Istri Bayaran Milik Tuan Raja

Istri Bayaran Milik Tuan Raja
Bab 94 Patah Hati (Part 2)


__ADS_3

Setelah selesai menonton film dan makan malam, Cleantha merasa sangat mengantuk. Ia menguap beberapa kali di dalam mobil, hingga akhirnya tertidur dalam perjalanan pulang.


Melihat Cleantha tertidur, Alvian tersenyum sambil tetap mengarahkan fokusnya ke jalan raya.


"Seharusnya aku tidak mengajak Cleantha pergi sampai malam. Dia pasti kelelahan. Nanti aku akan membangunkannya kalau sudah sampai di apartemen,"


pikir Alvian mengemudikan mobilnya.


Sementara Raja menyuruh supirnya memarkirkan mobil tidak jauh dari lokasi apartemen Alvian.


Hampir tiga puluh menit lamanya ia menunggu di balik kegelapan malam.


Menanti dalam ketidakpastian sungguh membuatnya merasa frustasi. Hatinya dilanda keresahan.


Entah apa yang akan dilakukannya nanti bila melihat Cleantha dan Alvian tinggal bersama. Apakah ia berhak cemburu, memaki Alvian, lalu memaksa Cleantha pulang bersamanya?


Raja teringat perkataannya sendiri sehari yang lalu. Dengan angkuhnya ia menantang Alvian dan mempersilakannya untuk melanjutkan hubungan dengan Cleantha. Padahal sesungguhnya ia mengucapkan semua itu hanya demi menjaga harga dirinya sebagai pria..Tak disangka Alvian benar-benar menerima tantangannya untuk memiliki Cleantha.


Di tengah penantian panjangnya, Raja mendapatkan titik terang. Ia melihat mobil Alvian melesat memasuki kawasan apartemen San Lorenzo.


"Pak, ikuti mobil Alvian," titah Raja.


Tanpa menyadari ada yang mengikutinya, Alvian menghentikan mobilnya di area parkir. Ia melihat Cleantha masih tertidur lelap.


Rasanya tidak tega bila harus membangunkan Cleantha. Namun ia tidak mungkin membiarkan wanita yang sedang hamil tertidur semalaman di dalam mobil.


"Clea, bangunlah, kita sudah sampai," bisik Alvian lembut.


Cleantha menggeliat pelan, merasa ada suara pria yang membangunkannya.


"Hmmmm," gumam Cleantha enggan membuka matanya.


"Ayo bangun, Clea. Kamu harus istirahat di kamar," ucap Alvian sekali lagi.


"Tapi saya masih ngantuk," jawab Cleantha malas.


"Kalau kamu tidak bangun juga, aku akan menggendongmu sampai ke kamar. Apa kamu mau?" goda Alvian sengaja membuat Cleantha terjaga. Dan triknya itu berhasil dengan baik.


"Jangan, Pak," kata Cleantha buru-buru membuka matanya.


Senyuman terukir di bibir Alvian. Ia heran mengapa Cleantha masih saja tersipu malu di hadapannya. Padahal mereka sudah menyatakan perasaan masing-masing.


"Hati-hati, kamu pasti masih lemas karena baru bangun tidur."


Alvian membuka pintu mobilnya lalu bergegas membantu Cleantha.


"Besok tidak usah masuk kerja. Jangan cemaskan pekerjaan. Aku akan mulai mengurus pengalihan pekerjaanmu kepada staf yang lain," ucap Alvian meyakinkan Cleantha.


"Iya, Pak," tutur Cleantha menatap Alvian penuh rasa terima kasih.


"Apa kamu akan terus memanggilku "Pak"? Coba biasakan panggil namaku. Aku juga tidak keberatan bila kamu memanggilku "Sayang", kata Alvian sambil membimbing Cleantha menuju lobi apartemen.


Dari jendela mobil, Raja mengawasi pergerakan adiknya.

__ADS_1


Darahnya berdesir dengan cepat, ketika menyaksikan Alvian keluar dari mobil bersama Cleantha. Apalagi adiknya itu dengan leluasa memeluk Cleantha, seolah-olah gadis itu telah menjadi miliknya.


Dan yang paling menyakitkan bagi Raja adalah reaksi yang ditunjukkan Cleantha. Dari gestur tubuhnya, mantan istrinya itu nampak tidak keberatan dengan semua perlakuan mesra Alvian.


Siapapun yang melihat keduanya, pasti akan tahu kalau mereka adalah sepasang kekasih yang tengah dimabuk cinta.


Amarah bercampur rasa putus asa, itulah yang dirasakan Raja saat ini.


Tanpa sadar, Raja menggenggam kedua telapak tangannya hingga buku-buku jarinya memutih. Bingung harus bersikap apa dalam menghadapi kenyataan pahit ini.


Jika ia nekad menghampiri Alvian dan Cleantha, besar kemunginan ia yang akan dipermalukan. Apalagi bila Cleantha menolaknya lalu terjadi keributan di antara mereka bertiga.


Raja merutuki kesalahannya sendiri. Mengapa ia lebih mempercayai fitnah yang dilemparkan Zevira daripada menghiraukan perkataan istri dan adiknya.


Tanpa berpikir panjang ia mencampakkan Cleantha begitu saja. Membiarkannya terlantar dalam keadaan hamil muda dan malah memberikan kesempatan kepada Alvian untuk menggantikan posisinya.


Kini nasi sudah menjadi bubur. Cleantha sudah bersatu dengan Alvian, bahkan tinggal bersama di satu apartemen.


Pastilah saat ini Alvian telah memiliki Cleantha seutuhnya. Membayangkan kenyataan itu membuat dada Raja terasa sesak.


"Clea, aku memang berbuat kesalahan besar padamu. Tapi kenapa semudah itu kamu melupakan pernikahan kita, padahal kamu sedang mengandung anakku. Aku kira kamu mencintai aku. Ternyata dugaanku salah besar. Apa mungkin diam-diam kamu sudah mencintai Alvian sejak dulu, sehingga dengan cepat kamu berpindah hati,"


pikir Raja merasa terluka.


"Pak Ahmad, kita pulang ke rumah sekarang," perintah Raja kepada supirnya.


Kerongkongannya mendadak terasa kering kerontang saat mengucapkan kalimat tersebut.


"Baik, Tuan," jawab Pak Ahmad memutar balik mobilnya.


...****************...


Meskipun fajar telah menyingsing, Zevira tidak bersemangat untuk menjalani aktivitasnya.


Akhir-akhir ini, kepalanya seringkali terasa pusing. Ditambah lagi dengan jiwanya yang kosong dan hampa.


Tidak ada lagi laki-laki yang berada di sisinya dan bisa menjadi tambatan hatinya. Ini semua terjadi gara-gara ulah papanya, Bayu Narendra. Seandainya papanya tidak ngotot memaksanya rujuk dengan Raja, kehidupan cintanya tidak akan sepilu ini.


"Aku merindukan Fendi. Dimana dia sekarang? Aku akan menelponnya selagi Papa tidak ada di rumah,"


pikir Zevira meraih ponselnya.


Zevira menunggu sebentar hingga panggilan telponnya tersambung.


"Kenapa kamu menelponku, Vira?" tanya Fendi dingin.


"Fendi, apa kamu marah padaku? Aku ingin minta maaf soal kemarin. Percayalah, aku...."


"Cukup, Vira. Aku tidak mau mendengar janji palsumu. Lebih baik kita sudahi saja hubungan kita. Kembalilah pada suamimu, Raja, sesuai dengan perintah papamu."


"Oya, aku lupa mengatakan sesuatu padamu. Raja mungkin akan rujuk dengan istri mudanya. Karena aku sudah mengatakan kebenaran tentang malam penjebakan itu," sambung Fendi.


"Kebenaran apa maksudmu?" tanya Zevira terhenyak.

__ADS_1


"Kebenaran bahwa Alvian tidak pernah meniduri Cleantha. Karena malam itu aku tidak memberikan obat perangsang padanya. Aku menggantinya dengan obat tidur. Jadi anak yang dikandung Cleantha sudah pasti anaknya Raja."


Iris mata Zevira membesar dua kali lipat. Sekujur tubuhnya menggigil, seakan terkena serangan virus yang mematikan.


"Fendi! Beraninya kamu mengkhianati aku!" pekik Zevira histeris.


Fendi menjawab dengan suara datar.


"Maaf, Vira, bagaimanapun Alvian dan Raja tetaplah saudaraku. Aku tidak bisa bersikap sekejam itu kepada mereka. Aku minta mulai sekarang jangan hubungi aku lagi. Selamat tinggal, Vira," ucap Fendi memutuskan sambungan telponnya.


Zevira melempar ponselnya hingga jatuh berantakan. Ia menguar rambutnya sendiri demi melampiaskan rasa depresi yang tidak tertahankan.


"Aku tidak boleh membiarkan Raja dan Cleantha bersatu. Mereka tidak boleh berbahagia di atas penderitaanku,"


ucap Zevira dengan mata memerah.


Tiba-tiba saja, kepala Zevira berdenyut-denyut. Serasa ada bongkahan batu besar yang menghantam kepalanya.


"Bi Dewi!" teriak Zevira memanggil pelayan setianya.


Zevira bangkit perlahan dari tempat tidur. Berjalan lambat dengan tongkatnya untuk mengambil pereda sakit kepala di kotak obat.


Namun nyeri di kepalanya justru semakin menjadi. Pandangan matanya pun mengabur seiring dengan rasa sakit yang melandanya. Karena tidak kuat lagi, tubuh Zevira terhuyung ke bawah. Akhirnya ia jatuh pingsan di lantai kamarnya.


...****************...


Ny. Marina tidak sabar menunggu hingga jam dinding menunjukkan pukul sembilan pagi.


Ia segera menghubungi asisten Alvian untuk menanyakan keberadaan putranya itu.


"Ricky, ini aku. Apa Alvian masuk kantor seperti biasa?" tanya Ny. Marina menyelidiki.


"Selamat pagi, Nyonya Marina. Iya, Pak Alvian sudah datang ke kantor sejak jam delapan pagi."


"Lalu bagaimana dengan Cleantha?"


"Nona Cleantha izin tidak masuk hari ini, Nyonya. Pak Alvian sendiri yang menyampaikannya kepada Manajer HRD dan Manajer Finance."


"Oke Ricky, terima kasih atas informasinya."


"Sama-sama, Nyonya."


Nyonya Marina mengambil tasnya lalu melangkah dengan tergesa-gesa meninggalkan kamar. Suara dentuman sepatunya sampai bergema di lantai yang berbahan granit itu.


"Tejo, tolong antarkan aku sekarang juga ke apartemen San Lorenzo," titah Nyonya Marina kepada supirnya.


"Baik, Nyonya."


Dengan tekad yang kuat, Nyonya Marina masuk ke dalam mobilnya.


"Cleantha sedang sendirian tanpa Alvian. Aku harus memanfaatkan kesempatan ini untuk mengusirnya dari kehidupan putraku,"


pikir Ny. Marina geram.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2