Istri Bayaran Milik Tuan Raja

Istri Bayaran Milik Tuan Raja
Bab 90 Aku Mencintaimu


__ADS_3

Seharian bekerja di kantor, Cleantha sama sekali tidak melihat Alvian. Bahkan meeting finance yang akan diselenggarakan ulang pada hari ini, dibatalkan secara tiba-tiba. Hanya Pak Setyo yang dipanggil oleh Alvian ke ruangannya untuk mewakili semua anak buahnya.


Dari tindakannya tersebut, Cleantha bisa mengambil kesimpulan bahwa Alvian sedang enggan bertemu dengannya. Mungkin kali ini dia benar-benar membuat Alvian marah.


Cleantha juga teringat pada pertemuannya yang tidak disengaja dengan Raja. Sekaligus bagaimana mantan suaminya itu menatapnya penuh kebencian.


Hari lepas hari hubungannya dengan Raja terasa makin runyam.


Daripada memikirkan persoalan tersebut, Cleantha memutuskan untuk menyibukkan diri dengan memasak.


Sebelum pulang ke apartemen, ia menyempatkan berbelanja bahan makanan serta beberapa peralatan memasak sederhana di supermarket.


Tiba-tiba saja ia ingin memasak mie goreng sosis buatannya sendiri. Selera makannya memang cepat sekali berubah selama kehamilan.


Tidak butuh waktu lama, mie goreng yang menggugah selera sudah tersaji di atas meja makan.


Karena terlalu bersemangat, mie goreng yang dibuatnya terlalu banyak. Mungkin ia tidak akan sanggup menghabiskannya seorang diri.


Cleantha mencicipi masakannya, rasanya cukup enak.


Ternyata keahliannya dalam memasak belum hilang.


Untuk menghilangkan rasa laparnya, Cleantha menyuapkan satu sendok penuh mie goreng ke mulutnya. Ia hampir tersedak ketika mendengar pintu apartemen terbuka dari luar.


"Gawat, siapa itu yang masuk? Jangan-jangan penjahat? Tapi bagaimana dia bisa mengetahui password apartemen ini?"


pikir Cleantha kalut.


Ia berdiri dari kursi. Bersiap membawa sendok kayu panjang dari dapur, bila sekiranya ada penjahat yang mengancam keselamatannya.


Namun Cleantha melonjak kaget ketika hampir bertabrakan dengan Alvian di ruang tamu.


"Pak, kenapa Anda ada disini?" tanya Cleantha terkejut.


"Tentu saja aku kesini karena ini adalah apartemen milikku," jawab Alvian ketus.


"Iya Pak, saya tahu. Tapi...."

__ADS_1


"Tapi apa? Kamu menuduhku ingin berbuat macam-macam seperti yang biasa dituduhkan Kak Raja? Atau kamu mau mengusirku dari sini seperti yang dilakukan Mamaku?"


Cleantha terkesiap mendengar perkataan Alvian yang penuh nada kemarahan. Terlebih pandangan pria itu terlihat hampa.


Ini bukan seperti Alvian yang dia kenal. Biasanya Alvian penuh percaya diri, sabar, dan selalu berkepala dingin.


Entah apa yang terjadi pada atasannya itu sepanjang hari, sehingga dia nampak begitu putus asa.


Apakah mungkin Alvian baru mengalami pertengkaran besar dengan Raja dan ibu kandungnya akibat membela dirinya.


Cleantha jadi teringat pada nasibnya sendiri.


Ia juga menderita keputusasaan yang luar biasa ketika dituduh dan ditolak oleh semua orang. Kakaknya, ibu tirinya, bahkan Raja pun membuangnya. Dan saat itu hanya Alvian yang bersedia mengulurkan tangan untuk menolongnya.


"Pak, maafkan saya. Saya tidak bermaksud menyinggung Bapak. Saya hanya terkejut saja. Apa Bapak sudah makan malam? Kebetulan saya memasak mie goreng kalau Bapak mau," tanya Cleantha menawarkan masakannya.


Alvian tidak menjawab, ia berlalu begitu saja ke dalam kamarnya lalu menutup pintu.


"Ada apa dengan Pak Alvian? Pasti ini semua gara-gara aku. Nanti akan kucoba menghiburnya. Lebih baik sekarang aku menyiapkan makan malam untuknya,"


batin Cleantha menuju ke dapur.


Kurang lebih satu jam kemudian, Alvian baru keluar dari kamarnya.


Tanpa bicara, Alvian berjalan menuju ke piano yang terletak di ruang tengah.


Ia menekan tuts pianonya. Memainkan sebuah lagu klasik dengan jari jemarinya yang lincah. Alunan lagu terdengar memenuhi ruangan.


Meskipun Cleantha tidak tahu apa judul lagu itu, namun ia bisa merasakan iramanya yang menyayat hati. Sudah jelas Alvian sedang menumpahkan segala kesedihannya lewat lagu tersebut.


Tak terasa, sudut mata Cleantha tergenang oleh air mata. Melihat Alvian terpuruk seperti itu, menimbulkan rasa sakit yang mendalam di hatinya.


Detik berikutnya, Alvian mulai mempercepat gerakan jemarinya, hingga nada yang terdengar menjadi kacau balau. Dengan satu hentakan kasar, Alvian menghentikan permainannya lalu beranjak dari kursi.


"Pak, sebenarnya Anda kenapa? Ceritakan saja pada saya, mungkin saya bisa membantu," tanya Cleantha lembut.


"Tidak usah pedulikan aku. Bukankah kamu ingin aku menjauhimu? Pikirkan saja pria yang kamu cintai dan kembalilah padanya," ucap Alvian hendak berlalu pergi.

__ADS_1


Entah mendapat dorongan dari mana, Cleantha tiba-tiba berlari ke arah Alvian.


Ia memeluk Alvian dengan erat dari belakang.


"Pak, saya minta maaf. Bapak mengalami semua penderitaan ini karena saya. Bapak sudah terlalu banyak berkorban untuk saya. Tapi perlu Bapak ketahui, perasaan saya sudah berubah. Sekarang orang yang saya cintai bukan lagi Tuan Raja. Tapi saya...mencintai Bapak," kata Cleantha sambil menangis.


...****************...


Raja melempar jasnya di atas sofa. Hari ini sungguh melelahkan sekaligus menguras emosinya.


Pertemuannya dengan Cleantha dan Alvian ditambah paksaan yang dilakukan mantan mertuanya.


Kekesalannya bertambah saat ia mendengar nada dering ponselnya berbunyi.


"Nomor siapa ini? Berani menggangguku malam-malam,"


batin Raja jengkel.


"Halo, siapa ini?" tanya Raja.


Hening. Tidak terdengar suara seseorang yang menjawab.


"Halo, apa Anda ingin mempermainkan saya?" tanya Raja menaikkan nada suaranya.


"Raja, ini aku Fendi," jawab Fendi ragu-ragu.


Mendengar nama Fendi, darah Raja mulai mendidih.


"Fendi, apa maumu? Kenapa kamu menghubungiku?"


"Aku...ingin minta maaf, Raja. Mungkin kesalahanku terlalu besar padamu. Tapi aku ingin memperbaikinya. Besok aku akan pulang ke Jakarta. Bisakah malamnya kita bertemu di kafeku?"


"Apa yang kamu rencanakan sebenarnya? Apa kamu ingin menipuku seperti kamu menjebak Alvian?" bentak Raja.


"Bukan, Raja. Aku ingin mengakui hal yang sangat penting terkait Alvian dan Cleantha. Kamu harus mendengarnya karena ini penting bagi hubungan persaudaraanmu dengan Alvian," ucap Fendi meyakinkan Raja.


Bersambung

__ADS_1


Ditunggu jejak like, komen dan votenya ya


__ADS_2