
Tangan Cleantha bergetar saat menggerakkan tombol off pada layar monitor komputernya. Tak bisa dipungkiri ia sangat gugup karena akan menemui suaminya sebentar lagi.
Ingin sekali rasanya ia memperlambat detak jarum jam. Atau sekalian saja menghentikan waktu barang sesaat, sampai ia benar-benar siap menemui Raja.
"Tap, tap, tap," suara sepatu Keyla terdengar jelas di ruangan yang mulai kosong itu. Dengan langkah lebar, ia menghampiri Cleantha.
"Clea, kenapa kamu belum pulang juga? Cepat temui Tuan Raja, dia pasti sudah ada di rumah sekarang. Atau kamu memang sengaja mengulur-ulur waktu?" tanya Keyla curiga.
"Tidak, Kak. Aku akan pulang sekarang," balas Cleantha mempercepat gerakannya untuk membereskan meja.
"Selesaikan urusanmu dengan cepat. Jika Tuan Raja menahanmu, gunakan saja alasan bahwa kamu sudah tidur dengan adiknya. Dia pasti akan sakit hati dan mengabulkan permohonan ceraimu," ujar Keyla mempengaruhi Cleantha.
Rasa dingin tiba-tiba merayapi tubuh Cleantha. Perkataan Keyla telah mengembalikan ingatannya akan peristiwa pahit dua hari lalu. Kejadian itu layaknya sebuah mimpi terburuk dalam hidupnya.
Ia sendiri tidak yakin apakah Alvian sudah menyentuhnya atau tidak. Yang jelas mereka pernah tidur dalam satu ranjang yang sama. Dan kenyataan itu justru bisa dijadikan senjata ampuh agar Raja menceraikannya.
"Jika Tuan Raja sudah mengucapkan talak, tinggalkan segera rumahnya. Kalau kamu butuh bantuanku, aku akan datang untuk menjemputmu," pesan Keyla kepada adiknya.
...****************...
Di ruangannya, Alvian masih berdiskusi dengan Pak Setyo. Namun konsentrasinya terbelah dua.
Ia tahu Raja sudah pulang ke rumah. Tak lama lagi mungkin akan terjadi pertengkaran besar yang berujung perceraian antara Raja dan Cleantha. Apalagi kakak iparnya itu bersikeras ingin berpisah dari Raja. Tak pelak lagi, ia akan menjadi tersangka utama dari penyebab retaknya rumah tangga mereka.
Tentu saja ia harus membersihkan namanya sekaligus menyelamatkan pernikahan kakaknya. Akan tetapi apakah pantas jika dia tiba-tiba muncul lalu mencampuri urusan rumah tangga kakaknya?
"Pak, kita sudah melayangkan dua kali surat peringatan kepada Tuan Roni Hermawan. Bagian penagihan akan menarik dua unit mobilnya besok jika..."
"Cukup untuk hari ini, Pak Setyo," ucap Alvian menghela nafas.
Roman muka Pak Setyo berubah masam. Tidak biasanya Alvian yang detail itu menghentikan laporan yang diberikannya di tengah jalan.
"Kita lanjutkan besok. Saya harus mengurus masalah yang lebih penting. Pak Setyo bisa pulang sekarang," kata Alvian mempersilakan Pak Setyo meninggalkan ruangannya.
"Baik, Pak. Selamat sore."
Pak Setyo keluar dari ruangan Alvian dengan sebal. Ia merasa tak dianggap oleh direkturnya itu. Sudah repot-repot menjelaskan panjang dan lebar, malah omongannya kerap kali tak digubris. Terkadang Alvian justru terlihat melamunkan hal yang lain.
"Huh, masalah penting apa? Paling-paling cuma masalah seputar percintaannya dengan Cleantha. Memang susah punya direktur yang masih muda. Pikirannya lebih banyak tertuju pada urusan wanita,"
gerutu Pak Setyo dalam hati.
...****************...
Cleantha turun dari taksi dan mengucapkan terima kasih kepada driver yang mengantarnya.
Dengan tatapan nanar, ia memandangi gerbang istana megah di depannya. Barangkali ini adalah kali terakhirnya menjejakkan kaki di rumah tersebut.
"Silakan masuk, Nyonya," ucap security bergegas membuka gerbang untuk Cleantha.
Langkah Cleantha terasa berat, seolah ada rantai besi yang mengikat kedua kakinya. Terpaan dingin angin malam menyapu wajahnya yang membeku, sebeku perasaannya saat ini.
Di pintu masuk Narti dan Pak Darma menyambut kembalinya Cleantha ke rumah.
Mereka keheranan saat melihat Cleantha tidak membawa apapun. Semestinya istri muda tuannya itu menenteng tas berisi pakaian untuk dibawa pulang.
"Nyonya, dimana tas Anda? Biar saya bawakan," tanya Narti mencari-cari.
"Aku tidak membawa tas, Mbak."
"Nyonya, Anda sudah ditunggu Tuan Raja untuk makan malam," sambung Pak Darma.
"Dimana Tuan Raja sekarang?" tanya Cleantha dengan suara datar.
"Tuan Raja ada di ruang kerjanya, Nyonya."
"Baik, Pak. Saya akan menemuinya."
Bi Dewi yang mengintip dari jendela kaca, bergegas ke kamar Zevira untuk mengabarkan kepulangan Cleantha.
"Nyonya, gadis kampung itu sudah kembali."
__ADS_1
Zevira tersenyum tipis.
"Bagus, Bi. Sekarang keluarlah dan pantau apa yang terjadi selanjutnya."
"Iya, Nyonya."
Sesudah pelayan setianya pergi, Zevira langsung mengirim pesan yang sudah disiapkannya sejak tadi.
"Sayang, target kita sudah datang. Saatnya kamu mengirimkan kejutan untuk Raja,"
tulis Zevira untuk Fendi.
Tak lama, Fendi pun mengirimkan balasan.
"Siap, Sayang. Perintah dilaksanakan."
...****************...
Cleantha berjalan ke dalam rumah. Menuju ke sebuah pintu kayu berukir di ujung ruang tengah. Di tempat itulah ruang kerja suaminya.
Ia mengetuk pintu dua kali sebelum masuk.
Tanpa menunggu jawaban dari Raja, Cleantha melangkah masuk dengan memantapkan hatinya.
Ketika memasuki ruangan itu, ia bisa mencium aroma parfum Raja. Membuatnya merindukan pria itu untuk sesaat.
Mendengar derak pintu terbuka dan langkah kaki seseorang yang mendekat, Raja mengangkat kepalanya dari layar laptop.
Ia menatap Cleantha yang berjalan ke arahnya dengan penuh kerinduan.
Cleantha sendiri balas memandang Raja tanpa ekspresi. Menyembunyikan perasaannya yang tengah bergejolak.
Raja berdiri dari kursinya dan menghampiri Cleantha. Ia merasa ada yang ganjil pada sorot mata istrinya itu.
"Clea, kenapa kamu tidak pulang lebih cepat dari kantor? Dan kenapa kamu diam seperti ini?" tanya Raja merengkuh istrinya.
"Kamu tidak merindukan aku?" tanya Raja sambil melepas ikatan rambut Cleantha.
"Aku lebih suka melihat rambutmu terurai," tutur Raja membelai helaian rambut Cleantha dengan jemarinya.
"Ayo kita ke kamar, aku punya hadiah untukmu," kata Raja membimbing Cleantha keluar dari ruang kerjanya.
"Tuan, tolong lepaskan saya. Saya ingin kita bicara disini saja," ucap Cleantha dingin.
Raja menaikkan kedua alisnya.
"Kamu masih malu padaku?"
"Bukan, Tuan. Saya hanya ingin kita tidak berdekatan lagi," jawab Cleantha membuat suaranya terdengar tegas.
"Kita ini suami istri, tidak mungkin jika kita tidak berdekatan."
"Tapi sebentar lagi kita tidak akan menjadi suami istri lagi, Tuan."
"Apa maksudmu berkata begitu?" tanya Raja terkesiap.
"Saya datang kesini karena ingin memohon pada Tuan supaya...."
Cleantha berhenti sejenak. Lidahnya mendadak kelu, begitu juga suaranya yang kini tertahan di tenggorokan.
Entah mengapa kata "cerai" terasa begitu sulit terucap dari bibirnya.
"Saya mohon supaya Tuan menceraikan saya. Jatuhkan talak pada saya sekarang juga," tandas Cleantha.
Wajah Raja memerah sementara bibirnya terkatup rapat.
Tak pernah diduganya kalimat terlarang itu baru saja dilontarkan oleh Cleantha. Bahkan tanpa basa basi gadis muda itu meminta cerai darinya secara terang-terangan.
"Apa kamu sedang mabuk sehingga meminta hal gila seperti ini? Aku baru saja pulang dan tiba-tiba kamu meminta cerai?" tanya Raja menatap nyalang pada Cleantha.
"Saya dalam keadaan sadar, Tuan. Tidak mabuk sama sekali. Saya memang ingin bercerai dari Tuan secepatnya dan kembali ke rumah saya," jawab Cleantha.
__ADS_1
Cleantha merasa dirinya bagai robot yang telah diprogram dengan satu misi, yaitu bercerai dari Raja Adhiyaksa.
"Entah apa yang terjadi padamu selama aku pergi sampai kamu berubah. Dengar, aku tidak akan pernah menceraikanmu. Perjanjian kita bahkan belum berakhir. Dan aku ingin kamu tetap menjadi istriku," tukas Raja mulai kesal melihat sikap Cleantha.
Raja dan Cleantha terdiam sejenak. Akan tetapi dering ponsel Raja memecah keheningan itu.
"Diam dan tunggu disini," titah Raja sembari melepaskan Cleantha.
Ia berjalan menjauh. Meraih ponsel yang diletakkannya di atas meja kerjanya.
Panggilan telpon misterius itu mendadak mati sebelum diangkat. Berganti dengan pesan masuk yang bertubi-tubi terkirim ke ponselnya. Sambil mengernyitkan dahi, Raja membuka pesan gambar tersebut satu per satu.
Mata Raja nyalang menatap foto-foto yang terpampang di ponselnya. Otot-otot rahangnya mengejang. Aliran darahnya terasa tak terkendali, berdesir cepat ke seluruh tubuh hingga ke kepalanya.
Di foto itu, adiknya, Alvian, tengah tidur berpelukan dengan Cleantha.
Meski mata mereka terpejam, namun posisi mereka sangat mesra di atas ranjang. Bahkan kepala Cleantha menempel lekat di kemeja Alvian yang terbuka.
Sungguh pemandangan memalukan ini menghujam ke dasar hatinya. Memberinya pukulan telak yang jauh lebih menyakitkan daripada pengkhianatan yang dilakukan Zevira dan Fendi.
Seketika Raja mencengkeram ponselnya hingga buku-buku jarinya memutih. Ia membalikkan tubuh seraya memandang Cleantha dengan sorot mata kelam.
Raja merangsek maju. Menyudutkan Cleantha hingga terpojok ke dinding.
"Jadi ini alasanmu meminta cerai dariku? Kamu sudah tidur bersama Alvian saat aku tidak ada. Kamu dan Alvian tega mengkhianatiku. Padahal aku sangat mempercayai kalian berdua!" seru Raja sambil menunjukkan layar ponselnya. Dadanya naik turun menahan rasa marah dan kecewa yang mendalam.
Cleantha membuang mukanya ke samping. Sungguhpun ia tahu semua ini akan terjadi, ia tidak akan membela diri. Apalagi sampai mengucurkan air mata di depan Raja.
"Ternyata gosip yang beredar di kantor bukan isapan jempol semata. Aku saja yang terlalu bodoh karena mempercayai kalian berdua."
"Kenapa setiap wanita yang aku cintai selalu berkhianat? Apa salahku dan apa kekuranganku?" seru Raja sembari memukulkan tangannya ke dinding.
Tindakan Raja itu membuat Cleantha ketakutan. Ia tahu Raja sedang kalap, dikuasai kemarahan yang menyala-nyala. Namun mendengar kata cinta yang diucapkannya, apakah itu artinya ia termasuk wanita yang dicintai Raja?
"Cepat katakan apa kekuranganku dan apa kelebihan Alvian hingga kamu berselingkuh dengannya?" tanya Raja memaksa Cleantha.
"Kekurangan Tuan adalah Tuan sudah beristri, tapi Tuan memaksa saya untuk berada di sisi Tuan. Tuan juga pemarah dan diktator. Sedangkan Pak Alvian dia masih lajang, lembut dan ramah. Dia juga baik hati dan selalu siap menolong saya," jawab Cleantha sengaja memancing Raja agar segera menceraikannya.
"Oh, sekagum itu kamu pada adikku. Kamu sudah tergila-gila padanya, tapi kamu membenci aku."
Cleantha menaikkan nada suaranya.
"Dan inilah kelemahan terbesar Tuan. Tuan mudah sekali berprasangka buruk pada orang lain. Jika saya sungguh berselingkuh dengan Pak Alvian, maka saya akan melakukannya secara sembunyi-sembunyi. Tidak mungkin ada yang bisa memotret perbuatan kami berdua sejelas ini," ucap Cleantha pura-pura berani.
"Jadi kamu mengatakan foto-foto ini palsu?"
"Saya tidak mengatakannya palsu. Tuan bisa lihat sendiri bagaimana ekspresi wajah saya dan Pak Alvian disitu. Tapi percuma saja saya menjelaskan kebenarannya. Tuan pasti sudah muak pada saya, karena itu segera saja ceraikan saya," tantang Cleantha.
Raja mengungkung Cleantha dengan kedua lengan kokohnya, hingga gadis itu tidak dapat bergerak.
"Kamu pikir aku akan mengabulkan keinginanmu untuk bercerai? Jika aku melakukannya maka kamu akan berbahagia bersama Alvian di atas penderitaanku. Dan aku tidak akan membiarkan itu terjadi."
"A...apa maksud, Tuan?" tanya Cleantha mulai panik.
"Lihatlah bagaimana nasib Vira. Aku sengaja belum menceraikannya meski aku sangat membencinya. Itu karena aku ingin melihatnya menderita dulu. Aku juga akan melakukan hal yang sama padamu, tapi dengan cara yang berbeda," ucap Raja dengan suara dingin.
...****************...
Sementara di luar, mobil Alvian sudah tiba di rumah Raja. Ia bergegas keluar dari mobil dengan perasaan gelisah. Ia takut Raja akan gelap mata dan menyakiti istrinya sendiri.
"Pak Darma, dimana kakakku dan Cleantha?"
"Selamat datang, Tuan Muda. Tuan Raja ada di ruang kerjanya bersama Nyonya."
"Aku akan kesana," ucap Alvian menerobos masuk. Namun Pak Darma berusaha menghalanginya.
"Jangan Tuan Muda. Tuan Raja dan Nyonya Cleantha sedang bicara berdua. Tidak ingin diganggu. Biar saya memberitahukan kedatangan Tuan Muda dulu pada mereka."
"Aku harus menemui mereka sekarang. Aku tidak bisa menundanya lagi," ucap Alvian tidak mengindahkan peringatan Pak Darma.
BERSAMBUNG
__ADS_1