Istri Bayaran Milik Tuan Raja

Istri Bayaran Milik Tuan Raja
Bab 104 Akulah Sang Direktur


__ADS_3

Tujuh hari setelah meninggalnya Alvian, pengacara Alvian datang ke rumah Cleantha. Ia juga memanggil Ny. Marina dan Raja untuk mendengarkan pembacaan surat wasiat.


Raja melirik sekilas ke arah Cleantha. Paras cantiknya masih nampak pucat, pertanda bahwa ia masih mengalami kedukaan mendalam.


"Tuan Dirga, saya tidak perlu mendengarkan surat wasiat ini. Saya masih berkabung," tolak Cleantha.


"Maaf, Nyonya Cleantha, saya hanya menjalankan amanat dari Tuan Alvian Adhiyaksa. Dua bulan yang lalu, Tuan Alvian meminta saya membuatkan surat wasiat dan membacakannya bila terjadi sesuatu padanya," jawab pengacara itu.


"Benar, Clea, kita harus mendengarkan pesan terakhir dari Alvian," sahut Ny. Marina terdengar lesu.


Raja mengunci bibirnya rapat-rapat. Ia tidak ingin berkomentar soal apapun yang bisa membuat situasi semakin buruk.


Almero datang dan duduk di pangkuan Cleantha. Bocah kecil itu nampak penasaran melihat banyak orang dewasa berkumpul di rumahnya.


Melihat Almero menatapnya dengan wajah serius, Raja tersenyum kepada keponakannya itu. Namun Almero tidak membalas senyuman Raja. Ia justru menyembunyikan diri di balik lengan Cleantha.


Sang pengacara pun mulai membacakan isi surat wasiat Alvian dengan suara lantang.


"Bahwa saya Alvian Adhiyaksa, dengan sadar dan tanpa paksaan menghibahkan seluruh harta dan asset yang saya miliki kepada anak kandung saya, Almero Adhiyaksa, dan istri saya, Cleantha Adhiyaksa. Sekaligus mengalihkan kepemilikan saham atas PT. Adhiyaksa Group kepada putra saya, Almero Adhiyaksa. Dan sebelum putra saya memasuki usia dewasa, saya menunjuk istri saya, Cleantha Adhiyaksa sebagai perwakilan saya di perusahaan Adhiyaksa Group. Cleantha Adhiyaksa berhak untuk bertindak atas nama saya di PT. Adhiyaksa Group dalam menjalankan perusahaan sesuai dengan ketentuan yang berlaku."


Pernyataan Alvian dalam surat wasiat tersebut sontak mengejutkan Cleantha. Ia tidak menyangka Alvian akan menyerahkan kekuasaan sebesar itu ke tangannya.


"Tuan, apa ini tidak salah? Saya harus mewakili suami saya di perusahaan?" tanya Cleantha terkesiap.


"Benar, Nyonya. Ini adalah keinginan Tuan Alvian sendiri."


Sambil menatap Raja yang berdiam di kursinya, pengacara itu melanjutkan kata-katanya.


"Tuan Alvian adalah CEO perusahaan Adhiyaksa Group, dan sebelumnya Beliau menjabat sebagai direktur keuangan. Karena ada Tuan Raja yang akan menduduki jabatan CEO, maka Nyonya Cleantha bisa mewakili Tuan Alvian sebagai direktur keuangan di PT. Adhiyaksa Group. Bagaimana menurut Anda, Tuan Raja?" tanya Tuan Dirga tiba-tiba.


Diberikan pertanyaan semacam itu, membuat Raja terkejut. Sesungguhnya ia belum siap memberikan tanggapan. Tapi karena tidak ada pilihan lain, ia terpaksa menjawab pertanyaan Tuan Dirga.


"Iya, saya setuju. Lagipula jabatan direktur keuangan sudah lama kosong sejak Alvian menjadi CEO," jawab Raja diplomatis.


Cleantha langsung menolak mentah-mentah tawaran tersebut. Ia tidak ingin bekerja hanya demi meraih kekuasaan. Yang dia inginkan hanyalah mengasuh dan mendidik Almero dengan baik.

__ADS_1


"Maaf, Tuan, saya tidak bisa menerima posisi sebagai direktur keuangan. Tapi saya akan datang mewakili suami dan anak saya setiap kali ada rapat dewan direksi," jawab Cleantha.


Mendengar penolakan Cleantha, Ny. Marina segera menarik tangan menantunya itu.


"Clea, ikut Mama ke kamar sebentar. Mama perlu bicara denganmu," ajak Ny. Marina.


Dengan patuh, Cleantha mengikuti ibu mertuanya ke dalam kamar.


Ny. Marina menutup pintu, lalu mengajak Cleantha duduk di tepi tempat tidur.


"Ada apa, Ma?" tanya Cleantha was-was.


"Mama minta jalankanlah amanat terakhir Alvian. Terimalah posisi direktur keuangan di Adhiyaksa Group. Lakukan ini demi Almero."


"Maaf, Ma, aku tidak bisa. Aku ingin memusatkan perhatianku untuk mengasuh dan membesarkan Almero," jawab Cleantha berterus terang.


"Mama yang akan menjaga Almero. Apa kamu tahu kenapa Mama memintamu menerima jabatan direktur?"


Cleantha menggelengkan kepalanya. Ia memang belum memahami apa tujuan Ny. Marina memaksanya menjadi direktur keuangan di Adhiyaksa Group.


"Bukannya Mama mencurigai Raja, tapi Mama sekedar ingin berjaga-jaga. Siapa tahu Raja bermaksud menguasai Adhiyaksa Group sepeninggal Alvian. Lagipula kita belum tahu siapa wanita yang akan menjadi istri Raja selanjutnya. Bisa saja wanita itu serakah lalu mempengaruhi Raja untuk melakukan tindakan yang tidak benar."


Ny. Marina memegang tangan Cleantha erat-erat. Ia bisa merasakan telapak tangan menantunya yang sedingin salju.


"Mama mohon lakukan ini untuk Mama dan Almero. Lindungilah hak Almero sampai nanti dia siap menjadi pewaris Adhiyaksa Group. Mama juga yakin jika kamu menyibukkan diri dengan pekerjaan, rasa kehilangan dan kerinduanmu kepada Alvian bisa sedikit berkurang," ucap Ny. Marina meyakinkan Cleantha.


Melihat betapa sang ibu mertua menggantungkan harapan kepadanya, Cleantha akhirnya mengalah.


"Baik, Ma. Aku akan mencoba melakukan yang terbaik di perusahaan. Terima kasih karena Mama sudah memberikan kepercayaan kepadaku," jawab Cleantha memeluk Ny. Marina.


Bagi Cleantha momen kedekatannya dengan Ny. Marina tidak akan terlupakan. Setelah bertahun-tahun hubungan mereka dingin dan kaku, paling tidak kini mereka bisa menjadi lebih dekat sebagai menantu dan ibu mertua.


...****************...


"Silakan, Nyonya," kata Pak Malik membukakan pintu mobil untuk Cleantha.

__ADS_1


"Terima kasih, Pak," jawab Cleantha.


Meskipun masih sedikit ragu, Cleantha melangkah keluar dari mobil menuju ke lobi utama. Hari ini adalah hari pertamanya diperkenalkan sebagai direktur keuangan.


Dengan setelan blazer dan rok serba hitam yang elegan, Cleantha melangkah dengan mantap. Tidak ada ketakutan lagi di dalam dirinya.


Secara skill, ia merasa cukup mampu menjalankan tugasnya. Pasalnya, sejak dulu Alvian sering mengajarinya bagaimana melakukan pekerjaan sebagai direktur keuangan dan CEO. Bahkan saat Cleantha sedang mengandung dan merasa bosan di rumah, seringkali ia membantu Alvian memeriksa beberapa laporan.


"Selamat pagi, Bu," sapa para karyawan dan manajer yang berpapasan dengan Cleantha.


Cleantha menganggukkan kepalanya sambil tersenyum. Sungguh mereka dibuat terpana dengan pesona dan penampilan baru Cleantha. Wanita ini terlihat memukau, anggun sekaligus misterius. Jauh berbeda dengan Cleantha yang dulu menjadi staf keuangan.


Di dalam lift, Cleantha langsung memencet tombol angka sembilan.


Tak lama, pintu lift pun terbuka. Sembari menarik nafas panjang, Cleantha membuka pintu ruang direktur.


Seorang pria berjas abu-abu menyambut kedatangannya dengan hangat. Pria itu adalah Ryan, mantan asisten Alvian yang sekarang akan menjadi asisten pribadinya.


"Selamat pagi dan selamat datang, Bu Cleantha. Mari saya antar ke ruang kerja Anda. Kemarin ruangan ini sudah dibersihkan dan ditata ulang supaya Anda merasa lebih nyaman. Saya juga menyuruh OB untuk memasang foto Tuan Alvian dan Almero," kata Ryan membuka lebar-lebar pintu ruang direktur.


"Terima kasih, Ryan."


Cleantha melangkah masuk ke ruangan milik almarhum suaminya itu.


Aroma mint segar memenuhi indera penciumannya. Itulah aroma pengharum ruangan yang disukai oleh Alvian. Cleantha sengaja menggunakannya agar ia merasa Alvian selalu berada di dekatnya.


Cleantha mengedarkan pandangan ke sekeliling ruangan. Semua mengingatkannya akan kenangan demi kenangan indah bersama Alvian. Dimana mereka bertemu di kantor untuk pertama kalinya, lalu saat Alvian menceramahinya panjang lebar mengenai pekerjaan. Dan momen paling menyentuh ketika Alvian memeluknya dan menghapus butiran air matanya yang tertumpah.


Cleantha mengambil foto Alvian dari meja kerjanya. Dengan mata berkaca-kaca, ia memandangi foto itu.


"Al, aku berjanji akan melakukan pekerjaan ini dengan baik untukmu dan anak kita,"


batin Cleantha dalam hati.


**Bersambung

__ADS_1


Jangan lupa berikan jejak like, comment, vote, dan hadiah untuk Author**.


__ADS_2