Istri Bayaran Milik Tuan Raja

Istri Bayaran Milik Tuan Raja
Bab 92 Terungkapnya Kebenaran


__ADS_3

Hampir semalaman Cleantha sulit untuk memejamkan matanya. Banyak hal yang membebani pikirannya, terutama hubungan barunya dengan Alvian dan masa lalunya bersama Raja. Kegelisahan seperti ini entah sampai kapan harus ditanggungnya sendiri.


Setelah bangun, Cleantha buru-buru mandi lalu keluar dari kamarnya.


"Pak, maaf, saya bangun kesiangan. Ini sudah setengah tujuh pagi, saya akan membuat sarapan," ucap Cleantha melihat Alvian sudah berada di dapur.


Bahkan ia telah berpakaian rapi dengan setelan jas kerja berwarna abu-abu.


"Kamu tidak perlu khawatir. Sebentar lagi Bu Nur akan datang. Aku memintanya kesini lebih pagi supaya bisa membantu menyiapkan sarapan," kata Alvian sambil menyeduh kopinya.


Mencium bau kopi yang menyengat, membuat Cleantha merasa mual. Ia berlari ke arah wastafel dan memuntahkan sebagian makanannya semalam.


"Clea, kamu tidak apa-apa?" tanya Alvian panik.


Dengan tangan kanannya, Alvian memijat tengkuk Cleantha untuk mengurangi rasa mualnya.


"Saya sudah biasa begini, Pak. Nanti akan membaik," ujar Cleantha menghela nafas.


"Sebentar, aku ambilkan air putih hangat untukmu."


"Pak, tapi itu ada suara bel. Mungkin Bu Nur sudah datang," kata Cleantha mendengar dentingan bel beberapa kali.


"Iya, tunggu disini."


Melihat kepanikan di wajah Alvian, Cleantha merasa bersalah. Tidak seharusnya ia merepotkan Alvian dengan gejala kehamilannya. Padahal ia bukanlah ayah dari bayi yang dikandungnya.


"Tuan Alvian, Anda ada disini? Saya kira hanya ada Non Cleantha," tanya Bu Nur terkejut.


"Iya, Bu, saya menginap disini," jawab Alvian singkat.


Alvian bergegas mengambil air putih untuk Cleantha yang masih muntah untuk kedua kalinya.


"Clea, minumlah dulu," ucap Alvian lembut.


Melihat pemandangan di depan matanya, Bu Nur merasa curiga terhadap pasangan muda mudi itu. Terlebih Alvian nampak sangat mencemaskan Cleantha.


"Non muntah ya?" tanya Bu Nur mencari tahu.


"Iya, Bi, biasa begini di pagi hari."


"Lalu Non mau dibuatkan apa untuk sarapan?"


"Saya ingin makan yang manis-manis Bu. Kemarin saya membeli selai hazelnut di supermarket. Tolong buatkan saya roti panggang dilapisi selai," kata Cleantha.


Bi Nur mengernyitkan dahinya. Melihat tanda-tanda yang dialami Cleantha, sudah jelas gadis itu sedang berbadan dua.


"*Aku yakin Nona Cleantha hamil muda dan Tuan Alvian pasti ayah bayinya. Lalu kenapa mereka tidak menika*h?"


gumam Bu Nur menggeleng-gelengkan kepala.


...****************...


Sebelum berangkat bekerja, Alvian menanyakan lagi kondisi kesehatan Cleantha.


"Clea, kalau kamu merasa tidak sehat, tidak usah masuk kerja hari ini. Istirahat saja di apartemen. Nanti siang aku sudah kembali, aku bisa menemanimu," ucap Alvian membantu Cleantha duduk.

__ADS_1


"Saya baik-baik saja, Pak. Saya masih kuat bekerja."


"Kamu tidak bisa begini terus. Nanti saat perutmu sudah membesar, kamu akan kerepotan melakukan pekerjaan di kantor."


"Tapi saya tidak mungkin berdiam diri saja di rumah. Saya harus mandiri untuk...."


"Aku tahu apa maksudmu. Seandainya aku bilang aku yang akan membiayai kehidupanmu dan bayimu, kamu pasti akan menolaknya."


"Bagaimana kalau aku menawarkan pekerjaan yang lain untukmu. Apa kamu bersedia menerimanya?" tanya Alvian tiba-tiba.


"Pekerjaan apa, Pak?"


"Menjadi asisten direktur keuangan," sahut Alvian mengejutkan Cleantha.


"Asisten Bapak? Tapi Bapak sudah memiliki asisten di kantor," ucap Cleantha keheranan.


Senyuman tipis tersungging di bibir Alvian.


"Apa kamu keberatan jika aku ingin menambah satu asisten lagi? Pekerjaanku cukup banyak. Aku sangat terbantu jika memiliki satu asisten di rumah."


"Aku akan memberikan gaji yang lebih tinggi daripada gajimu sekarang. Dan juga bonus spesial, yaitu aku akan menjadi mentormu. Mengajarimu secara langsung sampai kamu bisa menguasai pekerjaanku. Bagaimana? Kamu tertarik?" tanya Alvian membuka tawarannya.


"Hmmm, saya belum tahu, Pak," jawab Cleantha ragu-ragu.


"Aku tidak memberikan kesempatan ini kepada yang lain. Khusus kepadamu saja. Penawaranku hanya berlaku sampai nanti malam. Jadi cepat berikan jawabannya."


"I..iya, Pak, nanti saya pikirkan. Tapi saya tidak yakin bisa membantu pekerjaan Bapak. Saya belum berpengalaman," ucap Cleantha merasa rendah diri.


"Kamu pasti bisa karena aku adalah guru yang sabar dalam mendidik muridnya. Siapa tahu suatu hari nanti, kamu bisa menggantikan aku menjadi direktur keuangan di Adhiyaksa Group."


"I..itu tidak mungkin. Mana mungkin saya menjadi direktur," sanggah Cleantha.


"Aku hanya bercanda. Jangan dianggap serius. Tentu saja yang bisa menggantikan aku hanyalah istriku," kata Alvian sambil menghabiskan kopinya.


Mendengar perkataan Alvian entah mengapa Cleantha merasa bahagia sekaligus resah. Mendadak timbul firasat tidak enak di hatinya.


"Ayo, kita berangkat sekarang, Clea," ucap Alvian menggandeng tangan Cleantha.


...****************...


Ny. Marina berjalan dengan gelisah di dalam kamarnya. Ia sedang menantikan laporan dari Tuan Leonard mengenai Cleantha. Namun hingga pukul enam sore, pria itu belum juga menelponnya.


"Drrrt, drrrtttt...."


Ny. Marina bergegas meraih ponselnya yang bergetar dari atas nakas.


"Halo, Tuan Leon, akhirnya Anda menghubungi saya juga. Bagaimana hasil penyelidikan Anda hari ini? Apa wanita itu bersama putra saya?" tanya Ny. Marina tidak sabar.


"Iya, Nyonya. Pagi hari saya melihat Nona Cleantha berangkat semobil dengan Tuan Alvian ke kantor Adhiyaksa Group. Menjelang pulang kerja, Tuan Alvian juga menjemputnya."


"Lalu kemana Alvian mengantar Cleantha? Apa Tuan Leon sudah mencatat alamat rumah wanita itu?" tanya Ny. Marina.


"Sudah, Nyonya, tapi...."


"Tapi kenapa, Tuan?"

__ADS_1


Suara Tuan Leonard terdengar ragu-ragu.


"Nona Cleantha tidak pulang ke rumahnya, tapi dia ikut bersama Tuan Alvian ke apartemen San Lorenzo."


Ny. Marina hampir saja menjatuhkan ponselnya ke lantai. Bibirnya memucat mendengar fakta memalukan yang dilaporkan oleh Tuan Leonard.


Ia tidak menduga bila Alvian telah tinggal serumah dengan Cleantha. Artinya mereka sudah hidup bersama tanpa ikatan pernikahan. Perbuatan ini telah melewati batasan moral dan mencoreng nama baik keluarga Adhiyaksa.


"Terima kasih Tuan Leonard atas laporannya. Saya akan segera mentransfer sisa pembayaran untuk Anda," ucap Ny. Marina menutup telponnya.


"Aku tidak boleh membiarkan ini. Besok aku akan menemui Cleantha dan memaksanya meninggalkan Alvian,"


batin Ny. Marina menahan amarahnya.


...****************...


Raja turun dari mobilnya dengan wajah tegang. Melihat kafe milik Fendi baginya sama seperti melihat gerbang neraka. Seluruh tangannya terasa gatal, ingin cepat-cepat menghajar pria brengsek yang menghancurkan rumah tangganya itu.


Bukan hanya sekali Fendi merusak rumah tangganya, tapi dua kali. Pertama ia menyelingkuhi Zevira dan kedua ia membuat Cleantha dimiliki oleh Alvian. Sungguh kejahatannya tidak layak untuk dimaafkan.


Dengan langkah lebar, Raja membuka pintu kafe bernuansa retro itu. Saat melangkah ke dalam, Raja semakin geram. Desain maupun furniture yang ada di kafe itu mengingatkannya tentang Zevira.


Masih terekam jelas di memorinya bagaimana Zevira dahulu sangat bersemangat merancang kafe milik Fendi. Saat itu Zevira berdalih ingin membantu Fendi, dan dengan bodohnya ia percaya begitu saja. Ternyata itulah awal dari pengkhianatan cinta yang dilakukan Zevira.


"Raja," sapa Fendi berjalan menghampiri Raja.


Ekspresinya nampak cemas sekaligus takut.


"Ada tujuan apa kamu memanggilku kesini?" tanya Raja berusaha menguasai diri.


"Sebaiknya kita ke dalam. Lebih baik kita bicara empat mata di kantorku," ucap Fendi mengajak Raja melewati ruangan kafe yang sedang ramai oleh pengunjung.


"Duduklah, Raja," kata Fendi mempersilakan sepupunya itu duduk.


"Tidak usah berbasa basi lagi. Langsung saja katakan apa maumu sebelum aku memberimu pelajaran," ancam Raja mencengkeram kerah kemeja Fendi.


"Tenang dulu, Raja. Aku memintamu kesini bukan untuk mencari gara-gara. Aku ingin memperbaiki kesalahanku padamu dan Alvian."


"Kesalahan yang mana? Kesalahanmu tidak terhitung jumlahnya dan tidak ada jalan keluar untuk memperbaikinya," bentak Raja sengit.


"Aku tahu, Raja. Meminta maaf pun tidak ada gunanya. Pernikahanmu terlanjur hancur karena perbuatanku. Aku dibutakan oleh nafsu dan cinta buta kepada Vira. Tapi aku sudah menyadari kesalahanku. Zevira hanya mempermainkan aku saja. Dia tidak sungguh-sungguh mencintaiku maupun mencintaimu. Yang Vira pedulikan hanyalah harta dan kenyamanan hidup."


Fendi tertunduk karena merasa malu akan perbuatannya.


"Raja aku akan mengakui hal yang sangat penting mengenai malam penjebakan itu."


"Mengakui apa? Katakan dengan jelas!!!" bentak Raja mengguncangkan bahu Fendi.


"Vira memang menyuruhku memasukkan obat perangsang ke minuman Alvian. Tapi...sebenarnya aku tidak melakukan itu. Aku tidak tega menghancurkan Alvian karena sejak remaja aku bersahabat dengannya. Aku...hanya memasukkan obat tidur ke dalam minumannya. Jadi Alvian dan Cleantha sama-sama tertidur lelap di kamar hotel itu. Mereka tidak mungkin melakukan hubungan intim," ungkap Fendi terbata-bata.


Aliran darah Raja serasa berhenti detik itu juga. Penjelasan Fendi sama seperti sinar matahari yang mampu mencairkan bongkahan es di hatinya.


"Apa kamu tidak membohongiku?"


"Tidak, Raja, aku bersumpah kalau aku mengatakan kebenaran. Saat itu aku berbohong karena takut Vira akan memarahiku. Tapi inilah kenyataan yang sebenarnya. Alvian dan Cleantha tidak bersalah. Aku yang membuka pakaian mereka dan memotret mereka dalam keadaan tidur, supaya kamu mengira mereka telah tidur bersama," jelas Fendi secara gamblang.

__ADS_1


Raja melepaskan Fendi dari cengkeramannya. Ia melangkah pergi, meninggalkan Fendi yang masih terpaku di tempatnya. Tujuan Raja hanya satu. Segera menemukan Alvian dan Cleantha, lalu meminta maaf pada adik dan istrinya itu. Dan yang paling penting ia akan meminta pada Cleantha untuk kembali ke pelukannya.


BERSAMBUNG


__ADS_2