Istri Bayaran Milik Tuan Raja

Istri Bayaran Milik Tuan Raja
Bab 36 Undangan Lelang (Part 2)


__ADS_3

Alvian sedang makan siang sendirian di dalam ruangannya. Ia merasa enggan pergi makan ke luar. Hari ini Raja tidak ada di kantor karena sedang melakukan pertemuan bisnis di Bogor. Lagipula suasana hatinya juga sedang buruk.


Semalam mamanya lagi-lagi memaksanya agar mau berkenalan dengan gadis bernama Ayesha, putri pengusaha Pramudya Hendrawan.


Ambisi mamanya untuk memiliki menantu super kaya memang tidak pernah padam. Walaupun kini ia telah menjadi seorang direktur, bagi mamanya itu semua tidaklah cukup. Alvian tahu bahwa mamanya sangat menginginkan dirinya menjadi seorang CEO, pimpinan tertinggi di perusahaan Adhiyaksa.


Padahal impian itu mustahil terjadi karena keberadaan Raja sebagai pewaris utama ayahnya. Ia juga tidak pernah menginginkan kedudukan sebagai CEO.


Namun ambisi yang terlalu berlebihan, menyebabkan mamanya mencari jalan lain. Yaitu menjodohkannya dengan putri tunggal dari seorang pemilik perusahaan ternama.


Perjodohan adalah hal yang paling dibenci Alvian. Dalam usianya saat ini, ia belum terpikir untuk menikah apalagi dengan gadis yang tidak dicintainya. Ia masih ingin menikmati hari-hari bebas sebagai pria lajang.


Pikiran Alvian yang sedang mengembara teralihkan oleh bunyi dering ponselnya.


"Al, ini aku Zevira. Apa aku mengganggumu?" tanya Zevira dari seberang telpon.


"Sama sekali tidak, Kak Vira. Aku sedang makan siang. Ada apa, Kak?"


"Aku ingin meminta bantuanmu. Kamu bersedia menolong kakak iparmu ini, kan?"


"Tentu saja. Bantuan apa yang Kak Vira butuhkan?"


"Tolong temani Cleantha menghadiri undangan dari Good Foundation. Acaranya besok malam. Dan nanti sepulang kantor tolong antar dia ke butik Princell untuk memilih gaun dan sepatu. Aku akan share lokasi butiknya padamu."


Alvian mengernyitkan dahinya.


"Kak, kenapa harus aku yang menemani Cleantha? Dia harusnya datang ke acara itu bersama Kak Raja. Dia juga bisa memilih gaunnya sendiri."


"Al, kamu tahu bagaimana sifat Raja. Dia tidak mau menghadiri acara basa-basi yang hanya membuang waktunya. Aku sudah meminta izin pada Raja agar kamu yang menemani Cleantha. Cleantha juga menyetujuinya."


"Soal gaun, aku benar-benar minta bantuanmu. Cleantha selera berpakaiannya sangat buruk. Kalau kamu tidak menemaninya, aku takut dia akan memilih gaun yang salah. Raja sangat sibuk, dia tidak bisa mengantar Cleantha," sambung Zevira.


Sebelum memberikan jawaban, Alvian teringat akan janji temu yang direncanakan mamanya dengan Tuan Pramudya. Mungkin dia bisa menggunakan acara lelang sebagai alasan untuk menghindar dari perjodohan itu.


Selain itu, Alvian mengingat pesan Raja agar selalu mengawasi Cleantha. Ia harus memastikan gadis itu tidak memilih gaun seronok yang akan mempermalukan Raja di hadapan umum.


"Baik, Kak. Aku akan mengantar dan menemani Cleantha."


"Terima kasih, Al. Jam berapa kamu akan ke butik?"


"Mungkin sekitar jam enam sore, Kak."


"Baiklah, sampai jumpa besok malam."


Di rumahnya, Zevira terlihat sangat senang.


"Tidak kusangka semuanya berjalan semudah ini."


"Apa Tuan Alvian setuju menemani gadis kampung itu, Nyonya?" tanya Bi Dewi penasaran.


"Tentu saja dia setuju. Aku membohonginya dengan mengatakan kalau aku sudah meminta izin pada Raja. Sekarang tinggal melakukan rencana kedua."


Zevira menelpon ke butik Princell untuk menghubungi salah satu pegawai kepercayaan disana.


"Lisa, nanti adikku dan pacarnya akan datang ke butik sekitar pukul enam sore. Jangan lupa ambil beberapa foto mereka berdua secara diam-diam, lalu kirimkan padaku. Aku ingin melihat baju dan sepatu apa yang dipilih oleh adikku."


"Baik, Nyonya Zevira. Nanti saya akan mengirimkan foto-fotonya kepada Anda," jawab wanita bernama Lisa itu.


...****************...


Cleantha mengunci ruang brankas lalu kembali ke mejanya. Ia masih resah memikirkan permintaan Zevira. Jika ia harus pergi ke butik bersama Alvian, entah apa yang akan dilakukannya nanti.


Untungnya hingga jam lima sore, atasannya itu belum juga menghubunginya. Kemungkinan besar Alvian telah menolak keinginan kakak iparnya. Bisa dipastikan, pria berkelas seperti Alvian enggan bepergian dengan seorang staf rendahan seperti dirinya.


"Clea, ada telpon dari Pak Alvian. Cepat diterima," ujar Nurma mengejutkan Cleantha.


"I...iya, Mbak."


Cleantha menerima telpon itu dengan perasaan gelisah.


"Selamat sore, Pak," sapa Cleantha serba salah.


"Sore, apa pekerjaanmu sudah selesai?" tanya Alvian datar.


"Hampir selesai, Pak."


"Kalau begitu selesaikan dengan segera lalu turunlah ke area parkir mobil. Aku akan menunggumu disana."


"Maaf, Pak, apa kita jadi pergi ke butik?" tanya Cleantha memastikan.


"Tentu saja. Kemana lagi kita akan pergi kalau tidak ke butik. Bukankah Kak Vira sudah memberitahumu?"


"Iya, Pak."

__ADS_1


"Jangan lupa mobilku yang berwarna merah," kata Alvian menutup telponnya dengan tiba-tiba, hingga menimbulkan suara tidak nyaman di telinga Cleantha.


"Pak Alvian sama saja dengan Tuan Raja. Mereka berdua kakak beradik yang angkuh,"


gumam Cleantha kesal.


Cleantha merapikan meja, lalu berpamitan kepada Pak Setyo dan rekan kerjanya.


Sebelum keluar dari ruangan, ia dicegat oleh Keyla.


"Clea, kita tidak makan bersama seperti kemarin?"


"Hari ini dan besok aku tidak bisa, Kak."


"Apa karena undangan lelang itu?"


"Iya, Kak. Aku duluan," ucap Cleantha tergesa-gesa menuju lift.


"Jika kamu mendapat perhiasan, jangan lupa bagikan padaku," seru Keyla.


Cleantha harus menunggu untuk bisa masuk ke dalam lift, karena banyak karyawan yang hendak pulang di jam tersebut.


Saat tiba di basement, Cleantha menengok ke segala arah untuk mencari mobil Alvian.


"Sedang mencari mobilku?" tanya Alvian dari belakang punggung Cleantha.


Cleantha menoleh dan melihat adik iparnya itu berdiri di belakangnya.


"Aku juga baru turun dari lantai sembilan. Ayo ke mobilku," kata Alvian berjalan mendahului Cleantha.


Cleantha memilih duduk di kursi bagian tengah agar tidak berdekatan dengan Alvian.


"Duduklah di depan. Kalau kamu di belakang, orang akan mengira aku supirmu," tegur Alvian.


Meski merasa sungkan, Cleantha pun menurut.


Alvian mengemudikan mobilnya keluar dari area parkir.


Security yang melihat mobil Alvian langsung menunduk untuk memberikan hormat.


Security itu menatap Cleantha sambil cengar cengir. Nampaknya ia menyangka Cleantha memiliki hubungan spesial dengan putra kedua dari keluarga Adhiyaksa itu.


"Aku bingung harus memanggilmu dengan sebutan apa? Kamu kakak ipar sekaligus bawahanku. Aku sudah membaca CVmu, usiamu lebih muda dariku. Haruskah aku memanggilmu Kak Clea atau Kakak ipar saja?" tanya Alvian sambil menatap jalan raya.


"Jangan, Pak. Panggil nama saya saja, Clea," jawab Cleantha canggung.


"Iya, Pak."


"Bagaimana pekerjaanmu hari ini? Apa kamu mengalami kesulitan?"


"Eh, tidak ada, Pak."


"Belajarlah dengan giat, Clea. Sebagai staf finance kamu dituntut untuk selalu berpikir cepat, tepat, teliti, dan penuh pertimbangan."


"Dia masih sempat menceramahi aku di dalam mobil,"


gumam Cleantha keheranan.


Suasana canggung itu berakhir ketika mereka sampai di butik.


...****************...


"Selamat datang. Apa kamu Cleantha, adiknya Vira?" sapa seorang wanita berusia tiga puluh tahunan.


"Iya, Bu."


"Jangan memanggilku Ibu. Panggil saja namaku, Gina. Aku pemilik butik ini dan Vira adalah pelanggan setia sekaligus temanku. Gaun pesta seperti apa yang kamu inginkan?"


"Ehmmm, saya mencari yang sederhana saja."


"Aku akan menunjukkan beberapa gaun malam koleksi terbaru. Ayo ikut aku."


Cleantha mengikuti wanita bernama Gina itu ke deretan baju pesta. Di belakang mereka ada dua orang karyawan yang mengikuti mereka.


"Pilih saja. Ada yang berwarna hitam, merah, cokelat, biru navy, dan putih."


Cleantha terperanjat melihat harga fantastis dari gaun-gaun itu. Bahkan gajinya sebulan pun tidak cukup untuk membayar salah satunya.


"Vira mengatakan kamu bebas membeli yang mana saja, dia yang akan membayarnya."


Pernyataan dari Gina justru membuat Cleantha semakin sulit menentukan pilihan. Ia tidak mau memboroskan uang milik Zevira hanya untuk sekedar membeli baju pesta.


Sementara Alvian menyusul masuk ke butik setelah memarkirkan mobilnya.

__ADS_1


"Mbak dimana wanita yang baru datang tadi?"


"Oh, ada disana, Tuan, bersama Bu Gina. Mari saya antarkan."


Dari kejauhan, Alvian melihat Cleantha membolak balik banyak baju. Raut wajahnya nampak kebingungan, seolah tidak tahu gaun mana yang harus dipilihnya.


"Benar yang dikatakan Kak Raja dan Kak Vira, gadis ini memang sangat naif,"


gumam Alvian tidak sabar.


Ia maju ke depan dan mengambil alih keadaan.


"Biar aku yang memilih untukmu," ucap Alvian berdiri di samping Cleantha.


Alvian menyibak beberapa gaun sekaligus. Setelah melihat semua gaun yang terpajang, Alvian menjatuhkan pilihannya pada gaun berwarna putih keperakan.


"Coba saja yang ini. Warnanya cocok dengan kulitmu, modelnya juga anggun."


"Benar, pilihan pacarmu sangat bagus," puji Gina kepada Alvian.


"Lisa, antarkan Cleantha ke fitting room," perintah Gina kepada anak buahnya.


"Baik, Bu."


Mau tidak mau, Cleantha menurut. Ia memakai gaun itu dan melihat dirinya di depan cermin.


Gaun yang dipilihkan Alvian sangat pas untuknya.


"Nona, bagaimana?" tanya Lisa dari luar.


"Bagus, Mbak."


"Apa Nona ingin menunjukkan dulu kepada pacar Nona?"


Cleantha keluar dari fitting room untuk meluruskan kesalahpahaman yang terjadi.


"Pria tadi bukan pacar saya, Mbak. Dia atasan saya di kantor."


"Atasan sekaligus pacar ya. Wah, Nona kelihatan cantik sekali. Pacar Anda pasti setuju bila Nona membeli gaun ini," ucap Lisa memuji Cleantha.


"Bukan, Mbak. Dia bukan pacar saya," bantah Cleantha.


Namun pegawai butik itu tidak mengindahkan penjelasan Cleantha. Ia malah memaksa Cleantha ke depan untuk menemui Alvian.


Saat Cleantha menuju ke depan, Gina langsung menyambutnya.


"Beautiful. Bagaimana menurut Anda, Tuan Alvian?"


Alvian yang sedang sibuk dengan ponselnya, mendongak ke atas.


Ia terkesima melihat penampilan Cleantha yang begitu cantik dengan gaun pesta pilihannya.


Sebaliknya Cleantha menunduk malu karena merasa diperhatikan oleh atasannya itu.


"Tuan Alvian? Bagaimana bagus, kan?" ulang Gina yang melihat Alvian terpaku di tempatnya.


"I..iya," jawab Alvian tergagap.


Sekejap kemudian, ia berusaha mengabaikan rasa kagumnya pada kecantikan Cleantha.


"Sekalian saja pilihkan sepatu yang senada dengan gaun itu, Nona Gina."


"Kebetulan kami punya sepatu yang berwarna keperakan. Yuni, tolong ambilkan dan bawa kesini," perintah Gina pada pegawainya yang lain.


Tak berselang lama, pegawai itu datang dengan membawa sepasang sepatu berhak tinggi. Ia menyodorkan sepatu pesta itu kepada Cleantha.


"Saya tidak biasa memakai high heels," tolak Cleantha.


"Coba dulu, Cleantha. Tidak mungkin kamu hadir di pesta tanpa high heels," ucap Gina meyakinkan Cleantha.


Karena desakan Gina, Cleantha memberanikan diri memakai sepatu itu.


Sungguh luar biasa. Kakinya tampak indah, bahkan ia merasa bagaikan cinderella.


Sayangnya ketika ia mencoba melangkahkan kaki, tubuhnya terhuyung-huyung. Hingga entah pada langkah ke berapa, ia tersandung dan hampir ambruk ke lantai.


"Hati-hati kalau berjalan dengan high heels," ucap Alvian menangkap pinggang Cleantha.


Mata mereka saling bersitatap untuk beberapa saat. Namun Alvian segera melepaskan pelukannya, sedangkan Cleantha buru-buru berdiri.


Tanpa mereka ketahui, seseorang telah mengambil foto mesra tersebut.


BERSAMBUNG.

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan jejak like, vote, komentar sebanyak-banyaknya. Sambil menunggu Up, bisa baca karya author yang sudah tamat: "Membayar Karma Cinta" dan "Terjebak Cinta Dua Kekasih."


Thx u my readers 🥰


__ADS_2