
Happy Reading. Jangan lupa beri like, comment, dan votenya.
Alvian meletakkan kepalanya di sandaran kursi. Sementara matanya menatap tumpukan file yang menghiasi meja kerjanya.
Biasanya ia bekerja ekstra cepat dalam mengecek semua laporan itu. Memang begitulah cara kerjanya. Dia seorang ahli matematika yang handal, kritis, dan bermata jeli. Sedikit saja ada ketelodoran yang tidak masuk akal, dia akan segera mengetahuinya.
Namun detik ini kapasitas kemampuannya hanya terisi setengah. Untuk menyelesaikan analisa kredit saja ia membutuhkan waktu hampir satu jam.
Pikiran Alvian malah tertuju pada acara lelang nanti malam, dimana ia harus pergi berdua bersama Cleantha.
"Tok, tok, Selamat pagi, Pak," ketuk Pak Setyo dari luar pintu.
Setelah mengetuk, pria bertubuh gempal itu masuk ke dalam dengan membawa buku agendanya.
"Selamat pagi, Pak Alvian," sapa Pak Setyo mengucapkan salam sekali lagi.
"Pagi, silakan duduk Pak Setyo."
Alvian memutar-mutar pena di tangannya sambil bersiap mendengarkan laporan dari Pak Setyo.
Seperti perintah Alvian, tiap kali menghadap Pak Setyo wajib memberitahukan siapa karyawan finance dan accounting yang absen hari ini.
"Untuk staf yang izin tidak masuk hari ini hanya Cleantha, Pak. Dia sedang sakit," kata Pak Setyo memberikan laporan.
Dahi Alvian berkerut ketika mendengar nama Cleantha disebut. Seingatnya gadis itu baik-baik saja ketika ia mengantarnya pulang semalam. Meskipun raut muka gadis itu menunjukkan kesedihan ketika harus berpisah dari keluarganya.
"Sakit apa dia?"
"Maaf, Pak, saya tidak berani menanyakannya. Karena Tuan Dion yang memintakan izin untuk Cleantha."
"Apa Cleantha tidak masuk karena perintah dari Kak Raja? Tapi apa alasannya?"
pikir Alvian termenung sejenak.
"Baik, lanjut dengan laporan piutang tidak tertagih per cabang."
Alvian membuka file dari laptopnya dan mulai meminta penjelasan dari Pak Setyo.
Sekitar lima belas menit Alvian berdiskusi dengan manajernya. Hingga pembicaraan serius mereka terputus oleh suara dering telpon.
Tangan Alvian bergerak cepat, mengangkat panggilan itu dengan tangan kirinya.
"Selamat pagi, Tuan Alvian. Tuan Raja memanggil Anda ke ruangannya sekarang. Ada hal penting yang mau ditanyakan kepada Anda."
"Baiklah, aku akan segera kesana," jawab Alvian spontan.
Kebetulan ia juga ingin menanyakan keadaan Cleantha kepada kakaknya.
"Pak Setyo kita lanjutkan lagi nanti. Saya dipanggil menghadap CEO."
"Oh baik, Pak Alvian," ucap Pak Setyo berdiri dari kursinya.
"Saya mohon diri, Pak."
__ADS_1
Pak Setyo membalikkan punggungnya lalu melangkah ke pintu.
Setelah pria itu pergi, Alvian menutup laptop lalu beranjak keluar dari ruangannya.
...****************...
Raja berusaha menyembunyikan eskpresi kesalnya saat melihat kedatangan sang adik.
Entah mengapa adegan Alvian memeluk Cleantha masih terbersit berulang kali di benaknya. Dan hal itu membuat emosinya berkecamuk.
"Pagi, Kak," sapa Alvian duduk di kursi yang ada di depan meja CEO.
Raja mengusap wajahnya kasar. Ia tak mampu menahan diri untuk segera meminta penjelasan dari Alvian.
"Al, aku ingin menanyakan sesuatu. Jawablah dengan jujur," tandas Raja penuh penekanan.
"Soal apa, Kak?"
"Cleantha," jawab Raja to the point.
"Aku baru saja ingin menanyakan kepada Kakak mengapa dia tidak masuk kerja hari ini," sahut Alvian.
"Kenapa kamu kelihatan begitu peduli padanya?"
"Karena dia istri Kakak sekaligus stafku. Semalam dia sehat-sehat saja saat aku mengantarnya pulang. Tapi Pak Setyo tiba-tiba mengatakan hari ini dia sakit," terang Alvian mengemukakan alasannya.
"Aku yang menyuruhnya tinggal di rumah. Kemarin sepulang kerja dia berani pergi tanpa sepengetahuanku. Kemana saja kalian berdua semalam?"
"Bukankah Kak Vira sudah meminta izin kepada Kakak? Aku mengantar Cleantha ke butik untuk membeli gaun. Lalu Cleantaha meminta bantuanku supaya mengantarnya ke rumah orangtuanya."
"Vira tidak pernah minta izin dariku. Dan kenapa kamu mengabulkan permintaan Cleantha? Semestinya kamu menghubungi aku dulu," balas Raja ketus.
"Aku melakukannya atas dasar kemanusiaan. Kakaknya Cleantha menelpon semalam. Dia mengatakan ayahnya merindukan Cleantha sampai tidak mau minum obat. Cleantha menangis karena cemas dan memohon padaku. Aku tidak tega melihatnya."
Raja menarik nafas panjang mendengar penjelasan Alvian. Ternyata apa yang terjadi sangat berbeda dengan prasangka buruknya selama ini.
"Apa Kakak tahu kalau selama ini ayahnya Cleantha sakit stroke?" tanya Alvian tiba-tiba.
"Iya, aku tahu."
"Lalu sebagai menantu, apa Kakak pernah menjenguk ayahnya Cleantha?"
Pertanyaan Alvian itu menusuk kedalaman hati Raja. Sejak menikahi Cleantha, ia belum pernah berkenalan apalagi mengunjungi ayah mertuanya. Bisa dibilang ia adalah menantu yang tidak punya sopan santun.
Tapi apa mau dikata, Cleantha hanya istri sewaan yang tak pernah dianggap olehnya. Bahkan pernikahan mereka pun disembunyikan dari keluarga Cleantha. Bila ia datang dengan tiba-tiba ke rumah mertuanya, mungkin saja mereka malah akan terkena serangan jantung.
"Aku...belum pernah ke rumahnya. Apa keadaan ayahnya begitu buruk?" kata Raja jujur.
Alvian mengangkat bahunya.
"Mana aku tahu, Kak. Aku hanyalah adik ipar Cleantha, bukan suaminya. Kemarin aku menunggu di dalam mobil dan Cleantha masuk sendirian. Kalau Kakak ingin tahu keadaan ayah Cleantha, Kakak harus meluangkan waktu ke rumahnya di akhir pekan."
Sindiran halus dari Alvian membuat Raja menyadari kesalahannya. Namun masih ada satu hal yang mengganjal perasaannya saat ini, dan harus dituntaskan sekarang juga.
__ADS_1
"Bisa kamu jelaskan ini padaku?" ucap Raja menunjukkan ponselnya.
Alvian memicingkan mata melihat foto dirinya yang tengah memeluk Cleantha. Sekarang ia paham kenapa sikap kakaknya sangat berbeda hari ini.
Entah siapa yang sengaja mengambil foto itu lalu mengirimkannya kepada Raja. Namun ia tak ingin memperpanjang masalah dan memperkeruh suasana.
"Itu karena Cleantha hampir jatuh, jadi aku menangkapnya. Dia belum terbiasa memakai high heels. Apa Kakak mencurigai aku berselingkuh dengan istri Kakak seperti yang dilakukan Fendi?" tanya Alvian merasa tersinggung.
"Tidak, Al. Aku hanya ingin memperjelas semuanya."
"Malam nanti kamu tidak perlu menemani Cleantha ke undangan lelang. Aku akan pergi bersamanya," sambung Raja.
Alvian langsung mengiyakan permintaan Raja tersebut.
"Itu lebih baik. Suami istri memang harus pergi bersama. Jika aku yang menggantikan Kakak, nanti orang lain akan mencurigaiku. Apa ada yang ingin Kakak bicarakan lagi? Kalau tidak aku akan melanjutkan meeting dengan Pak Setyo."
"Tidak ada, Al. Kembalilah ke ruanganmu."
Alvian menggeser kursinya dan berpaling meninggalkan Raja. Dia merasa kesal pada kakaknya itu karena telah menuduhnya melakukan perbuatan tercela.
Namun diam-diam, hatinya merasa kecewa karena batal menghadiri undangan lelang. Entah apa alasan kekecewaannya itu. Mungkinkah karena malam ini dia harus bertemu dengan Ayesha, calon jodohnya. Ataukah karena dia urung pergi bersama kakak iparnya, Cleantha.
...****************...
Untuk mengurangi beban di hatinya, Cleantha memutuskan untuk bersujud kepada Sang Pencipta. Mencurahkan isi hati dan menangis dalam doa memang jauh lebih baik daripada menahan kepahitan sendiri. Toh, ia tidak memiliki siapapun yang bisa diajak berkeluh kesah.
Hingga kini ia belum menemukan satu orang pun yang bisa mengerti dirinya. Dan bila ia bercerita pada orang lain, mungkin kisahnya malah dijadikan bahan gosip oleh ibu-ibu sekompleks.
"Nyonya, ada yang mencari Anda," panggil Pak Darma dari balik pintu.
Cleantha bergegas melipat mukenanya lalu berjalan ke pintu.
Di samping Pak Darma, berdiri dua orang wanita muda dengan gaya kekinian. Yang satu rambutnya dicat warna amber, sedangkan satu lagi berambut cepak ala artis Hollywood.
"Nyonya, ini ada dua petugas salon yang datang. Mereka disuruh oleh Tuan Raja untuk merias Nyonya."
"Sore, Nyonya, saya Ela dan ini teman saya Cindy," ucap gadis berambut cepak itu memperkenalkan diri.
Cleantha terkejut mendengar penjelasan Pak Darma.
"Pak, apa benar mereka datang kesini atas perintah suami saya?"
"Iya, Nyonya."
Wajah Cleantha berubah masam. Ia tidak percaya jika Raja kembali berbuat seenaknya setelah apa yang dia lakukan semalam. Raja malah menyuruhnya berdandan cantik padahal hatinya sedang remuk redam. Sungguh pria yang tidak berperasaan.
"Maaf, Mbak, silakan pulang. Saya sedang tidak ingin dirias."
"Tapi, Nyonya, nanti Tuan Raja..."
"Tidak perlu takut, Mbak. Saya yang meminta Mbak berdua pulang. Mbak tidak akan disalahkan oleh suami saya," ucap Cleantha penuh keyakinan.
Bersambung
__ADS_1