Istri Bayaran Milik Tuan Raja

Istri Bayaran Milik Tuan Raja
Bab 111 Membuatmu Jatuh Cinta Lagi (Part 1)


__ADS_3

Cleantha terpaku untuk sesaat. Ada sesuatu yang menusuk relung hatinya ketika mendengar pengakuan Raja. Entah ia merasa belum siap atau ini semua terjadi di luar ekspektasinya. Namun ia menangkap ketulusan dari sorot mata pria yang tengah menatapnya dalam kegelapan malam.


Andaikata benar bahwa tubuh manusia memancarkan gelombang vibrasi tertentu, maka pastilah energi keputusasaan yang kini sedang dipancarkan Raja. Dan Cleantha bisa merasakan kerapuhan emosi pria itu. Bahkan tangan Raja yang biasanya hangat dan kokoh, kini sedikit gemetar saat menggenggam tangannya.


Barulah detik ini, ia mengetahui bahwa pandangannya terhadap Raja salah besar. Selama ini ia menganggap Raja sebagai pria egois yang hanya tahu cara melukai wanita. Ia juga sempat membenci Raja dan menyesal pernah menjadi istri pria itu. Tak disangka, Raja sudah mencintainya sejak dulu. Hanya saja ia tidak punya nyali untuk mengakuinya.


Terselip rasa penyesalan dalam diri Cleantha. Tetapi ia tidak mampu menggambarkan bagaimana perasaannya untuk Raja saat ini. Pasalnya seluruh cinta telah dia persembahkan untuk Alvian. Ia tidak yakin apakah bisa menerima pria lain untuk menggantikan posisi Alvian di hatinya.


"Clea, apa kamu mau memberiku satu kesempatan lagi?" tanya Raja memberanikan diri. Rantai yang membelenggu jiwanya serasa lepas begitu saja setelah ia mengungkapkan cintanya pada Cleantha.


"Tuan," ucap Cleantha dengan suara bergetar.


"Jika saya mendengar ini ketika saya masih menjadi istri Tuan, pasti saya akan menjadi wanita yang paling bahagia. Tapi keadaan kita sudah berubah. Saya bukan lagi Cleantha yang dulu Tuan kenal. Sekarang saya adalah adik ipar Tuan dan ibunya Almero. Saya yakin Tuan pun sudah memiliki wanita lain selepas kepergian Kak Vira. Karena itu perasaan yang masih tersisa dari masa lalu harus kita hapuskan."


Mendengar jawaban Cleantha, Raja segera melepaskan genggaman tangannya.


"Apa ini artinya kamu menolakku? Aku akui kalau aku memiliki seorang kekasih. Tapi itu hanya sebagai bentuk pelarianku saja agar bisa melupakanmu."


"Jujurlah, Clea, apa sebenarnya kamu masih membenciku?" tanya Raja sarat kekecewaan.


"Saya sudah memaafkan Tuan sejak lama. Saya berkata begini karena saya tidak ingin membuat Tuan terluka. Terus terang, saya belum siap menerima pria manapun. Saya masih sangat mencintai almarhum suami saya," jawab Cleantha meremukkan hati Raja untuk kesekian kalinya.


"Kalau kamu tidak membenciku lagi mengapa kamu bersikap begini padaku? Apa tidak tertinggal sedikitpun perasaanmu kepadaku? Dan vila ini... tidakkah kamu mengingat kenangan kita berdua disini?" tanya Raja menatap sayu wanita yang dicintainya.


Tak terasa bibir Cleantha bergetar. Melihat penderitaan yang dirasakan Raja, hatinya turut merasakan derita yang sama.


Sesungguhnya ia juga terkenang masa-masa kebersamaan mereka, namun sayang rasa cinta itu telah pupus seiring berjalannya waktu.


"Saya...."


"Tidak usah diteruskan, Clea. Mungkin aku yang tidak tahu diri karena menyatakan perasaanku terlalu cepat. Aku hanya tidak ingin kehilangan kesempatan untuk kedua kalinya."


"Maafkan saya, Tuan. Saya tidak bermaksud menyakiti Tuan," ucap Cleantha dirundung rasa bersalah.


"Sudahlah, aku adalah pria yang kebal dengan rasa sakit. Dari pengkhianatan sampai patah hati semua pernah aku alami," tutur Raja membuang pandangannya ke arah langit malam.


"Sekarang kembalilah ke kamarmu. Terima kasih atas roti dan tehnya. Ucapanku tadi anggap saja kamu tidak pernah mendengarnya," kata Raja menutup pembicaraan.

__ADS_1


Cleantha tergerak untuk menghibur Raja. Tapi jika ia melakukannya malah akan memberikan harapan palsu pada lelaki itu.


"Saya permisi, Tuan. Selamat malam," kata Cleantha berlalu pergi.


Raja memandang punggung Cleantha dengan tatapan nanar. Mungkinkah ia sanggup kehilangan wanita ini untuk selamanya? Padahal takdir seolah membukakan jalan bagi mereka untuk kembali bersama. Entah mengapa menyadari hal ini membuat tekad Raja semakin menguat.


"Clea, aku tidak mau kehilangan dirimu. Kini tidak ada penghalang maupun orang ketiga di antara kita. Sudah saatnya aku berjuang untuk mendapatkan cintamu. Aku pasti akan membuatmu jatuh cinta lagi padaku,"


gumam Raja.


...****************...


Esok paginya, mereka berkumpul di ruang makan. Anak-anak terlihat sangat bersemangat untuk melanjutkan liburan mereka.


"Daddy, apakah hari ini kita akan ke gunung dan berkemah?" tanya Ivyna mengenakan tas ranselnya.


"Tangan Daddy masih sakit, Ivy. Kita jalan-jalan saja di sekitar danau," kata Raja.


"Raja, wajahmu pucat. Sepertinya kamu kurang sehat. Lebih baik kamu beristirahat saja di vila," kata Ny. Marina.


Semalaman Raja hampir tidak tidur karena gelisah. Pagi ini kepalanya juga pusing meskipun ia berusaha untuk menyembunyikannya.


"Aku tidak mau merepotkan Papa dan Mama," kata Raja.


"Jangan meremehkan kami, Raja. Kami masih kuat jika hanya menyusuri danau. Benar kan, Marina?"


"Iya, betul. Kalau begitu ayo kita berangkat sekarang."


Ny. Marina menggandeng tangan Almero, sedangkan Tuan Bayu menggandeng Ivyna.


Cleantha bersiap membawa bekal dan mengikuti mereka keluar dari vila. Namun kedua orang tua itu mencegahnya di depan pintu.


"Clea, jangan ikut kami. Bantulah Raja untuk merawat lukanya. Kasihan jika dia harus tinggal sendirian di vila dalam keadaan sakit," ujar Ny. Marina.


"Ma, tapi...."


"Tenanglah, anak-anak akan bersenang-senang bersamaku dan Bayu."

__ADS_1


"Bye, Mom," ucap Almero melambaikan tangannya.


Sesudah berkata demikian, Ny. Marina dan Tuan Bayu membawa anak-anak masuk ke mobil. Ini memang bagian dari rencana besar mereka untuk mendekatkan Raja dan Cleantha. Yaitu dengan memberikan peluang bagi mereka untuk berduaan di vila tanpa gangguan.


Cleantha memandang kepergian mertua dan anak-anaknya dengan perasaan tidak rela. Berat baginya jika harus tinggal berdua saja dengan Raja sepanjang siang.


"Semoga mereka segera pulang. Sekarang aku akan mengobati luka Tuan Raja dulu. Kemudian aku akan menyiapkan makan siang,"


batin Cleantha menyusun jadwal kegiatannya.


Cleantha mengambil kotak obat lalu mencari keberadaan Raja. Pria itu tadi masih ada di ruang tengah, namun kini ia menghilang.


"Dimana Tuan Raja? Apa dia masuk ke kamarnya? Kalau dia di kamar, aku tidak mungkin menyusulnya. Tapi ini sudah waktunya perbannya harus diganti,"


pikir Cleantha bimbang.


Masih diliputi keraguan, Cleantha mengetuk pintu kamar Raja.


"Tuan, apa Anda di dalam? Tolong keluar sebentar, saya mau mengganti perban Tuan," panggil Cleantha dengan suara keras.


"Masuk saja, pintunya tidak dikunci. Kepalaku sedang pusing," jawab Raja dari balik pintu.


Cleantha menimbang-nimbang sebentar. Akhirnya dia memutuskan untuk masuk ke kamar itu. Dia akan mengobati luka Raja secepat mungkin lalu bergegas pergi. Toh tidak akan terjadi apapun di antara mereka.


"Permisi, Tuan. Saya akan mengganti perbannya," kata Cleantha melihat Raja sedang berbaring.


Raja bangkit dan duduk bersandar di tempat tidur. Ia memejamkan mata untuk mengenyahkan rasa pusing yang menderanya.


Tanpa membuang waktu, Cleantha membuka perban yang ada di lengan Raja. Ia mengoleskan obat luka lalu menutupnya dengan perban baru.


"Tuan, apa kepala Anda pusing sekali?" tanya Cleantha prihatin melihat kondisi Raja.


"Iya."


"Tunggu disini, Tuan. Saya akan mengambilkan obat sakit kepala."


Cleantha hendak beranjak, namun tangan Raja mendadak menahan lengannya.

__ADS_1


"Aku tidak butuh obat. Aku akan sembuh bila seseorang memijat kepalaku," kata Raja masih dengan mata terpejam.


BERSAMBUNG


__ADS_2