
Zevira berjalan keluar dari kamarnya dengan menggunakan tongkat penyangga. Ia berniat menelpon Fendi untuk mengabarkan gugatan cerainya kepada Raja.
Namun Zevira terkejut ketika melihat ayahnya, Tuan Bayu Narendra, datang dengan tiba-tiba. Padahal ayahnya itu telah menetap di Hongkong untuk menikmati hari tuanya.
"Papa? Kenapa Papa pulang ke Jakarta tanpa memberitahu aku?" tanya Zevira terkejut.
Tuan Bayu meletakkan kopernya sambil memicingkan mata.
"Papa pulang karena mendengar kabar buruk dari pengacara kita, Tuan Darwin. Dia mengatakan kamu akan bercerai dari Raja. Apa benar itu?"
"Benar, Pa. Aku menggugat cerai Raja dan mengajukan hak asuh atas Ivyna."
Tuan Bayu mengernyitkan alisnya.
"Papa tidak yakin kamu bisa memenangkan hak asuh atas Ivyna. Kamu pikir Papa tidak tahu kalau kamu berselingkuh dengan sepupunya Raja, yang bernama Fendi. Papa sudah mengutus orang kepercayaan Papa untuk mencari tahu penyebab perceraian kalian. Andai saja Wijaya masih hidup, Papa pasti akan malu menghadapinya. Perbuatanmu ini sudah merusak persahabatan keluarga Narendra dan Adhiyaksa."
Zevira mendengus kesal.
Papanya itu masih saja suka menceramahinya dengan aturan-aturan moral. Padahal selama ini dia lebih banyak berada di luar negri daripada mempedulikannya sebagai anak. Berbeda dengan mamanya yang selalu memanjakannya. Sayang sekali mamanya sudah meninggal dunia.
"Pa, bukan hanya aku yang salah dalam hal ini. Raja juga tidak setia. Buktinya dia menikah lagi lalu mengabaikan aku. Raja juga sedang dalam proses perceraian dengan istri keduanya. Aku bisa menggunakan sisi buruk Raja ini untuk mengalahkannya di pengadilan."
"Kamu dan Raja sama-sama bersalah. Tapi Papa tidak akan tinggal diam. Papa sudah berjanji pada Wijaya bahwa satu-satunya menantu Papa adalah Raja. Begitu pula Wijaya hanya ingin kamu yang menjadi menantunya."
"Tidak boleh ada perceraian di antara kalian berdua. Apalagi cucu Papa yang akan menjadi korban. Papa akan mendatangi Raja hari ini juga untuk bicara dengannya," tegas Tuan Bayu.
"Pa, tolong jangan lakukan hal itu. Raja tidak mencintaiku lagi. Untuk apa aku kembali padanya?" rengek Zevira.
"Papa yang akan meminta maaf pada Raja atas segala kesalahanmu. Papa yakin Raja akan menerimamu karena dia sangat menghormati Papa."
Zevira menggelengkan kepalanya.
"Papa salah sangka dalam hal ini. Raja tidak akan mendengarkan Papa karena dia sangat membenciku," sahut Zevira.
"Suka atau tidak suka, Papa tetap akan meminta kalian rujuk. Jika Raja menolaknya, Papa terpaksa akan menggunakan wewenang Papa sebagai anggota dewan direksi Adhiyaksa Group."
"Apa maksud Papa?" tanya Zevira tidak mengerti.
"Papa akan meminta dewan direksi mengadakan rapat untuk menggeser Raja dari posisi CEO. Sekaligus mencalonkan putra kedua Wijaya sebagai CEO yang baru. Raja pasti tidak akan menerima hal ini. Jadi mau tidak mau dia harus menuruti permintaan Papa."
Senyum kemenangan tersungging di wajah Zevira.
"Terima kasih, Pa. Kenapa cara ini tidak terpikir olehku dari dulu," ucap Zevira senang.
"Vira, Papa melakukan ini demi Ivyna dan Wijaya. Tapi bukan berarti Papa mentolerir kesalahanmu. Bila kamu kembali pada Raja, jadilah istri yang baik. Jangan melakukan perbuatan buruk lagi. Jika kamu mengulangi kesalahanmu, maka Papa akan mencoret namamu dari daftar keluarga Narendra," ucap Tuan Bayu melangkah pergi.
...****************...
Cleantha bangun pukul enam karena bunyi alarm di ponselnya. Sehabis menggosok gigi di pagi hari, Cleantha merasa mual. Beruntung kali ini dia hanya muntah sekali saja, tidak seperti kemarin.
Suara denting bel, membuat Cleantha buru-buru meninggalkan wastafel.
Ketika membuka pintu, seorang wanita paruh baya telah berdiri menantinya.
"Maaf, Non ini siapa ya?" tanya wanita itu terkejut melihat Cleantha.
__ADS_1
"Saya Cleantha, apa Ibu yang bernama Bu Nur?"
"Iya betul, Non. Saya pelayan yang biasa membersihkan apartemen Tuan Alvian. Kenapa Non yang membukakan pintu? Dimana Tuan Alvian?" tanya Bu Nur memandang Cleantha penuh selidik.
"Pak Alvian semalam tidak menginap disini, Bu," jawab Cleantha menjelaskan.
"Oh, lalu Non Cleantha ini siapanya Tuan Alvian? Pacarnya ya?"
"Bukan, saya bawahannya di kantor. Silakan masuk, Bu Nur," kata Cleantha mengalihkan pembicaraan.
"Ah, nggak usah malu Non. Saya ini orangnya modern. Saya sudah sering membersihkan apartemen yang ditinggali pasangan muda mudi. Tidak masalah untuk saya," kata Bu Nur mengambil kesimpulan sendiri.
Cleantha memilih diam. Percuma saja ia menyangkal, karena status hubungannya dengan Alvian memang ambigu. Jika ia menjelaskan, Bu Nur juga tidak akan mempercayainya.
"Non, saya izin bersih-bersih dulu. Kalau ada baju Non yang mau dicuci, letakkan saja di keranjang," kata Bu Nur memulai pekerjaannya.
"Iya, Bu, terima kasih."
Cleantha merasa perutnya sangat lapar. Ia berusaha mencari makanan, tapi di kulkas tidak tersedia makanan yang dia inginkan.
Tiba-tiba saja pagi ini dia ingin makan semangkuk bubur ayam yang hangat.
Cleantha memutuskan untuk memesannya lewat aplikasi.
Ia mengambil ponsel dari atas nakas, namun ponselnya tiba-tiba berdering.
"Clea, aku ada di depan lobi. Cepat turun, kita akan berangkat bersama ke kantor," kata Alvian dari balik telpon.
"Bapak ada di lobi?" tanya Cleantha keheranan.
"Clea, kenapa tidak menjawab? Apa kamu muntah lagi? Atau jangan-jangan kamu sedang melamun?" tanya Alvian mengejutkan Cleantha.
"I...iya, Pak. Saya akan segera turun."
Dengan cepat, Cleantha menyambar tasnya lalu berpamitan kepada Bu Nur. Dia tidak ingin menambah kemarahan Alvian setelah kejadian semalam.
Setibanya di lobi, mobil Alvian sudah menunggunya.
"Maaf, Pak, apa Anda sudah menunggu lama?"
"Tidak, baru sekitar lima menit. Bagaimana kondisi kesehatanmu? Apa kamu merasa lebih baik dari kemarin?" tanya Alvian.
"Saya cukup sehat, Pak. Saya hanya muntah sekali tadi pagi."
"Baguslah. Kita pergi makan dulu sebelum ke kantor. Aku yakin kamu belum sarapan."
Mendengar Alvian menyinggung tentang sarapan, keinginan Cleantha untuk menikmati bubur ayam semakin besar. Tapi dia tidak berani berterus terang pada Alvian.
Cleantha memilih diam ketika Alvian mengarahkan mobilnya ke restoran cepat saji. Namun di dalam hatinya ia sama sekali tidak menginginkan makanan itu. Tanpa sadar, Cleantha mengerucutkan bibirnya.
Ketika Alvian selesai memarkirkan mobilnya, ia melihat raut wajah Cleantha yang cemberut.
"Kenapa kamu cemberut seperti itu? Apa aku melakukan kesalahan lagi padamu?" tanya Alvian.
"Eh, bukan, Pak. Saya hanya..."
__ADS_1
"Hanya apa? Katakan dengan jelas. Aku belum punya pengalaman menangani wanita yang sedang hamil, jadi aku tidak bisa menebak apa kemauanmu."
"Hmmm, saya tidak ingin makan disini. Saya...mau makan bubur ayam saja," ucap Cleantha jujur.
"Di restoran ini juga ada bubur ayam. Kamu bisa memesannya."
"Tapi saya tidak mau. Saya maunya bubur ayam yang dijual di gerobag atau warung kecil."
Alvian terkejut mendengar permintaan aneh dari Cleantha. Tapi bagaimanapun ia harus bersabar mengingat Cleantha sedang mengandung. Hitung-hitung sebagai latihan jika dia nanti menjadi ayah bagi calon keponakannya.
"Baiklah, kita akan mencari bubur ayam di sekitar sini."
"Terima kasih, Pak," kata Cleantha bersemangat.
Kurang lebih lima belas menit mereka berputar untuk mencari penjual bubur ayam. Akhirnya Alvian menemukan sebuah warung tenda yang cukup bersih.
"Kamu mau makan disitu?"
"Iya, Pak."
Cleantha turun dari mobil lebih dulu dan memesan dua porsi bubur ayam.
Namun saat memandang Alvian yang turun dari mobil mewahnya, Cleantha merasa bersalah.
Tidak seharusnya ia mengajak bos besar Adhiyaksa Group makan di pinggir jalan. Pastilah Alvian yang hidupnya bak seorang pangeran, tidak pernah menyentuh makanan rakyat jelata seperti dirinya. Cleantha sungguh menyesali sifatnya yang berubah kekanak-kekanakan.
"Pak, maafkan saya. Kalau Bapak tidak mau, tidak usah dimakan. Nanti Bapak sarapan saja di tempat lain."
Alvian tidak menjawab ucapan Cleantha.
Ia mengambil sendok lalu menyuapkan bubur itu ke mulutnya. Awalnya ekspresinya nampak tidak nyaman, namun lambat laun ia bisa menikmati makanan itu.
"B**aru pertama kali aku melihat Pak Alvian sepolos ini,"
gumam Cleantha tersenyum sendiri.
...****************...
Hampir semalaman Raja tidak bisa tidur karena memikirkan banyak hal. Daripada merasa hampa di rumah, ia memutuskan untuk berangkat kerja lebih awal.
Pak Ahmad, supir Raja, sampai tercengang melihat tuannya itu berangkat ke kantor pada pukul tujuh pagi.
Di tengah perjalanan, Raja menerima panggilan telpon dari sebuah nomor tak dikenal.
Raja terhenyak ketika mendengar suara pria tua yang penuh wibawa dari balik telpon.
"Pagi, Raja. Ini Papa Bayu," sapa Tuan Bayu kepada menantunya.
"Kapan Papa pulang dari Hongkong? Kenapa tidak mengabariku?" tanya Raja terkejut.
"Papa baru tiba semalam Raja. Bisakah kita bicara empat mata hari ini? Ada masalah penting yang harus kita diskusikan."
"Tentu saja bisa, Pa."
"Kalau begitu Papa akan datang ke kantor Adhiyaksa Group satu jam lagi. Sampai jumpa disana, Raja," ucap Tuan Bayu menutup telponnya.
__ADS_1
BERSAMBUNG