
"Clea, apa kamu sudah siap? Kita harus berangkat sekarang supaya tidak terlambat," kata Alvian sambil mengetuk pintu kamar Cleantha.
"Sebentar, Pak," jawab Cleantha mematut dirinya di depan cermin.
Sesungguhnya ia merasa gugup karena ini adalah kali pertamanya pergi berkencan dengan Alvian.
Cukup lama Cleantha memilih baju apa yang harus dikenakannya. Maklum saja ia merasa tidak percaya diri bersanding dengan Alvian. Ia hanyalah seorang janda yang tengah berbadan dua. Sedangkan Alvian adalah pria yang masih lajang dengan segala kelebihannya.
"Maaf, Pak," kata Cleantha keluar dari kamar.
Ia melihat sekilas penampilan Alvian. Pria itu mengenakan kaos casual berwarna biru gelap dipadu celana jeans yang senada. Membuatnya terlihat tampan dan lebih muda.
Cleantha menundukkan kepala, tidak berani memandang wajah Alvian.
Entah mengetahui isi pikiran Cleantha atau sekedar menerka saja, Alvian menegakkan dagu gadis itu.
"Clea, tidak usah malu. Kamu selalu cantik di mataku. Ayo kita berangkat," kata Alvian memegang kedua bahu Cleantha.
Cleantha hanya menurut saja, ia mengikuti Alvian hingga ke mobil.
Di dalam perjalanan, Alvian sengaja menceritakan beberapa lelucon untuk mencairkan suasana. Hingga akhirnya mereka tiba di gedung bioskop tempat mereka akan menonton film.
"Clea, tunggu saja disini. Aku akan membeli popcorn dan minuman. Kamu mau popcorn yang manis atau yang asin?" tanya Alvian.
"Yang asin saja, Pak. Saya sudah terlalu banyak makan makanan manis," jawab Cleantha.
"Kalau minumannya?"
"Cokelat hangat saja," jawab Cleantha spontan.
"Baik, pesanan Nyonya akan segera saya antarkan," kata Alvian tersenyum lalu melangkah pergi.
Sesaat kemudian Cleantha menutup mulutnya. Ia merasa malu karena semenjak hamil ada banyak keinginannya yang tidak bisa ditahan.
Sepatutnya, ia menjaga sikap di depan Alvian, bukan malah bermanja-manja dan meminta ini itu.
Tapi tak dapat dipungkiri bahwa hatinya sedang berbunga-bunga. Pasalnya baru kali ini ia merasa disayang dan diistimewakan oleh seseorang.
Kehidupan seperti inilah yang selalu didambakannya sebagai gadis muda. Menjalani hubungan cinta yang manis dan terasa ringan. Bersama pria yang mencintainya dan hanya menjadi miliknya seorang. Ia tidak perlu berbagi dan tidak harus mengalah kepada wanita lain.
Namun lagi-lagi timbul rasa rendah diri dalam hati Cleantha. Ia merasa tidak pantas menjadi kekasih Alvian dengan kondisinya saat ini.
Ketika Alvian datang membawakan popcorn dan minuman, Cleantha buru-buru menghapus air matanya.
"Clea, ayo kita masuk. Filmnya akan segera dimulai," kata Alvian menyodorkan kotak popcorn ke tangan Cleantha.
"Iya, Pak."
Alvian memicingkan matanya, mengamati Cleantha dengan seksama.
"Apa kamu baru saja menangis? Matamu terlihat merah," tanya Alvian curiga.
__ADS_1
"Hanya kemasukan bulu mata saja, Pak," jawab Cleantha.
"Kamu tidak bisa membohongiku, Clea. Aku sangat mengenalmu. Kamu pasti habis menangis."
"Dengar, mulai sekarang berjanjilah untuk tidak menangis lagi. Aku ingin kamu selalu bahagia jika bersamaku, Sayang," kata Alvian menggandeng tangan Cleantha masuk ke studio.
"Apa aku tidak salah dengar? Pak Alvian memanggilku dengan sebutan "Sayang",
gumam Cleantha melirik sekilas ke arah Alvian yang duduk di sebelahnya.
Cleantha merasa pipinya menghangat. Untung saja suasana di sekitarnya lumayan gelap. Bila tidak, Alvian pasti akan melihat wajahnya yang semerah buah apel.
"Nanti jangan menangis kalau menonton film ini. Aku baca dari sinopsisnya ada adegan istrinya meninggal dunia setelah melahirkan," kata Alvian mengambil beberapa butir popcorn dari tangan Cleantha.
"I..iya, Pak," jawab Cleantha menyembunyikan rasa canggungnya.
...****************...
Raja menyuruh supirnya untuk mengantarnya ke rumah keluarga Cleantha.
"Jadi ini rumahnya Clea? Rumahnya sangat sederhana. Seharusnya aku membelikan rumah baru untuk keluarganya. Selama ini aku tidak pernah memperhatikan kehidupan Cleantha,"
pikir Raja menyesal.
Raja membuka pintu mobilnya dan melangkah keluar. Rumah itu nampak lengang dengan cahaya lampu yang temaram. Mungkin saja penghuninya sudah tertidur lelap di dalam sana.
Raja hanya berharap Cleantha masih terjaga sehingga mereka bisa bicara dari hati ke hati.
Karena sangat ingin bertemu Cleantha, Raja pantang menyerah. Ia mengetuk ulang pintu rumah Cleantha hingga terdengar langkah kaki seseorang dari dalam rumah.
"Cekrekk," bunyi daun pintu yang dibuka.
Raja dan Keyla sama-sama terkejut, ketika mereka bersitatap di ambang pintu.
"Tuan Raja, kenapa Anda ada disini?" tanya Keyla keheranan.
"Keyla, maaf aku mengganggu kalian malam-malam. Apa Cleantha ada? Kalau iya tolong panggilkan dia. Aku ingin bicara sebentar," pinta Raja dengan sopan.
Keyla melipat dua tangannya di depan dada.
"Ada keperluan apa Tuan mencari adik saya? Bukankah Tuan sudah bercerai dengan Cleantha? Lagipula Tuan salah alamat. Clea tidak tinggal disini lagi," ucap Keyla ketus.
"Kalau Clea tidak tinggal di rumahnya, lalu dimana dia?" tanya Raja terhenyak.
Keyla mengangkat bahunya dengan malas.
"Mana saya tahu. Terakhir Clea pergi membawa koper yang berisi semua baju-bajunya, lalu menghilang bersama Pak Alvian," ungkap Keyla.
"Dia pergi dari rumah bersama Alvian?" tanya Raja meragukan ucapan Keyla.
"Iya, Tuan. Selama dua hari terakhir, adik saya berangkat dan pulang kerja berdua dengan Pak Alvian. Semua orang di kantor juga sudah mengetahuinya. Mereka terlihat sangat dekat dan mesra. Mungkin saja mereka sudah tinggal bersama," kata Keyla memprovokasi Raja.
__ADS_1
Mendengar informasi yang diberikan Keyla, jantung Raja bertalu dengan kencang.
Perkataan Keyla serupa dengan apa yang terlintas di benaknya. Tetapi kali ini, ia tidak mau gegabah dalam mengambil keputusan. Ia harus belajar mengendalikan diri agar tidak mengulangi kesalahan yang sama.
"Aku akan mencari Cleantha di tempat lain. Sampaikan salamku untuk ayahmu. Selamat malam," tutur Raja berlalu dari hadapan Keyla.
Setibanya di mobil, Raja mencoba menghubungi ponsel Cleantha. Nomornya tidak aktif. Kemudian ia beralih menelpon Alvian, namun ponsel adiknya itu juga tidak bisa dihubungi.
Perasaan Raja berkecamuk. Ia merasa ada yang tidak beres dengan semua ini.
"Sial, kenapa keduanya tidak bisa dihubungi secara bersamaan? Aku harus memastikan apakah mereka benar-benar sedang berduaan. Aku akan mengunjungi rumah Mama Marina untuk mengecek keberadaan Alvian,"
gumam Raja terbakar rasa cemburu.
Tanpa membuang waktu, Raja meluncur ke rumah ibu tirinya itu. Ia tidak peduli jika hari sudah malam.
Melihat kedatangan Raja, para pelayan di rumah Ny. Marina bergegas menyambutnya.
"Silakan duduk, Tuan Raja. Saya akan panggilkan Nyonya. Beliau ada di kamarnya," kata pelayan setia Ny. Marina.
Tak lama, Nyonya Marina muncul dengan piyama tidurnya.
"Raja? Tumben sekali kamu bertamu malam-malam begini?" tanya Ny. Marina mengerutkan dahinya
"Maaf, Ma, kalau aku mengganggu. Aku hanya ingin bertanya dimana Alvian? Apa dia ada disini?" jawab Raja to the point.
Ny. Marina menghembuskan nafas panjang sebelum menjawab pertanyaan Raja.
"Raja, seharusnya kamu bertanya pada mantan istrimu yang bernama Cleantha itu. Jangan bertanya padaku. Aku sendiri tidak tahu dimana putraku sekarang."
"Apa maksud Mama?" desak Raja.
"Mantan istrimu itu telah membuat Alvian kehilangan akal sehatnya. Alvian sudah meninggalkan Mama dan memilih bersama wanita itu. Jika kamu ingin tahu keberadaan Alvian, cari saja di apartemennya. Sekarang Mama mau istirahat, kepala Mama pusing," kata Ny. Marina meninggalkan Raja.
Hati Raja bagai tertusuk ribuan duri yang sangat tajam. Jika benar Alvian dan Cleantha tinggal di apartemen yang sama, artinya ia tidak mungkin kembali pada Cleantha. Percuma saja ia meminta maaf karena itu hanya akan membuat dirinya terlihat menyedihkan.
"Aku akan ke apartemen Alvian sekarang juga untuk membuktikan semua ini,"
pikir Raja membulatkan tekadnya.
**BERSAMBUNG
Berikut bonus ilustrasi tokoh untuk menambah kebaperan**.
**Raja, Cleantha, Alvian
Ditunggu like, komen, dan votenya.
Terima Kasih**
__ADS_1