Istri Bayaran Milik Tuan Raja

Istri Bayaran Milik Tuan Raja
Bab 37 Kabar Buruk


__ADS_3

"Bagaimana Cleantha, apa kamu akan mengambil sepatu ini juga?" tanya Gina.


"Iya, ambil saja yang itu. Berapa semuanya?" tanya Alvian tidak sabar.


"Tuan Alvian tidak perlu membayar apa-apa. Vira yang akan membayar semua barang belanjaan Cleantha," jelas Gina.


Gina segera menyuruh pegawainya membungkus baju dan sepatu untuk Cleantha.


Cleantha hanya pasrah. Ia merasa tidak punya kuasa untuk menyuarakan keinginannya. Mungkin sudah menjadi nasibnya selalu berada di bawah kendali orang lain.


Di masa kecil, ayahnya-lah yang mengendalikan dirinya, lalu diikuti kakaknya dan ibu tirinya.


Lebih parahnya, di masa dewasa justru ia menjual kebebasannya sendiri senilai seratus juta rupian. Dengan demikian, sama saja ia telah kehilangan hak atas dirinya sendiri. Kini ia pun harus patuh pada Raja dan seluruh anggota keluarga Adhiyaksa.


Tanpa banyak bicara, Cleantha membawa barang belanjaannya masuk ke dalam mobil Alvian.


Sementara Alvian buru-buru mengemudikan mobilnya. Rasa canggung begitu terasa di antara mereka setelah kejadian tak disengaja tadi.


Di luar, angin berhembus cukup kencang. Ditambah lagi dengan AC mobil yang dingin, membuat tubuh Cleantha menggigil.


Ketika berhenti di lampu merah, Alvian melirik sekilas kepada Cleantha yang menggosok-gosok kedua telapak tangannya.


"Apa kamu kedinginan?" tanya Alvian.


"Sedikit, Pak."


"Ambil jaketku yang ada di kursi tengah. Kamu bisa memakainya."


"Tidak usah, Pak. Saya masih bisa tahan," jawab Cleantha berusaha menolak.


"Cepat ambil, kalau kamu sakit Kak Raja akan menyalahkan aku," ucap Alvian bersikeras.


"Iya, Pak."


Cleantha berbalik dan menjulurkan tangannya untuk meraih jaket Alvian. Namun karena tangannya kurang panjang, usahanya itu tidak berhasil.


"Begitu saja tidak bisa," gumam Alvian menggeleng-gelengkan kepalanya.


Sebelum lampu hijau menyala, Alvian berpaling dari kemudi dan menarik jaketnya. Tanpa sengaja, tangan mereka saling bersentuhan.


"Maaf, Pak," kata Cleantha gugup.


"Sudah pakai saja jaketnya," kata Alvian kembali berkonsentrasi pada kemudinya.


Cleantha memakai jaket kulit berwarna hitam itu untuk melindungi tubuhnya dari udara dingin. Diam-diam, ia berharap bisa tiba di rumah secepatnya agar tidak perlu berduaan lagi dengan Alvian.


"Itu ponselmu berbunyi, kenapa tidak diangkat? Mungkin itu dari Kak Raja," tanya Alvian mendengar nada dering dari ponsel Cleantha.


Cleantha mengambil ponsel dari dalam tasnya. Ia terkejut ketika mendapati banyak panggilan tak terjawab dan pesan masuk dari Keyla.


Cleantha langsung merasakan firasat buruk mengenai kondisi kesehatan ayahnya.


"Kak, ada apa?"


"Ayah, Clea. Dia tiba-tiba menangis dan memanggil-manggil namamu. Dia juga tidak mau minum obat. Aku rasa dia ingin bertemu denganmu. Tolong mampirlah ke rumah sebentar. Aku takut kondisi Ayah akan memburuk. Kalau dia harus opname lagi di rumah sakit, siapa yang akan menanggung biayanya," ucap Keyla terdengar begitu khawatir.


Dari seberang telpon, Cleantha bisa mendengar suara ibu tirinya yang berbicara di belakang Keyla.


"Bilang pada Cleantha untuk meminta izin sebentar kepada bosnya. Masa bosnya tidak punya rasa peri kemanusiaan? Atau jangan-jangan adikmu itu sudah jadi anak durhaka?" seru Ana.


"Clea, memohonlah pada Tuan Raja sekali ini saja," timpal Keyla.


"I...iya, Kak. Aku akan ke rumah sekarang," jawab Cleantha panik.


Cleantha menyimpan ponselnya dengan perasaan gundah.


"Siapa yang menelponmu? Apa itu keluargamu?" tanya Alvian melihat bibir Cleantha memucat.

__ADS_1


Cleantha diam sejenak, memikirkan apa yang harus dilakukannya.


Barangkali inilah satu-satunya kesempatan baginya untuk bisa meminta tolong pada Alvian.


"Pak, ayah saya kondisi kesehatannya sedang buruk. Bolehkah saya minta tolong pada Bapak untuk mengantar saya menjenguk ayah saya?" pinta Cleantha dengan tatapan memohon.


"Saya berjanji hanya sebentar saja," tambah Cleantha terlihat putus asa.


Entah mengapa melihat sorot kesedihan di mata Cleantha, membuat hati Alvian tergerak untuk meringankan penderitaan gadis itu.


"Ayahmu sakit apa?"


"Stroke, Pak," jawab Cleantha sedih.


Alvian melirik jam tangannya.


"Baiklah, dimana alamat rumahmu? Aku akan mengantarmu."


"Terima kasih, Pak," ucap Cleantha.


Cleantha merasa mendapat cahaya yang menyinarinya dalam kegelapan.


Setelah Cleantha memberikan alamat rumahnya, Alvian segera menambah kecepatan mobilnya.


Tujuannya kini adalah menolong kakak iparnya lalu segera mengantarnya pulang ke rumah Raja.


"Ini benar rumahmu?" tanya Alvian melihat sebuah rumah sederhana di hadapannya.


"Iya, Pak."


"Masuklah. Aku akan menunggu di mobil."


Cleantha segera berlari ke dalam rumahnya. Di depan pintu, ia disambut oleh ibu tirinya.


"Akhirnya kamu datang juga. Dengan siapa kamu datang kesini, Clea?"


"Wow, mobil siapa itu? Apa kamu diantar bosmu?"


"Bukan, Tante. Aku ke dalam dulu untuk menemui Ayah. Waktuku tidak banyak," ucap Cleantha buru-buru meninggalkan Ana.


Cleantha masuk ke kamar ayahnya. Ia melihat sang ayah sedang terbaring di atas ranjang. Sementara Keyla duduk di samping tempat tidur ayahnya dengan wajah prihatin.


Pandangan mata ayahnya menerawang jauh, seolah-olah jiwanya mengembara di dunia lain. Ada bekas air mata di sudut netranya. Menunjukkan bahwa pria tua itu baru saja meratapi kepedihannya.


"Ayah," panggil Cleantha lirih.


Cleantha memeluk ayahnya dengan erat. Melepas rasa rindu yang selama ini sekuat tenaga ditahannya.


Mengetahui puteri bungsunya datang, Tuan Sigit berusaha menggerakkan tangannya untuk membelai rambut Cleantha.


Cairan bening mengalir begitu saja dari kedua matanya.


"Cle..aaa," ucap Tuan Sigit terbata-bata.


"Ayah, Clea ada disini sekarang bersama Ayah. Jangan sedih lagi."


"Riin..du," sambung Tuan Sigit.


Perkataan ayahnya membuat hati Cleantha bagai tercabik-cabik. Ia merasa bersalah karena tidak bisa berada di sisi ayahnya ketika dibutuhkan.


"Clea juga rindu Ayah. Selama ini Clea harus tinggal di rumah majikan Clea. Maafkan Clea, Ayah."


Cleantha menangis sambil memeluk ayahnya. Mereka saling menumpahkan kesedihan masing-masing.


"Sekarang Ayah minum obat ya."


Keyla menyerahkan tiga butir obat dan segelas air ke tangan Cleantha.

__ADS_1


Cleantha membantu ayahnya duduk lalu meminumkan obat tersebut dengan hati-hati.


"Tiap hari Ayah harus minum obat. Clea janji akan berusaha mencari waktu untuk menjenguk Ayah."


"Ayah, sekarang istirahat ya. Clea harus pulang ke rumah majikan Clea karena ini sudah malam," ucap Cleantha berpamitan.


Tuan Sigit mengangguk perlahan. Ia tahu bahwa putrinya itu telah banyak berkorban demi kesembuhannya.


Di luar, Ana mencari tahu tentang identitas Alvian. Ia mengetuk kaca mobil Alvian beberapa kali.


"Selamat malam, Tuan. Kenapa tidak masuk ke dalam saja?"


"Saya disini saja, Bu supaya tidak mengganggu pertemuan Cleantha dan ayahnya."


Ditilik dari penampilan Alvian, Ana yakin jika pria itu adalah seorang eksekutif muda sekaligus keturunan orang kaya.


"Maaf, Tuan, Anda ini siapa? Apa Anda bosnya Cleantha?"


"Bukan, Bu. Saya atasannya di kantor."


"Kantor? Bukannya Cleantha jadi pengasuh anak di rumah Anda?"


Alvian bingung menjawab pertanyaan Ana. Akhirnya dia pun menjawab apa adanya.


"Cleantha juga bekerja di kantor sebagai staf saya," jawab Alvian.


"Jadi Clea punya dua pekerjaan sekaligus? Tapi itu bagus. Dia memang harus bekerja keras untuk membiayai ayahnya yang terkena stroke. Tuan tahu kan kalau biaya pengobatan penyakit stroke sangat mahal. Dulu Cleantha sampai berhutang pada rentenir untuk menebus biaya operasi ayahnya. Untung saja dia berhasil memenangkan uang seratus juta," jelas Ana.


Alvian nampak terkejut mendegar kata 'rentenir'.


Kini ia paham mengapa Cleantha bersedia menjadi istri kontrak dari kakaknya. Ternyata dia bukanlah gadis mata duitan seperti yang dia bayangkan selama ini. Sebaliknya dia adalah gadis yang patut dikasihani dan berhati mulia.


"Itu dia Clea sudah datang, Tuan," ucap Ana melihat Cleantha keluar dari pintu.


"Tante, aku pulang dulu," pamit Cleantha kepada ibu tirinya."


"Iya, lain kali datanglah lagi untuk menjenguk ayahmu."


"Pak, saya sudah selesai. Mari kita pulang," ucap Cleantha membuka pintu mobil Alvian.


"Tuan, terima kasih. Anda sangat baik sampai mau mengantarkan Cleantha kesini," ucap Ana mencari muka kepada Alvian.


"Sama-sama, Bu, saya pamit. Selamat malam."


...****************...


Raja masih dalam perjalanan pulang bersama Dion menuju ke rumahnya.


Sambil menyandarkan kepala di kursi mobil, Raja mengecek pesan masuk di ponselnya.


Pesan paling atas berasal dari Zevira, istri pertamanya. Ia hendak membaca pesan itu, namun Zevira sudah lebih dulu menghubunginya.


"Halo, Raja, jam berapa kamu sampai di rumah? Aku sedang cemas memikirkan Cleantha."


"Aku sampai di rumah sekitar dua puluh menit lagi. Memangnya ada apa dengan Cleantha?"


"Cleantha belum pulang juga sampai sekarang. Tadi siang aku menyuruhnya pergi ke butik langgananku sepulang kantor. Karena aku ingin dia mewakili aku di acara lelang Good Foundation. Aku minta tolong pada Alvian untuk mengantar Clea. Tapi entah kemana mereka berdua pergi saat ini."


"Kenapa kamu menyuruh Alvian pergi bersama Cleantha?" tanya Raja menaikkan nada suaranya.


"Aku terpaksa Raja. Cleantha perlu ditemani seseorang karena dia tidak pandai memilih gaun. Aku semakin cemas setelah menerima foto Cleantha dan Alvian yang dikirimkan karyawan butik Princell. Coba kamu lihat sendiri. Aku sudah mengirimkannya ke ponselmu."


Raja segera mematikan panggilan dari Zevira. Detik berikutnya ia membaca pesan masuk yang dikirimkan Zevira.


Rahangnya menegang melihat foto-foto itu. Darahnya serasa naik ke ubun-ubun. Terlebih saat ia melihat Cleantha dipeluk oleh Alvian dengan posisi mata mereka saling bertatapan.


"Apa-apaan ini? Apa gadis itu bermaksud menggoda adikku? Ternyata perangainya sama saja dengan Vira. Aku harus mencari tahu dimana mereka berdua sekarang,"

__ADS_1


gumam Raja geram.


__ADS_2