
"Mommy Clea, aku sudah kenyang," kata Ivyna meletakkan sendoknya.
"Makanannya masih banyak, Ivy. Sayang kalau harus dibuang. Tapi Mommy Clea juga sudah kenyang," kata Cleantha memperhatikan sisa makanan di atas meja.
"Lalu siapa yang akan menghabiskannya, Mommy Clea?"
Cleantha mengangkat bahunya.
"Mommy Clea juga tidak tahu. Siapa lagi selain kita berdua yang ada disini? Mungkin dia bisa membantu menghabiskannya," ucap Cleantha membuat teka-teki.
Mata bulat Ivyna langsung menatap kepada Raja.
"Daddy yang makan ya," ucap Ivyna menyodorkan salah satu piring makanan itu.
Raja berusaha menghindar. Ia tidak mau mengkonsumsi terlalu banyak makanan berlemak dan manis di malam hari. Terlebih ia adalah tipe pria yang selalu menjaga bentuk tubuh atltetisnya.
"Ivy, Daddy tidak bisa makan lagi."
"Kata Miss Bella, kita tidak boleh membuang makanan Daddy. Nanti kita dosa," ucap Ivyna menggurui Raja.
"Ayo, Daddy habiskan makanannya," rajuk Ivyna memaksa ayahnya.
Raja akhirnya mengalah. Mau tidak mau ia pun menghabiskan makanan itu walaupun dengan berat hati.
Melihat ekspresi Raja saat menyantap makanannya, membuat Cleantha menahan tawa. Untuk kedua kalinya ia berhasil mengerjai suaminya yang angkuh itu.
"Kalau kamu ingin menertawakan aku, lakukan saja. Selagi masih ada kesempatan," tutur Raja cepat-cepat meneguk segelas air.
Ia mengambil beberapa lembar tissue yang di atas meja, lalu mengelap bibir dari sisa makanan.
"Saya tidak sedang menertawakan Tuan. Saya hanya mengamati tingkah lucu kedua anak kecil di meja nomor lima," kata Cleantha berkelit.
"Oh, sepertinya kamu sangat menyukai anak-anak."
Raja beralih memandang Ivyna.
"Lihat Ivy, adik kecil di meja nomor lima itu lucu sekali. Ivy mau punya adik seperti itu?"
"Iya Daddy, aku mau. Nanti aku bisa bermain setiap hari bersamanya. Apa aku akan punya adik bayi, Daddy?" tanya Ivyna polos.
"Tanyakan saja pada Mommy Clea," jawab Raja santai.
"Apa Mommy Clea akan memberiku adik bayi yang lucu?" tanya Ivyna menatap Cleantha dengan sungguh-sungguh.
Wajah Cleantha langsung memerah laksana buah apel. Pertanyaan polos dari Ivyna membuatnya malu dan kelabakan. Tak disangka alasan konyol yang dia pakai malah berbalik menyerangnya sendiri.
"Kalau Ivy ingin adik bayi, berdoa saja supaya Mommy Vira cepat sembuh. Jadi Mommy Vira bisa memberikan adik bayi untuk Ivy," jawab Cleantha membelai ujung rambut Ivyna.
"Iya, Mommy. Aku ingin punya dua adik bayi. One girl and one boy."
Raja terlihat tidak senang dengan jawaban Cleantha, namun ia urung memberikan tanggapan.
"Mbak, tolong billnya," ucap Raja melambaikan tangan kepada salah satu pelayan yang lewat.
"Baik, Tuan, sebentar."
"Apa kamu tidak ingin membungkus makanan dari sini? Biasanya kamu selalu memakan sebungkus besar snack di malam hari," tanya Raja kepada Cleantha.
__ADS_1
Cleantha membelalakkan matanya.
"Tuan, jangan bicara seperti itu di depan Ivyna.:
Ivyna nampak keheranan dengan sikap ketus Cleantha pada ayahnya.
"Kenapa Mommy Clea selalu memanggil Daddy dengan 'Tuan'? Beda dengan Mommy Vira yang memanggil Daddy dengan sebutan 'Sayang'?" tanya Ivyna.
"Itu karena...Daddy lebih tua dari Mommy Clea," jawab Cleantha tergagap.
"Tapi Mommy Clea juga Mommyku. Harusnya Mommy Clea memanggil Daddy 'Sayang', sama seperti Mommy Vira. Mommy Clea sayang Daddy, kan?" tanya Ivyna memaksa Cleantha untuk menjawab.
Pertanyaan kedua yang dilemparkan Ivyna sungguh membuat Cleantha mati kutu. Entah jawaban apa yang akan diberikannya pada gadis kecil itu.
Bila ia menjawab sayang, maka Raja akan menjadi salah paham dan semakin besar kepala. Sebaliknya bila menjawab tidak, maka ia akan mengecewakan Ivyna. Lagipula ia harus memberikan contoh yang baik sebagai ibu sambung Ivyna.
Satu tangan Raja menopang dagunya sambil mengamati Cleantha. Sudut bibirnya terangkat ke atas, seakan menikmati momen dimana Cleantha merasa canggung sekaligus terpojok. Dan tentu saja ia begitu menantikan jawaban yang akan diberikan Cleantha pada putrinya.
"Ehmmm, Mommy Clea...."
Sangat disayangkan momen berharga tersebut terganggu, karena pelayan sudah datang membawakan tagihan.
"Tuan, ini billnya," ucap pelayan itu menyerahkan nampan kecil dengan lembaran nota di atasnya.
Raja terlihat kecewa karena Cleantha belum menyelesaikan jawabannya. Berbeda dengan Cleantha yang justru merasa terselamatkan dari lubang buaya.
Dengan enggan, Raja membaca bill itu lalu meminta pelayan membawakan mesin EDC.
"Tentu saja Mommy Clea sayang pada Daddy," jawab Raja sambil melihat Cleantha dengan ekor matanya.
"Tuan Raja percaya diri sekali. Siapa juga yang sayang padanya,"
Segera setelah pelayan datang, Raja menyelesaikan pembayarannya.
"Ayo kita pulang, Ivy. Besok kamu harus sekolah," kata Raja menggandeng putrinya.
"Tapi besok Daddy dan Mommy Vira harus mengambil raportku di sekolah."
Raja menepuk dahinya sendiri. Ia hampir saja lupa jika besok harus menjalankan kewajibannya sebagai orangtua.
"Oh, iya, Sayang. Maaf, Daddy lupa. Besok Daddy pasti akan datang menemui Miss di sekolah."
"Daddy kalau besok nilaiku bagus dan aku jadi juara, apakah Daddy akan memberiku hadiah?" tanya Ivyna bersemangat.
"Tentu saja. Kamu boleh minta apapun, Daddy akan mengabulkannya. Daddy memberimu hadiah karena selama ini kamu selalu rajin belajar."
"Thanks Daddy," ucap Ivyna mengecup pipi Raja.
Cleantha ikut tersentuh melihat keakraban ayah dan putrinya itu.
Pemandangan tersebut membuatnya kembali merindukan ayahnya yang saat ini masih terbaring sakit.
Ketika masih seumuran Ivyna, Cleantha belum pernah mendapatkan kasih sayang dari ayahnya. Jangankan dipeluk atau dicium, dilihat pun sangat jarang. Keberadaannya hanya dipandang sebelah mata. Bahkan terkadang sang ayah berharap ia tidak pernah dilahirkan ke dunia.
Ketika kini ayahnya bersedia menerimanya sebagai anak, situasi justru memaksa mereka untuk berpisah.
Tak terasa mata Cleantha mulai berkaca-kaca.
__ADS_1
"Mommy, ayo kita pulang," ujar Ivyna menarik-narik tangan Cleantha yang tenggelam dalam lamunannya.
Raja menjetikkan jarinya di depan wajah Cleantha.
"Sempat-sempatnya melamun di tempat ramai. Kamu ingin pulang atau menginap di restoran ini?"
Sembari menghapus cairan bening di sudut matanya, Cleantha memeluk bahu Ivyna.
"I..iya, ayo pulang Ivy," ucap Cleantha tidak menghiraukan sindiran Raja.
Ivyna menggandeng tangan Raja dan Cleantha lalu melangkah keluar dari restoran.
Sambil melompat kecil Ivyna bersenandung, menyanyikan sebuah lagu anak-anak berbahasa Inggris.
Namun langkah mereka terhenti karena berpapasan dengan seorang pria.
"Ivyna," tegur pria itu.
"Uncle Alvian," seru Ivyna dengan gembira.
Sontak Cleantha terkejut melihat Alvian juga ada di restoran yang sama dengannya.
"Aduh, kenapa harus bertemu Pak Alvian disini? Dia akan tahu kalau aku berbohong dengan pura-pura sakit,"
pikir Cleantha merasa kikuk.
Di samping Alvian, berdiri seorang gadis bergaun hitam. Gadis itu masih muda dan berwajah cantik. Rambutnya bergelombang dengan tubuh semampai dan kulit sebening porselen.
Gadis cantik itu mengamati Ivyna, lalu Cleantha dan Raja secara bergantian.
"Kamu cantik sekali, Ivy. Uncle senang bisa bertemu kamu disini," kata Alvian mencubit hidung Ivyna.
"Uncle kapan main ke rumahku?" tanya Ivyna manja.
"Nanti hari Sabtu, Uncle akan main bersama Ivyna."
"Al, kamu akan makan malam di restoran ini juga?" tanya Raja menatap adiknya.
"Iya, Kak. Perkenalkan ini Ayesha, putrinya Tuan Pramudya," ucap Alvian memperkenalkan gadis di sampingnya.
"Ayesha, ini kakakku Raja Adhiyaksa."
"Selamat malam Tuan Raja. Saya sering melihat foto-foto Anda di majalah bisnis. Akhirnya saya bisa bertemu Anda secara langsung," ucap Ayesha mengulurkan tangannya.
"Terima kasih, Ayesha. Senang berkenalan denganmu," jawab Raja tersenyum.
"Dan ini istrinya kakakku, Cleantha," ucap Alvian berpindah kepada Cleantha.
Alvian berhenti sejenak menatap penampilan Cleantha.
Meskipun matanya terlihat sendu, namun kakak iparnya ini dalam kondisi sehat-sehat saja.
Tidak ada tanda-tanda bahwa Cleantha sedang sakit seperti yang dikemukakan oleh Pak Setyo. Buktinya Cleantha justru mengenakan gaun pesta dan menikmati makan malam bersama Raja.
Melihat Alvian memandang Cleantha, Ayesha memicingkan matanya. Ia tidak suka melihat Alvian malah memperhatikan kakak iparnya. Terlebih istri Raja itu terlihat sebaya dengan dirinya.
"Halo, Cleantha, aku Ayesha, calon tunangan Alvian," ucap Ayesha segera mengulurkan tangannya.
__ADS_1
BERSAMBUNG