Istri Bayaran Milik Tuan Raja

Istri Bayaran Milik Tuan Raja
Bab 54 Kembali Ke Rumah


__ADS_3

Zevira keluar dengan setelan baju modis, lengkap dengan tas dan sepatu branded yang serasi. Ia menghampiri Cleantha untuk mengejek madunya itu.


"Sayang sekali kamu tidak bisa ikut bersama kami, Clea. Tapi liburan kali ini memang khusus untuk Ivyna, aku dan Raja. Ivy adalah putriku, jadi aku yang harus pergi bersamanya, bukan orang luar. Mungkin suatu hari kamu bisa pergi berlibur jika kamu punya anak sendiri."


"Sampai jumpa, Clea. Aku menitipkan rumah ini dan para pelayan padamu," ujar Zevira menyusul masuk ke mobil.


Cleantha masih berdiri, melambaikan tangan untuk mengantar keluarga kecil yang akan pergi berlibur itu. Menatap nanar Raja dan Ivyna yang balas melambaikan tangan padanya. Sementara itu Zevira duduk mendampingi mereka sambil mengurai senyuman.


Dalam hal ini Cleantha kembali berkecil hati. Ia merasa sebagai hama penghancur di tengah keharmonisan keluarga Raja.


Melihat wajah Ivyna yang berseri-seri karena diapit oleh kedua orangtuanya, membuat Cleantha semakin merasa bersalah. Anak kecil seperti Ivyna berhak berbahagia bersama ayah dan ibu kandungnya.


Sepantasnya ia tidak perlu mengaku sebagai ibu sambung Ivyna. Secara tidak langsung, ia telah membuat gadis kecil itu bingung dengan kehadirannya.


Cleantha masih mematung, menunggu hingga mobil Raja keluar dari gerbang rumahnya.


Entah mengapa, matanya tergenang oleh cairan bening. Biasanya ia tidak pernah sentimental seperti ini.


Raja hanya meninggalkannya satu minggu, tapi ia sudah merasa kehilangan. Sama seperti anak kecil yang takut ditinggal sendirian oleh orangtuanya. Sebesar itukah ketergantungannya kini pada Raja?


Cleantha berjalan sambil merutuki dirinya sendiri. Bagaimana bisa dia jatuh cinta semudah ini pada pria yang semula ingin dijauhinya.


"Tuan Raja memang bersikap manis padaku, tapi seharusnya aku tidak boleh menyimpan perasaan padanya. Aku tidak berhak mengharapkan apapun. Aku telah melanggar janjiku sendiri untuk tidak pernah mencintai Tuan Raja,"


batin Cleantha penuh sesal.


Cleantha mengusap air matanya sembari melangkah dengan gontai ke dalam kamar.


Berada di kamar itu justru mengingatkannya akan kemesraannya dengan Raja semalam. Memori tersebut begitu indah dan memabukkan, namun hanya berlangsung sementara. Dan hal itu malah menyiksa batinnya.


"Waktuku hanya tersisa beberapa bulan lagi untuk menjadi istri Tuan Raja. Setelah aku pergi, aku akan menyimpan kenangan ini di kala aku merindukannya,"


pikir Cleantha sedih.


Daripada merasa lara sendiri, Cleantha mengeluarkan tas kopernya dari dalam lemari. Ia tidak ingin berlama-lama di dalam istana megah yang penuh dengan kehampaan. Apalagi sekarang akhir pekan. Tidak ada pekerjaan yang bisa dilakukan untuk mengalihkan pikirannya.


Detik ini juga ia akan mengemasi barangnya lalu menginap di rumah ayahnya. Dengan begitu akan lebih mudah baginya untuk melupakan Raja.


"Nyonya, Anda mau kemana?" tanya Pak Darma melihat Cleantha memboyong tas besar.


"Saya akan menginap di rumah ayah saya, Pak. Saya akan kembali kesini hari Jumat sebelum suami saya pulang," terang Cleantha.


Pak Darma nampak terkejut mendengar Cleantha akan meninggalkan rumah Raja dalam kurun waktu lama. Apakah mungkin nyonya mudanya merasa kesepian karena tinggal seorang diri di rumah besar itu.


"Tenang saja, Pak. Suami saya sudah mengizinkan," jelas Cleantha seolah mengetahui kerisauan di hati Pak Darma.


"Nyonya, saya akan mengantar Anda."


"Bapak disini saja untuk mengawasi para pelayan. Saya cukup diantar oleh Pak Ahmad."


"Baik, Nyonya. Biar saya panggilkan Pak Ahmad untuk menyiapkan mobil."


Pak Darma tergesa-gesa ke depan untuk memanggil supir yang akan mengantar Cleantha.


"Ahmad, siapkan mobil untuk mengantar Nyonya Cleantha," ujar Pak Darma.


"Siap, Pak," jawab Ahmad bergegas melaksanakan perintah.


Pak Darma hendak berbalik, namun ia melihat mobil Alvian memasuki halaman rumah.


"Tuan Muda Alvian," kata Pak Darma menyambut adik majikannya itu.


Alvian memarkirkan mobilnya, lalu keluar dengan menenteng sebuah tas.


"Pak Darma, dimana Ivyna?"


"Nona kecil sudah berangkat ke bandara bersama Tuan Raja dan Nyonya Zevira."


"Jadi mereka sudah berangkat? Ah, aku terlambat mengucapkan salam perpisahan pada Ivy," ucap Alvian kecewa.


"Kalau begitu aku titipkan boneka ini kepada Pak Darma. Saat Ivyna pulang dari liburan, berikan padanya," kata Alvian menyodorkan tas itu ke tangan Pak Darma.


"Baik, Tuan Muda."


"Aku pulang dulu, Pak," kata Alvian berjalan ke mobilnya.

__ADS_1


"Tuan Muda tidak mampir sebentar untuk makan siang?"


"Semua penghuni rumah ini sedang pergi. Tidak lucu jika sebagai tamu aku makan sendirian tanpa adanya tuan rumah," jawab Alvian menolak tawaran Pak Darma.


"Di dalam ada Nyonya Cleantha, Tuan. Tapi sayangnya Nyonya juga akan pergi ke rumah orangtuanya," ungkap Pak Darma.


Sebelum Alvian sempat memberikan tanggapan, Cleantha sudah keluar dari rumah dengan membawa tas.


"Nyonya, mari saya bawakan tas Anda ke mobil," kata Pak Darma mengambil alih tas Cleantha.


Di usianya yang tidak muda lagi, Pak Darma masih terbilang sangat gesit dan kuat.


"Terima kasih, Pak. Ini nomor ponsel saya. Kalau Bapak ingin mengabari saya soal rumah, jangan sungkan untuk menelpon saya," ucap Cleantha menyerahkan secarik kertas berisi nomor ponselnya.


Pak Darma menerima kertas itu dan menyimpannya di dalam saku.


Cleantha menoleh ke samping dan terkejut ketika melihat keberadaan Alvian.


"Pak, Anda ada disini?" tanya Cleantha.


"Iya, tadinya aku mau menemui Ivyna dan Kak Raja sebelum mereka pergi. Tapi aku terlambat. Aku kira kamu juga ikut dengan Kak Raja ke Jepang," jawab Alvian.


"Tidak, Pak. Saya punya tanggung jawab sebagai kasir. Saya tidak bisa meninggalkan pekerjaan saya begitu saja."


"Lalu sekarang kamu mau pergi kemana?" tanya Alvian memperhatikan raut sedih di wajah Cleantha.


"Saya akan menginap di rumah ayah saya sampai Tuan Raja pulang."


Mendengar pengakuan Cleantha, Alvian ingin memastikan apakah iparnya itu sudah meminta izin pada kakaknya.


"Kak Raja sudah tahu soal kepergianmu?"


"Sudah, Pak. Tuan Raja yang memberikan izin pada saya."


"Baiklah, sampaikan salamku pada ayah dan tantemu," ucap Alvian berjalan ke mobilnya.


"Pak, tunggu dulu. Saya akan mengembalikan jaket yang Bapak pinjamkan. Tidak akan lama."


Cleantha bergegas masuk ke dalam rumah. Secepat kilat, ia datang dengan membawa jaket kulit berwarna hitam.


"Maaf, Pak, saya tidak sengaja. Jaket Anda sudah dicuci bersih. Terima kasih," kata Cleantha merasa malu dengan kelakuannya.


Alvian hanya berdesis tanpa mengeluarkan sepatah kata pun.


Ia berjalan cepat meninggalkan Cleantha.


Dalam hati Alvian bertanya-tanya mengapa kakaknya yang teliti dan disiplin bisa tahan memiliki istri yang ceroboh seperti Cleantha.


Cleantha juga masuk ke dalam mobil dan menutup pintu.


"Pak, saya pamit," ucap Cleantha kepada Pak Darma.


Pak Darma membungkukkan badan sambil melepas kepergian Cleantha.


Mobil Alvian melesat keluar lebih dahulu dari rumah Raja, diikuti oleh mobil Cleantha di belakangnya.


...****************...


Saat melintasi toko buah, Cleantha teringat pada ayahnya. Mengkonsumsi buah-buahan yang mengandung vitamin pasti sangat baik bagi pemulihan kesehatan ayahnya.


"Pak, saya ingin mampir sebentar ke toko buah yang tadi. Bisa putar balik?" tanya Cleantha.


"Bisa, Nyonya."


Pak Ahmad menurunkan Cleantha di depan toko buah yang ramai oleh pengunjung.


Dengan penuh semangat, Cleantha mengelilingi toko itu. Ia membeli banyak buah-buahan untuk ayahnya, kakaknya, dan juga ibu tirinya.


Setelah selesai, Cleantha membawa keranjang belanjaannya ke kasir.


"Ada tambahan lagi, Bu?" tanya kasir itu.


"Tidak, Mbak. Tolong dikemas menjadi parcel buah ya."


"Baik, Bu."

__ADS_1


Kasir itu segera menghitung total uang yang harus dibayarkan Cleantha.


"Totalnya delapan ratus dua puluh lima ribu rupiah."


Mata Cleantha terbelalak. Ia terlalu kalap berbelanja sehingga menghabiskan sebanyak itu hanya untuk membeli buah-buahan. Padahal biasanya ia sangat berhemat.


"Bu, akan dibayar cash atau dengan kartu?" tanya kasir itu melihat Cleantha melamun.


Karena uang tunai di dompetnya hanya tersisa seratus ribu, Cleantha mengeluarkan debit card yang diberikan Raja.


Kasir itu menggesek kartu yang diberikan Cleantha pada mesin EDC.


"Silakan passwordnya, Bu."


Cleantha sedikit ragu-ragu. Meskipun ia berstatus istri Raja, tetap saja ia belum terbiasa menggunakan uang suaminya.


"Aku hanya akan memakai ini untuk keperluan mendesak. Aku tidak boleh memboroskan uang Tuan Raja,"


pikir Cleantha sembari menekan password yang diberikan suaminya.


"Terima kasih, Bu. Silakan datang kembali," ucap kasir itu usai Cleantha membayar lunas belanjaannya.


"Semoga mereka semua menyukai buah-buahan ini,"


batin Cleantha penuh harap.


...****************...


Cleantha meminta Pak Ahmad menurunkannya agak jauh dari pekarangan rumah. Pasalnya, ia tidak ingin memancing perhatian para tetangga. Terlebih Keyla dan Ana.


Bila mereka tahu ia datang dengan mobil mewah dan supir pribadi, mereka pasti akan menderanya dengan berbagai pertanyaan.


"Terima kasih, Pak," ucap Cleantha.


"Saya pamit, Nyonya. Jika Nyonya membutuhkan saya, saya siap mengantar kemana saja," kata Pak Ahmad berpamitan.


Cleantha mengangguk lalu berjalan menuju ke rumahnya.


Di depan pintu, ia melihat Ana mengobrol dengan dua orang ibu-ibu kompleks.


Begitu melihat Cleantha datang, Ana menghentikan obrolannya.


"Bu, Ibu, maaf ya, anak tiri saya datang berkunjung. Saya harus menyambutnya. Kita sambung lagi besok," ucap Ana.


"Oh ya, kalau begitu kami pulang dulu."


Kedua ibu-ibu bertubuh subur itu melewati Cleantha sambil memandang barang bawaannya.


"Clea, angin apa yang membawamu kesini? Dan kenapa kamu membawa koper? Kamu mau menginap disini? Atau jangan-jangan Tuan Raja memecatmu?" cerocos Ana.


"Aku akan menginap di rumah selama seminggu, Tante. Tuan Raja beserta anak istrinya sedang ke luar negri. Tuan Raja mengizinkan aku pulang sampai dia kembali," terang Cleantha.


"Tante kagum sekali pada bosmu itu. Dia kaya dan sangat baik hati. Wajahnya tampan, masih muda, dan tutur katanya sopan. Tante sampai terkagum-kagum saat mengobrol dengannya. Seandainya dia belum menikah, dia cocok sekali jadi suamimu," puji Ana salah mengira Alvian adalah Raja.


Mata Ana langsung berbinar ketika melihat parcel buah di tangan Cleantha.


"Apa parcel itu pemberian Tuan Raja? Sini berikan pada Tante," ucap Ana merebut parcel itu dari Cleantha.


Keyla yang mendengar ribut-ribut di depan rumahnya serta merta keluar.


"Clea, kenapa kamu pulang?"


"Aku pulang karena Tuan Raja bersama keluarganya berlibur ke luar negri. Makanya aku diizinkan pulang, Kak," jawab Cleantha.


Keyla menatap tajam pada keranjang parcel buah yang dipegang Ana. Ia tahu bahwa harga parcel itu lumayan mahal.


"Clea, apa kamu yang membawa parcel itu?"


"Iya, Kak. Buah-buahan itu untuk Ayah. Aku juga membeli sebagian untuk Kakak dan Tante Ana."


"Ikut aku ke dalam," kata Keyla menarik adiknya.


"Clea, darimana kamu dapat uang? Kamu belum gajian tapi bisa berbelanja buah semahal itu," tanya Keyla menginterogasi Cleantha.


"Katakan dengan jujur, Clea. Apakah Tuan Raja atau Pak Alvian yang memberimu uang? Dengan siapa sebenarnya kamu menjalin hubungan?" tuntut Keyla meminta penjelasan.

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2