
Raja terbangun dan memandang ke samping tempat tidur. Merasa kecewa saat menyadari Cleantha sudah tidak ada di sampingnya.
"Jam berapa ini? Kenapa dia sudah tidak ada."
Sambil mengusap kelopak matanya yang masih terasa berat, Raja memandang ke arah jam dinding.
Melihat waktu yang baru menunjukkan pukul tujuh lewat sepuluh menit. Raja segera bangkit dari tempat tidur.
Semalam ia memang kesulitan tidur, hingga pagi ini harus terlambat bangun.
Kemarin ia berusaha mati-matian menahan keinginan untuk menyentuh Cleantha. Entah apa yang terjadi pada dirinya. Gara-gara semalam membuka gaun sang istri, ia jadi hilang kendali.
Kulit Cleantha yang halus ditambah aroma harum tubuhnya yang menguar, membuat ia teringat pada malam panas yang mereka lalui bersama. Ditambah ekspresi Cleantha yang malu-malu semakin memicunya untuk menggoda gadis itu. Tidak bukan gadis, tapi wanita. Sekarang Cleantha sudah menjadi wanitanya.
Pikirannya memang sudah gila. Barangkali ini akibat pengaruh terlalu lama tidak bercinta dengan seorang wanita. Sekali mengulang kegiatan tersebut, mendadak ia menjadi kecanduan. Bagaimanapun ia harus belajar mengendalikan dirinya.
Mungkin boleh sesekali ia memberikan kelonggaran pada diri sendiri. Menikmati kesenangan duniawi bersama wanita yang telah sah menjadi istrinya. Namun ia harus tetap membentengi diri dari perasaan yang bernama cinta.
Pengalaman telah mengajarkannya untuk tidak terlalu mencintai seorang wanita. Semakin dalam cintanya, maka akan semakin sakit luka yang ditorehkan. Apalagi Cleantha berada di sisinya hanya karena sebuah ikatan perjanjian. Bila masa perjanjian mereka telah usai, besar kemungkinan Cleantha akan segera meninggalkannya. Dan ketika masa itu tiba, ia tidak bisa lagi menghalangi Cleantha untuk mencari kebahagiaannya sendiri.
Cleantha memang unik, berbeda dengan wanita lain yang pernah dikenalnya. Awalnya dia mengira istrinya itu seorang gadis barbar, kekanak-kanakan, tidak mengerti aturan dan suka bermalas-malasan. Namun lambat laun, ia memahami sifat asli Cleantha yang sebenarnya.
Raja mencoba mencari ponsel Cleantha di atas nakas. Benda itu tidak ada. Tas kerjanya yang usang juga tidak terlihat dimana-mana.
Karena penasaran, Raja membuka lemari baju Cleantha. Akhir-akhir ini gadis itu menjadi sangat rapi, tidak berantakan seperti dulu. Semua bajunya terlipat sempurna begitu pula dengan baju yang tergantung rapi. Namun ada satu hanger yang kosong di dalam lemari.
"Apa dia berangkat kerja? Aku sudah memberinya waktu istirahat dua hari, tapi dia malah nekat masuk kerja hari ini. Cleantha memang keras kepala,"
pikir Raja menutup lemari baju Cleantha.
Raja kembali ke tempat tidur, meraih ponselnya dari meja dan menekan nomor ponsel Dion.
"Selamat pagi, Tuan," sapa Dion dari seberang telepon.
"Pagi, Dion. Aku akan datang ke kantor setelah makan siang. Pagi ini aku harus ke sekolah untuk mengambil raport Ivyna. Tolong handle pekerjaanku."
"Baik, Tuan."
"Jangan lupa, segera kirimkan perawat ke rumah Cleantha. Mulai hari ini ayahnya harus ditangani oleh perawat yang profesional. Sekalian suruh perawat itu mencatat perkembangan kesehatan ayahnya Cleantha. Bila perlu, bawa saja ke rumah sakit agar diberikan perawatan yang intensif," perintah Raja secara detail.
"Lalu apakah Tuan jadi mencari supir pribadi untuk Nona Cleantha?" tanya Dion.
"Iya, aku mau supir itu bekerja mulai Senin depan. Pilihlah supir yang sopan dan berpengalaman. Jangan memilih yang usianya masih muda. Aku tidak mau dia macam-macam pada Cleantha."
__ADS_1
"Saya mengerti, Tuan."
Raja menutup telponnya. Sembari berdesah, ia melangkah ke kamar mandi. Ada rasa enggan yang melandanya karena hari ini harus pergi bersama Zevira. Raja justru berharap Cleantha yang menemaninya pergi ke sekolah.
...****************...
Sepasang suami istri yang rukun, itulah kesan yang coba diberikan Raja dan Zevira pada guru kelas Ivyna.
Guru kelas Ivyna tersenyum ramah dan mempersilakan mereka untuknduduk.
Ivyna duduk di tengah, diapit oleh kedua orangtuanya.
"Selamat pagi, Daddy dan Mommy, ini raport Ivyna, silakan dibaca," ucap Miss Agatha dengan wajah sumringah.
Ia menyodorkan buku berwarna putih ke tangan Raja.
"Prestasi Ivyna sangat bagus di semester pertama ini. Nilainya paling tinggi di kelas. Jika Ivyna bisa mempertahankan nilainya di semester kedua, dia bisa menjadi juara kelas," terang Miss Agatha terlihat puas dengan pencapaian Ivyna.
Raja membaca nilai-nilai Ivyna dengan seksama. Putri kecilnya itu hampir mendapat angka sempurna di semua mata pelajaran. Sambil tersenyum bangga, Raja mengelus rambut panjang Ivyna.
Senyuman bahagia juga tergambar di wajah Zevira. Ia bangga memiliki anak yang cerdas dan patuh seperti Ivyna. Di masa depan nanti, putri kecilnya itu bisa menjadi tumpuan harapannya, tak terkecuali di masa kini.
"Terima kasih, Miss, karena telah membimbing Ivyna dengan baik," ucap Raja berterima kasih pada Miss Agatha.
Senyum Zevira semakin lebar. Walaupun ia jarang mengurus putrinya itu, tak disangka Ivyna tumbuh begitu luar biasa.
"Pastinya semua prestasi Ivyna ini karena dukungan dan perhatian dari Mommy dan Daddy," sambung Miss Agatha.
"Tentu saja, Miss. Saya selalu mendampingi dan mendidik putri saya dengan baik," jawab Zevira bangga.
"Apa ada yang Daddy atau Mommy ingin tanyakan mengenai Ivyna?"
"Tidak ada, Miss," jawab Raja segera.
"Kalau begitu happy holiday ya, Ivyna, Mommy and Daddy. Kita jumpa lagi semester depan, Ivy," kata Miss Agatha menutup pembicaraan.
Raja dan Zevira berjabat tangan dengan Miss Agatha lalu meninggalkan ruang kelas.
Raja menggandeng tangan Ivyna hingga mereka sampai di dalam mobil. Sementara Zevira dibantu oleh Bi Dewi menyusul di belakang.
"Ivy, Daddy bangga sekali atas prestasimu," peluk Raja dengan erat.
Ada rasa bersalah menyeruak di kalbunya. Sebagai ayah, ia telah gagal memberikan keluarga yang harmonis dan hangat untuk Ivyna. Selama ini ia malah sibuk memikirkan balas dendamnya sendiri.
__ADS_1
Akibat kesalahannya itu, Ivyna jadi sedikit terabaikan. Ia juga memberikan contoh yang tidak baik bagi putrinya dengan memiliki dua istri.
Raja khawatir ketika dewasa nanti, Ivyna akan terkena dampak atas perbuatannya. Ia sungguh tidak mau melihat putrinya mengalami poligami seperti yang dilakukannya saat ini.
Cepat atau lambat ia harus memilih satu wanita saja yang layak menjadi istrinya.
"Daddy kata Miss tadi aku mendapatkan nilai terbaik di kelas. Boleh sekarang aku meminta hadiahku?" tanya Ivyna bersemangat.
"Tentu, Sayang. Katakan apa yang mau kamu minta dari Daddy."
"Aku mau kita liburan ke Jepang, Daddy. Aku ingin melihat bunga sakura dan pergi ke Disneyland. Aku juga mau makan sushi setiap hari disana," kata Ivyna membulatkan matanya.
"Kamu yakin ingin berlibur ke Jepang?" tanya Raja terkesiap.
"Iya Daddy. Mommy Vira juga harus ikut bersama kita. Bisa kita berangkat besok dengan pesawat?"
"Raja kabulkan saja permintaan Ivy. Kita bertiga sudah lama tidak liburan bersama. Ini saat yang tepat bagi kita untuk mengenang masa-masa indah. Bilang saja pada Dion untuk memesan tiket sekarang. Aku akan mengajak Bi Dewi dan Ningsih juga. Mereka akan mengurus aku dan Ivyna selama kita berlibur di Jepang," sambung Zevira yang sudah duduk di dalam mobil.
Raja tidak menghiraukan perkataan Zevira. Ia lebih fokus pada putrinya yang sedang merajuk.
"Ayolah, Daddy aku mau ke Jepang."
"Baiklah, Ivy. Berapa lama kamu ingin berada disana?"
"One week, Daddy."
Karena tidak ingin mengecewakan Ivyna, Raja akhirnya mengabulkan permintaan tersebut.
"Iya, Daddy akan memesan tiket perjalanannya sekarang."
Di dalam hati, Zevira merasa sangat senang.
Untung saja sebelum berangkat ke sekolah, ia sempat membujuk Ivyna agar meminta hadiah liburan ke Jepang. Tak disangka rencananya telah membuahkan sukses besar. Melalui liburan kali ini, Raja dan Cleantha akan berpisah untuk sementara waktu.
"Ini awal yang bagus. Berikutnya aku akan meminta Fendi untuk melakukan langkah kedua. Aku yakin sepulang dari liburan, Raja akan langsung menendang Cleantha keluar dari rumahnya,"
pikir Zevira tersenyum sendiri.
BERSAMBUNG
Tinggalkan jejak like, komen, dan votenya ya.
Happy Weekend
__ADS_1