberikan nafkah padamu. Apa yang aku punya itu juga milikmu. Jika kamu menolak pemberianku, artinya kamu tidak mengakui aku sebagai suamimu," tegas Raja.
"Baik, Tuan, saya akan menerimanya," kata Cleanta mengalah.
"Kamu bisa jalan-jalan sambil belanja untuk mengusir kebosanan. Tapi jangan berdekatan dengan pria lain atau aku akan marah padamu," ucap Raja dengan posesifnya.
"Iya, Tuan, saya berjanji."
__ADS_1
BERSAMBUNG