
"Aku...membeli buah-buahan ini dari gajiku sebagai pengasuh, Kak," jawab Cleantha terpaksa berbohong.
"Aku tegaskan sekali lagi, Clea. Jangan pernah menjual dirimu pada pria hanya karena uang. Baik itu kepada Tuan Raja maupun Pak Alvian. Jika kamu mempermalukan nama baik keluarga kita, ayah pasti sangat terpukul. Aku juga akan memutuskan hubungan denganmu bila itu terjadi," ancam Keyla sambil melotot.
Ancaman yang diucapkan kakaknya, ibarat garam yang ditaburkan di atas luka-luka hatinya. Sungguh pedih dan menusuk bagi Cleantha.
Bila keluarganya tahu ia telah menjual harga diri pada Raja, sudah pasti ia akan diusir dari rumah.
Sayangnya, ia terlanjur mengambil keputusan yang salah. Dan keputusan itu kini membelenggu hidupnya dan membuatnya sulit untuk melepaskan diri.
"Kak, Ayah dimana?" tanya Cleantha mengalihkan pembicaraan.
"Di kamar. Ayah sedang disuapi makan oleh Suster Novi," kata Keyla melepaskan adiknya.
"Aku akan menemui Ayah."
Cleantha bergegas pergi ke kamar ayahnya. Ia terkesima ketika melihat wajah ayahnya nampak lebih segar. Posisi duduknya juga lebih tegak. Ternyata beberapa hari ditangani oleh seorang perawat, kondisi ayahnya jauh membaik.
"Cle..aa," panggil Tuan Sigit senang melihat putrinya datang.
Suster Novi pun menoleh. Ia mengamati Cleantha dengan seksama.
Dilihat dari ciri-ciri fisiknya, cantik, berkulit putih, dan masih muda. Sesuai dengan petunjuk yang diberikan oleh Dion. Pastilah wanita ini adalah istri dari Raja Adhiyaksa, pengusaha besar sekaligus bosnya.
"Siang, Bu," sapa Suster Novi penuh hormat.
"Siang, Suster. Terima kasih sudah merawat ayah saya," ucap Cleantha.
Cleantha berjalan mendekati tempat tidur dan memeluk ayahnya.
"Ayah, Clea menginap di rumah sampai hari Jumat. Clea akan menemani Ayah."
Tuan Sigit terlihat begitu bahagia hingga meneteskan air mata. Ia berharap Cleantha bisa kembali ke sisinya seperti dulu. Dan dia berjanji akan memperbaiki semua kesalahan yang pernah dia lakukan pada putrinya itu.
...****************...
Malam harinya mereka makan bersama sebagai keluarga. Suasana ini adalah hal yang sangat dirindukan Cleantha.
Walaupun dulu ia seorang anak yang tak dianggap, namun tetap saja keluarga adalah harta paling berharga dalam hidupnya. Tempat dimana ia bisa berlindung dan bersembunyi dari kerasnya tempaan dunia.
"Bu, saya permisi istirahat dulu," kata Suster Novi berpamitan pada Cleantha.
Ana dan Keyla mengernyitkan dahi. Mereka keheranan mengapa perawat itu bersikap sangat hormat kepada Cleantha.
"Clea, kenapa Suster Novi kelihatan segan padamu? Bahkan dia memanggilmu dengan sebutan 'Bu' padahal kamu lebih muda darinya?" tanya Ana curiga.
"Benar, Suster Novi memperlakukanmu seolah-olah kamu itu bosnya. Kepadaku dia bersikap biasa-biasa saja," sambung Keyla.
"Aku juga tidak tahu, Kak," jawab Cleantha sambil membereskan piring dan gelas di meja makan.
Belum hilang rasa curiga Ana dan Keyla, ponsel Cleantha tiba-tiba berbunyi nyaring.
Cleantha menghentikan pekerjaannya dan meraih ponselnya dari meja. Ada nomor tak dikenal yang tertera di layar ponselnya.
"Apa ini Tuan Raja? Dia bilang akan menggunakan nomor baru selama berada di Jepang,"
pikir Cleantha was-was.
"Aku ke kamar dulu, Kak. Nanti aku akan kembali untuk membersihkan meja makan," kata Cleantha buru-buru ke kamarnya.
"Key, sepertinya adikmu memang menyembunyikan sebuah rahasia dari kita. Apa kamu tahu kira-kira apa rahasia itu?"
"Tante, sudahlah jangan mencampuri urusan Cleantha. Aku mau istirahat," kata Keyla menarik kursinya.
"Selamat malam, maaf ini dengan siapa?" tanya Cleantha sambil mengunci pintu kamarnya.
"Clea, ini aku. Aku memakai nomor ini selama berada di Jepang."
"Tuan," ucap Cleantha bahagia mendengar suara Raja.
__ADS_1
"Aku baru saja mendarat di bandara. Sebentar lagi aku akan berangkat ke hotel. Kamu ada dimana sekarang?"
"Saya ada di rumah ayah saya, Tuan."
"Di Jakarta pasti sudah malam. Beristirahatlah. Akan kuusahakan untuk menghubungimu setiap hari. Semoga cuaca disini bagus dan sinyal ponselku tidak terganggu."
"Iya, Tuan, saya mengerti. Selamat istirahat juga untuk Tuan dan Ivyna."
Cleantha tersenyum sambil meletakkan ponselnya di atas tempat tidur. Baginya mendengar suara Raja saja sudah lebih dari cukup untuk mengobati rasa rindunya.
...****************...
Akhir pekan terasa berlalu begitu cepat. Cleantha tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk merawat dan menemani sang ayah.
Tak terasa hari kerja pun tiba. Cleantha berangkat bersama Keyla dengan kendaraan umum untuk menuju ke kantor mereka.
Cleantha bekerja seperti biasa, penuh dengan semangat dan optimisme. Namun rekan-rekan sedivisinya yang justru berubah sikap padanya. Mereka menjaga jarak. Memperlakukannya seolah ia adalah seorang pimpinan atau pemilik perusahaan.
Nurma yang biasanya akrab dengannya juga banyak berubah. Seniornya itu mengajari Cleantha dengan bahasa yang lebih formal.
Tindakan teman-temannya itu membuat Cleantha merasa bagai makhluk terasing di tempat kerjanya.
Bahkan saat makan siang, karyawan dari divisi lain ikut-ikutan menatapnya penuh selidik. Nampaknya gosip tentang dirinya sebagai kekasih Alvian Adhiyaksa sudah menyebar dengan cepat.
"Clea, semua orang di kantor sudah mengetahui hubunganmu dengan Pak Alvian. Lihat saja bagaimana mereka berbisik-bisik saat melihatmu. Sebagian dari mereka menganggapmu sebagai wanita penggoda. Menggunakan kecantikanmu untuk merayu Pak Alvian supaya mendapat kemudahan di kantor ini. Membuatku malu saja," ucap Keyla mendengus kesal.
"Biarkan saja, Kak. Yang penting aku tidak melakukan apa yang mereka tuduhkan. Pak Alvian akan segera bertunangan, mana mungkin dia berpacaran denganku," jawab Cleantha keceplosan bicara.
Bola mata Keyla membesar saat mendengar penjelasan adiknya.
"Darimana kamu tahu Pak Alvian akan bertunangan?"
"Eh, aku pernah tidak sengaja mendengarnya saat berada di rumah Tuan Raja," jawab Cleantha gelagapan.
"Kamu harus meluruskan permasalahan ini, Clea. Aku tidak mau terkena imbasnya."
"Bicaralah pada Pak Alvian. Minta dia mengajak tunangannya ke kantor agar semua orang tahu kalau kamu bukan pacarnya."
"Aku tidak mungkin melakukan itu, Kak. Mana mungkin aku menyuruh Pak Alvian menemuiku," jawab Cleantha menolak.
"Terserah kamu saja. Aku yakin gosip ini akan semakin meluas. Nantinya pasti akan didengar juga oleh Tuan Raja. Dia tidak akan suka jika mengetahui Pak Alvian berpacaran dengan pengasuh anaknya," tukas Keyla.
Cleantha termenung sejenak. Peringatan dari Keyla memang ada benarnya.
Cleantha masih ingat bagaimana marahnya Raja karena mengira ia berselingkuh dengan Alvian. Jika kabar burung mengenai dirinya dan Alvian sampai ke telinga Raja, besar kemungkinan suaminya itu akan salah paham untuk kedua kalinya.
...****************...
Menjelang jam pulang kantor, mendung gelap mulai menggelayut di langit. Para karyawan bergegas pulang sebelum turun hujan.
"Clea, aku akan pergi karaoke bersama teman-teman kantor. Kamu pulang sendiri saja," kata Keyla membawa tasnya.
"Iya, Kak. Nanti aku akan naik taksi. Lagipula pekerjaanku belum selesai," jawab Cleantha.
"Oke, aku duluan," ucap Keyla berpamitan.
Pak Setyo yang keluar dari ruangannya terkejut melihat Cleantha belum pulang.
"Clea, kamu tidak ikut karaoke bersama anak-anak yang lain?"
"Tidak, Pak, pekerjaan saya belum selesai."
"Baiklah, kalau begitu saya duluan. Jangan lupa matikan lampu dan AC sebelum mengunci ruangan."
"Iya, Pak."
Setelah Pak Setyo pergi, tinggallah Cleantha sendirian di ruangan finance. Ia masih bekerja hingga satu jam kemudian.
"Aku akan memesan taksi online sekarang,"
__ADS_1
pikir Cleantha meraih ponselnya.
Cleantha terkesiap ketika melihat ponselnya dalam keadaan mati. Ini terjadi karena dia lupa belum mengisi daya baterai ponselnya sejak pagi.
Cleantha meraba-raba tas kerjanya untuk mencari charger.
"Chargerku tertinggal di kamar. Kalau begini aku tidak bisa memesan taksi online. Lebih baik aku coba mencari ojek di depan kantor,"
batin Cleantha memasukkan kembali ponselnya.
Setelah memastikan semua pendingin ruangan dan lampu telah dimatikan, Cleantha mengunci pintu ruang finance.
Sambil berlari kecil, ia masuk ke dalam lift untuk turun ke lobi.
Hanya tersisa sedikit karyawan yang masih berdiri di pintu lobi, menunggu hingga hujan reda.
Cleantha mencoba mencari cara agar bisa segera pulang ke rumahnya.
"*Ak*u akan lari ke pos security untuk meminjam payung. Lalu aku bisa berjalan ke depan dan memanggil ojek,"
pikir Cleantha mendapatkan ide cemerlang.
Bermodal kenekatan, Cleantha menembus derai air hujan sambil berlari. Tanpa dilihatnya, mobil Alvian juga sedang melintas melewati pos security.
Alvian dan Cleantha sama-sama terkejut. Begitu pula dengan security yang sedang bertugas.
Serta merta Alvian menghentikan laju mobilnya. Bila tidak, ia pasti akan menabrak kakak iparnya itu.
"Cleantha, kenapa dia berlarian seperti itu di tengah hujan? Kelakuannya benar-benar ajaib,"
gumam Alvian keheranan.
Alvian segera membuka jendela mobilnya seraya berteriak.
"Clea, apa yang kamu lakukan disitu? Kenapa kamu belum pulang dan malah hujan-hujanan?"
"Maaf, Pak. Saya baru akan pulang. Saya akan pinjam payung dulu dari security," seru Cleantha.
Melihat baju dan rambut Cleantha yang basah, Alvian memutuskan untuk keluar dari mobilnya.
Ia menarik Cleantha dan mengajaknya masuk ke dalam mobil.
"Ikut aku pulang. Kamu bisa jatuh sakit kalau basah begini. Entah apa respon Kak Raja jika melihat kelakuanmu yang seperti anak kecil," kata Alvian menutup pintu mobilnya.
Lagi-lagi peristiwa itu disaksikan oleh security dan beberapa karyawan yang kebetulan melewati mereka.
Kini mereka bertambah yakin bila Cleantha memiliki hubungan spesial dengan Alvian, pewaris kedua Adhiyaksa Group.
...****************...
Fendi baru saja pulang ke rumah sesudah puas clubbing bersama teman-temannya.
Ia terkejut melihat Zevira menelponnya dengan tiba-tiba.
"Halo, Sayang, bagaimana liburanmu?" tanya Fendi berjalan masuk ke kamarnya.
"Liburanku sangat menyenangkan. Aku berbelanja banyak barang bagus disini."
"Tapi kamu tidak bermesraan dengan Raja, kan? Jangan membuatku cemburu, Sayang," ucap Fendi pura-pura merajuk.
"Tidak usah membahas soal itu. Aku menelponmu karena ingin memberitahukan kapan waktu yang tepat untuk menjebak Cleantha."
"Kapan itu, Sayang?" tanya Fendi.
"Dua hari lagi. Raja dan Ivyna akan pergi ke Hokkaido untuk bermain ski. Mereka akan sibuk seharian bermain salju. Kemungkinan sinyal disana juga tidak bagus. Itu saat yang paling tepat untuk melakukan rencana kita."
"Baiklah, Sayang. Besok aku akan menghubungi Alvian untuk membuat janji temu di hari Rabu," kata Fendi menyanggupi.
BERSAMBUNG
__ADS_1