Istri Bayaran Milik Tuan Raja

Istri Bayaran Milik Tuan Raja
Bab 57 Perangkap Berbahaya (Part 2)


__ADS_3

Keesokan Harinya...


Cleantha masuk kerja seperti biasanya, tapi hari ini ia merasa sedikit lesu. Ibarat daya baterai, energinya hanya terisi lima puluh persen. Pasalnya, ia tidak akan mendengar suara Raja untuk malam nanti.


Akhir-akhir ini rasa ketergantungan pada suaminya itu kian hari makin bertambah. Sungguh suatu sinyal yang sangat berbahaya. Bagaimana nanti bila pernikahannya dengan Raja telah selesai? Barangkali ia tidak akan punya tenaga untuk melakukan aktivitas apapun.


Cleantha duduk di meja kerjanya. Menopang dagu dengan satu tangan sambil memandangi tumpukan file di depan matanya. Hari ini Nurma izin tidak masuk kerja. Artinya dia harus bekerja extra keras tanpa adanya bimbingan dari seniornya itu.


"Aku tidak boleh menyerah sebelum berjuang. Harus semangat, Clea. Pekerjaan ini adalah tumpuan harapanmu di masa depan. Jangan terlalu berlebihan memikirkan sesuatu yang belum tentu menjadi milikmu,"


batin Cleantha menyemangati dirinya sendiri.


"Mbak, kenapa melamun? Lagi kangen pacarnya ya? Pacar Mbak Clea kan ada di lantai sembilan, nanti juga ketemu," celetuk Galih mengagetkan Cleantha.


"Eh, Mas Galih, saya tidak tahu Mas kesini. Ada apa?" tanya Cleantha merasa malu, karena Galih memergokinya melamun pada jam kerja.


"Aduh, apa kalau lagi dimabuk cinta memang begini? Orang sebesar saya sampai tidak kelihatan. Untung saya belum mengalami jatuh cinta. Saya kesini karena mau minta uang petty cash, Mbak. Saya disuruh Pak Setyo untuk fotocopy dokumen pajak dan beli materai 6000 sebanyak 50 lembar," kata Galih menerangkan maksudnya.


Galih menyerahkan selembar kertas formulir kepada Cleantha.


"Ini form permintaan uangnya sudah ditandatangani Pak Setyo, Mbak."


"Iya, Mas, tunggu sebentar. Saya ambilkan box petty cash," ucap Cleantha berdiri dari kursinya.


Sambil berjalan ke ruang brankas, Cleantha mencoba mengatur nafasnya. Ia harus bersikap profesional di tempat kerja. Tidak boleh mengacaukan tugas-tugasnya karena memikirkan urusan pribadi. Yah, setelah ini dia akan memusatkan perhatian penuh pada pekerjaannya.


...****************...


Disibukkan oleh berbagai macam pekerjaan, membuat Alvian lupa waktu.


Dia baru sempat melihat ponselnya dan melihat pesan masuk dari Ayesha.


"Al, jam berapa kamu pulang dari kantor? Aku ingin mengajakmu dinner berdua di kafe Amore, tempatnya romantis,"


tulis Ayesha.


Dengan cepat Alvian mengetikkan jawabannya.


"Maaf Ayesha, hari ini aku sudah ada janji dengan saudaraku. Besok Sabtu aku pasti akan menemanimu dinner di kafe itu."


Tak lama, Ayesha mengirim pesan balasan.


"Okey, Al. Sebenarnya menunggu hari Sabtu rasanya lama sekali. Berjanjilah padaku, di hari Sabtu dan Minggu semua waktu dan pikiranmu hanya untukku. I miss you so much,"


ketik Ayesha.


Alvian tersenyum membaca isi pesan Ayesha. Tak disangkanya calon tunangannya itu termasuk tipe gadis yang agresif.


Jujur dia lebih menyukai wanita yang lembut dan sedikit malu-malu, daripada yang aktif menggoda pria. Mungkin karena banyaknya pengalaman didekati oleh wanita agresif selama di London, membuatnya kurang berminat lagi pada tipe semacam itu.


Walaupun ia pernah hidup di luar negri, sesungguhnya ia termasuk pria konservatif. Ia lebih tertantang mengejar wanita daripada dikejar wanita.


Tapi apa mau dikata, ia harus menerima Ayesha dengan segala kelebihan dan kekurangannya.


Tak berjarak lama dari pesan yang dikirimkan Ayesha, Fendi pun menghubunginya.

__ADS_1


"Al, ini sudah jam lima lewat tiga puluh menit. Aku sekedar mengingatkanmu untuk tidak melupakan janji kita. Aku akan mentraktirmu minum hari ini."


"Iya, aku pasti akan menemuimu. Sekitar satu jam lagi aku akan berangkat dari kantor," jawab Alvian seadanya.


"Thanks, Al. Semoga kamu tidak terjebak kemacetan," ucap Fendi mengakhiri telponnya.


Alvian melihat jam di ponselnya. Betul juga, ia bisa kena macet jika tidak segera berangkat. Apalagi ini adalah jam pulang kantor. Ia juga sedang merasa suntuk karena didera beban pekerjaan. Tidak ada salahnya bila ia melepas kepenatan untuk sejenak.


Alvian meraih ponsel dan kunci mobilnya, lalu keluar dari ruangan.


"Aku pulang duluan. Tolong kunci ruanganku," kata Alvian kepada asistennya.


"Baik, Pak."


Asisten Alvian nampak cukup terkejut melihat bosnya pulang lebih cepat dari biasanya.


...****************...


Fendi melirik jam tangannya dengan was-was. Ia berharap Alvian menepati janji agar rencananya yang tersusun rapi tidak berantakan.


Begitu melihat sepupunya itu berjalan masuk ke dalam bar, senyum lebar langsung menghiasi wajah Fendi.


Ibu jarinya menekan tombol send pada pesan yang telah disiapkannya sejak tadi.


"Bersiaplah, umpan sudah datang. Tunggu aba-aba dariku untuk langkah selanjutnya,"


tulis Fendi kepada anak buahnya.


"Al, bagaimana kabarmu?" kata Fendi memeluk Alvian.


"Aku baik. Kamu sendiri bagaimana?" tanya Alvian.


"Di luar aku kelihatan baik-baik saja, Al. Tapi sebenarnya di dalam hatiku, aku merasa sangat hancur. Aku malu pada diriku sendiri," ucap Fendi lalu meneguk minuman dari gelasnya.


"Gara-gara perbuatanku, Vira lumpuh dan terancam diceraikan oleh Raja. Dan aku juga mendengar kabar yang sangat mengejutkan. Raja telah menikahi wanita lain. Dia memiliki istri kedua yang masih sangat muda, bahkan usianya lebih muda darimu. Apa itu benar, Al?"


Alvian meletakkan ponselnya di atas meja.


"Benar, kakakku memang menikah lagi."


"Raja sangat mencintai Vira, tapi kenapa dia sekarang menikah lagi? Bisa kubayangkan betapa terlukanya hati Zevira. Mungkin Raja juga melakukan pernikahan kedua karena sekedar ingin membalas dendam. Pernikahan mereka yang harmonis, sekarang porak poranda karena kekhilafanku," sesal Fendi.


Fendi melanjutkan cerita bohongnya.


"Al, sebenarnya hubunganku dan Vira hanya berlangsung singkat. Akulah yang lebih dulu jatuh cinta pada Vira dan merayunya. Ini bukan kesalahan kakak iparmu itu, tapi salahku," terang Fendi.


"Perselingkuhan hanya bisa terjadi atas kesepakatan dua belah pihak. Tidak mungkin hanya dikehendaki oleh satu pihak saja," tutur Alvian tidak percaya.


"Percayalah, Al. Awalnya kami berdua tidak ada niatan untuk berselingkuh sama sekali. Kebetulan kami punya proyek bersama. Waktu itu aku sedang membangun sebuah kafe dan aku minta tolong Vira untuk mendesain kafe baruku. Vira itu lulusan desain interior, aku percaya pada kemampuannya. Karena proyek itulah kami sering bertemu. Lambat laun tumbuh perasaan aneh di hatiku untuk Vira. Aku berusaha menepis perasaan itu, tapi malah semakin menguat."


Fendi kembali mengambil gelasnya sambil mengusap dahinya.


"Saat itu Raja pergi ke luar negri cukup lama. Dan aku bertamu ke rumah Raja beberapa kali. Akhirnya kejadian memalukan itu terjadi. Aku mencium Vira karena sudah tidak mampu menahan perasaanku. Tepat saat itulah Raja melihat kami, dan selanjutnya...kamu pasti sudah tahu. Aku yakin Raja menceritakan semuanya padamu."


Fendi mencodongkan tubuhnya ke depan.

__ADS_1


"Aku menyesal, Al. Cinta memang tidak bisa dicegah, tapi cintaku sudah merusak pernikahan saudaraku sendiri. Karena itu belajarlah dari pengalamanku."


"Apa maksudmu?" tanya Alvian tidak mengerti.


"Maksudku kamu jangan terlalu dekat dengan istri kedua Raja. Bukankah dia seumuran denganmu? Jika kamu sering bepergian bersamanya atau bahkan bekerja sekantor dengannya, bisa jadi lama-lama kalian akan saling jatuh cinta. Hati-hati! Cinta bisa tumbuh seiring dengan kebersamaan. Itulah yang kualami," ucap Fendi menekankan suaranya.


"Aku tidak mungkin melakukan perbuatan bejat seperti itu," tolak Alvian mentah-mentah.


"Siapa bilang? Sebentar lagi kamu juga akan melakukannya,"


kekeh Fendi di dalam hati.


"Al, aku minta tolong aturlah pertemuanku dengan Raja supaya aku bisa minta maaf padanya. Dan temani aku dalam pertemuan itu. Kamu bisa meredakan ketegangan antara aku dan Raja."


"Tapi Kak Raja sedang berlibur ke Jepang," jawab Alvian spontan.


"Kalau begitu aku akan menemuinya setelah dia pulang ke Jakarta. Aku hanya ingin pernikahan Raja dan Vira bisa diselamatkan. Aku janji tidak akan pernah mendekati Vira lagi. Aku sudah bertobat dan tidak akan mengulangi kesalahanku," ucap Fendi dengan nada memelas.


Melihat kesungguhan Fendi, Alvian tergerak untuk menolongnya. Ia pun ingin agar Raja terbebas dari rasa dendamnya.


"Baiklah, nanti akan kucoba bicara dengan kakakku."


"Terima kasih, Al. Kamu memang sahabat terbaikku. Sekarang ayo minum. Dari tadi aku sendiri yang minum tapi kamu hanya diam saja. Lihat aku sudah memesan cocktail untukmu. Kadar alkoholnya sangat rendah, tidak akan membuatmu mabuk."


Tanpa curiga, Alvian mengambil minuman yang disodorkan Fendi.


Sambil melihat Alvian menghabiskan minumannya, Fendi terus mengajaknya bicara tiada henti. Hingga akhirnya Fendi melihat Alvian mulai limbung.


"Al, kamu kenapa?"


"Tiba-tiba kepalaku pusing, Fen. Mataku berkunang-kunang. Mungkin aku mabuk karena tidak terbiasa minum minuman beralkohol," kata Alvian memegang kepalanya.


"Seharusnya minuman ini tidak akan membuatmu mabuk. Atau kamu sedang kurang sehat, Al?" ucap Fendi berpura-pura.


"Iya, mungkin aku kelelahan," ucap Alvian menahan rasa pusing yang makin menjadi.


"Kalau begitu istirahat saja dulu. Kebetulan aku memesan satu kamar hotel disini. Kamu bisa menggunakan kamarku untuk beristirahat sebentar."


Fendi segera memapah Alvian menuju ke kamar yang dipesannya di lantai dua.


Saat sudah berada di kamar hotel, Fendi membantu Alvian berbaring dan melepaskan sepatunya. Alvian pun langsung tertidur karena pengaruh obat yang diminumnya.


"Bagus, rencana awal sukses. Zevira pasti senang. Sekarang tinggal memanggil wanitanya kemari."


Fendi segera menghubungi dua orang anak buahnya yang berjaga di dekat hotel.


"Iwan, bersiaplah, aku akan menelpon Cleantha. Begitu gadis itu tiba di depan hotel, langsung tangkap dia."


"Baik, Tuan," jawab anak buah Fendi.


Bersambung


Tinggalkan komen sebanyak mungkin dan jangan lupa like dan votenya.


Trmksh

__ADS_1


__ADS_2