Istri Bayaran Milik Tuan Raja

Istri Bayaran Milik Tuan Raja
Bab 116 Bersatu Kembali


__ADS_3

Setelah mendapat kesempatan bersalaman dengan Tuan Hadinata dan istrinya, Raja berpamitan untuk meninggalkan acara resepsi.


Cleantha sendiri tidak mengerti mengapa Raja begitu terburu-buru.


"Sebenarnya kita mau kemana, Tuan? Saya ingin pulang saja ke rumah karena ini sudah malam."


"Tenanglah, aku tidak akan menculikmu," jawab Raja mengemudikan mobilnya. Sengaja ia membiarkan Cleantha penasaran dengan tempat tujuan mereka.


Sekitar tiga puluh menit berkendara, Raja akhirnya memarkirkan mobilnya di sebuah restoran berkonsep taman.


"Tuan, kenapa kita ke restoran? Bukankah kita sudah makan malam di resepsi tadi?" tanya Cleantha keheranan.


"Aku mengajakmu kesini bukan untuk makan," kata Raja menggandeng tangan Cleantha.


Seorang pelayan pria berkemeja putih bergegas menyambut kedatangan mereka.


"Selamat malam, Tuan."


"Malam, saya sudah memesan meja khusus candle light dinner atas nama Raja Adhiyaksa," kata Raja menjelaskan.


"Oh, baik, Tuan, mari ikut saya."


Pelayan itu melangkah lebih dulu melalui jalan setapak.


Cleantha melihat sekeliling restoran yang temaram dengan lampu warna warni. Sebagian tamunya adalah pasangan muda mudi. Maklum saja ini adalah malam minggu, waktunya dua sejoli memadu kasih.


Mereka terus berjalan sampai tiba di sebuah gazebo bernuansa serba putih. Gazebo dengan atap berbentuk oval itu letaknya terpisah dari gazebo lain. Cahayanya juga paling terang karena ada beberapa lilin yang menghiasinya.


"Silakan, Tuan dan Nyonya," kata pelayan itu.


Dengan ragu-ragu, Cleantha melangkahkan kaki ke dalam gazebo. Nuansa romantis langsung terasa, membuat Cleantha bingung harus bersikap bagaimana terhadap Raja.


"Duduklah, Clea," kata Raja menarik sebuah kursi berbalut kain putih untuk wanitanya. Selanjutnya Raja duduk di kursi yang berhadapan dengan Cleantha.


"Kamu pasti bertanya-tanya kenapa aku membawamu kesini? Kamu akan tahu sebentar lagi."


Tak lama, dua orang pelayan wanita datang membawakan nampan berisi potongan cake, ice cream, dan dua buah minuman. Desert manis itu mereka sajikan di hadapan Cleantha.


"Clea, aku memesan itu untukmu. Seingatku kamu sangat menyukai makanan manis."


"Itu dulu, Tuan, sekarang tidak lagi," jawab Cleantha jujur.


Cleantha mengamati satu per satu desert yang didominasi warna merah dan pink. Sebagai wanita, ia memahami apa makna di balik simbol dan warna yang dipilih Raja.


"Potonglah cake red velvet itu," ucap Raja. Ia sudah berlatih selama beberapa hari agar tidak salah bicara. Malam ini harus menjadi momen paling spesial dalam kehidupan mereka.


Cleantha mengambil garpu dan pisau kecil yang diletakkan di atas piring.

__ADS_1


Ia mengambil sepotong kecil cake dengan garpu lalu mencicipinya. Rasanya manis dan teksturnya lembut, sungguh memanjakan lidah.


"Coba potong yang di bagian tengah," sambung Raja.


Meskipun Cleantha tidak mengerti, ia menuruti saja permintaan Raja. Namun ketika hendak memotong cake, pisau dan garpunya beradu dengan suatu benda yang keras.


Cleantha mengernyitkan dahi. Berusaha untuk membelah cake menjadi dua tapi usahanya gagal.


"Tidak bisa?" tanya Raja tersenyum.


"Iya, Tuan, sepertinya di dalam cake ini ada sesuatu."


"Singkirkan sebagian cream dan kue di atasnya supaya kamu bisa menemukan benda apa itu," ucap Raja memberikan petunjuk.


Dengan garpu, Cleantha melakukan apa yang dikatakan Raja.


Bola matanya membulat ketika melihat sebuah kotak kecil berwarna merah.


"I...ini cincin?" tanya Cleantha seperti berbicara pada dirinya sendiri.


Melihat ekspresi terkejut Cleantha, Raja berdiri menghampirinya. Ia mengambil kotak itu dari tangan Cleantha, kemudian membuka penutupnya.


Tampaklah sebuah cincin berlian yang berkilau. Raja mengambil cincin itu lalu menunjukkannya kepada Cleantha.


"Dulu saat kita menikah, aku tidak melamarmu. Yang kulakukan hanya memaksamu dan membuatmu menderita. Tapi sekarang aku ingin memperbaiki kesalahan itu."


"Cincin ini adalah tanda cinta dan keseriusanku padamu. Aku ingin melamarmu untuk menjadi istriku lagi. Mungkin bagimu aku terlalu terburu-buru, tapi aku tidak ingin kehilangan dirimu untuk kedua kalinya. Aku tidak mau menjadi pria yang lamban seperti dulu."


Detik berikutnya, Raja menyematkan cincin indah itu di jari manis Cleantha. Ia bisa merasakan bahwa telapak tangan Cleantha begitu dingin.


Sementara Cleantha masih terpaku layaknya seseorang yang terkena mantra sihir.


"Clea, jika kamu menerima lamaranku, aku berjanji akan selalu membahagiakanmu dan Almero. Aku akan menjadi suami dan ayah yang baik."


Sudut mata Cleantha mulai tergenang air mata. Memori lamanya bersama Raja yang sekian tahun terlupakan, mendadak muncul bagai terjangan ombak yang bertubi-tubi.


Apalagi saat Raja mendekapnya, ia sadar bahwa dahulu pernah mencintai lelaki itu. Sayangnya pria itu juga yang menyakiti dan meremukkan hatinya hingga tak bersisa.


Melihat Cleantha menangis, Raja mengusap air mata wanitanya dengan lembut.


"Katakan iya, Clea. Bagiku yang terpenting adalah kebahagiaan anak-anak kita, Almero dan Ivyna. Jika kita bersatu, kehidupan mereka akan lengkap seperti semula."


Mendengar ketulusan Raja untuk anaknya, hati Cleantha luluh. Harus diakui bahwa Raja adalah pria yang paling tepat untuk menjadi ayah sambung Almero.


Dengan suara bergetar, Cleantha memberikan jawabannya.


"Saya....bersedia. Tapi...saya harus jujur kepada Tuan. Saat ini saya belum bisa...." tutur Cleantha tidak dapat melanjutkan perkataannya.

__ADS_1


Dari awal Raja sudah menduga hal ini. Kemungkinan Cleantha akan menerima lamarannya demi anak-anak. Tapi secara hati dan lahiriah, ia belum mampu menjalankan kewajiban sebagai istri. Walaupun begitu, ia rela menunggu seumur hidup asalkan Cleantha telah berstatus sebagai istrinya.


"Sudah kukatakan kalau aku tidak akan memaksa. Aku akan menunggumu sampai kamu benar-benar siap menerimaku. Sekaligus aku akan membuktikan padamu bahwa aku telah berubah. Aku bukan lagi pria egois yang suka memaksakan kehendak."


Cleantha tidak mampu berkata-kata. Sementara Raja merasa sangat bahagia karena lamarannya telah diterima.


"Terima kasih karena kamu mau memberiku kesempatan kedua, Sayang. Kita mulai semuanya dari awal lagi," ucap Raja mencium dahi Cleantha.


Panggilan "Sayang" masih terdengar aneh di telinga Cleantha. Namun ia mesti membiasakan diri, karena tidak lama lagi mereka akan menjadi suami istri.


...****************...


Sebelum menentukan hari pernikahan, Cleantha dan Raja mengunjungi makam Alvian.


Cleantha meletakkan bunga di atas makam suaminya sambil memanjatkan doa. Begitu pula dengan Raja.


"Al, aku akan menikah dengan Cleantha. Kamu jangan khawatir, aku akan menjaga anak dan istrimu dengan baik dan tidak akan pernah menyakiti mereka,"


ucap Raja di dalam hati.


Waktu pun berlalu begitu cepat. Cleantha tidak pernah membayangkan jika dalam hidupnya ia akan menikah untuk ketiga kalinya. Entah takdir macam apa ini sehingga dia harus bersuamikan dua pria yang berbeda. Namun ia sudah memasrahkan diri pada kehendak Yang Kuasa.


Pernikahan Cleantha dan Raja berlangsung dengan sederhana, karena memang itulah keinginan Cleantha. Hanya sanak saudara dan relasi bisnis terdekat yang hadir di pernikahan mereka.


Sepanjang acara, wajah Almero dan Ivyna sangat ceria. Binar kebahagiaan tampak jelas di mata kedua anak itu, saat mendampingi orang tua mereka di pelaminan.


Di malam pertama, mereka tidur berempat. Seperti janjinya, Raja tidak memaksanya untuk melakukan malam pengantin. Raja sudah cukup bahagia dengan keadaan mereka sekarang. Ia tidak akan putus asa untuk membuat Cleantha mencintai dirinya sepenuh hati.


Keesokan harinya, Ny. Marina dan Tuan Bayu bertandang ke rumah Raja. Mereka turut bahagia atas bersatunya pasangan pengantin baru itu.


"Raja, Clea, kami ingin memberikan hadiah pernikahan untuk kalian," kata Tuan Bayu.


Tuan Bayu menyerahkan dua lembar tiket yang dipegangnya kepada Raja.


"Kami sudah memesan tiket pesawat ke Bali untuk bulan madu kalian. Meskipun hadiah ini tidak seberapa, kami harap kalian menyukainya. Disana nanti, kalian bisa tinggal di vila pribadiku."


"Tapi, bagaimana dengan Almero dan Ivyna, Om? Mereka harus sekolah," tanya Cleantha coba menghindar.


"Ada kami berdua yang akan menjaga mereka, Clea. Lagipula kalian pergi hanya tiga hari," jawab Ny. Marina.


"Betul, pengantin baru butuh waktu untuk berduaan. Kami ingin bisa segera menimang cucu dari kalian," goda Tuan Bayu.


Raja hanya tersenyum mendengar ucapan mertuanya. Harapannya bulan madu ini bisa membuat Cleantha menerima dirinya sebagai suami yang sesungguhnya.


**Bersambung


Jangan lewatkan episode terakhir "Istri Bayaran Milik Tuan Raja."

__ADS_1


Tinggalkan jejak like, comment, dan votenya y**.


__ADS_2