
Cleantha menata file-filenya dengan rapi lalu mematikan komputer. Sementara Keyla menunggunya di depan pintu ruang finance.
Karena Cleantha tidak kunjung selesai, Keyla kembali masuk untuk melihat apa yang dikerjakan adiknya.
"Clea, lama sekali kamu. Taksi yang kita pesan sudah sampai di depan kantor. Cepat sedikit! Ini hampir jam tujuh malam, aku sudah kelaparan," sembur Keyla merasa kesal.
"Aku sudah selesai, Kak," kata Cleantha buru-buru merapikan mejanya.
"Jangan lupa matikan AC dan lampu. Aku tunggu di luar."
Cleantha melakukan pekerjaannya dengan sigap, lalu mengunci pintu ruang finance. Memeriksanya sekali lagi untuk memastikan pintu telah terkunci dengan benar.
"Ayo," ajak Keyla mendahului Cleantha ke dalam lift.
"Clea, kita mampir makan dulu di restoran sebelum pulang ke rumah."
"Kita mau makan dimana, Kak?" tanya Cleantha sebelum mereka menaiki taksi.
"Makan di Phuket, resto baru khusus masakan Thailand. Sekali-kali aku juga ingin makan enak daripada makan masakan Tante Ana yang hambar," keluh Keyla.
Cleantha mengangguk dan mengikuti kakaknya ke dalam taksi.
Sesampainya di restoran, mereka langsung memesan makanan.
"Restoran ini ramai sekali karena sedang diskon grand opening. Semoga rasanya enak," kata Keyla sembari memainkan ponselnya.
Karena banyak pengunjung, makanan dan minuman yang mereka pesan baru diantar tiga puluh menit kemudian.
Ketika Cleantha sedang mencicipi hidangannya, ponselnya mendadak bergetar.
"Kenapa wajahmu begitu? Siapa yang menelponmu?" tanya Keyla penasaran.
"Nomor tak dikenal, Kak."
"Kalau begitu abaikan saja," kata Keyla acuh tak acuh.
"Tapi nomor ini menelponku terus menerus. Siapa tahu ada hal penting."
Cleantha memutuskan untuk menerima panggilan tak dikenal itu.
Diam-diam ia berharap telpon tersebut berasal dari Raja, meski kedengarannya mustahil.
"Halo, selamat malam, apakah ini dengan Nona Cleantha?" tanya seorang pria dari balik telpon.
"Benar, saya Cleantha. Maaf saya bicara dengan siapa?" balas Cleantha balik bertanya.
"Saya Tomi, bartender dari hotel La Vierra. Saya menghubungi Nona untuk memberitahukan kalau teman Nona yang bernama Tuan Alvian pingsan di bar hotel kami karena mabuk. Mohon Nona datang ke hotel segera untuk membawanya pulang," ucap pria itu.
"Alvian? Apa nama lengkapnya Alvian Adhiyaksa?" tanya Cleantha memastikan.
"Iya, Nona."
"Tapi darimana Mas mengetahui nomor telpon saya?" tanya Cleantha merasa curiga.
"Tadi Tuan Alvian yang memberikan nomor ponsel Nona kepada kami sebelum dia mabuk berat. Dia meminta kami menghubungi Nona. Tuan Alvian juga memanggil-manggil nama Nona Cleantha terus menerus."
"Tapi, Mas, Pak Alvian tidak pernah mabuk sebelumnya."
"Saya tidak tahu soal itu, Nona. Tolong Anda segera datang ke hotel La Vierra. Kami khawatir dengan kondisi Tuan Alvian," ucap bartender itu sedikit memaksa.
"Baik, Mas, saya akan segera berangkat kesana," kata Cleantha menutup telponnya.
"Clea, siapa yang menelponmu? Kenapa kamu menyebut-nyebut nama Pak Alvian?" tanya Keyla penasaran.
"Yang menelponku bartender hotel La Vierra, Kak. Katanya Pak Alvian mabuk lalu jatuh pingsan di bar hotel itu. Sebelum pingsan, Pak Alvian sempat memberikan nomor ponselku. Jadi mereka menghubungiku supaya menjemput Pak Alvian," jelas Cleantha.
Keyla mengernyitkan alisnya.
"Aneh sekali. Katamu Pak Alvian punya tunangan. Kenapa dia malah memberikan nomor ponselmu kepada bartender hotel? Seharusnya dia memberikan nomor ponsel tunangannya."
"Aku juga bingung, Kak," jawab Cleantha.
"Orang mabuk biasanya selalu jujur mengungkapkan isi hatinya. Jangan-jangan memang benar kalau Pak Alvian suka padamu. Lalu apa kamu akan ke hotel itu untuk menolongnya? Aku rasa kejadian ini tidak masuk akal. Lebih baik kamu hubungi saja tunangan Pak Alvian," kata Keyla memberikan saran.
"Aku tidak tahu nomor ponsel tunangannya, Kak. Kasihan Pak Alvian kalau tidak segera ditolong. Tapi, aku takut datang ke bar hotel sendirian. Apa Kakak mau menemaniku?" tanya Cleantha berharap Keyla bersedia menemaninya.
"Aku baru saja makan, masa aku harus meninggalkan makanan ini begitu saja. Harganya tidak murah, Clea," jawab Keyla enggan meninggalkan restoran itu.
"Begini saja, kamu berangkat duluan kesana. Tunggu sampai aku datang, lalu kita bawa Pak Alvian pulang ke rumah Tuan Raja."
"Baik, Kak," jawab Cleantha setuju.
Cleantha memesan ojek online lewat aplikasi untuk berangkat ke hotel La Vierra.
Tak berselang lama, ojek yang dia pesan sudah tiba di depan restoran.
__ADS_1
"Kak, aku berangkat sekarang. Tolong jangan lama-lama menyusulku."
"Iya. Cepat sana berangkat! Jangan matikan ponselmu. Nanti aku akan menelponmu kalau sudah sampai di lobi hotel," tukas Keyla.
Cleantha bergegas menaiki ojek motor online yang telah menunggunya.
Ia merasa harus membantu Alvian karena adik iparnya itu juga sering memberikan pertolongan padanya. Namun di sisi lain, ia merasa was-was jika harus pergi seorang diri ke bar. Terlebih ini sudah malam hari. Cleantha masih trauma dengan kejadian naasnya tempo hari di bar, yang menyebabkan dia mabuk berat.
...****************...
"Benar ini, Mbak, hotelnya?" tanya tukang ojek kepada Cleantha.
"Iya, Pak, itu ada tulisan La Vierra," ucap Cleantha melepaskan helmnya.
"Terima kasih, Pak."
"Sama-sama, Mbak, selamat malam," ucap tukang ojek itu menurunkan Cleantha di depan kawasan hotel La Vierra.
Cleantha masih tak bergeming dari tempatnya berdiri. Suasana di sekitar hotel cukup gelap di malam hari. Entah kenapa perasaannya mendadak resah. Ia tidak berani masuk ke area hotel itu sendirian.
"Aku akan mengabari Kak Keyla dulu kalau aku sudah sampai di hotel,"
pikir Cleantha sambil memegang ponselnya.
"Tuuttt, Tuuuttt."
Terdengar nada panggilan tersambung dari ponsel Keyla.
"Halo, Clea," jawab Keyla setengah berteriak.
Suara Cleantha terdengar kurang jelas karena tercampur dengan hiruk pikuk musik di restoran.
"Kak, aku sudah sampai di hotel La Vierra. Apa Kakak sudah selesai makan? Tolong segera kesini menyusulku," pinta Cleantha.
"Apa? Aku tidak dengar. Keraskan volume suaramu."
"Aku sudah sampai di hotel La Vierra. Tolong segera kesini, Kak," ulang Cleantha dengan suara keras.
"Kamu ini cerewet sekali. Aku sedang membayar di kasir. Aku akan berangkat naik taksi sebentar lagi. Masuk saja dulu dan tanyakan pada bartender dimana Pak Alvian berada."
"Iya Kak, aku..."
Cleantha belum selesai bicara, ketika dirasakannya ada tangan seseorang membekap mulutnya dari belakang.
Cleantha meronta-ronta, mengepak-epakkan tangannya ke udara. Berusaha membebaskan diri dari orang yang menutupi mulutnya dengan sapu tangan.
Sayangnya dalam sekejap mata, ia merasakan kantuk yang luar biasa. Kakinya melemah bersamaan dengan kesadarannya yang menguap. Cleantha menjatuhkan ponselnya ke tanah ketika ia sudah tidak sadarkan diri.
"Clea, halo....Clea," panggil Keyla memanggil Cleantha.
Keyla seperti mendengar suara tak lazim dari ponsel adiknya itu.
Tidak ada jawaban dari Cleantha. Sambungan telponnya pun terputus dengan tiba-tiba.
"Kenapa perasaanku jadi tidak enak begini? Aku akan menyusul Cleantha sekarang. Jangan-jangan terjadi sesuatu padanya,"
batin Keyla cemas.
...****************...
"Tuan, kami sudah berhasil menangkap gadis bernama Cleantha."
"Bagus, papah gadis itu langsung ke kamar 218. Nanti kalau resepsionis atau pegawai hotel ada yang bertanya, bilang saja Cleantha sedang mabuk. Dan katakan kalau Cleantha adalah istrinya Alvian Adhiyaksa yang memesan kamar 218."
"Baik, Tuan."
"Ingat, bersikaplah sewajarnya. Jangan sampai menimbulkan kecurigaan."
Kedua anak buah Fendi pun menuruti perintah bosnya. Mereka memapah Cleantha ke lobi hotel, lalu buru-buru masuk ke dalam lift.
Fendi sudah menunggu di depan pintu kamar 218. Ia langsung membuka pintu dan menyuruh anak buahnya masuk.
"Baringkan Cleantha di sebelah Alvian," tandas Fendi.
Dengan hati-hati, mereka meletakkan Cleantha di atas tempat tidur, tepat di samping Alvian.
"Kalian boleh keluar. Berjaga-jagalah di depan lobi hotel. Nanti aku akan menyusul kalian ke bawah. Aku harus melakukan sesuatu dulu disini."
"Baik, Tuan."
Setelah kedua anak buahnya pergi, Fendi segera mengeluarkan kamera ponselnya.
"Hmmm, saatnya aku mengabadikan momen langka ini. Tunggu dulu, aku harus mengatur pose mereka berdua supaya kelihatan seperti sungguhan."
Fendi mendekati Alvian dan membuka semua kancing kemejanya. Ia melepaskan celana panjang yang dikenakan Alvian dan melemparnya ke lantai.
__ADS_1
Setelah itu, ia beralih pada Cleantha. Fendi membuka bagian atas kancing kemeja gadis itu.
Ia mengagumi bentuk tubuh Cleantha yang bagus dan wajahnya yang cantik.
"Pantas saja Raja menikahi gadis muda ini. Ternyata dia cantik, kulitnya juga putih dan mulus,"
gumam Fendi berdecak kagum.
Ia meletakkan kepala Cleantha di dada Alvian, lalu mengatur posisi tangan mereka agar saling berpelukan.
"Nah, begini baru bagus,"
gumam Fendi melihat hasil kerjanya.
Merasa sudah pas, Fendi langsung mengambil foto Cleantha dan Alvian dari berbagai sisi.
"Sudah selesai. Beres semuanya," ucap Fendi bermonolog.
Sebelum pergi dari kamar itu, Fendi menatap wajah Alvian yang masih tertidur lelap.
"Maaf, Al, aku terpaksa melakukan ini padamu. Tapi aku masih berbaik hati, mengingat persahabatan kita dulu. Aku hanya memberimu obat tidur. Sebenarnya Vira menyuruhku memberimu obat perangsang dosis tinggi, supaya kamu meniduri Cleantha. Tapi aku tidak tega melakukannya. Cukup begini saja. Nikmatilah tidurmu malam ini bersama istri muda Raja,"
gumam Fendi meninggalkan Alvian dan Cleantha.
Sementara di luar, Keyla sudah tiba di lobi hotel. Ia bertanya pada resepsionis dimana letak bar hotel.
Sambil masih berusaha menghubungi Cleantha, Keyla masuk ke dalam bar hotel tersebut.
"Nomor ponsel Cleantha tetap tidak aktif,"
gumam Keyla khawatir.
Keyla mendatangi bartender yang sedang bertugas sambil memandang sekeliling bar.
"Mas, apakah ada gadis muda berkemeja biru dengan rok hitam masuk ke bar ini?"
"Tidak ada, Nona, hanya ada tamu pria," jawab bartender itu.
"Kalau begitu apakah ada pria bernama Alvian Adhiyaksa yang pingsan karena mabuk? Tadi bartender dari sini menghubungi adik saya untuk menjemputnya," terang Keyla.
"Sejak sore saya yang bertugas disini dan saya tidak menghubungi siapapun, Nona. Memang ada seorang tamu pria yang mabuk, tapi saya tidak tahu namanya. Dia sudah dibawa temannya ke kamar hotel," jawab bartender itu.
Mendengar penjelasan sang bartender, kecemasan Keyla makin bertambah. Bagaimanapun Cleantha adalah adiknya. Dia tidak ingin sesuatu yang buruk menimpanya.
Keyla memutuskan kembali ke lobi hotel dan bertanya pada resepsionis.
"Mbak, apa tadi ada gadis berusia dua puluhan, berkemeja biru dan memakai rok hitam?"
"Maaf, Nona, ada banyak tamu yang lewat. Jadi saya kurang bisa mengingat ciri-cirinya satu per satu."
"Coba tolong dicek, Mbak, apakah ada tamu yang memesan kamar atas nama Alvian Adhiyaksa? Saya saudaranya Alvian Adhiyaksa. Dia sedang mabuk dan saya mau membawanya pulang ke rumah," ucap Keyla mencari alasan.
"Saya cek sebentar, Nona."
Resepsionis itu mengecek data di komputernya untuk melihat daftar nama pemesan kamar.
"Ada, Mbak. Tuan Alvian Adhiyaksa memesan kamar 218."
"Terima kasih, Mbak," ucap Keyla bergegas menuju lift.
**Bersambung
Supaya tidak tegang, berikut bonus visual para tokoh utama**.
Cleantha Hastomo
Raja Adhiyaksa
Alvian Adhiyaksa
**Zevira Adhiyaksa
Maaf ya visual pakai aktor dan aktris Thailand sesuai kesukaan Author.
Ditunggu like, comment, dan votenya.
Thank you**
__ADS_1