
Berada sedekat ini dengan Raja, membuat Cleantha menjadi salah tingkah. Apalagi ditambah untaian kalimat pria itu yang bermakna ganda. Sepertinya Raja sengaja mempermainkan perasaannya.
"Aku tidak boleh terpengaruh oleh pesonanya. Aku harus menghindar dari situasi ini. Tapi bagaimana caranya?"
"Kenapa diam saja? Apa kamu sudah kehabisan kata-kata untuk melawanku? Atau mungkin kamu memang ingin menghabiskan waktu berdua saja denganku?" tanya Raja merendahkan suaranya.
Sudah dipastikan pertanyaan itu adalah jebakan maut yang berbahaya bagi Cleantha.
Cleantha menelan salivanya sendiri sebelum kembali menyatakan perang dengan suaminya itu.
"Silakan jika Tuan ingin berada di kamar ini. Saya yang akan keluar atau saya akan pindah ke kamar yang lain," jawab Cleantha mantap. Meski sesungguhnya jantungnya bergemuruh layaknya deburan ombak di lautan.
Senyuman tipis tersungging di bibir Raja. Ia tahu bahwa istri polosnya itu hanya berpura-pura kuat di hadapannya. Padahal rona merah tergambar jelas di kedua pipi putihnya.
"Kamu pikir rumah ini milik siapa, sehingga kamu bebas keluar masuk kamar semaumu sendiri? Apa kamu lupa aku-lah pemiliknya. Aku yang berkuasa menentukan seseorang harus tidur dimana, saat dia tinggal di dalam rumahku," tandas Raja mengintimidasi Cleantha.
Secara refleks, tangan Cleantha menahan dada Raja agar mereka tidak saling menempel.
"Ehmmm, saya belum hilang ingatan, Tuan. Saya tahu Anda pemilik rumah ini. Kalau Tuan ingin berada di kamar, tentu saja saya tidak bisa melarangnya. Itu hak Tuan. Tidak masalah juga buat saya," kata Cleantha mencoba bersikap dingin.
Raja menaikkan sebelah alisnya sambil menatap kedalaman mata Cleantha.
"Jadi keberadaanku tidak mengganggumu? Baiklah, kita buktikan nanti," jawab Raja sambil melepaskan tangannya.
Pria itu berjalan ke arah kamar mandi dan meninggalkan Cleantha.
Seiring dengan kepergian Raja, Cleantha bisa bernafas dengan lega. Paru-parunya kembali terisi penuh oleh oksigen. Tidak seperti ketika Raja ada di dekatnya. Menghirup udara pun rasanya sulit untuk dilakukan.
"Raja," ketuk Zevira memanggil-manggil suaminya.
Wajah Cleantha berbinar saat mendengar suara Zevira. Ia berharap wanita itu bisa menjadi dewi penyelamatnya kali ini.
Dengan bergegas, Cleantha membukakan pintu untuk Zevira.
Istri pertama Raja itu nampak memukau dengan make up ala artis dan gaun panjang gemerlap berwarna magenta.
Cleantha yakin harga gaun itu menyentuh angka puluhan juta.
"Clea, kenapa kamu yang membuka pintu? Mana Raja? Kata para pelayan dia sudah pulang dari kantor," tanya Zevira dengan raut wajah penuh selidik.
"Tuan Raja sedang mandi," kata Cleantha kikuk.
"Kalau begitu aku akan menunggu. Biarkan aku masuk ke dalam," ucap Zevira memaksa.
Karena tidak punya kuasa untuk menahan Zevira, Cleantha membiarkannya masuk.
Tak berselang lama, Raja keluar dengan jubah mandinya.
__ADS_1
Ia terkejut melihat Zevira berada di kamarnya dengan memakai gaun pesta.
"Kenapa kamu ada disini?" tanya Raja tidak suka.
"Apa aku tidak boleh ada di kamarmu? Aku juga istrimu," jawab Zevira sambil melirik kepada Cleantha.
Mendapat lirikan tajam, Cleantha tersadar akan posisinya. Tidak seharusnya ia menjadi penghalang di antara suami istri yang ingin bicara empat mata. Jika tetap berdiam disitu, artinya dia adalah orang yang paling tidak tahu diri di seantero jagat.
Lebih baik angkat kaki secepatnya daripada dianggap sebagai lalat pengganggu.
Cleantha membalikkan punggungnya hendak menuju ke pintu. Namun tangannya tiba-tiba ditahan oleh seseorang.
"Mau pergi kemana?" tanya Raja memegang lengan Cleantha.
"Saya mau keluar sebentar ke taman," jawab Cleantha beralasan.
"Tidak ada yang menyuruhmu keluar. Tetap disini," tegas Raja seolah tidak ingin melepaskan istrinya.
Rasa iri memenuhi hati Zevira ketika menyaksikan Raja begitu mempedulikan Cleantha. Makin lama kebenciannya pada Cleantha makin menumpuk. Jika ia tidak segera menyingkirkan madunya itu, mungkin tidak lama lagi kepalanya akan meledak.
Meski begitu, ia harus tetap main cantik di hadapan Raja.
"Raja, jangan menahan Cleantha. Mungkin dia butuh menghirup udara segar. Lagipula aku memang ingin bicara berdua saja denganmu."
"Tidak ada rahasia antara aku dan Cleantha. Apa yang kita bicarakan dia juga harus mendengarnya," sahut Raja ketus.
"Cepat katakan apa yang ingin kamu bicarakan," timpal Raja tidak sabar.
"Aku ingin mengajakmu menemani aku ke undangan lelang. Lihat aku sudah tampil cantik malam ini khusus untukmu, Sayang," ucap Zevira terdengar manja.
Raja menatap sekilas kepada istri pertamanya.
Zevira memang terlihat cantik sama seperti dulu. Namun sebagus apapun fisik Zevira, tidak berdampak apa-apa padanya. Ia sudah mati rasa terhadap wanita itu. Justru ia lebih tertarik memandang Cleantha yang tidak pandai berdandan, namun memancarkan kecantikan yang alami.
Di samping Raja, Cleantha hanya mematung. Entah mengapa ia merasa terganggu ketika Zevira memanggil Raja dengan sebutan "Sayang." Apakah ini berarti dia telah....
Ah, tidak mungkin ia cemburu pada Zevira. Pria yang tengah memegang tangannya saat ini bukanlah miliknya seutuhnya. Dia juga suami Zevira Adhiyaksa. Tidak pantas bila ia memendam rasa cemburu pada istri pertama Raja itu.
Ternyata begini rasanya menjadi orang ketiga dalam sebuah pernikahan. Selamanya harus berebut perhatian dan cinta dari satu orang laki-laki.
Tanda tanya besar muncul di benak Cleantha. Mungkinkah suami yang beristri lebih dari satu bisa berlaku adil bagi semua istrinya? Tentu saja ia belum bisa menjawab pertanyaan tersebut. Yang jelas ia telah terjebak dalam situasi yang berat ini.
Hanya saja ia masih punya kesempatan untuk membebaskan diri. Cepat atau lambat ia pasti keluar dari kehidupan Raja dan Zevira.
"Maaf, aku tidak bisa menemanimu. Jika kamu ingin pergi ke undangan itu ajak saja Bi Dewi. Dia sudah terbiasa menjagamu," ucap Raja datar.
"Tapi Raja kenapa kamu tidak mau menemani aku? Bukankah kamu tidak ada janji dengan siapapun?" tanya Zevira mendesak Raja.
__ADS_1
"Aku akan mengajak Cleantha makan malam di luar. Benar kan, Sayang?" tanya Raja menatap Cleantha.
"Makan malam? Sejak kapan dia mengatakan akan mengajakku makan malam,"
pikir Cleantha kebingungan.
"Clea kamu akan makan malam bersama Raja?" tanya Zevira tidak percaya.
Raja memindahkan tangannya ke pinggang Cleantha. Seolah ia memberikan sinyal pada istrinya itu untuk mengiyakan ucapannya.
"I..iya, Kak."
Sinar mata Zevira meredup. Polesan tebal di wajahnya pun tidak mampu menutupi rasa kecewa yang melanda hatinya.
"Baiklah, Raja kalau itu maumu. Aku akan berangkat sendirian sekarang," tandas Zevira memutar kursi rodanya keluar dari kamar suaminya.
Melihat kekecewaan yang ditelan Zevira, Cleantha tidak tahan untuk mengkritik Raja.
"Tuan, kenapa Anda membohongi istri Anda sendiri? Kita tidak ada janji makan malam. Sebaiknya Anda kejar Kak Vira lalu menemaninya pergi ke acara lelang itu," ucap Cleantha menasehati Raja.
"Jangan coba ikut campur pada sesuatu yang bukan urusanmu. Aku tidak butuh nasehat darimu. Kamu tidak tahu apa yang terjadi antara aku dan Vira. Sekarang siapkan saja dirimu. Kita akan keluar sebentar lagi."
"Saya tidak mau makan malam di luar, Tuan," tolak Cleantha.
Raja tidak memberikan tanggapan atas penolakan Cleantha. Ia mengenakan kemejanya lalu melenggang dengan santai menuju pintu.
"Kenapa dia tidak mempedulikan perkataanku,"
gerutu Cleantha kesal.
Selang beberapa menit, Ivyna mendadak muncul bersama Raja. Gadis kecil itu menghampiri Cleantha dengan senyum riang terukir di bibirnya.
"Mommy Clea, Daddy mengatakan kita bertiga akan makan malam di restoran. Tapi sebelumnya Mommy Clea harus berdandan yang cantik. Aku juga akan memakai gaun princess Elsa," ucap Ivyna dengan suara melengking saking semangatnya.
"Tapi, Ivy..."
"Ayolah, Mommy. Aku sudah lapar. Aku ingin makan steak dan lasagna," ajak Ivyna sambil bergelayut di tangan Cleantha.
"I..iya, Ivy. Mommy Clea akan ganti baju dulu," jawab Cleantha tidak tega menolak rayuan gadis kecil itu.
Dari ambang pintu, Raja tersenyum senang. Rencananya untuk membujuk Cleantha lewat putri kecilnya telah berjalan dengan lancar.
BERSAMBUNG
Jangan lupa tinggalkan jejak Like, Comment dan Vote untuk mendukung Author.
Gomawo
__ADS_1