Istri Bayaran Milik Tuan Raja

Istri Bayaran Milik Tuan Raja
Bab 69 Pertemuan di Pesta (Part 1)


__ADS_3

Keyla memperhatikan Cleantha yang sejak tadi hanya mengaduk-aduk soto ayam yang ada di hadapannya.


"Clea, kenapa kamu tidak makan? Apa kamu memikirkan Tuan Raja lagi?" tanya Keyla menebak isi pikiran adiknya.


"Bukan, Kak. Aku hanya...tidak ingin datang di acara perayaan hari jadi Adhiyaksa Group," jawab Cleantha tampak lesu.


"Kenapa? Apa karena Tuan Raja akan hadir di acara itu? Seharusnya jika kamu sudah melupakan dia, maka tidak masalah bagimu bertemu dengan mantan suamimu. Lagipula kamu terpilih menjadi penerima tamu. Tidak mungkin kamu bisa menghindar dari acara itu," tandas Keyla.


"Aku bingung harus bersikap bagaimana di depan Tuan Raja, istrinya, dan Pak Alvian. Bertemu mereka hanya mengingatkanku tentang kenangan burukku di masa lalu," ucap Cleantha berterus terang.


"Sudahlah, Clea. Anggap saja kamu tidak pernah mengenal mereka. Jika mereka lewat, sapa secara formal seperti seorang karyawan pada bosnya. Fokus saja pada tugas yang diberikan kepadamu."


"Iya, Kak, aku akan berusaha."


Keyla menarik bahunya ke depan dan mencodongkan tubuhnya ke arah Cleantha.


"Justru ini kesempatan yang bagus. Di acara itu akan ada banyak pengusaha muda yang datang. Berdandalah yang cantik sebagai penerima tamu. Nanti aku akan membantumu untuk memilih gaun. Aku juga akan tampil secantik mungkin. Siapa tahu kita bisa bertemu dengan jodoh kita disana," ucap Keyla penuh harap.


Cleantha tidak memberikan jawaban. Pikirannya sangat jauh berbeda dari Keyla. Untuk saat ini dia belum siap menjalin hubungan baru dengan seorang pria. Yang dia inginkan hanyalah agar proses perceraiannya cepat selesai. Dengan begitu dia bisa menatap masa depannya dengan tenang. Apabila lukanya telah sembuh, barulah ia akan mencoba membuka hati untuk pria yang tulus mencintainya.


...****************...


"Tuan Dion, apakah laporan keuangan bulan lalu sudah dibaca dan disetujui oleh Tuan Raja? Tuan Alvian meminta saya menanyakannya," tanya Ricky, asisten Alvian.


"Belum. Hari ini akan saya coba mengingatkan Tuan Raja. Semoga suasana hatinya baik," kata Dion terlihat ragu.


"Kalau begitu tolong kabari saya secepatnya. Tuan Alvian sudah menunggu sejak kemarin," ucap Ricky sebelum berlalu dari hadapan Dion.


Setelah asisten Alvian itu pergi, Dion menghela nafas panjang.


Akhir-akhir ini dia dibuat pusing tujuh keliling dengan perang dingin yang terjadi antara Raja dan Alvian. Kedua pewaris Adhiyaksa Group itu tidak mau saling bertegur sapa, menelpon maupun bertemu satu sama lain. Akibatnya banyak pekerjaan yang tertunda. Dan terpaksa ia yang harus bekerja ekstra keras sebagai juru bicara antara kedua belah pihak. Menjadi jembatan penghubung di tengah komunikasi yang terputus.


Entah apa yang terjadi antara kakak beradik itu. Tapi Dion yakin permusuhan mereka ada kaitannya dengan gosip seputar hubungan Alvian dan Cleantha. Terlebih Raja telah memanggil pengacara untuk menceraikan istri keduanya tersebut.

__ADS_1


Emosi Raja juga semakin memburuk. Ia mudah sekali marah hanya karena hal-hal sepele. Namun mau tak mau, ia harus mengambil resiko kali ini. Tidak masalah jika harus menerima kemarahan Raja, asalkan tugasnya bisa cepat selesai.


"Tok, tok, tok." Tiga kali Dion mengetuk pintu ruang CEO sebelum melangkah masuk ke dalam.


Saat memasuki ruangan, ia melihat Raja sedang berkonsentrasi pada layar laptopnya. Dahinya berkerut membentuk garis tajam, seolah sedang berpikir keras mengenai sesuatu. Wajah tampan bosnya itu tampak mengeras, menandakan bahwa kondisi emosinya sedang berada di titik negatif.


"Permisi, Tuan," ucap Dion.


"Ada apa?" tanya Raja singkat.


"Ricky, Asisten Tuan Alvian barusan datang menemui saya. Dia ingin menanyakan tentang laporan keuangan yang diberikan Tuan Alvian dua hari lalu. Apakah Tuan sudah membacanya?"


"Sudah, kembalikan saja pada Alvian," ucap Raja datar.


"Maaf, Tuan, besok kita akan meeting seharian di luar kantor. Dan lusa adalah acara makan malam Adhiyaksa Group. Sebaiknya hari ini Tuan bicara sebentar dengan Tuan Alvian mengenai siapa yang akan memberikan sambutan pada pembukaan dan penutupan acara," ucap Dion memberikan saran.


"Tidak perlu. Aku yang akan memberikan kata sambutan dan Alvian penutupnya. Sampaikan saja keputusanku ini pada asistennya Alvian."


"Tidak ada, Tuan. Saya permisi," ucap Dion sadar diri. Ia buru-buru mengambil berkas laporan keuangan dari atas meja Raja.


Dalam hati, Dion benar-benar khawatir dengan apa yang akan terjadi di perayaan hari jadi Adhiyaksa Group. Jika kedua kakak beradik itu tetap tidak saling bicara, entah bagaimana tanggapan para tamu undangan nanti. Tentu saja permusuhan ini akan menimbulkan kesan yang buruk bagi reputasi perusahaan mereka.


...****************...


Keyla menemani Cleantha memilih gaun di butik penyewaan baju pesta.


"Clea, kamu lihat-lihat sendiri dulu. Aku akan ke sebelah sana untuk mencari gaun yang cocok untukku."


"Iya, Kak."


Keyla berjalan cepat menuju ke deretan gaun pesta. Mata jelinya tertuju pada sebuah gaun one shoulder berwarna hitam.


Tanpa perlu berpikir terlalu lama, ia memutuskan untuk menyewa gaun itu. Meski harus merogoh kantong cukup dalam, Keyla tidak keberatan demi menunjang penampilannya di acara penting Adhiyaksa Group.

__ADS_1


"Mbak, saya sewa gaun yang ini," ucap Keyla kepada pelayan butik.


Setelah selesai dengan urusannya, Keyla menghampiri Cleantha.


Ia melihat adiknya itu sedang memegang gaun berwarna kuning pucat dengan potongan yang sangat sederhana.


Keyla berdesis kesal. Ternyata selera rendah Cleantha belum hilang juga kendatipun ia pernah menjadi istri seorang CEO.


"Kembalikan gaun itu! Kamu akan ditertawakan orang kalau memakainya. Apalagi kamu akan tampil di depan untuk menyambut tamu. Minggir sana, biar aku yang memilihkan untukmu," ucap Keyla tidak sabar.


"Tapi Kak, ini cukup bagus dan harganya tidak mahal."


"Kenapa harus memikirkan harga? Bukankah kantor yang akan membayar gaunmu? Kalau harganya melebihi budget, bayar saja sisanya dengan uangmu. Jangan pelit menggunakan gajimu untuk keperluan diri sendiri. Ingat kesempatan ini tidak akan terulang untuk kedua kalinya," ujar Keyla.


Jari jemari Keyla begitu gesit memilah-milah gaun di depannya.


Kelopak matanya melebar ketika melihat gaun merah panjang, dengan hiasan rumbai di bagian bawahnya.


"Clea, pakai ini saja. Kulitmu putih, pasti akan kelihatan bagus jika memakai gaun berwarna merah," kata Keyla menyerahkan gaun itu kepada adiknya.


Cleantha terkejut melihat pilihan kakaknya yang menurutnya terlalu berlebihan.


"Kak, warna merah terlalu mencolok. Apalagi tali di bagian atasnya kecil sekali. Juga ada belahan samping sebatas paha. Aku rasa gaun ini tidak cocok denganku," tolak Cleantha secara halus.


"Turuti saja kata-kataku. Kamu harus berani menjadi pusat perhatian, karena kamu adalah penerima tamu."


Tanpa menghiraukan penolakan Cleantha, Keyla menyerahkan gaun itu ke tangan pelayan butik.


"Mbak, saya sewa ini juga. Jadi dua dengan yang tadi. Hitung saja totalnya."


"Baik, Mbak," jawab pelayan butik itu mengajak Keyla ke kasir.


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2