
Ketika Cleantha masuk ke ruang tamu, Almero langsung memeluk ibunya.
Ny. Marina tampak senang melihat Raja mengantarkan Cleantha pulang.
"Raja, ayo kita makan malam bersama," ajak Ny. Marina.
"Terima kasih, Ma. Tapi apa sang Nyonya Rumah mengizinkan aku makan malam disini?" tanya Raja melirik kepada Cleantha. Pasalnya wanita itu hanya membisu sejak mereka masih dalam perjalanan pulang.
Sebelum Cleantha memberikan jawaban, Almero terlebih dulu menarik tangan Raja ke meja makan.
"Come on, Uncle. Let's have dinner."
Melihat Almero menggandeng tangan Raja, Cleantha membiarkannya saja.
"Ma, aku ke atas sebentar untuk mandi. Aku tidak akan lama," kata Cleantha berpamitan kepada ibu mertuanya.
"Iya, Clea."
Raja menatap Cleantha yang menaiki anak tangga tanpa menoleh kepadanya.
"Raja, sabar ya. Lama-lama Cleantha pasti bisa menerimamu," kata Ny. Marina.
"Iya, Ma, aku mengerti."
Sekitar tiga puluh menit kemudian, Cleantha turun dari lantai dua. Ia mengenakan gaun tidur putih berbahan satin, yang membuatnya semakin terlihat segar dan cantik.
Penampilan Cleantha mengingatkan Raja akan kenangan masa lalu mereka sebagai suami istri. Ketika itu, setiap malam ia bebas menatap Cleantha dalam balutan gaun tidur lalu mereka akan menghabiskan malam berdua. Sungguh ia ingin sekali mengulangi masa-masa indah itu.
Cleantha pun bergabung di meja makan. Dengan cekatan, ia menyiapkan makanan untuk Almero dan Ivyna. Tanpa diduga oleh Raja, Cleantha juga mengambilkan makanan untuknya.
"Ini, Tuan, silakan makan."
"Terima kasih," kata Raja.
"Raja, Mama rasa kamu harus cepat-cepat menikah supaya ada yang menemanimu makan malam seperti ini. Kehangatan keluarga tidak bisa digantikan dengan apapun," ucap Ny. Marina.
"Aku juga maunya begitu, Ma. Hanya saja wanita yang ingin kunikahi belum membalas cintaku," jawab Raja sengaja memancing reaksi Cleantha.
Mendengar sindirian terhadap dirinya, Cleantha mengalihkan pembicaraan.
"Ma, besok Sabtu Tuan Hadinata mengundang kita ke resepsi pernikahan putranya. Apa Mama mau hadir bersamaku?" tanya Cleantha.
"Mama sekarang tidak berminat datang ke pesta yang hiruk pikuk dengan orang, Clea. Kamu datang saja ke undangan itu bersama Raja."
Mendengar jawaban ibu tirinya, Raja bagai mendapat angin segar. Ia tahu bahwa Cleantha berusaha menghindar, tapi ternyata dewi fortuna sedang berpihak padanya. Ny. Marina menolak hadir dan itu artinya ia bisa berduaan dengan Cleantha.
Selesai makan malam, Raja mengajak Ivyna pulang ke rumah. Walaupun sebenarnya ayah dan putrinya itu sama-sama enggan meninggalkan kediaman Cleantha.
"Mommy Clea, boleh tidak kalau mulai besok aku dan Daddy tinggal disini saja? Atau Mommy Clea, Grandma, dan Almero yang pindah ke rumahku? Jadi kita akan selalu bersama setiap hari," tanya Ivyna.
Mendengar pertanyaan Ivyna, Cleantha bingung harus menjawab apa. Ia mencoba memberikan penjelasan yang bisa dimengerti oleh anak berusia dua belas tahun.
"Ivy, dua orang dewasa harus menikah dulu sebagai suami istri jika ingin tinggal satu rumah. Itu persyaratan yang tidak bisa dilanggar."
Ivyna mengerutkan alisnya.
"So that means Daddy dan Mommy Clea harus menikah ya."
__ADS_1
Ivyna berpaling kepada Raja.
"Daddy, bagaimana kalau besok Daddy menikah dengan Mommy Clea? Aku ingin kita semua tinggal bersama," celetuk Ivyna.
Ny. Marina dan Raja tertawa mendengar permintaan Ivyna. Anak itu sungguh menganggap pernikahan merupakan hal sederhana layaknya membeli permen atau mainan.
"Ivy, pernikahan itu butuh persiapan. Tidak bisa langsung diadakan besok," jelas Ny. Marina.
"Lalu kapan Daddyku dan Mommy Clea bisa menikah, Grandma?"
Ny. Marina mengangkat bahunya.
"Grandma juga tidak tahu. Mungkin bulan depan, tanya saja pada Daddymu."
Raja hanya tersenyum sambil membelai rambut putrinya. Berharap Cleantha akan berubah pikiran setelah mendengar sendiri keinginan tulus yang diucapkan Ivyna.
...****************...
Cleantha sedang bersandar di bahu Alvian. Di sekelilingnya ada taman bunga, mirip dengan tempat mereka berbulan madu dahulu.
"Al, aku rindu padamu. Aku ingin kita bisa berdua seperti ini selamanya," kata Cleantha membelai lembut wajah tampan suaminya.
Alvian tersenyum lalu mempererat pelukannya.
"Aku juga ingin selalu ada di sisimu. Percayalah cinta kita akan selalu tersimpan dalam satu ruang khusus di hati kita."
Dengan tatapan yang sangat teduh, Alvian memandang istrinya.
"Tapi, Clea, sekarang sudah waktunya kamu berbahagia. Tataplah masa depanmu bersama Almero, dan jangan ragu untuk memulai hidup yang baru."
"Apa maksudmu, Al?" tanya Cleantha tidak mengerti.
Cleantha memejamkan matanya di dekapan Alvian. Rasanya begitu nyaman dan hangat. Segala kegelisahannya lenyap seketika.
Suara nyaring dari alarm ponsel tiba-tiba menyadarkan Cleantha dari alam mimpi.
"Astaga, sudah jam enam lewat empat puluh menit. Untung ini akhir pekan,"
batin Cleantha menyibakkan bed covernya.
Perasaan kecewa memenuhi hatinya. Semua kebahagiaan yang dirasakannya tadi hanyalah sekedar mimpi belaka.
Cleantha bangun lalu membelai Almero yang masih tertidur pulas di sampingnya. Putranya itu masih kecil dan terlihat rapuh. Perjalanan Almero masih begitu panjang. Selama proses itu ia membutuhkan bimbingan dan perlindungan dari sosok ayah dan ibu. Sayang sekali Almero telah kehilangan ayah kandungnya untuk selamanya.
"Daddy," racau Almero tiba-tiba. Ia bergerak dengan gelisah sambil mengigau.
Cleantha langsung mengelus punggung Almero untuk membuat putranya tenang kembali.
"Al, apa karena ini kamu datang dalam mimpiku? Kamu ingin Almero memiliki seorang ayah,"
pikir Cleantha dengan mata berkaca-kaca.
Cleantha baru turun dari tempat tidur ketika Almero sudah tenang. Sebelum mandi, Cleantha meraih salah satu foto kenangan ulang tahun Almero. Saat itu Alvian memeluknya sambil menggendong Almero yang baru berusia dua tahun.
"Al, jika suatu saat aku harus menikah lagi, aku akan melakukannya demi anak kita. Tapi cintaku padamu tidak akan pernah pudar,"
batin Cleantha meneteskan air mata.
__ADS_1
...****************...
Cleantha keluar dari kamarnya dengan memakai gaun panjang berwarna hitam. Dipadu dengan kalung berwarna rose gold dan rambut yang sebagian diangkat ke atas, Cleantha tampil menawan malam itu. Ia menggandeng Almero dengan hati-hati untuk turun dari lantai dua.
Sementara Raja sudah menanti di ruang tengah. Ia mengenakan setelan jas pesta berwarna abu-abu gelap.
Sambil menunggu Cleantha, Raja mengobrol dengan Ny. Marina. Namun saat melihat kedatangan Cleantha, matanya tak lepas memandang mantan istrinya itu. Entah mengapa semakin hari cintanya pada Cleantha serasa bertambah dalam. Tidak ada yang lebih diinginkannya saat ini selain melindungi serta membahagiakan Cleantha dan Almero.
"Mommy have to go now. Almero jangan nakal ya. Sleep with Grandma," kata Cleantha mengecup pipi putranya.
"Okey, Mommy."
"Nikmati pestanya, Cleantha. Mama akan menemani Almero sampai dia tidur."
"Terima kasih, Ma," ucap Cleantha berpamitan kepada Ny. Marina.
"Ma, aku pergi."
"Iya, Raja. Jaga Cleantha baik-baik," jawab Ny. Marina.
Ny. Marina menatap kepergian Raja dan Cleantha dengan penuh harap.
Sungguh mereka adalah pasangan yang sangat serasi. Prianya tampan dan gagah, sedangkan wanitanya cantik dan anggun.
"Semoga Clea menerima lamaran Raja malam ini."
...****************...
Acara resepsi pernikahan keluarga Hadinata berjalan meriah. Sebagian besar tamu undangannya merupakan pengusaha terkemuka, kalangan pejabat, dan orang berpengaruh. Tidak heran bila pesta itu terkesan sangat eksklusif.
Di tengah acara, Raja dan Cleantha bertemu dengan relasi bisnis mereka, tak terkecuali Evander. Pria itu mencium telapak tangan Cleantha ketika mereka bertegur sapa.
"Malam, Cleantha. Kamu cantik sekali," puji Evander.
"Terima kasih, Tuan Evan."
Melihat kelakuan Evander, Raja menjadi kesal. Ia merengkuh pinggang Cleantha dan mengajaknya duduk di meja yang telah disediakan khusus bagi mereka.
"Maaf, Evan, kami harus pergi ke meja kami."
"Oh ya, silakan Raja."
Evander merasa curiga melihat sikap Raja terhadap Cleantha. Apalagi Raja tidak segan memeluk adik iparnya itu dengan mesra di hadapannya.
Dari kenyataan tersebut Evan menarik kesimpulan bahwa Raja menyukai Cleantha. Dan jika itu benar dia harus mundur. Tidaklah mungkin ia akan menang bila harus bersaing melawan Raja.
"Tuan, jangan memeluk saya. Di pesta ini banyak orang yang mengenal kita. Jangan sampai timbul gosip macam-macam," ucap Cleantha melepaskan tangan Raja.
"Tidak usah mengkhawatirkan pandangan orang lain. Kita tidak akan lama berada disini. Setelah bersalaman dengan mempelai dan orang tuanya, kita akan pergi ke tempat lain."
Cleantha terkejut mendengar perkataan Raja.
"Kita akan kemana, Tuan?"
"Jika aku memberitahumu sekarang, tidak akan menjadi kejutan lagi," bisik Raja.
**BERSAMBUNG
__ADS_1
Jangan lupa berikan like, comment, dan vote sebanyak mungkin**.