Istri Bayaran Milik Tuan Raja

Istri Bayaran Milik Tuan Raja
Bab 98 Lamaran Tak Terduga


__ADS_3

Setelah menimbang-nimbang sejenak, Bu Nur memutuskan untuk menghubungi Alvian. Selain takut dipersalahkan, ia juga tidak tega melihat kondisi Cleantha yang masih lemah. Terpaksa ia harus melanggar janjinya kali ini.


Sambil berdiri di sudut ruangan, Bu Nur menelpon ke ponsel Alvian.


"Selamat sore, Tuan. Maaf saya mengganggu, ada hal penting yang harus saya sampaikan tentang Non Cleantha," kata Bu Nur ragu-ragu.


Alvian yang baru keluar dari ruang meeting, berjalan tergesa-gesa. Ia tidak dapat mendengar suara Bu Nur dengan jelas.


"Bu, bisa keraskan suaranya, saya tidak dengar."


"Non Cleantha, Tuan. Dia mau pergi dari apartemen. Dia sudah menata semua baju-bajunya di koper."


Alvian terperanjat mendengar berita yang disampaikan Bu Nur.


"Apa Bu Nur yakin Cleantha akan pergi?"


"Iya, Tuan. Non Cleantha bilang mau kembali ke rumah keluarganya," jawab Bu Nur apa adanya.


Alvian berpikir sejenak. Mustahil rasanya bila Cleantha pulang ke rumah orang tuanya. Pasalnya ia telah diusir dari rumah oleh Keyla dan ibu tirinya. Hanya ada satu kemungkinan yang tersisa. Cleantha akan pergi menghilang tanpa tujuan. Dan tentu saja ia tidak akan membiarkan hal itu terjadi.


"Bu, tolong ulur waktu selama mungkin untuk menghalangi Cleantha. Aku akan pulang secepatnya," kata Alvian bergegas kembali ke ruangannya.


Di dalam kamar, Cleantha sudah bersiap untuk pergi. Busnya akan berangkat dua jam lagi dan ia tidak mau sampai terlambat.


Cleantha mengambil secarik kertas, lalu menuliskan kata perpisahan terakhir untuk Alvian.


"Terima kasih atas semua yang sudah Bapak lakukan untuk saya. Maaf jika saya harus pergi tanpa pamit, tapi ini yang terbaik untuk kita berdua. *Bapak ti*dak perlu mencari saya. Semoga Bapak selalu berbahagia."


Dengan tangan gemetar, Cleantha meletakkan surat tersebut di atas nakas.


Melihat Cleantha keluar dengan membawa koper besar, Bu Nur bergegas menghalangi langkahnya.


"Non, jangan bawa barang berat sendirian. Saya akan bantu Non membawa kopernya," kata Bu Nur mengambil alih koper dari tangan Cleantha.


"Saya pamit, Bu. Terima kasih atas semua bantuan yang Bu Nur berikan kepada saya," jawab Cleantha berpamitan.


"Tunggu sebentar, Non. Saya sedang membuat kue bolu kukus untuk Non Cleantha. Nanti bisa Non makan di rumah. Sekitar lima belas menit lagi kuenya akan matang."


Cleantha melirik jam tangannya dengan gelisah. Khawatir Alvian akan pulang dari kantor dan memergokinya. Namun ia merasa tidak enak hati jika menolak pemberian tulus dari Bu Nur.

__ADS_1


"Iya, Bu, saya akan tunggu disini."


Bu Nur sengaja melambatkan setiap gerakannya, berharap Alvian segera datang. Tapi pria itu tidak muncul juga.


"Bu, apa sudah selesai? Saya harus berangkat sekarang. Taksi saya sudah menunggu di bawah," tanya Cleantha.


"Eh, iya, Non, sudah. Ini kuenya," kata Bu Nur menyodorkan kotak berisi makanan kepada Cleantha.


"Terima kasih, Bu. Saya pamit sekarang," kata Cleantha keluar dari pintu apartemen Alvian.


"Non, saya akan menemani Non Cleantha sampai ke lobi," kata Bu Nur mengantarkan Cleantha.


"Kenapa Tuan Alvian belum datang juga? Non Cleantha sudah keburu pergi,"


pikir Bu Nur ikut merasa was-was.


Mobil Alvian melesat kencang. Walaupun jarak kantor dan apartemennya tidak terlalu jauh, namun ia sempat tertahan cukup lama di jalan akibat kemacetan ibu kota.


Ketika memasuki kawasan apartemen, ia melihat sebuah taksi meluncur keluar. Dan ada Bu Nur yang masih berdiri di pintu lobi.


"Jangan-jangan di dalam taksi itu ada Clea. Aku harus mengejarnya,"


Alvian melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, menyusul taksi yang membawa Cleantha.


Di dalam taksi, Cleantha menyandarkan kepalanya di sandaran kursi. Sesekali ia memejamkan mata. Karena belum lama keluar dari rumah sakit, seluruh tubuhnya masih terasa lemas. Tapi bagaimanapun kepergiannya tidak boleh ditunda. Bila terus berada di sisi Alvian, maka situasi hidupnya akan bertambah sulit.


Cleantha tidak menyadari bila ada sebuah mobil merah yang mengikutinya sejak tadi.


"Mbak, kita sudah sampai," ujar supir taksi yang mengantarkan Cleantha.


"Iya, Pak, terima kasih."


Cleantha membuka pintu taksi sambil menjinjing kopernya.


Sejauh mata memandang, ada bus-bus yang berjajar beserta para penumpang yang menanti keberangkatan.


Entah mengapa ia merasa sendirian di tengah keramaian terminal bus tersebut. Ada sekelumit rasa takut di hatinya, tapi Cleantha menepisnya. Keputusannya ini tidak perlu disesali. Barangkali sudah menjadi suratan takdirnya harus menjalani kehidupan seorang diri.


Cleantha menyeret kopernya menuju ke deretan kursi tunggu penumpang. Namun sebelum ia duduk, tiba-tiba sebuah tangan kokoh menahannya.

__ADS_1


Sontak Cleantha terkejut dan menoleh ke belakang. Dalam hitungan detik, matanya beradu pandang dengan Alvian.


"Ayo, ikut aku pulang," tegas Alvian menarik tangan Cleantha.


"Kenapa Bapak bisa ada disini?" tanya Cleantha kebingungan.


"Seharusnya aku yang bertanya padamu. Kenapa kamu pergi diam-diam tanpa sepengetahuanku? Apa kamu berniat mencelakakan diri sendiri? Kesehatanmu saja belum benar-benar pulih," kata Alvian menaikkan nada suaranya.


"Pak, saya mohon biarkan saya pergi. Saya tidak bisa tinggal bersama Bapak lagi," jawab Cleantha.


"Kalau kamu tidak mau tinggal di apartemenku, bicaralah terus terang. Bukan dengan cara kabur seperti ini. Aku pasti akan mencarikan rumah yang baru untukmu."


"Bukan itu maksud saya. Biarkan saya pergi untuk memulai kehidupan yang baru karena kita tidak mungkin bisa bersama, Pak," jelas Cleantha dengan suara tersendat.


"Kenapa kita tidak bisa bersama, Clea? Siapa yang mengatakan itu padamu? Atau sekarang kamu sudah tidak mencintai aku lagi dan ingin kembali pada Kak Raja?" tanya Alvian mulai marah.


Cleantha tidak dapat membendung air matanya.


"Pak, tolong mengertilah tentang keadaan saya. Saya seorang janda yang baru saja kehilangan anak. Saya butuh waktu untuk melupakan kenangan buruk dalam hidup saya. Sedangkan Bapak adalah pria lajang yang punya segalanya. Lebih baik Bapak kembali pada Nona Ayesha atau mencari gadis lain yang sepadan statusnya dengan Bapak."


"Oh, aku tahu sekarang. Pasti mamaku yang sudah mempengaruhi pikiranmu. Tapi Clea, kalau kita saling mencintai seharusnya kita berjuang bersama. Bukan malah menghindar dan menyerah semudah ini."


"Pak, saya mohon biarkan saya pergi."


Alvian tidak mempedulikan penolakan Cleantha. Ia merengkuh gadis itu dan memaksanya masuk ke dalam mobil.


Setelah menarik nafas panjang, Alvian memulai penjelasannya.


"Dengar, Clea. Hari ini Kak Raja sudah mengundurkan diri dari jabatannya sebagai CEO. Besok dia akan pergi ke luar negri untuk menemani Zevira berobat. Entah kapan dia akan pulang ke Jakarta. Putusan ceraimu juga tidak lama lagi akan keluar. Jadi tidak ada penghalang bagi kita untuk bersama."


Alvian memegang tangan Cleantha dan menatapnya dalam-dalam.


"Hanya kamu wanita yang aku cintai. Setelah masa iddahmu berakhir, aku akan menemui ayahmu untuk melamarmu menjadi istriku."


Ucapan Alvian membuat Cleantha terkesiap. Ia tidak pernah menduga Alvian memiliki niat untuk menikahinya.


"Tapi, Pak...."


"Soal mamaku, kamu tidak perlu khawatir. Aku sudah punya jalan keluar agar Mama mau merestui kita. Sekarang aku akan mengantarmu pulang ke rumah ayahmu. Nanti aku yang akan bicara pada Keyla," kata Alvian mengemudikan mobilnya.

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2