Istri Bayaran Milik Tuan Raja

Istri Bayaran Milik Tuan Raja
Bab 112 Membuatmu Jatuh Cinta Lagi (Part 2)


__ADS_3

Cleantha mengerti apa yang dimaksud Raja. Namun ia mencari cara agar tidak perlu bersentuhan dengan pria itu.


"Tuan, saya ambilkan air hangat dan obat dulu. Saya yakin setelah minum obat, rasa pusing Tuan akan berkurang," kata Cleantha.


Raja pun mengalah. Ia membiarkan Cleantha pergi dari sisinya untuk sementara. Namun Raja tahu apa titik kelemahan wanita itu. Cleantha berhati lembut dan tidak akan tega melihat orang lain menderita. Karena itu ia terpaksa memanfaatkan kondisinya yang sedang sakit untuk membuat Cleantha mendekat padanya.


Memang bila dipikirkan hal ini cukup memalukan. Tapi apa boleh buat. Cuma ini strategi terbaik yang bisa dilakukannya demi meluluhkan hati Cleantha.


"Tuan, ini obatnya. Silakan diminum," kata Cleantha menyodorkan gelas ke tangan Raja.


Raja membuka matanya lalu menerima gelas dan butiran obat dari tangan Cleantha.


"Terima kasih," ucap Raja menelan obat yang diberikan Cleantha.


Dengan jemarinya, Raja memijat dahi bagian tengahnya. Berharap Cleantha akan tergerak untuk menolongnya.


Melihat eskpresi Raja yang menahan pusing ditambah lengannya yang terluka, membuat Cleantha tidak tega. Ia berinisiatif untuk meringankan penderitaan pria itu. Bagaimanapun Raja telah berjasa menyelamatkan Almero.


"Tuan, tolong geser sedikit. Saya akan memijat kepala Tuan."


Ucapan Cleantha terdengar bagai nyanyian malaikat di telinga Raja. Ia segera beringsut memberikan tempat untuk Cleantha duduk.


"Maaf, Tuan," kata Cleantha menyingkirkan keraguannya.


Jari jemari Cleantha mulai menyentuh rambut dan dahi Raja.


Sesudah bertahun-tahun tidak sedekat ini dengan Raja, membuat Cleantha menjadi canggung. Namun ia mengabaikannya demi rasa kemanusiaan dan persaudaraan.


Perlahan jari jemari Cleantha mulai memberikan pijatan ringan di kepala Raja.


"Apa begini cukup, Tuan?" tanya Cleantha.


"Tekan lebih kuat dengan tanganmu," kata Raja sambil memejamkan mata.


Cleantha menambah tekanan dan kekuatannya. Ia cukup mahir dalam urusan memijat karena dulu sering melakukannya ketika Alvian kelelahan sepulang kerja. Alvian selalu memuji keahliannya yang satu ini.


Ternyata Raja juga mengalami hal yang serupa. Ia nampak menikmati setiap pijatan yang diberikan oleh Cleantha.


Raja tersenyum di dalam hati. Diam-diam ia menghendaki Cleantha terus memanjakannya begini setiap hari.


"Tuan, apa Anda merasa lebih baik? Kalau iya, saya akan berhenti. Saya harus menyiapkan makan siang," tanya Cleantha.


"Belum, sebentar lagi," jawab Raja berbohong. Padahal rasa pusingnya sudah mulai berkurang.


"Clea, boleh aku berbaring? Aku ingin tidur sebentar," tanya Raja.


"Iya, silakan, Tuan."


Raja mengubah posisinya yang semula duduk menjadi berbaring di tempat tidur. Sementara Cleantha masih memijat kepalanya. Sungguh ia berharap kemesraan ini akan berlangsung lebih lama. Namun kenyamanan yang dirasakannya malah membuat Raja tertidur nyenyak.

__ADS_1


"Tuan Raja tidur. Mungkin kondisinya sudah membaik. Sekarang aku akan membuatkan sup untuknya,"


pikir Cleantha beranjak dari kamar itu.


Kurang lebih dua jam lamanya, Cleantha berada di dapur.


Dengan semangat, Cleantha meletakkan mangkuk yang berisi sup ayam di atas nampan. Aroma harum tercium dari sup yang masih hangat itu.


"Semoga Tuan Raja menyukainya."


Cleantha mengetuk pintu kamar Raja beberapa kali tapi tidak ada jawaban. Akhirnya ia membuka pintu sendiri dan mendapati Raja masih memejamkan mata.


Setelah meletakkan nampan di atas nakas, Cleantha hendak meninggalkan kamar itu. Namun mendadak terdengar suara Raja memanggilnya.


"Clea, sudah berapa lama aku tidur?"


Cleantha menoleh dan melihat Raja bangun dari tidurnya.


"Hampir dua jam, Tuan. Sekarang waktunya makan siang. Saya sudah menyiapkan sup untuk Tuan,"


Dengan hati-hati, Cleantha menyerahkan mangkuk berisi sup kepada Raja.


"Tuan, silakan makan."


"Bisa tidak kamu mengubah panggilanmu kepadaku? Kita sekarang saudara ipar. Aku bukan lagi tuanmu atau suamimu. Panggil aku seperti Alvian dulu biasa memanggil namaku."


"Iya, saya akan mencobanya."


Raja menerima sup itu dan menyendokkan ke dalam mulutnya. Karena lengan kanannya masih nyeri, tanpa sengaja ia menumpahkan sebagian kuah sup ke bajunya.


"Hati-hati, Tuan. Maksud saya Kak Raja," kata Cleantha mengambil alih mangkuk dari tangan Raja. Lidahnya belum terlatih untuk menyebut Raja sebagai kakaknya.


Cleantha bergegas mengambil tissue dan secara refleks membersihkan baju Raja.


Tindakan Cleantha tersebut membuat perasaan Raja tidak menentu. Sungguh ia sangat mendambakan wanita ini menjadi pendamping hidupnya yang terakhir dan untuk selamanya. Tapi ia harus menerima kenyataan bahwa cintanya bertepuk sebelah tangan. Lagi dan lagi ia dipermainkan oleh sesuatu yang dinamakan cinta.


Mati-matian, Raja melawan keinginannya untuk membawa Cleantha ke dalam pelukannya.


"Clea," kata Raja menahan tangan Cleantha yang sibuk mengelap bajunya. Ia meletakkan tangan Cleantha tepat di dadanya, sehingga membuat wanita itu terkesiap.


"Apa yang Tuan lakukan?" tanya Cleantha berusaha menarik tangannya.


"Aku ingin kamu merasakan detak jantungku. Supaya kamu tahu kalau aku sangat mencintaimu. Aku tidak memintamu membalas perasaanku saat ini juga. Tapi pertimbangkanlah untuk memberiku kesempatan kedua," tutur Raja dengan tatapan sendu.


Baru kali ini, Cleantha melihat sisi lain dari diri Raja yang romantis dan melankolis. Berbeda dari kepribadian Raja yang biasanya arogan, dingin, dan kaku.


Untuk sepersekian detik, mereka tidak mengucapkan sepatah katapun. Hanya mata mereka yang saling beradu pandang dalam koneksi yang sulit dijelaskan.


"Daddy!" terdengar suara Ivyna dari arah luar.

__ADS_1


Serta merta, Raja melepaskan tangan Cleantha.


"Anak-anak sudah pulang," kata Cleantha memalingkan wajahnya.


Tak lama, Almero dan Ivyna muncul di ambang pintu. Di belakang mereka menyusul Tuan Bayu dan Ny. Marina.


"Daddy masih sakit?" tanya Ivyna penuh perhatian.


"Daddy sudah sehat karena Mommy Clea merawat Daddy," jawab Raja berterus terang.


"Kalian sudah puas jalan-jalan? Apa kamu suka danaunya, Ivy? tanya Raja kepada putrinya.


"Iya, Daddy. Pemandangannya bagus sekali."


Raja beralih menatap Almero yang berdiri diam di sebelah Ivyna.


"Do you want to sit here with Uncle?"


"Yes, Uncle."


Almero naik ke atas tempat tidur dan berbaring di dekat Raja. Nampaknya bocah kecil itu mulai lengket dengan sang paman.


"Daddy, bagaimana kalau malam ini aku dan Almero tidur disini menemani Daddy?" tanya Ivyna.


"Boleh saja. Tapi nanti Mommy Clea tidur sendirian," jawab Raja.


"Mommy Clea bisa tidur bersama kita. Jadi kita tidur berempat," celetuk Ivyna dengan polos.


Anak itu belum mengerti jika dua orang dewasa yang berlainan jenis tidak dapat tidur bersama kecuali mereka sudah menikah.


Raja melirik sekilas kepada Cleantha. Terlihat pipi Cleantha merona karena mendengar perkataan Ivyna. Dan itu membuatnya terlihat lebih cantik di mata Raja.


"Uncle, can you read a story for me tonight? My Daddy always do that," pinta Almero.


"Of course. I will do as your Daddy did," jawab Raja membelai rambut bocah kecil itu. Raja semakin menyayangi Almero karena menganggapnya sebagai pengganti anaknya yang telah tiada.


Tuan Bayu, Ny. Marina, dan Cleantha yang menyaksikan pemandangan tersebut ikut terharu. Cleantha tahu bahwa Almero kehilangan sosok ayah semenjak kepergian Alvian.


Tuan Bayu pun mengajak Ny. Marina ke luar untuk berbicara.


"Marina, aku rasa ini kesempatan yang bagus untuk bicara dengan Cleantha. Gunakan momen ini untuk menyadarkan Cleantha bahwa Almero membutuhkan seorang ayah. Anak laki-laki tidak bisa tumbuh dengan baik tanpa kehadiran ayah. Dan tidak ada pria lain yang lebih pantas menjadi ayah sambung bagi Almero selain Raja," ucap Tuan Bayu bersungguh-sungguh.


Ny. Marina mengangguk setuju.


"Baiklah, akan kucoba Bayu."


**BERSAMBUNG


Jangan lupa tinggalkan jejak like, komen, dan votenya ya**

__ADS_1


__ADS_2