Istri Bayaran Milik Tuan Raja

Istri Bayaran Milik Tuan Raja
Bab 72 Cemburu Buta (Part 2)


__ADS_3

Evander membawa Cleantha duduk di mejanya.


"Duduklah disini bersamaku," kata Evan menarik kursi untuk Cleantha.


"Terima kasih, Tuan. Tapi maaf, saya sedang mencari kakak saya. Saya tidak bisa bersama Tuan," ucap Cleantha menolak secara halus.


"Aku tidak suka penolakan, Nona. Kalau aku memintamu untuk menemaniku, maka kamu harus melakukannya," kata Evander memaksa Cleantha duduk dengan kedua tangannya.


Cleantha bingung apa yang harus dilakukannya. Aura dominan yang terpancar dari Evander membuatnya takut. Ia ingin kabur dari pria itu sejauh mungkin. Tapi siapa yang bisa menyelamatkannya dalam situasi ramai seperti ini.


"Makanlah, Cleantha. Atau kamu ingin makan dari piring yang sama denganku. Aku akan menyuapimu," kata Evander mengambil satu sendok makanan dari piringnya.


"Jangan, Tuan, saya bisa makan sendiri," ucap Cleantha berusaha menjauh.


"Baiklah, aku tidak akan memaksa. Tapi setelah selesai acara ini kamu harus ikut denganku. Aku akan mengajakmu ke suatu tempat yang menyenangkan. Hanya kita berdua saja," ucap Evander dengan suara menggoda.


Dari tempatnya berdiri, Raja tak lepas menatap gerak-gerik Cleantha dan Evander.


Darahnya mulai mendidih ketika melihat temannya yang playboy itu berani menyentuh Cleantha dengan tangannya.


"Aku tidak bisa membiarkan ini terjadi di depan mataku. Tapi aku tidak mungkin meninggalkan Tuan William dan Tuan Marcel begitu saja. Lagipula Cleantha sekarang bukan istriku lagi,"


gumam Raja menahan amarahnya.


Kedua pengusaha senior yang merupakan teman mendiang ayahnya itu, tak henti mengajak Raja berdiskusi panjang lebar. Sehingga Raja kesulitan mengakhiri pembicaraannya dengan mereka.


Sementara tak jauh dari Raja, Alvian juga menyaksikan pemandangan yang mengusik hatinya.


Dari bahasa tubuh Cleantha, ia merasa gadis itu tidak nyaman dengan kelakuan Evander. Apalagi saat Evander berusaha mendekatkan wajahnya, seolah hendak mencium bibir Cleantha.


Alvian melirik ke arah Raja, berharap kakaknya itu mengambil sebuah tindakan. Namun Raja masih sibuk berbincang dengan Tuan William dan Tuan Marcell.


"Kenapa Kak Raja diam saja melihat Cleantha dilecehkan oleh Tuan Evander. Aku harus menolong Cleantha sekarang."


Tanpa pikir panjang, Alvian berjalan tergesa-gesa meninggalkan kumpulan para pengusaha.


Ia langsung menuju ke meja Evander dan meraih tangan Cleantha.


Tindakan Alvian itu membuat Evander dan Cleantha terkejut. Begitu pula orang-orang yang ada di sekitarnya.


"Tuan Alvian?"


"Maaf, Tuan Evander, saya akan mengajak Cleantha ikut bersama saya."


"Oh, silakan. Tadi saya melihat Cleantha sendirian. Karena itu saya mengajaknya duduk di meja saya. Apakah Cleantha pasangan Anda, Tuan Alvian?" tanya Evander merasa sungkan.


"Benar, Tuan Evander."


"Saya minta maaf, Tuan Alvian. Saya tidak tahu kalau Cleantha kekasih Anda," ucap Evander meminta maaf.

__ADS_1


"Clea, ayo kita pergi sekarang," ajak Alvian menggandeng tangan Cleantha.


Sejenak Cleantha keheranan karena Alvian mengaku sebagai kekasihnya. Barangkali Alvian melakukan hal itu agar Evander tidak lagi mengganggunya. Namun hatinya sungguh lega. Akhirnya ia terbebas dari pria menakutkan seperti Evander.


Melihat Alvian menggandeng tangan Cleantha, Raja kembali terbakar api cemburu. Baru saja Cleantha bersama Evander, sekarang mantan istrinya itu beralih kepada adiknya sendiri.


"Alvian terang-terangan menunjukkan hubungannya dengan Cleantha di depan umum. Dia bahkan berani menghadapi Evan dan tidak peduli dengan tunangannya sendiri. Apa mereka sekarang sudah resmi berpacaran?"


gumam Raja mengepalkan tangannya.


Alvian mengajak Cleantha menerobos kerumunan tamu undangan dan para karyawan.


Melihat hal itu para karyawan saling berkasak-kusuk, sehingga Zevira dan Ayesha mendengarnya.


"Pak Alvian sepertinya makin serius dengan Cleantha. Lihat saja mereka bergandengan tangan di acara ini," ujar salah seorang staf marketing.


Air muka Ayesha berubah pucat. Luapan amarah dalam dirinya tak lama lagi akan meledak, layaknya sebuah bom waktu.


"Apa-apaan ini? Aku harus membuat Cleantha menyesal sekarang juga," ucap Ayesha dipenuhi kebencian.


Seketika ia berdiri, ingin menghardik dan melampiaskan amarahnya pada Cleantha. Namun Zevira dengan cepat mencegah keinginan Ayesha.


"Ayesha, sabar dulu. Jangan bertindak gegabah. Kalau kamu memaki Cleantha, Alvian pasti akan membelanya. Disini juga ada banyak orang, kalian hanya akan menjadi bahan tontonan."


"Lalu aku harus bagaimana, Kak Vira? Apa aku mesti membiarkan calon suamiku direbut Cleantha?" dengus Ayesha kesal.


"Tunggu sampai Cleantha sendirian, tanpa Alvian. Saat itulah kamu bisa memberikan pelajaran padanya. Kamu harus bermain cantik jika menghadapi wanita murahan seperti Cleantha."


...****************...


"Pak, terima kasih karena Bapak menolong saya. Tapi lebih baik lepaskan tangan saya. Saya khawatir nanti ada yang salah paham tentang hubungan kita", ucap Cleantha memberanikan diri.


"Siapa yang kamu khawatirkan? Apa Kak Raja? Bukankah kamu sendiri yang ingin bercerai darinya?Kenapa masih peduli dengan apa yang dia pikirkan tentang kita?" tanya Alvian sengaja memojokkan Cleantha.


"Bukan, Pak. Yang saya maksud bukan Tuan Raja tapi tunangan Anda, Nona Ayesha. Bagaimana kalau dia melihat kita?" ucap Cleantha cemas.


"Aku heran padamu, Clea. Aku saja tidak khawatir, kenapa malah kamu yang bersikap berlebihan. Dengar, aku tidak peduli lagi dengan pandangan atau tuduhan orang lain padaku. Aku akan melakukan apa yang kuanggap benar dan sesuai dengan kata hatiku," balas Alvian.


"Kamu pasti mencari Keyla, kan? Itu dia ada di kursi keempat dari belakang. Cepat kesana," perintah Alvian sambil melepaskan tangannya.


"Terima kasih, Pak," jawab Cleantha.


"Tunggu dulu. Lain kali jangan memakai gaun yang terbuka dan mencolok. Kamu akan menjadi incaran pria hidung belang kalau pakaianmu seperti ini. Apa kamu mengerti?" tegas Alvian.


"I..iya, Pak. Sekali lagi terima kasih. Saya permisi," jawab Cleantha bergegas pergi.


Ia tidak mengerti kenapa Alvian terlihat marah dan tidak suka dengan gaya berpakaiannya. Namun entah mengapa ia merasa tenang dan aman jika pria itu ada di sampingnya.


Dari kursinya, Keyla bisa melihat Cleantha datang menghampirinya.

__ADS_1


"Clea, sini!" panggil Keyla tidak sabar.


"Aku kira kamu masih bertugas di depan. Kenapa malah bersama Pak Alvian? Aku sudah mengatakan padamu jangan berurusan lagi dengan keluarga Adhiyaksa."


"Aku dapat giliran istirahat, Kak. Tadi ada salah satu tamu undangan bernama Tuan Evander yang mencoba merayuku. Pak Alvian datang untuk menolong dan mengantarku kesini," jelas Cleantha.


"Ya sudah, duduk saja disini. Jangan jauh-jauh dariku. Apa kamu sudah makan?"


"Makananku tertinggal di meja Tuan Evander. Tapi aku sedang tidak ingin makan apa-apa, Kak. Sejak tadi perutku agak mual," kata Cleantha.


"Kamu tetap harus makan, Clea. Apalagi setelah ini kamu harus berjaga lagi di depan. Sana, pergi ambil makanan dan segera kembali kesini," titah Keyla.


"Iya, Kak," jawab Cleantha patuh.


Cleantha berdiri dari kursinya, berjalan seorang diri menuju ke tengah ballroom.


Saat itulah, Ayesha dan Zevira melihat peluang untuk mempermalukan Cleantha.


Mereka tidak menyadari jika Raja sedang berjalan mendekat untuk mencari Cleantha dan Alvian. Raja merasa harus memperingatkan adiknya itu agar menjaga etika di depan para tamu.


"Ayesha, lakukan sekarang! Cleantha sedang sendirian," bujuk Zevira.


Secepat kilat, Ayesha melangkah ke arah Cleantha dan membuntutinya dari belakang.


Dengan hentakan keras, Ayesha menginjak bagian belakang gaun Cleantha menggunakan heelsnya


Karena terkejut sekaligus tidak siap, Cleantha kehilangan keseimbangan lalu terjatuh.


"Aduh," pekik Cleantha menopang tubuhnya dengan tangan sebelum membentur lantai.


Bagian belakang gaun Cleantha pun robek akibat tertarik heels Ayesha.


"Rasakan kamu, Cleantha! Makanya jangan berani mengganggu Alvian lagi," ucap Ayesha mengejek Cleantha sambil berlalu pergi.


Serta merta kejadian itu membuat Cleantha menjadi pusat perhatian. Semua mata kini tertuju padanya, seolah-olah dirinya adalah seorang bintang panggung.


Cleantha mencoba berdiri. Rasanya ia ingin menangis dan melarikan diri dari acara tersebut. Terlebih melihat kondisi gaunnya yang telah robek.


Bila mungkin, ia ingin bumi terbelah saat ini juga lalu menelannya hidup-hidup. Dengan demikian tidak ada orang lagi yang akan melihat keberadaannya.


"Clea, bangunlah!" terdengar sebuah suara memanggilnya.


Cleantha mendongakkan kepala dan melihat wajah pria yang kini menunduk di depannya.


Pria itu mengulurkan tangan dan membantunya untuk berdiri.


Cahaya lampu ballroom yang terang benderang, membuatnya mengenali siapa malaikat penyelamatnya ini.


"Tuan Raja?" ucap Cleantha lirih.

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2