
Cleantha meraih ponselnya dari nakas. Berpikir untuk menghubungi Alvian lebih dulu. Yang terpenting baginya adalah memastikan suaminya dalam keadaan baik-baik saja.
Seolah terkoneksi satu sama lain, Alvian lebih dulu menelponnya dengan sambungan video call.
Kelegaan dirasakan oleh Cleantha ketika melihat wajah suaminya di layar ponsel.
"Kenapa baru menelpon?" kata Cleantha pura-pura kesal.
"Maaf, Sayang, tadi aku bertemu dengan Tuan Marco dan Tuan Hariadi di hotel. Mereka mengajakku ngobrol sambil makan malam. Jadi aku baru sempat menelponmu sekarang. Apa Almero sudah tidur?" tanya Alvian.
"Sudah. Tadi sebelum tidur, Almero menanyakanmu. Dia merindukan Daddynya" kata Cleantha.
"Almero atau ibunya yang merindukan aku?" tanya Alvian menggoda Cleantha.
"Keduanya. Pasti jawaban itu yang kamu inginkan, Al," kata Cleantha.
Alvian menaikkan alisnya sambil tertawa.
"Bukankah itu memang benar, Sayang? Tenang saja aku akan cepat pulang. Besok aku usahakan untuk menelponmu sebelum Almero tidur."
Mendengar suara Alvian, keresahan Cleantha sedikit berkurang. Mereka mengobrol sebentar sebelum akhirnya saling mengucapkan selamat malam.
...****************...
Cleantha mengajak Almero untuk menemaninya ke acara lamaran Keyla. Kini keluarga besarnya sudah menempati rumah baru yang lebih layak.
Tuan Sigit langsung memeluk cucunya, Almero, dengan penuh kasih sayang.
"Grandpa," ucap Almero mengecup pipi Tuan Sigit.
"Almero, bagaimana sekolahmu? Pasti Almero semakin pintar ya," puji Tuan Sigit.
"Good, Grandpa," jawab bocah itu penuh percaya diri.
"Ayah, sehat kan?" tanya Cleantha bahagia melihat ayahnya tampak lebih segar.
"Iya, Clea. Ayah selalu berjemur di pagi hari. Dimana suamimu, Alvian?" tanya Tuan Sigit.
Ana langsung mendekati Cleantha.
"Clea, kenapa tidak mengajak Alvian kesini?" tanya Ana tampak kecewa. Pasalnya, ia ingin mencari muka di depan menantunya itu agar diberikan uang tambahan.
"Suamiku sedang ke luar kota untuk menghadiri pertemuan, Tante. Besok dia baru pulang," jawab Cleantha.
"Aduh, sayang sekali. Kalau Alvian sudah pulang, jangan lupa ajak dia menemui Tante," jawab Ana membujuk Cleantha.
Tak berapa lama, Dimas dan keluarganya datang. Keyla memperkenalkan Tuan Sigit, Ana, dan Cleantha kepada calon mertuanya.
"Oh, jadi ini Cleantha, istrinya Tuan Alvian, pemilik Adhiyaksa Group? Senang sekali bisa berkenalan denganmu, Cleantha. Kamu cantik sekali," puji ibunya Dimas sambil mengulurkan tangan kepada Cleantha.
"Benar, kami tidak menyangka akan memiliki hubungan kekerabatan dengan pengusaha terkenal. Ini sebuah kebanggaan untuk kami," ucap ayahnya Dimas berterus terang.
"Clea, apa kabar?" tanya Dimas menjabat tangan Cleantha.
"Baik, Kak Dimas," jawab Cleantha.
Keyla tersenyum senang. Merasa keluarga Dimas menghormatinya karena status terhormat yang dimiliki Cleantha sebagai istri CEO.
Namun ia merasa kesal ketika melirik ke arah Dimas. Calon suaminya itu malah tak lepas memandang Cleantha dengan sorot penuh kekaguman.
__ADS_1
Setelah menjadi istri Alvian, Cleantha memang lebih banyak merawat diri. Alvian sering memanjakannya untuk melakukan berbagai jenis perawatan wajah dan tubuh. Tak heran bila kecantikannya semakin memikat mata kaum pria.
Sementara Cleantha lebih fokus kepada Almero. Baginya penghormatan dan pujian seperti ini sudah biasa. Harta dan kekuasaan memang bisa mengubah segalanya. Bila dahulu ia dibenci, diremehkan, dan kerap dianggap tidak berguna, sekarang semua orang berbalik menghormati dan memujinya.
...****************...
Cleantha sudah menyiapkan makanan kesukaan Alvian di atas meja makan. Semalam Alvian mengatakan akan tiba di Jakarta sekitar jam sebelas siang. Tapi anehnya, hingga Almero pulang dari sekolah, Alvian belum muncul juga. Ponselnya juga sulit untuk dihubungi.
Dering pesawat telpon di ruang tengah, membuat Cleantha tersadar dari lamunannya.
Titin, pembantu Cleantha, buru-buru mengangkat telpon tersebut.
"Halo, selamat siang," jawab Titin.
"Iya, betul, ini kediaman Tuan Alvian Adhiyaksa. Maaf Bapak siapa?"
Cleantha yang masih berada di meja makan bersama Almero, mendengarkan suara Titin dengan seksama.
Tak berselang lama, Titin tergopoh-gopoh menghampiri Cleantha. Wajahnya pucat seputih kertas.
"Nyonya, ada telpon dari Bapak Polisi. Katanya mau berbicara langsung dengan Nyonya mengenai Tuan Alvian," kata Titin tergagap.
"Ada apa Tin?"
"Nyonya, terima saja," jawab Titin terlihat takut.
Cleantha bergegas ke ruang tengah dan meraih gagang telpon.
"Selamat siang, Pak, saya Cleantha Adhiyaksa, istrinya Alvian Adhiyaksa," jawab Cleantha.
"Selamat siang, Nyonya. Saya ingin mengabarkan bahwa Tuan Alvian Adhiyaksa mengalami kecelakaan di ruas Jalan Simpang Boulevard. Sekarang Tuan Alvian sedang dibawa petugas ke rumah sakit Husada," ucap polisi itu.
Cleantha terduduk lemas di lantai, seluruh tenaganya seakan lenyap seketika. Ternyata firasat buruknya tentang Alvian telah menjadi kenyataan.
"Nyonya, Anda kenapa?" tanya Titin dan Reni berlari menolong Cleantha.
Lidah Cleantha menjadi kelu, sulit untuk mengucapkan kata-kata. Tapi ia berusaha tetap tegar supaya bisa menemani Alvian di rumah sakit.
"Tin, katakan kepada Pak Malik untuk mengantarku ke rumah sakit sekarang."
"Ba...baik, Nyonya," jawab Titin bergegas melaksanakan perintah Cleantha.
Cleantha beralih menatap Reni. Dengan suara lirih, ia berbicara kepada pengasuh Almero itu.
"Reni, tolong jaga Almero. Mungkin aku akan lama berada di rumah sakit. Papanya Almero mengalami kecelakaan."
"Iya, Nyonya. Saya akan menjaga Almero dengan baik. Nyonya tidak perlu khawatir," jawab Reni ikut prihatin.
"Nyonya, mobilnya sudah siap," ucap Titin memberitahu Cleantha.
Dengan langkah gontai, Cleantha keluar dari rumahnya. Ia hanya berharap kondisi Alvian tidak terlalu buruk, sehingga nyawanya dapat diselamatkan. Sebab jika Alvian pergi, mungkin dia tidak akan sanggup menjalani kehidupan lagi.
...****************...
Cleantha berlari ke ruang IGD. Air matanya mengalir tak terbendung ketika melihat kondisi Alvian.
Suaminya itu terbaring tak sadarkan diri dengan banyak peralatan medis terpasang di tubuhnya. Bekas cairan berwarna merah nampak dimana-mana.
"Al...." Suara Cleantha tertahan karena kesedihan luar biasa.
__ADS_1
"Apa Nyonya, keluarga pasien?" tanya dokter yang menangani Alvian.
"Iya, Dokter, saya istrinya."
"Nyonya, kami harus segera melakukan operasi karena pasien mengalami pendarahan dan kondisinya kritis. Nyonya bisa mengurus administrasi persetujuan operasi."
"Baik, dokter," jawab Cleantha lemah. Sebenarnya ia tidak ingin beranjak dari sisi Alvian barang sedetik pun.
Untung saja, Ryan, Dion, dan Ny. Marina menyusul ke rumah sakit.
Ryan dan Dion mengambil alih urusan administrasi, sehingga Cleantha bisa menemani Alvian selama menunggu persiapan operasi.
"Clea, kenapa Alvian bisa mengalami kecelakaan separah ini?" tanya Ny. Marina nampak terpukul.
"Sa...ya juga tidak tahu, Ma. Al mengalami kecelakaan dalam perjalanan pulang dari konferensi pengusaha."
Pembicaraan mereka terhenti karena kedatangan beberapa orang perawat.
"Maaf, Nyonya, kami akan membawa pasien ke ruang operasi. Silakan Nyonya tunggu di luar. Atau Nyonya bisa langsung ke ruang operasi di lantai tiga."
Cleantha dan Ny. Marina pun menurut. Mereka menuju ke lantai tiga, bersiap menunggu proses berlangsungnya operasi Alvian.
Beberapa menit kemudian, Cleantha melihat Alvian dibawa masuk ke ruang operasi.
Lampu ruang operasi menyala, pertanda dimulainya usaha untuk menyelamatkan Alvian.
Dokter sudah mengatakan bahwa operasi Alvian akan memakan waktu cukup lama. Karena itu sambil menunggu, Cleantha terus memanjatkan doa di dalam hati. Sesekali ia mencoba menguatkan Ny. Marina yang tak henti menitikkan air mata.
"Al, kumohon jangan tinggalkan aku dan Almero. Berjuanglah melewati semua ini,"
gumam Cleantha berharap Alvian bisa mendengar suara batinnya.
Entah berapa lama, Cleantha menunggu dalam keheningan dan ketidakpastian. Situasi yang serba tidak menentu ini membabat habis ketegaran Cleantha. Seandainya bisa, ia ingin sekali menggantikan posisi Alvian di dalam sana.
Penantian panjang yang menyesakkan ini baru berakhir ketika lampu indikator padam.
Cleantha dan Ny. Marina beranjak dari kursinya. Tidak sabar untuk mengetahui hasil operasi Alvian.
"Dok, bagaimana dengan suami saya? Apakah operasinya berhasil?" tanya Cleantha.
Dokter tersebut menggeleng perlahan sambil menarik nafas. Ekspresinya menunjukkan keprihatinan mendalam.
"Maafkan saya, Nyonya. Kami sudah berusaha, tapi Tuan Alvian tidak mampu bertahan. Saya harap Anda tabah, Nyonya," ucap dokter itu.
Seluruh dunia Cleantha serasa runtuh seketika. Bibirnya bergetar hebat. Ia merasa linglung seperti orang yang kehilangan arah. Terlebih saat melihat Alvian dibawa keluar dari ruang operasi.
Susah payah, ia menyeret kedua kakinya menghampiri suaminya yang terbaring kaku di atas ranjang pasien.
Tak kuasa lagi membendung kepedihannya, Cleantha menangis sejadi-jadinya sambil memeluk tubuh Alvian.
"Al, bangunlah. Jangan tinggalkan aku. Aku tidak bisa sendirian tanpamu," seru Cleantha di sela-sela tangisnya.
Bagi Cleantha, Alvian adalah cintanya, sahabatnya, sekaligus penyelamatnya. Tidak ada yang lebih memahami dan menyayanginya selain Alvian. Dan kini Alvian telah pergi untuk selama-lamanya, meninggalkannya seorang diri dalam kehampaan.
"Clea, jangan begini," ucap Ny. Marina berurai air mata.
Cleantha tidak menjawab. Ia terus meracau dalam keputusasaan, hingga segala sesuatu di sekitarnya menjadi gelap. Akhirnya tubuhnya pun ambruk karena tidak kuat lagi menanggung beban kesedihan.
**BERSAMBUNG
__ADS_1
Jangan lupa berikan dukungan kepada author dengan memberikan like, comment, dan vote**.