Istri Bayaran Milik Tuan Raja

Istri Bayaran Milik Tuan Raja
Bab 85 Cinta yang Lain


__ADS_3

Happy Reading


Mobil Alvian berbelok ke sebuah lokasi apartemen elite.


Entah ada berapa lantai di gedung bercat serba putih itu. Yang pasti apartemen itu hanya dihuni oleh kalangan yang berduit.


Sesudah memarkirkan mobilnya, Alvian mengajak Cleantha masuk ke lobi.


"Apartemenku no. 710, ada di lantai tujuh," kata Alvian setelah mereka berada di dalam lift.


Alvian berjalan cepat menuju ke pintu apartemennya.


"Clea, mendekatlah kesini. Aku akan menunjukkan padamu bagaimana caranya membuka pintu."


Tanpa membuang waktu, Alvian menempelkan kartu akses masuk.


"Perhatikan baik-baik passwordnya, jangan sampai lupa. Atau catat saja di ponselmu. Jika kamu lupa angkanya, kamu tidak akan bisa masuk ke dalam. Mungkin aku tidak bisa datang kesini setiap hari untuk mengantarmu."


Cleantha mengangguk. Ia mengeluarkan ponselnya dan mencatat password yang diberikan Alvian.


Pintu apartemen itu pun terbuka. Alvian masuk lebih dahulu, menyalakan lampu sehingga ruangan menjadi terang benderang.


Sementara Cleantha nampak ragu-ragu. Ia masih mematung di ambang pintu.


"Masuklah, Clea. Ini sudah malam. Akan kutunjukkan dimana kamarmu," ajak Alvian.


"I..iya, Pak."


Cleantha memandang ke sekelilingnya. Ada ruang tamu, dapur, dan tiga buah ruangan lain.


Untuk ukuran seorang pria lajang seperti Alvian, apartemen itu terbilang cukup luas. Bahkan mungkin lebih cocok jika dipakai untuk pasangan yang baru menikah. Namun yang paling menarik perhatiannya adalah sebuah piano besar di tengah ruangan.


Melihat piano itu, Cleantha teringat akan masa-masa sekolahnya. Dulu ia sangat berminat untuk belajar piano.


Baginya mendengarkan dentingan musik, bisa mengobati rasa sedih dan kesepiannya. Namun karena keterbatasan ekonomi keluarganya, Cleantha terpaksa mengubur mimpinya itu dalam-dalam.


"Disini ada dua kamar. Yang di depan adalah kamarku. Kamu bisa menggunakan kamar yang di tengah. Kamar itu belum pernah ada yang memakainya karena aku belum lama membeli apartemen ini. Sedangkan yang di belakang itu aku gunakan sebagai ruang kerja jika aku menginap disini," terang Alvian.


Alvian menatap Cleantha yang termenung memandangi piano miliknya.


"Apa kamu bisa bermain piano? Kalau bisa pakailah untuk mengisi waktu luangmu. Memainkan piano bisa menghilangkan kebosanan. Terkadang juga bisa membuat suasana hati menjadi lebih baik. Itu yang kurasakan dari pengalamanku sendiri," ucap Alvian.


"Saya tidak terlalu bisa bermain piano, Pak. Hanya mengerti dasar-dasarnya sewaktu saya ikut ekstrakurikuler di sekolah."


"Kalau begitu kapan-kapan aku akan mengajarimu. Sejak kecil aku sudah berlatih piano dan aku memperdalamnya di London. Jadi aku cukup mampu melatihmu."


Alvian berjalan menuju ke dapur.

__ADS_1


"Kamu bisa menggunakan dapur ini jika ingin memasak makanan. Tapi aku tidak menyimpan bahan makanan di kulkas. Hanya ada kopi, susu, dan beberapa makanan kaleng. Mungkin nanti kalau aku memiliki istri, baru kulkas ini akan terisi penuh."


Entah mengapa mendengar Alvian berkata begitu, Cleantha merasa tidak enak hati. Pastilah Alvian membeli apartemen itu untuk calon istrinya. Atau mungkin sebagai persiapan pernikahannya dengan Ayesha. Namun sekarang Alvian malah meminjamkan apartemen itu kepadanya.


"Baiklah, aku pergi sekarang. Oh ya, setiap pagi ada pelayan yang datang untuk membersihkan apartemenku. Dia seorang wanita paruh baya, namanya Ibu Nur. Kamu bisa minta bantuan padanya jika membutuhkan sesuatu," kata Alvian sambil melangkah pergi.


"Pak, tunggu. Saya sangat berterima kasih atas kebaikan Bapak. Tapi saya tidak mau merepotkan Bapak lagi. Saya hanya akan tinggal sementara disini sampai saya menemukan tempat tinggal baru."


Alvian menoleh dengan tatapan tajam. Eskpresinya menunjukkan rasa tidak suka.


"Merepotkan? Jadi kamu masih menganggapku orang asing setelah serangkaian kesulitan yang kita lalui bersama?"


"Pak, bukan itu maksud saya. Saya hanya terlalu banyak berhutang budi pada Bapak," jawab Cleantha menundukkan kepalanya.


"Sudahlah, percuma saja berdebat denganmu. Kalau kamu tidak ingin menerima bantuanku secara cuma-cuma, maka kamu bisa membayar apartemen ini setiap bulan. Anggap saja aku sedang berbaik hati menyewakan apartemenku seharga kamar kost. Tapi jangan ulangi perkataanmu itu," ucap Alvian seraya melangkah pergi.


Dari nada suaranya yang meninggi, Cleantha bisa menebak jika Alvian marah kepadanya.


Cleantha bingung harus melakukan apa. Pria itu tadi bersikap sangat lembut padanya, namun kini ia menjadi marah hanya karena ucapannya soal "merepotkan" dan "berhutang budi".


"Apa aku salah bicara sehingga menyinggung perasaan Pak Alvian? Besok aku harus minta maaf padanya. Mungkin aku juga perlu melakukan sesuatu sebagai bentuk permintaan maafku. Hari ini aku juga sudah bersikap keterlaluan dengan memaki dan menyalahkan Pak Alvian."


Cleantha memandang ke arah dapur. Tiba-tiba saja ia mendapatkan ide cemerlang.


"Besok sepulang kerja aku akan berbelanja sebentar. Aku akan memasak makan malam untuk Pak Alvian,"


Cleantha berjalan menuju ke kamarnya. Kamar itu terlihat bersih dengan dilengkapi furniture bergaya modern minimalis. Seprainya yang berwarna biru langit masih terlihat rapi. Tampaknya kamar tersebut memang belum pernah terjamah oleh orang lain.


Cleantha meletakkan tasnya di lantai. Mengeluarkan piyama tidurnya lalu menuju ke kamar mandi.


Ia sengaja berdiam diri, menikmati derasnya pancaran air hangat yang berasal dari shower.


Cleantha berusaha mengenyahkan rentetan peristiwa buruk yang menimpanya hari ini. Semuanya terjadi bertubi-tubi. Namun yang paling menyakitkan adalah perbuatan Raja Adhiyaksa.


Mantan suaminya tersebut telah merenggut pekerjaannya. Dan sebagai kompensasi tutup mulut, Raja lantas memberikan sejumlah uang dalam nominal besar. Perbuatan Raja ini sungguh keterlaluan dan menghujamkan lara ke relung hati Cleantha.


"Tuan Raja pria yang tidak berperasaan. Aku menyesal sudah pernah mencintainya. Besok aku harus mengembalikan uang lima ratus juta itu kepadanya, dan aku tidak perlu berurusan lagi dengan Tuan Raja. Semoga putusan ceraiku juga dipercepat oleh pengadilan,"


pikir Cleantha.


Selesai mandi, Cleantha memakai piyama tidurnya. Ia menuju ke tempat tidur dan membaringkan diri di atas kasur yang empuk.


Memandang ke langit-langit kamar yang tinggi, membuat Cleantha merasa sendirian di apartemen yang luas itu.


Tak ayal, rasa takut mulai menghinggapinya. Mungkinkah ia harus seorang diri dalam menjalani kehamilannya. Tanpa suami, tanpa teman, dan tanpa keluarga.


Sanggupkah dia berjuang melahirkan anaknya tanpa dukungan siapapun. Kemudian ia harus memikul tanggung-jawab besar sebagai orang tua tunggal bagi anaknya kelak. Sampai berapa lama ia mampu bertahan melalui semua itu?

__ADS_1


Cleantha mengelus perutnya sendiri, berusaha menenangkan perasaannya yang berkecamuk.


Karena belum bisa tertidur, Cleantha memutuskan turun dari ranjang. Ia keluar dari kamar untuk mengambil segelas air putih di dapur.


Ketika melewati ruang tamu, Cleantha berhenti sejenak. Ia baru menyadari bahwa di ruang tamu tersebut terpajang beberapa foto Alvian.


Cleantha mendekat dan melihat foto-foto itu satu per satu.


Ada foto Alvian yang masih kecil, saat ia berusia sekitar lima tahun, lalu fotonya menjelang remaja, dan ketika sudah beranjak dewasa.


Dengan tangan kanannya, Cleantha mengambil foto masa kecil Alvian.


"Dari kecil Pak Alvian sudah tampan. Apakah Tuan Raja juga seperti ini? Tapi mereka berdua sangat berbeda, bak bumi dan langit. Jika anakku nanti laki-laki, aku harap dia lebih mirip dengan Pak Alvian. Baik hati, cerdas, dan bijaksana,"


pikir Cleantha tersenyum.


Cleantha meletakkan foto itu dan merasa aneh dengan perasaannya sendiri.


"Kenapa aku berpikir yang tidak-tidak tentang Pak Alvian? Mungkin ini karena pengaruh hormon kehamilanku sehingga pikiranku jadi kacau. Lebih baik aku tidur sekarang,"


pikir Cleantha meletakkan foto Alvian.


...****************...


Alvian membuka pintu rumahnya perlahan-lahan. Berharap tidak menimbulkan suara berisik yang akan membangunkan mamanya.


Namun siapa sangka mamanya ternyata masih ada di ruang tengah.


"Al, tumben kamu pulang ke rumah. Bukankah sudah empat hari kamu tinggal di apartemen," kata Ny. Marina melipat tangannya.


"Apa yang membawamu kesini? Apa kamu sudah berubah pikiran dan menuruti nasehat Mama? Kamu akan minta maaf pada Ayesha, kan?" tanya Ny. Marina mendesak Alvian.


"Ma, aku baru pulang dan Mama sudah membahas tentang Ayesha. Berapa kali harus kukatakan, aku tidak bisa melanjutkan hubungan dengan Ayesha. Aku tidak mencintainya. Biarkan aku istirahat, Ma," kata Alvian berjalan menaiki tangga lantai dua.


"Al, kamu terus menerus mengatakan tidak mencintai Ayesha. Lalu siapa yang kamu cintai sebenarnya? Apakah diam-diam kamu menjalin hubungan dengan seorang gadis? Jika iya, kamu harus memperkenalkan gadis itu dulu kepada Mama," teriak Ny. Marina dari bawah tangga.


Alvian berhenti dan menatap ke arah Ny. Marina.


"Aku sudah dewasa, Ma. Jangan memperlakukan aku seperti anak kecil. Aku memang mencintai seorang wanita, tapi aku harus menunggu sampai dia siap menerima cintaku. Dan jika saat itu tiba, baru aku akan mengajaknya menemui Mama," kata Alvian kembali menyusuri anak tangga.


Ny. Marina hanya bisa memendam kekesalan melihat tingkah laku Alvian yang selalu menentang kemauannya. Anak tunggalnya itu memang berhati emas, tapi justru itulah yang menjadi titik kelemahannya.


"Aku harus mencari tahu secepatnya siapa gadis yang dicintai Alvian. Aku akan membuat janji temu dengan Ayesha dan bertanya langsung padanya. Sebagai ibunya, aku harus mencegah Alvian berhubungan dengan wanita yang tidak jelas. Jangan sampai dia berakhir seperti Raja yang menikahi gadis dari kalangan bawah,"


batin Ny. Marina membulatkan tekad.


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2