Istri Bayaran Milik Tuan Raja

Istri Bayaran Milik Tuan Raja
Bab 101 Ikatan Abadi


__ADS_3

Hi Readers cerita ini udah masuk Season 2 ya.


Jangan lupa berikan like, comment, dan votenya.


Curhat sedikit, bagi yang mau baca 😂


Author tahu sebagian readers ngambek dengan alur cerita ini, karena masing2 cowok ada pendukungnya. Ada yang udah nggak mau baca, bahkan ada yang minta author mengganti judul novel he3.


But it's okey, itu menunjukkan kepedulian kalian pada kehaluan author. Baik di dunia halu maupun di dunia nyata, tidak ada satu hal yang bisa memuaskan semua orang. So bagi yang masih setia membaca, author ucapkan terima kasih. Semoga kalian tetap bersabar dan terhibur mengikuti kisah Cleantha sampai ending.


Always be healthy and happy. 🥰


.


.


Alvian sudah tertidur, namun Cleantha masih sulit memejamkan mata. Ada dorongan di dalam hatinya untuk mendoakan sang suami.


Cleantha menyibak selimutnya, bergerak perlahan agar tidak membangunkan Alvian. Namun sebelum ia benar-benar turun dari tempat tidur, Alvian menariknya dari belakang, sehingga Cleantha jatuh ke dalam pelukannya.


"Sayang, mau kemana? Kenapa belum tidur?"


"Aku tidak bisa tidur, Al. Tiba-tiba aku merasa cemas."


"Apa yang kamu cemaskan?" tanya Alvian lembut.


"Aku mau kamu membatalkan kepergianmu. Kamu bisa meminta Ryan untuk mewakilimu di konferensi itu," bujuk Cleantha.


"Sayang, apa kamu sedang hamil? Kenapa jadi sensitif begini? Aku sudah sering melakukan perjalanan ke luar kota dan luar negri, tapi biasanya kamu tidak keberatan."


"Aku juga tidak tahu," jawab Cleantha jujur.


"Tenanglah. Aku akan langsung menelponmu begitu sampai di sana."


"Kalau kamu merindukan aku, kamu bisa memainkan lagu yang aku ajarkan. Bermain piano bisa menenangkan perasaanmu. Atau kamu bisa mengecek beberapa laporan untuk menyibukkan diri. Bukankah selama ini kamu sudah mahir menjadi asistenku?" goda Alvian.


"Iya, tapi berjanjilah untuk cepat pulang. Dua hari lagi acara lamaran Kak Keyla. Mungkin aku harus menghadirinya sendirian saja," ucap Cleantha mengerucutkan bibirnya.


"Ajaklah bodyguard kecilmu, Almero. Dia bisa menggantikan aku untuk menemani dan menjagamu. Tapi kalau kamu cemberut begitu, aku jadi ingin menciummu," kata Alvian berusaha menghilangkan kekhawatiran Cleantha.


"Jangan menggodaku terus," jawab Cleantha.


"Kalau begitu, tidurlah. Besok aku berangkat jam satu siang. Paginya kita bisa mengantar Almero berangkat ke sekolah bersama-sama."


Cleantha membaringkan kepalanya di dada Alvian. Saat ini perasaannya jauh lebih baik karena besok mereka masih punya waktu untuk bersama.


...****************...


Almero menerobos masuk ke kamar orang tuanya.


"Mommy, Daddy!"


"Maaf, Nyonya, Almero memaksa masuk kesini," ucap pengasuh Almero merasa sungkan.


Cleantha yang sedang memakaikan dasi untuk Alvian, segera menoleh ke belakang.


"Tidak apa-apa, Reni. Aku sudah selesai," kata Cleantha.

__ADS_1


"Baik, Nyonya, saya permisi."


Alvian menghampiri Almero dan menggendong putranya itu.


"Daddy dan Mommy akan mengantarmu ke sekolah hari ini. Are you excited?"


"Yes, Daddy."


"Almero, selama Daddy pergi jaga Mommy ya. Always be a good boy and listen to your Mommy," kata Alvian sambil menggendong Almero hingga tiba di meja makan.


"Of course, Daddy. I'm strong and fast like Spiderman. I can protect Mommy from the bad guy," jawab Almero membulatkan matanya.


Lagi-lagi perkataan Alvian membuat Cleantha gundah. Seolah-olah suaminya itu akan pergi jauh dan tidak akan kembali.


Selesai sarapan pagi, mereka bertiga berangkat ke sekolah Almero.


Alvian dan Cleantha mengantar putra mereka hingga tiba di depan kelas.


"Bye, bye," kata Almero berpamitan sebelum masuk ke dalam kelas.


"Sayang, setelah ini kita akan kemana?" tanya Cleantha.


"Aku akan memberimu sesuatu sebagai tanda cintaku," kata Alvian menggandeng tangan Cleantha ke mobil.


Cleantha hanya menurut ketika Alvian membawanya masuk ke sebuah toko perhiasan.


"Tuan Alvian, selamat datang. Kalung yang Anda pesan sudah siap," kata supervisor toko itu menyambut Alvian.


"Bisa saya melihatnya?" tanya Alvian.


"Tentu, Tuan."


"Terima kasih, Mbak," ucap Alvian sembari membuka kotak itu.


Cleantha berdiri di sebelah suaminya sambil memperhatikan apa isi kotak yang dipegang Alvian.


Alvian mengeluarkan seuntai kalung emas putih dengan liontin berbentuk love yang saling terkait satu sama lain.


Sambil tersenyum, Alvian bergerak ke belakang Cleantha. Jemarinya membuka pengait kalung itu dan mengenakannya di leher istrinya.


Sesaat Cleantha terkejut, namun kemudian ia terpana melihat keindahan kalung itu.


"Apa kamu suka, Sayang?"


"Iya, ini cantik sekali," kata Cleantha terkagum-kagum.


"Ini liontin love knot, simbol keterikatan dua hati yang saling mencintai. Juga melambangkan cinta tiada akhir, tidak ada batas waktu. Aku memberikannya supaya kamu selalu mengingatku," kata Alvian menatap mata Cleantha.


Pernyataan cinta Alvian membuat mata Cleantha berkaca-kaca. Ia merasa sangat beruntung karena mendapatkan cinta yang besar dari suaminya.


"Aku juga sangat mencintaimu, Al," kata Cleantha terharu.


"Sudah, jangan menangis. Aku memberikan ini supaya kamu bahagia, bukan untuk membuatmu sedih. Ayo kita pulang ke rumah."


Cleantha mengangguk, tapi entah mengapa kekhawatiran tetap menyergap relung hatinya.


Setibanya di rumah, Cleantha menyiapkan makan siang untuk Alvian.

__ADS_1


Tanpa disadari, waktu berlalu begitu cepat. Telah tiba saatnya bagi Alvian untuk berangkat.


Dengan berat hati, Cleantha mengantarkan Alvian hingga ke depan rumah.


"Sayang, hati-hati di jalan," ucap Cleantha sebelum Alvian masuk ke mobilnya.


"Iya, aku akan menelponmu begitu sampai di hotel," jawab Alvian mengecup pipi Cleantha.


Ia masuk ke mobilnya lalu menutup pintu. Sebelum supir yang mengantarnya melajukan mobil, Alvian membuka jendela sekali lagi.


Cleantha melambaikan tangannya. Rasanya begitu enggan untuk melepas kepergian suaminya kali ini.


...****************...


"Daddy, kapan kita pulang ke Jakarta? I want to see Almero, my cousin," tanya Ivyna kepada Raja.


"Maybe next month," jawab Raja melepas jasnya.


Apa yang diucapkan Raja berbeda jauh dengan isi hatinya. Sejujurnya ia tidak ingin kembali hanya untuk mengulang kepedihannya.


Sejak kematian Zevira lima tahun yang lalu, ia memutuskan untuk menetap di Hongkong bersama mertuanya, Bayu Narendra. Di kota itu ada kantor cabang Adhiyaksa Group. Sekaligus ia diminta oleh sang mertua untuk mengelola bisnis properti miliknya.


Raja hanya pulang sekali saja ke Jakarta pada saat upacara pemakaman Zevira.


Ketika itu dengan mata kepalanya sendiri, ia menyaksikan betapa Alvian dan Cleantha telah berbahagia sebagai suami istri. Bahkan Cleantha sedang mengandung buah cintanya dengan Alvian. Semua kenyataan ini menggoreskan luka batin yang entah kapan baru bisa disembuhkan.


Ia sudah berusaha menjalin hubungan baru dengan wanita bernama Sabrina. Namun tetap saja hanya kehampaan yang dirasakannya.


Sejak Almero lahir, Raja belum pernah melihat keponakannya itu. Anehnya, Ivyna justru sangat penasaran ingin bertemu dengan Almero. Putrinya itu hampir memasuki usia remaja. Barangkali ia merasa kesepian karena tidak memiliki saudara kandung.


"Daddy, bisa kita percepat kepulangan kita? Aku juga ingin pindah sekolah di Jakarta," rajuk Ivyna.


"Nanti Daddy pikirkan lagi," jawab Raja datar.


"Apa ini karena Tante Sabrina? I don't like her. Aku tidak suka Daddy berpacaran dengannya," keluh Ivyna.


"Memangnya kenapa, Ivy? Dia rekan kerja Daddy dan dia juga sangat baik padamu," tanya Raja.


"I don't know. I think she is not good for Daddy. Aku ingin punya Mommy yang lembut dan penyabar," ucap Ivyna berlagak seperti orang dewasa.


Raja menggeleng-gelengkan kepalanya, tidak mengerti dengan jalan pikiran putrinya yang cerdas ini.


...****************...


Selesai makan malam bersama Almero, Cleantha mengajak putranya ke kamar. Ia membacakan sebuah cerita dongeng untuk Almero agar bocah itu cepat terlelap.


"I miss Daddy, Mom," rengek Almero.


"Mommy too. Daddy akan pulang tiga hari lagi. Now you sleep, okay," ucap Cleantha mengelus rambut Almero.


Sekitar tiga puluh menit kemudian, Almero sudah tertidur. Cleantha mematikan lampu lalu berjalan keluar dari kamar putranya.


Ia menuju ke kamarnya sendiri untuk beristirahat. Memandang ranjang yang kosong di sebelahnya, membuat Cleantha merindukan Alvian.


"Kenapa Alvian belum menelponku juga? Apa dia sibuk?"


pikir Cleantha bertanya-tanya.

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2