
Usai menerima telpon dari mertuanya, Raja menjadi gelisah. Ada apakah gerangan hingga Tuan Bayu Narendra mendadak ingin menemuinya. Padahal hampir dua tahun terakhir mereka tidak berjumpa. Mungkinkah ini ada kaitannya dengan gugatan cerai yang dilayangkan oleh Zevira di pengadilan.
Bayangan buruk melintas di benak Raja. Bagaimana seandainya Tuan Bayu memintanya untuk menyerahkan Ivyna. Entah permintaan tersebut sanggup ditolaknya atau tidak. Pasalnya, Tuan Bayu adalah sahabat dekat ayahnya sekaligus mentornya.
Di masa-masa awal jabatannya sebagai CEO, Tuan Bayu selalu memberikan dukungan penuh. Bahkan mengajarinya bagaimana cara memimpin perusahaan secara efektif. Bisa dibilang Tuan Bayu adalah sosok kedua yang berjasa baginya setelah ayah kandungnya.
"A**ku tidak mau berkompromi dengan siapapun jika itu menyangkut tentang keluargaku. Aku harus bersikap tegas meski kepada Papa Bayu sekalipun,"
gumam Raja mengambil keputusan.
Raja masih tenggelam dalam pikirannya, ketika tak terasa mobilnya telah memasuki kawasan perkantoran Adhiyaksa Group.
Dari kaca spion, Raja melihat ada mobil yang mengantri tepat di belakangnya. Dilihat dari bentuknya dan nomor platnya, Raja sangat mengenali siapa pemilik mobil itu.
"Itu mobil Alvian. Kenapa dia datang lebih awal?"
pikir Raja curiga.
Security yang sedang bertugas, buru-buru menyambut kedatangan kedua mobil mewah milik bosnya itu.
Mobil Raja melesat mendahului mobil Alvian ke area parkir.
Namun Raja sengaja tidak keluar. Ia menunggu hingga Alvian masuk ke dalam lift, supaya tidak perlu bertegur sapa dengan adiknya.
Sementara di belakang, Alvian dan Cleantha sama terkejutnya melihat mobil Raja. Tidak biasanya Raja hadir di kantor sepagi itu.
Alvian memarkirkan mobilnya dan melirik ke arah Cleantha. Wajah gadis itu nampak tegang.
"Kamu mau turun sekarang atau nanti? Kalau kamu takut Kak Raja akan melihat kita berdua, lebih baik kamu tunggu di mobil dulu," kata Alvian memberikan saran.
"Tidak, Pak. Saya tidak takut," jawab Cleantha penuh keyakinan.
Alvian teringat bahwa masih tersisa satu hari lagi, sebelum batas waktu yang diberikannya pada Raja. Tidak ada salahnya bila ia mencoba menyatukan Cleantha dengan kakaknya untuk yang terakhir kali. Walaupun tindakan itu sesungguhnya bertentangan dengan perasaannya sendiri.
"Clea, ini kesempatan langka. Temuilah Kak Raja di dalam mobil. Luruskan kesalahpahaman yang terjadi di antara kalian. Aku tidak akan mengganggu," ucap Alvian datar.
Entah mengapa saat mengucapkan hal itu, hati Alvian terasa sakit. Tak bisa dipungkiri bahwa apa yang terlontar dari bibirnya berbeda jauh dengan isi hatinya. Tapi untuk kesekian kalinya, ia mesti mengalah dan menahan diri.
"Kenapa Bapak lagi-lagi memaksa saya menemui Tuan Raja? Saya sudah pernah menuruti kemauan Bapak dan semuanya hanya berakhir dengan penderitaan. Saya tidak akan mengulangi kesalahan yang sama," bantah Cleantha dengan keras.
"Aku tidak memaksamu. Kalau kamu tidak mau menemui Kak Raja, turunlah dulu dan masuklah ke dalam lift. Nanti aku menyusul."
"Kita turun bersama saja, Pak," timpal Cleantha.
"Apa kamu yakin?"
"Iya, saya yakin."
Dari jendela mobilnya, Raja terperanjat melihat seorang wanita yang turun dari mobil Alvian. Dan wanita itu tak lain adalah mantan istrinya, Cleantha.
"Aku sudah menyuruh manajer HRD untuk meminta Cleantha mengundurkan diri. Tapi kenapa dia masih muncul di kantor? Bahkan dia berangkat bersama Alvian? Apa ini ulah Alvian? Rupanya dia sudah berani menentang keputusanku?"
pikir Raja geram.
__ADS_1
Rahang Raja menegang. Ia tidak mengira Alvian akan secepat itu memamerkan hubungannya dengan Cleantha. Bahkan mereka berangkat bersama-sama ke kantor. Itu berarti Alvian tidak menghargainya lagi sebagai kakak maupun sebagai pimpinan perusahaan.
Kemarahan Raja makin bertambah melihat paras Cleantha yang nampak biasa saja. Tadinya ia berharap gadis itu akan merindukannya, namun ternyata Cleantha mudah sekali berpindah hati.
Belum juga putusan cerai mereka disahkan oleh pengadilan, Cleantha sudah tidak sabar menggantikan posisinya dengan Alvian.
Ia juga sedang dalam kondisi hamil muda, tapi malah nekat berpacaran dengan pria lain. Sungguh Alvian dan Cleantha adalah pasangan yang tidak tahu malu.
"Ternyata kelakuan mereka sama buruknya dengan Vira dan Fendi. Tapi mereka lebih berani melakukannya secara terang-terangan. Kalau begitu apa gunanya aku mencari Fendi? Aku hanya akan mempermalukan diri sendiri,"
gumam Raja meremas jari jemarinya.
Sambil menahan api kemarahan yang menyala dalam dirinya, Raja keluar dari mobil.
Ia sangat ingin memaki-maki adiknya yang kurang ajar itu. Namun bila ia melakukannya di area parkir, pasti akan menimbulkan kehebohan di kalangan karyawan maupun dewan direksi. Dan tentu saja nama baik Adhiyaksa Group yang akan menjadi taruhannya.
Raja memandang sebentar ke arah Alvian dan Cleantha. Sinar matanya dipenuhi kebencian, seolah sedang menatap sepasang pelaku kejahatan.
"Kak," sapa Alvian sambil berjalan menghampiri Raja.
"Jangan memanggil aku sebagai kakakmu lagi. Aku adalah atasanmu, jadi bersikaplah yang sopan," ucap Raja berjalan meninggalkan Alvian.
Cleantha masih berdiam di tempatnya berdiri.
Dari tatapan Raja berikut nada suaranya yang ketus, sudah jelas pria itu semakin larut dalam prasangka buruk. Tapi itu tidak penting lagi. Toh, ia juga tidak ingin kembali pada Raja.
Namun yang membuat Cleantha sedih adalah Alvian telah menjadi korban perceraiannya.
"Pak," kata Cleantha mendekati Alvian. Ia merasa bersalah melihat ekspresi kekecewaan di wajah Alvian.
"Ayo kita ke lift," ucap Alvian datar.
"Tunggu, Pak, saya ingin minta maaf," kata Cleantha tiba-tiba.
"Minta maaf untuk apa?"
"Saya adalah penyebab retaknya persaudaraan Bapak dan Tuan Raja. Kalau Bapak ingin memarahi saya, saya akan menerimanya. Atau lebih baik Bapak menjauhi saya, lalu memperbaiki hubungan Bapak dengan Tuan Raja. Bapak tidak perlu khawatir. Saya masih sanggup hidup mandiri. Saya tidak mau merugikan Bapak lagi."
Alvian menatap Cleantha. Semula dengan tatapan tajam tapi lambat laun berubah meredup.
"Di dalam cinta tidak ada untung atau rugi. Yang ada hanyalah tulus atau tidak tulus. Aku tidak peduli bila reputasiku menjadi buruk. Yang paling menyakitiku adalah jika orang yang kusayang tidak menghargai usahaku dan menyuruhku menjauhinya," ucap Alvian berjalan pergi meninggalkan Cleantha.
Mendengar perkataan Alvian, perasaan Cleantha serasa terkoyak-koyak. Cairan bening mengumpul di sudut matanya.
Cleantha tidak tahu kenapa ia selalu terjebak dalam permasalahan cinta yang serumit ini. Namun sejujurnya ia merasa takut akan kehilangan Alvian dari sisinya.
...****************...
Raja berusaha meredakan gejolak amarah yang membuncah di hatinya. Terlebih pekerjaannya hari ini menumpuk begitu banyak.
Alih-alih bisa berkonsentrasi, ia malah terus menerus memikirkan kelakuan Cleantha dan Alvian.
Pikirannya baru teralihkan ketika terdengar suara ketukan keras di pintu.
__ADS_1
"Permisi, Tuan. Tuan Bayu Narendra sudah datang," ucap Dion masuk ke ruangan Raja.
"Baiklah, aku akan menyambutnya," ucap Raja berdiri dari kursinya.
"Tidak perlu, Raja. Aku sudah ada disini," potong Tuan Bayu melangkah masuk.
Raja bergegas maju dan memeluk pria tua yang dihormatinya itu.
"Papa Bayu, silakan duduk," kata Raja menarikkan kursi untuk mertuanya.
"Aku senang kamu masih menganggapku sebagai papamu, Raja. Jika demikian, Papa ingin bicara padamu sebagai seorang ayah pada anaknya. Apa kamu mau mendengarkan Papamu ini?" tanya Tuan Bayu.
"Tentu saja. Silakan Papa bicara, aku akan mendengarkan," jawab Raja sambil tersenyum.
"Raja, kepulangan Papa ke Jakarta karena Papa mendengar berita perceraiannmu dengan Vira."
Tuan Bayu menghela nafas panjang.
"Kamu tahu bagaimana aku dan Wijaya sudah menjodohkan kalian berdua sejak kecil. Papa tidak rela jika kamu sampai berpisah dari Vira. Begitu pula dengan almarhum papamu."
"Aku minta maaf, Pa. Kami harus berpisah karena...."
"Karena Vira telah berselingkuh dengan sepupumu, Fendi. Papa sudah mengetahui hal itu, Raja. Karenanya, Papa ingin meminta maaf padamu atas nama Vira. Tolong maafkanlah kesalahannya," sahut Tuan Bayu.
Mendengar mertuanya meminta maaf, Raja merasa tidak enak hati.
"Papa Bayu lebih tua dariku, tidak seharusnya Papa minta maaf."
"Tapi aku harus melakukannya demi keutuhan rumah tangga kalian. Papa juga tahu kamu sempat menikahi wanita lain, tapi itu tidak masalah untuk Papa. Yang terpenting kamu tidak menceraikan Vira. Papa juga sudah menyuruh Vira mencabut gugatan cerainya di pengadilan."
"Raja, pikirkan baik-baik nasib Ivyna. Dia akan menjadi korban bila kedua orang tuanya bercerai. Apalagi jika dia menjadi bahan perebutan antara kamu dan Vira. Bisa kamu bayangkan bagaimana hancurnya mental dan perasaan Ivyna. Dan satu lagi, ingatlah amanat dari papamu, Wijaya. Dia hanya ingin Vira yang menjadi menantunya, bukan wanita lain."
Raja termenung sejenak. Semua perkataan Tuan Bayu memang benar adanya.
Walaupun begitu, ia tetap tidak mau rujuk dengan wanita yang licik dan jahat seperti Zevira.
"Aku memang telah melakukan kesalahan pada Ivyna dan Papaku. Tapi, maafkan aku, Pa. Aku tidak bisa rujuk dengan Vira. Di antara kami ada terlalu banyak hal menyakitkan. Kami juga tidak saling mencintai lagi. Jika dipaksakan, pernikahan kami akan hambar dan hanya menjadi siksaan bagi kami berdua," jawab Raja menolak secara halus.
"Raja, Papa sudah menduga kamu akan memberikan alasan ini. Karena itu, Papa terpaksa memberikan sebuah pilihan padamu."
"Pilihan apa, Pa?" tanya Raja terkejut.
"Terimalah Vira lagi sebagai istrimu, maka kedudukanmu sebagai CEO akan aman. Tapi bila kamu menolak rujuk dengan Vira, dengan sangat terpaksa Papa akan meminta dewan direksi mengadakan rapat untuk peninjauan ulang posisi CEO. Kemungkinan besar sebagian dari anggota dewan direksi akan mencalonkan adikmu sebagai CEO yang baru," ancam Tuan Bayu.
Mendengar nama "Alvian" disebut-sebut, wajah Raja memanas.
Alvian sudah merampas Cleantha, kini ia juga berpotensi mengambil alih posisi CEO dari tangannya. Tentu saja ia tidak akan membiarkan adiknya itu terus menerus menginjak-injak harga dirinya.
"Papa memberimu waktu sampai besok untuk mengambil keputusan. Pertimbangkanlah semuanya dengan kepala dingin," ujar Tuan Bayu.
"Tidak perlu, Pa. Aku tidak akan pernah rujuk dengan Zevira. Dan mengenai jabatanku sebagai CEO, aku tidak mencemaskannya. Bila Papa ingin aku bersaing dengan Alvian di rapat dewan direksi, aku siap menerima tantangan itu," tandas Raja menekankan intonasinya.
BERSAMBUNG
__ADS_1