
Cleantha masih merintih menahan rasa sakit. Peluh mulai membasahi keningnya. Selain kram dan nyeri yang menyerangnya, Cleantha juga dilanda ketakutan. Takut akan kehilangan buah hati yang kini bersemayam di rahimnya.
"Sabar Non, tahan sebentar," ucap Bu Nur sambil mengelap keringat di dahi Cleantha.
Ny. Marina berjalan mondar-mandir di ruang tamu dengan gelisah. Melihat Cleantha nampak menderita, membuatnya merasa bersalah. Terlebih bayi yang sedang dikandung Cleantha pastilah keturunan keluarga Adhiyaksa. Entah ayah bayi tersebut Raja atau Alvian, yang jelas bayi itu memiliki darah Adhiyaksa.
"Sakit sekali," keluh Cleantha memegang perutnya sambil berbaring di ranjang.
Bu Nur terkesiap memandang cairan berwarna merah pekat yang mengalir turun dari pangkal paha Cleantha.
"Nyonya, bagaimana ini? Non Cleantha mengalami pendarahan," lapor Bu Nur kepada Ny. Marina.
Ny. Marina menarik nafas panjang. Ia sendiri bingung apa yang harus dilakukannya dalam situasi seperti ini.
"Kalau Alvian tidak datang juga, kita bawa Cleantha ke rumah sakit," jawab Ny. Marina.
Tak berselang lama, pintu apartemen terbuka. Dua orang pria masuk ke dalam dengan tergesa-gesa. Gurat kecemasan tergambar jelas di wajah mereka.
Ny. Marina mengerutkan dahinya ketika melihat Raja.
"Mama Marina apa yang terjadi pada Clea?" tanya Raja pada ibu tirinya.
"Aku hanya memperingatkannya supaya dia menjauhi Alvian. Aku tidak tahu kalau dia sedang hamil," kilah Ny. Marina.
Melihat kedatangan Alvian, Bu Nur tergopoh-gopoh menghampirinya.
"Tuan, Non Clea mengalami pendarahan. Dia ada di kamar."
"Pendarahan?"
Alvian bergegas ke kamar Cleantha. Ia terkejut melihat darah segar membasahi kedua kaki gadis itu.
"Clea," ucap Alvian panik.
"Pak, tolong saya. Saya tidak mau kehilangan bayi saya," rintih Cleantha menatap Alvian.
"Tenang Clea, bayimu akan baik-baik saja. Ayo kita ke rumah sakit," ucap Alvian hendak menggendong Cleantha. Namun Raja tiba-tiba masuk dan menghalangi adiknya.
"Al, biar aku yang membawa Cleantha. Aku yang akan melindungi Cleantha dan calon anakku," kata Raja mengambil alih tanggung jawab.
Cleantha memandang Raja dengan tatapan nanar. Seolah mempertanyakan, mengapa pria yang telah mencampakkannya itu menunjukkan kepedulian padanya. Namun gelombang rasa sakit yang menyerangnya, membuat Cleantha tak berdaya. Ia hanya bisa pasrah melihat Raja menggendongnya keluar dari kamar.
Alvian mengikuti Raja dari belakang. Meski hatinya dilanda rasa cemburu, ia tidak mampu berbuat apa-apa. Dalam keadaan begini, ia sadar bahwa Raja adalah orang yang paling berhak untuk merawat Cleantha. Karena bagaimanapun Raja adalah ayah dari bayi yang dikandung Cleantha.
Dengan sigap, Raja membawa Cleantha melewati Ny. Marina dan Bu Nur. Hanya satu yang ada di pikirannya saat ini, yaitu menyelamatkan istri dan anaknya dari marabahaya.
"Tunggu, Al. Kamu harus jujur pada Mama. Siapa ayah dari bayinya Cleantha? Raja atau kamu?" tanya Ny. Marina mencegah kepergian Alvian.
"Apa pentingnya menanyakan hal itu sekarang, Ma?Siapapun ayahnya, bayi itu tetap cucu Mama karena aku dan Kak Raja sama-sama anak Mama. Jika Clea keguguran, artinya Mama akan kehilangan seorang cucu," kata Alvian berjalan meninggalkan Ny. Marina yang masih tertegun.
"Kenapa hal memalukan ini harus terjadi? Anak tiriku dan anak kandungku mencintai wanita yang sama,"
batin Ny. Marina merasa frustasi.
__ADS_1
...****************...
Setibanya di rumah sakit, Cleantha langsung ditangani oleh dokter yang bertugas.
Sedangkan Raja dan Alvian menanti dengan gelisah di luar ruangan. Mereka berdua memiliki keinginan yang sama. Berharap agar Cleantha dan bayinya bisa diselamatkan.
Raja melirik ke arah Alvian dengan tatapan tidak suka.
"Sebaiknya kamu pulang saja. Cleantha adalah tanggung-jawabku. Kamu tidak ada hubungannya dengan masalah ini," ucap Raja ketus.
"Tidak ada hubungannya? Aku memang bukan ayah dari bayinya Clea. Tapi aku yang menjaganya dan selalu bersamanya selama ini. Tidak mungkin aku meninggalkan Cleantha sebelum memastikan semuanya baik-baik saja," balas Alvian tidak kalah ketusnya.
"Jadi kamu ingin membanggakan kedekatanmu dengan Cleantha?" tanya Raja kesal.
Alvian belum sempat merespon perkataan Raja, karena dokter yang menangani Cleantha sudah keluar dari ruangannya.
"Dokter, bagaimana keadaan istri saya dan bayinya?" tanya Raja cemas.
"Maaf, Tuan, janin Nyonya Cleantha tidak bisa diselamatkan. Dia mengalami keguguran. Sebentar lagi Nyonya Cleantha akan dipindahkan ke ruang perawatan. Anda bisa menjenguknya," ucap dokter itu nampak prihatin.
Pijakan kaki Raja seakan runtuh seketika. Entah mengapa kenyataan pahit ini harus menimpanya. Satu-satunya pengikat cintanya dan Cleantha lenyap sudah. Tak ada lagi yang tersisa dari pernikahannya dengan Cleantha.
Raja terduduk lemas di kursinya.
"Kak, tabahlah," kata Alvian prihatin melihat keputusasaan di mata Raja.
Ketika para perawat memindahkan Cleantha ke ruang rawat inap, Raja dan Alvian mengikuti mereka.
Dengan ragu-ragu, Raja melangkahkan kakinya yang terasa berat.
Dari tempatnya berdiri, ia melihat pandangan mata Cleantha yang kosong. Sekosong jiwa dan pikiran gadis itu yang mengembara entah kemana.
Parasnya pucat pasi, seolah kehilangan semangat hidupnya.
"Maafkan aku. Ini semua salahku," ucap Raja mendekap Cleantha dalam pelukannya.
Cleantha tak bergeming. Tidak bergerak maupun berucap sesuatu. Tapi Raja merasakan sekujur tubuh gadis itu kaku layaknya sebatang kayu kering.
Linangan air mata berderai turun ke pipi Cleantha. Separuh nyawanya telah hilang bersamaan dengan kepergian bayinya yang belum sempat terlahir ke dunia.
"Kenapa Tuan sedih? Bukankah Tuan tidak mau mengakui anak yang saya kandung sebagai anak Tuan?" ucap Cleantha dingin.
Pertanyaan Cleantha yang menusuk itu meluluh lantakkan hati Raja. Tak pelak lagi, ia memang patut dipersalahkan atas semua tragedi ini.
"Aku minta maaf, Clea. Aku telah meragukanmu dan lebih percaya pada Vira. Karena kebodohanku, aku terlambat mengetahui kebenaran. Sekarang aku harus membayar mahal semua kesalahanku," tutur Raja sedih.
"Berilah kesempatan padaku untuk menebus kesalahanku. Mulai hari ini aku berjanji untuk membahagiakanmu," pinta Raja mempererat pelukannya.
"Permintaan maaf Anda sudah terlambat, Tuan. Saya mohon lepaskan saya dan tinggalkan saya sendiri," jawab Cleantha dengan suara melemah.
"Tapi Clea, kita...."
"Apa perlu saya berlutut untuk memohon pada Tuan? Biarkan saya sendiri dan jangan mengganggu saya," ulang Cleantha.
__ADS_1
Melihat kesedihan mendalam di mata Cleantha, Raja memutuskan untuk mengalah. Walaupun sangat ingin menemani Cleantha, ia tidak boleh bersikap egois. Jika ia bersikeras berada di sisi Cleantha, gadis itu mungkin akan semakin terluka.
"Kak, bagaimana keadaan Clea?" tanya Alvian melihat Raja sudah keluar dalam waktu singkat.
"Dia sedang sedih, tapi tidak mau bertemu denganku. Sepertinya dia sangat membenciku."
"Aku akan melihat keadaannya," kata Alvian buru-buru masuk menggantikan Raja.
Cleantha menatap dinding kamar serba putih yang mengelilinginya. Dinding itu sama seperti jeruji penjara yang selama ini mengurung hidupnya. Menguras habis seluruh kebahagiaannya, bahkan merenggut bayi tak berdosa yang ada di perutnya.
Ketika melihat Alvian datang menjenguknya, kepedihan Cleantha semakin membuncah. Jika saja ia tidak gegabah mencintai lelaki itu, pasti saat ini ia tidak akan kehilangan bayinya.
Seolah mendapat titik terang dari alam semesta, Cleantha menyadari sesuatu. Belenggu hidupnya tidak lain dan tidak bukan adalah kakak beradik Adhiyaksa. Sejak tertawan dalam cinta mereka, ia mengalami masalah yang tidak kunjung henti.
Tak ada pilihan lain. Ia harus menjauh dari dua lelaki itu untuk memutus siklus penderitaannya.
"Clea, ikhlaskanlah bayimu supaya dia tenang di atas sana. Aku minta maaf padamu atas nama Mamaku. Aku tahu permintaan maafku tidak akan mengubah apapun, tapi setidaknya izinkan aku untuk mendampingimu melewati semua ini," tutur Alvian memeluk Cleantha.
Cleantha tidak memberikan jawaban. Mulutnya terkunci rapat, kehilangan daya lisannya. Tapi jauh di lubuk hatinya, Cleantha telah mengambil keputusan.
"Saya harus menjauh dari Bapak. Kita tidak mungkin bersama lagi. Semoga nanti Bapak bisa mendapatkan wanita yang lebih baik dari saya,"
batin Cleantha.
...****************...
Raja masih menunggu di luar. Ia sedang melawan keinginannya untuk menerobos masuk dan menyuruh Alvian pergi dari sisi Cleantha.
"Drrrrttt, drrrttt."
Getar ponsel yang terus menerus membuat Raja terpaksa menerima panggilan tersebut.
"Raja, ini Papa Bayu. Tolong kamu cepat ke rumah sakit Premier sekarang," ucap Tuan Bayu.
"Ada apa, Pa?" jawab Raja.
"Vira...dia pingsan dan sekarang dirawat intensif di rumah sakit. Dia membutuhkanmu, Raja."
"Vira sakit apa?" tanya Raja terkejut.
"Papa belum tahu, Raja. Tapi dari hasil pemeriksaan sementara, Vira diduga mengidap tumor otak. Untuk memastikan kondisinya, Vira akan menjalani MRI scan," jelas Tuan Bayu. Nada suaranya terdengar sangat sedih.
Untuk kesekian kalinya, Raja dibuat terhenyak. Entah mengapa kedua mantan istrinya mengalami musibah di hari yang sama.
Pertama Cleantha mengalami keguguran. Kedua Zevira didera penyakit mematikan.
Walaupun ia benci kepada Zevira, tapi tetap saja wanita itu sudah memberikan seorang putri kepadanya. Lagipula mereka pernah menjadi suami istri selama enam tahun.
"Baiklah, Pa. Aku akan menjenguk Vira sekarang juga," jawab Raja.
**BERSAMBUNG
Tinggalkan komen, like, dan votenya ya**.
__ADS_1