Istri Bayaran Milik Tuan Raja

Istri Bayaran Milik Tuan Raja
Bonus Chapter 1


__ADS_3

Cleantha membuka mata perlahan karena sinar matahari yang menerobos dari celah tirai. Saat hendak memiringkan badan, dia merasakan ada beban berat di perutnya. Cleantha menoleh dan melihat pemilik tangan tersebut.


"Sebentar lagi, Sayang," gumam pria itu manja.


Melihat pria tampan dengan kondisi tubuhnya yang polos seperti bayi, ia menyadari yang terjadi semalam bukanlah mimpi. Ia sungguh tenggelam dalam lembah cinta yang ditawarkan suami barunya. Siapa lagi kalau bukan Raja Adhiyaksa.


Merasakan pergerakan Cleantha, Raja membuka mata. Dia menatap wanita yang telah didapatkannya kembali dengan susah payah. Cleantha bagaikan permata yang hilang, namun kini diperolehnya setelah pencarian selama bertahun-tahun.


"Selamat pagi," ucap Raja lembut. Ia mengecup sayang dahi Cleantha. Wajah bangun tidur saja bisa secantik ini. Sungguh ia merutuki kebodohannya sendiri karena pernah melepaskan Cleantha. Jika tidak, tentu saat ini mereka sudah memiliki banyak anak yang lucu-lucu.


Semburat merah menghiasi pipi Cleantha. Ia menundukkan kepala, merasa malu karena ditatap seintens itu oleh Raja.


"Aku sangat bahagia karena kita telah menyatu, Sayang."


"Tuan, saya ingin mandi," kata Cleantha mencoba menghindar. Ia takut jika posisi mereka terus seperti ini maka kejadian semalam akan terulang lagi.


"Panggil aku 'Sayang' mulai sekarang. Jika kamu masih memanggilku 'Tuan' maka aku akan menghukummu."


"Hukuman? Aku pikir dia sudah berubah romantis dan penyayang. Ternyata masih juga diktator,"


pikir Cleantha mengerucutkan bibirnya.


Seolah mengetahui apa yang dipikirkan istrinya, Raja terkekeh pelan. Ia menyelipkan anak rambut Cleantha ke telinga lalu berbisik pelan.


"Hukuman yang kuberikan sangat manis. Kamu pasti akan menyukainya."


Cleantha menaikkan selimutnya hingga sebatas dada. Ia menyadari ada beberapa tanda merah keunguan hasil karya pria di sampingnya ini.


Alis Raja naik sebelah melihat kelakuan istrinya yang menggemaskan. Semalam ia memang berusaha bersikap lembut. Tapi mau bagaimana lagi, hasratnya yang terlalu menggebu membuatnya lupa daratan. Ia sama seperti singa yang mendapatkan makanan lezat setelah berpuasa sekian lama.


"Sayang, boleh aku mandi. Badanku lengket," keluh Cleantha. Ia sedikit merayu Raja agar pria ini mau melepaskannya.


"Mandi bersama? Aku akan membantumu."


"Tidak usah. Aku bisa mandi sendiri. Aku bukan anak kecil," tolak Cleantha.


"Tapi aku sedang tidak ada pekerjaan, jadi aku ingin memandikanmu."


Tanpa menunggu persetujuan Cleantha, Raja menggendong tubuh mungil wanita itu. Terpaksa Cleantha mengalungkan tangannya di leher Raja. Ia sudah bisa menebak apa yang akan terjadi selanjutnya di kamar mandi.

__ADS_1


Mandi bersama Raja pasti akan lama karena kegiatan lain yang mereka lakukan. Awalnya pria itu mencoba menggodanya di bawah shower. Kemudian berpindah ke dalam bathtub. Ia berhasil membuat Cleantha yang semula enggan menjadi terbuai oleh permainannya.


Selama mereka berdua berendam, Raja memandikan Cleantha bagaikan seorang ratu. Ia berada di belakang, mengurut leher istrinya lalu mengusap punggungnya dengan air sabun. Ia melakukannya dengan lembut dan hati-hati.


Setelah selesai, Raja menyandarkan kepala Cleantha ke dadanya. Melihat istrinya memejamkan mata, Raja tidak menyia-nyiakan kesempatan. Ia memberikan pijatan sensual yang memabukkan di titik sensitif Cleantha. Sengaja menyiksa istrinya dengan kenikmatan yang sulit ditolak. Ia ingin menunjukkan pada Cleantha bahwa dia adalah suami yang sempurna. Baik dalam masalah hati maupun urusan ranjang.


"Ehmmmm...." Tanpa sadar racauan kecil keluar dari bibir Cleantha. Ia sudah menahan diri sejak tadi tapi tetap saja gagal karena ulah nakal sang suami. Apalagi saat merasakan benda keras bergesekan dengan bagian belakang tubuhnya.


Raja tersenyum senang. Ia ingin menggali isi hati Cleantha sekarang. Apa sebenarnya yang dirasakan wanita ini terhadapnya sesudah mereka saling memiliki. Raja yakin pembicaraan selama bercinta adalah hal yang paling indah.


"Kamu menyukai apa yang kulakukan? Apa jantungmu berdebar-debar ketika berada di dekatku?"


Cleantha tidak sanggup menjawab. Hanya ******* kecil yang lolos dari bibirnya karena tubuh mereka semakin menempel. Sedikit dorongan lagi maka kedua benda mereka akan menyatu.


"Jawab aku, Sayang. Apa kamu suka?" tuntut Raja sembari meniup tengkuk istrinya. Tubuh Cleantha dibuat merinding karenanya.


"I..iya," jawab Cleantha terbata. Ia terkejut dengan bakat terpendam yang dimiliki Raja. Pria ini ternyata mampu membuat seluruh panca inderanya bertekuk lutut.


"Berapa anak yang kamu inginkan dariku?"


Mendengar Raja meminta anak, mata Cleantha membulat. Sungguh ia tidak mau memiliki bayi dalam waktu dekat. Pasalnya ia masih ingin memusatkan perhatian dan kasih sayangnya kepada Almero dan Ivyna.


"Kenapa?" tanya Raja menghentikan perbuatannya.


"Almero masih kecil, sedangkan Ivyna baru beranjak remaja. Mereka berdua masih butuh perhatian ekstra."


"Kita bisa memakai jasa baby sitter."


"Aku mau mengurus anakku sendiri," jawab Cleantha.


"Kamu benar-benar ibu yang baik, Sayang. Tidak salah aku menyerahkan hatiku untukmu," ucap Raja.


Usai mengucapkan rayuan mautnya, Raja kembali menyatukan diri dengan Cleantha. Air di bathtub sampai berdecap lalu meluap keluar karena ulahnya. Barulah setelah itu mereka berdua benar-benar membersihkan diri.


Raja memakaikan bathrobe di tubuh Cleantha lalu mengeringkan rambut panjang istrinya itu dengan handuk.


"Biar aku sendiri. Kamu berpakaianlah, Sayang," jawab Cleantha. Ia merasa risih karena Raja tidak juga mengenakan pakaiannya.


"Jangan membantahku. Hari ini anggap saja aku seorang pelayan pria yang sedang melayani ratunya."

__ADS_1


"Mana ada pelayan yang mengurus ratunya dengan tubuh polos seperti ini?" gumam Cleantha malu.


Setelah rambut Cleantha setengah kering, Raja memakai bathrobenya sendiri lalu menggandeng tangan Cleantha keluar dari kamar mandi.


"Duduk saja disini. Aku yang akan mengambilkan baju dan dalaman untukmu."


Tanpa ragu-ragu, Raja membuka lemari. Ia mengamati semua koleksi baju yang dimiliki Cleantha. Sungguh Cleantha sudah berubah. Barang-barang pribadinya kini terbuat dari sutera dengan model yang menggiurkan. Membayangkan Cleantha memakainya saja telah membuat sesuatu dalam dirinya bangkit kembali.


"Mau warna apa? Hitam, putih, merah?"


"Hitam saja," jawab Cleantha cepat.


Wajahnya kembali merona karena Raja tanpa sungkan memakaian baju **********.


"Sudah, Sayang, urus dirimu sendiri supaya kita cepat selesai. Aku lapar, ingin sarapan pagi," ucap Cleantha beralasan. Mereka tidak boleh berduaan lagi sekarang.


"Sarapan? Ini sudah jam sebelas. Lebih baik kita makan siang sambil berjalan-jalan. Dan jangan malu lagi karena kita sepasang suami istri."


"Apa suami istri tidak boleh punya rasa malu,"


batin Cleantha keheranan.


"Iya, aku mau membeli obat pencegah kehamilan juga." Sejak semalam, Raja menumpahkan banyak benih di rahimnya dan Cleantha takut dia akan segera hamil.


Raja merengut tidak suka. Ia kesal mengapa Cleantha sebegitu tidak inginnya mengandung bayi mereka.


"Baiklah, aku akan berpakaian. Jangan terlalu lama berdandan, Sayang. Wajahmu sudah cantik tanpa make up."


Raja membalikkan badannya untuk mengambil pakaian. Di dalam hati ia menyusun rencana. Ia akan membuat Cleantha mengandung tanpa sepengetahuan istrinya itu.


.


.


Halo Readers. Semoga suka dengan bonchap ini. Maaf bila sedikit hot. Bagi yg mau lanjutan bonchap silakan komen dan Like.


Oh ya karena novel baru author pindah lapak, maka author akan rilis yang baru sebagai penggantinya di bulan Juni (Mei libur nulis dulu ya mau liburan).


Judulnya berkaitan dengan Suami Kedua dan Dunia CEO serta mafia.

__ADS_1


Ditunggu Like, Komen, dan Vote


__ADS_2