Istri Bayaran Milik Tuan Raja

Istri Bayaran Milik Tuan Raja
Bab 68 Hidup Baru Tanpa Dia (Part 3)


__ADS_3

Setelah turun dari taksi, Cleantha bergegas memasuki restoran steak yang dimaksudkan Tuan Mateo.


Ia langsung menuju ke meja nomor delapan belas, sesuai isi pesan yang diterimanya.


Terlihat seorang pria berkumis tebal dengan kemeja warna navy, duduk sendirian di meja.


Ditilik dari ciri fisiknya, pria itu sangat mirip dengan foto yang ada di ponselnya. Sudah pasti pria ini adalah Tuan Mateo, pengacaranya Raja.


"Selamat malam, apakah Anda Tuan Mateo?" tanya Cleantha memastikan.


"Oh, selamat malam Nyonya Cleantha. Silakan duduk," kata Tuan Mateo.


Pengacara itu pun membuka perbincangan dengan Cleantha.


"Nyonya Cleantha, perkenalkan saya adalah Mateo Syailendra, pengacara Tuan Raja. Seperti Nyonya ketahui bahwa Tuan Raja sudah menjatuhkan talak kepada Nyonya. Karena itu, Tuan Raja meminta saya mewakilinya untuk mengurus proses perceraian dengan Anda supaya sah secara hukum."


"Saya mengerti, Tuan. Katakan saja apa yang harus saya lakukan untuk mempercepat prosesnya," potong Cleantha.


Tuan Mateo menyerahkan sebuap map file berwarna biru kepada Cleantha.


"Nyonya ini surat cerai dari Tuan Raja. Nyonya bisa membacanya dulu."


"Tidak usah, Tuan. Saya percaya sepenuhnya pada Tuan. Tunjukkan saja bagian mana yang harus saya tanda tangani."


Tuan Mateo terkejut melihat reaksi Cleantha.


"Tapi Nyonya, apa Anda yakin tidak ingin mempelajarinya dulu?"


"Saya yakin, Tuan," jawab Cleantha mantap.


"Kalau begitu silakan tanda tangan disini," ucap Tuan Mateo menunjukkan bagian yang harus ditandatangani oleh Cleantha di atas materai.


Tanpa ragu, Cleantha membubuhkan tanda tangannya. Inilah babak akhir dari kisah lamanya bersama Raja Adhiyaksa. Tidak ada lagi yang tersisa di antara mereka.


"Ini Tuan," ucap Cleantha menyerahkan surat itu.


"Terima kasih atas kerja samanya, Nyonya."


"Apa ada lagi yang harus saya lakukan, Tuan?"


"Tidak ada, Nyonya. Putusan cerai akan berlangsung cepat bila Anda tidak menghadiri persidangan. Sekitar tiga hingga empat bulan. Nanti saya akan mengabari Anda secara langsung."


"Terima kasih atas informasinya, Tuan. Saya juga ingin minta tolong pada Tuan. Mohon debit card ini dikembalikan kepada Tuan Raja," ucap Cleantha menyerahkan benda pipih seukuran tiga jari itu kepada pengacara Raja.


"Baik, Nyonya."


"Kalau semuanya sudah selesai, saya mohon pamit, Tuan," ucap Cleantha bersalaman dengan Tuan Mateo.

__ADS_1


Tuan Mateo memandang kepergian Cleantha dengan keheranan. Diam-diam ia merasa kagum dengan ketegaran hati gadis muda itu. Barangkali memang sudah tidak ada cinta antara pasangan suami istri tersebut, sehingga mereka punya keinginan yang sama untuk segera berpisah.


...****************...


Alvian menjemput Ayesha di rumahnya, meski sesungguhnya ia sedang tidak ingin berkencan. Namun karena terlanjur berjanji, ia tidak mungkin mengingkarinya.


"Al, kenapa ada bekas luka di bibirmu? Apa kamu dipukul seseorang?" tanya Ayesha memperhatikan wajah tampan Alvian yang biasanya tanpa cacat cela.


"Aku hanya tidak sengaja terbentur benda di rumahku."


Ayesha mengerutkan alisanya mendengar jawaban tidak masuk akal dari Alvian.


"Kamu tidak berbohong padaku, kan? Luka ini sepertinya bukan karena terbentur. Sekarang biarkan aku mengobati lukamu. Ayo ke kamarku," ajak Ayesha menggandeng tangan Alvian.


"Tidak usah. Luka ini sudah kering. Lebih baik kita langsung berangkat ke Kafe Amore," ucap Alvian merasa enggan.


"Ayolah, Sayang, kita ke kamarku sebentar. Mengobatimu tidak akan butuh waktu lama."


"Ayesha, tidak baik bila kita berduaan di kamar. Kamu bisa mengobatiku disini saja," tolak Alvian.


Ayesha tersenyum simpul.


"Sayang, apa kamu takut kepada Papa dan Mamaku? Tenang saja mereka belum pulang dari Amerika. Di rumah ini hanya ada pelayan, aku, dan kamu," ajak Ayesha menarik Alvian ke kamarnya.


Gadis itu menutup pintu, lalu menyuruh Alvian duduk di tepi tempat tidur.


Ia mendekati Alvian lalu pelan-pelan mengobati luka di bibirnya.


Namun tiba-tiba saja Ayesha berhenti. Ia meletakkan kotak obat yang dipegangnya, lalu duduk di pangkuan Alvian.


Ia mendekatkan bibirnya ke bibir Alvian lalu menciumnya dengan penuh hasrat. Sedangkan tangannya mulai membuka kancing kemeja calon tunangannya itu.


"Ayesha, apa yang mau kamu lakukan? Jangan bersikap seperti ini," tolak Alvian terkejut melihat keagresifan Ayesha.


"Sebentar lagi kita akan bertunangan, menikah, dan menjadi suami istri. Aku juga sangat mencintaimu. Tidak masalah jika kita melakukannya sekarang," rayu Ayesha.


Sontak, Alvian melepaskan tangan Ayesha dan menjauhkan wajahnya.


"Maaf, Ayesha aku tidak bisa melakukannya. Turunlah dari pangkuanku sekarang," tukas Alvian.


Mendapat penolakan tegas dari Alvian, wajah Ayesha memerah. Matanya mulai berkaca-kaca karena menahan rasa malu sekaligus kecewa.


"Kenapa, Al? Kenapa kamu menolakku? Apa kamu tidak mencintaiku? Jangan-jangan kamu menyukai gadis lain," ucap Ayesha hampir menangis.


"Ayesha ini tidak ada hubungannya dengan rasa cinta. Hanya saja belum waktunya kita melakukan ini karena kita belum menikah," jawab Alvian berusaha menenangkan Ayesha.


"Bohong! Aku bisa melihat dari sikapmu dan tatapanmu. Kamu sepertinya tidak menginginkan aku."

__ADS_1


Dalam keadaan terluka, Ayesha mendadak teringat pada Cleantha. Masih jelas dalam ingatannya bagaimana Alvian malah memperhatikan kakak iparnya itu dibandingkan dirinya.


"Oh, aku tahu sekarang apa alasanmu. Jangan-jangan kamu tergoda oleh Cleantha. Apa dia sudah merayumu? Atau kalian berdua punya hubungan gelap?" tanya Ayesha sambil terisak.


"Ayesha, jangan bicara sembarangan! Cleantha bukan wanita seperti itu. Dia adalah istri kakakku, mana mungkin aku berhubungan dengannya," ucap Alvian kesal.


"Lihat, sekarang saja kamu sudah berani membentakku karena wanita murahan itu. Pergilah dari rumahku, Al! Aku tidak mau lagi berkencan denganmu," ucap Ayesha mengusir Alvian.


"Baiklah kalau itu maumu. Kita memang perlu berpikir ulang apakah hubungan kita ini bisa dilanjutkan," jawab Alvian meninggalkan kamar Ayesha.


Dengan perasaan benci bercampur marah, Ayesha menatap kepergian Alvian.


"Aku yakin Alvian memang menaruh hati pada Cleantha. Kalau aku sampai bertemu dengan wanita pelakor itu, aku akan memberi pelajaran padanya,"


batin Ayesha sembari mengusap air matanya.


...****************...


Cleantha berusaha menjalani hari-harinya senormal mungkin. Berkonsentrasi penuh hanya pada pekerjaannya.


Ia bersyukur karena selama satu minggu terakhir disibukkan oleh banyak pekerjaan. Kesibukan membuatnya tidak sempat lagi berpikir tentang masalah perceraiannya dengan Raja.


Yang jelas ia tidak ingin berurusan lagi dengan kakak beradik Adhiyaksa, baik itu Raja maupun Alvian. Hanya dengan cara itu, ia bisa terlepas sepenuhnya dari bayang-bayang masa lalu.


"Perhatian semuanya! Saya ingin mengumumkan sesuatu yang penting," seru Pak Setyo berdiri di tengah ruangan finance.


"Seperti kalian ketahui, besok Sabtu adalah hari jadi Adhiyaksa Group yang ketiga puluh lima tahun. Kantor kita akan mengadakan jamuan makan malam untuk relasi bisnis dan karyawan. Nah, divisi kita mendapat tugas menjadi penerima tamu. Saya sudah memilih tiga orang yang akan bertugas. Dua wanita dan satu pria."


"Siapa, Pak?" tanya Anya ingin tahu.


"Untuk pria saya memilih Galih. Sedangkan untuk wanita saya memilih Irna dan Cleantha," ucap Pak Setyo mantap.


"Waduh, kenapa saya dipilih, Pak?" tanya Galih merasa minder.


"Seharusnya kamu bangga, Galih. Kamu punya kesempatan pergi ke salon dan bisa menyewa jas yang bagus. Kantor yang akan menanggung biayanya. Begitu juga dengan Cleantha dan Irna. Kalian harus berdandan yang cantik dan memilih gaun yang bagus. Di acara itu nanti akan hadir para pengusaha terkemuka. Kita tidak boleh membuat malu Adhiyaksa Group," ujar Pak Setyo menyemangati anak buahnya.


"Pak, apa bos-bos kita juga hadir semua?" tanya Galih penasaran.


"Kamu ini bagaimana? Tentu saja Tuan Raja dan Pak Alvian Adhiyaksa akan datang. Mereka pemilik perusahaan ini. Kalau mereka tidak ada, acaranya tidak akan dilaksanakan. Keluarga besar Adhiyaksa pasti hadir juga. Jadi tampillah sebaik mungkin," ujar Pak Setyo memberikan nasehat.


Mendengar perkataan Pak Setyo, perut Cleantha mendadak terasa mulas.


"Kalau aku menjadi penerima tamu, artinya aku akan bertemu muka dengan Tuan Raja, Kak Vira, dan Pak Alvian. Lalu aku harus bersikap seperti apa di hadapan mereka nanti?"


pikir Cleantha gelisah.


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2