Istri Bayaran Milik Tuan Raja

Istri Bayaran Milik Tuan Raja
Bab 107 Cinta Lama Bersemi Kembali (Part 3)


__ADS_3

Keesokan paginya, Cleantha mengantarkan Almero ke sekolah sebelum dia berangkat ke kantor. Hal ini dia lakukan untuk menebus kesalahannya karena semalam tidak sempat membacakan dongeng untuk Almero.


"Bye, Almero, be a good boy," kata Cleantha sambil memeluk Almero.


"Mommy, can I play with Ivyna today after school?" tanya Almero.


"Sure, you can. Ask Grandma to call her, okay," jawab Cleantha.


"Thank you, Mom," jawab Almero mengecup pipi Cleantha kemudian berlari ke dalam kelas.


Cleantha keheranan melihat reaksi putra semata wayangnya. Nampaknya Almero mulai akrab dengan Ivyna meskipun mereka belum lama saling mengenal.


Setelah memastikan putranya masuk ke kelas, Cleantha masuk ke dalam mobil.


Sepanjang perjalanan, ia memikirkan banyak hal. Terutama mengenai meeting yang akan dijalaninya besok dengan pihak bank. Ini akan menjadi pengalaman pertamanya menangani urusan yang krusial bagi perusahaan. Hari ini dia harus belajar semaksimal mungkin. Bila perlu ia rela lembur sampai malam.


"Aku pasti bisa. Aku akan bertanya pada Ryan dan Tuan Raja supaya tidak melakukan kesalahan,"


pikir Cleantha menyemangati dirinya.


Cleantha tidak sadar bila ia sudah tiba di gedung Adhiyaksa Group.


"Nyonya, jam berapa saya nanti menjemput Anda?" tanya Pak Malik, supir pribadi Cleantha.


"Saya belum tahu, Pak. Nanti saya kabari sekitar jam lima sore ya," jawab Cleantha sebelum keluar dari mobil.


"Baik, Nyonya."


Cleantha pun bergegas menuju ke lift dan naik ke lantai sembilan.


Tak butuh waktu lama, ia sudah tenggelam dalam pekerjaannya.


Karena lupa waktu, Cleantha melewatkan jam makan siang. Akhirnya ia memesan makanan lewat aplikasi online sambil mengerjakan tugasnya.


"Bu, Anda diminta ke ruangan Tuan Raja sekarang," kata Ryan memberitahu Cleantha.


"Iya, Ryan," jawab Cleantha lewat interkom.


Cleantha melirik jam dinding yang menunjukkan pukul tiga sore. Sesungguhnya ia heran kenapa Raja baru memanggilnya di sore hari, padahal mereka perlu mendiskusikan banyak hal.


Sebelum meninggalkan ruangannya, Cleantha mencocokkan ulang laporan yang akan dibawanya.


"Sudah lengkap semua. Semoga semua cepat selesai dan aku tidak perlu pulang terlalu malam,"


gumam Cleantha.

__ADS_1


Tanpa ragu-ragu, Cleantha menuju ke ruang CEO di lantai sepuluh.


Begitu ia datang, Dion mempersilakannya masuk.


"Selamat sore, Tuan," kata Cleantha mengucapkan salam kepada Raja.


"Sore, duduklah Clea," jawab Raja tanpa mendongakkan kepala. Pria itu malah asyik membaca berkas yang dipegangnya.


"Tuan, ini laporan yang Anda minta. Silakan dicek dulu. Kalau ada yang ingin Tuan tanyakan, saya akan menjelaskannya."


"Iya," jawab Raja singkat. Tangannya terulur untuk menerima laporan, tapi ia tidak memandang wajah Cleantha.


Cleantha merasa ada yang ganjil dengan perilaku Raja. Sejak awal pria ini enggan menatapnya, seolah ingin menghindarinya. Mata Raja hanya fokus menatap kertas dan laptop, bahkan saat mereka sedang berdiskusi untuk membahas isi laporan.


Karena sikap Raja ini, Cleantha menjadi tersinggung. Ia merasa kehadiran dan kemampuannya diremehkan oleh Raja. Atau barangkali Raja menganggapnya sebagai lawan bicara yang tidak sepadan.


"Tuan Raja masih angkuh seperti dulu. Kalau dia tidak menghiraukan aku kenapa memanggilku kesini?"


batin Cleantha kesal.


Daripada memendam kejengkelan yang mengganggu konsentrasinya, Cleantha memilih untuk menegur Raja. Toh dia bukan lagi gadis lemah yang bisa diperlakukan seenaknya oleh Raja.


"Maaf Tuan, bisa Tuan menghargai saya sedikit saja dalam pembicaraan ini?"


"Apa maksudmu, Clea? Tentu saja aku menghargaimu sebagai direktur keuangan Adhiyaksa Group."


"Setahu saya dua orang yang sedang berkomunikasi, terutama berdiskusi soal pekerjaan akan saling memandang. Itu pertanda mereka saling menghormati."


Kemarahan Cleantha justru terdengar seperti rengekan bagi Raja. Bukannya ikut kesal, Raja justru merasa senang mendengar teguran dari Cleantha. Itu artinya mantan istrinya tersebut minta diperhatikan olehnya.


Tadinya ia sengaja tidak memandang Cleantha demi menghindar dari gejolak perasaan terlarang. Sekaligus bermaksud menjaga jarak supaya ia tidak lepas kendali saat mereka berduaan. Tak disangka Cleantha malah salah paham terhadap dirinya.


"Baiklah aku akan menatapmu sampai kita selesai berdiskusi," jawab Raja mengalah.


Tak terasa mereka terlibat pembicaraan serius hingga pukul setengah tujuh malam.


Terkadang Cleantha menanyakan beberapa hal kepada Raja. Bagaimana teknik presentasi yang baik di depan perwakilan bank Sentral, serta cara menjawab pertanyaan mereka dengan tepat.


Dengan sabar, Raja menjelaskan kepada Cleantha berdasarkan pengalamannya. Ia bertindak sebagai mentor bagi adik iparnya itu


Di akhir diskusi mereka, Cleantha terlihat gelisah. Merasa perutnya perih dan tidak nyaman. Mungkin ini disebabkan ia terlambat makan tadi siang.


"Clea, kamu kenapa? Apa kamu sakit perut?" tanya Raja memperhatikan Cleantha yang secara refleks memegang perutnya.


"Tidak apa-apa, Tuan. Ini hanya sakit maag biasa."

__ADS_1


"Kalau begitu kamu harus makan malam supaya perutmu tidak bertambah sakit. Aku akan mengantarmu pulang sekarang," kata Raja berdiri dari kursinya.


"Tidak usah, Tuan, saya akan meminta Pak Malik menjemput saya."


Tanpa mengindahkan penolakan Cleantha, Raja tiba-tiba meraih tangan wanita itu. Entah mengapa ia merasa harus menjaga Cleantha seperti seorang suami yang mengasihi istrinya.


"Jangan keras kepala, ayo pulang bersamaku. Kita akan makan di restoran yang terdekat dengan kantor," ucap Raja menarik Cleantha.


Tindakan Raja membuat Cleantha terpaku untuk sesaat, namun dengan cepat ia kembali pada kesadarannya.


Tidak ada salahnya bila sekali ini ia menerima ajakan makan malam dari Raja. Toh hubungan mereka hanya sebatas rekan kerja dan saudara ipar. Lagipula lambungnya sudah meronta minta diisi makanan.


"Saya akan ikut, Tuan. Tapi tolong lepaskan tangan saya. Saya bisa jalan sendiri."


Meskipun kecewa, Raja buru-buru memenuhi permintaan Cleantha. Dari sikap tegas Cleantha sudah jelas ia tidak menginginkan adanya kontak fisik di antara mereka.


...****************...


Raja dan Cleantha berjalan beriringan memasuki restoran, namun mereka tidak saling bicara. Barulah saat memilih meja, Raja bertanya pada Cleantha.


"Clea, mau duduk dimana? Di indoor atau outdoor?"


"Outdoor saja, Tuan. Saya ingin menghirup udara segar," kata Cleantha.


Sesungguhnya Cleantha memilih duduk di bagian taman agar tidak terlalu dekat dengan Raja.


Raja memanggil pelayan dan menyuruh Cleantha memesan makanan lebih dulu.


"Saya pesan roasted chicken, nasi putih 1, dan teh hangat Mbak," kata Cleantha kepada pelayan restoran.


"Tuan, Anda ingin pesan apa?" tanya Cleantha kepada Raja.


"Sama denganmu," jawab Raja.


Ketika mereka duduk berhadapan, Raja baru menyadari bahwa Cleantha selalu mengenakan kalung berliontin love knot. Hal itu mengingatkannya pada kalung mutiara yang pernah dibelinya di Jepang untuk Cleantha.


Ia ingin sekali mengenakannya di leher Cleantha sebagai ungkapan cintanya. Namun sayang, tragedi buruk menimpa pernikahan mereka sebelum ia sempat memberikan kalung itu.


"Clea, apa kalung yang kamu pakai itu hadiah dari Alvian? Seandainya kamu tahu aku masih menyimpan kalung yang aku beli untukmu. Aku berharap suatu hari masih punya kesempatan untuk mengungkapkan isi hatiku,"


batin Raja menatap Cleantha.


Bersambung


Jangan lupa tinggalkan komen, like, dan votenya

__ADS_1


__ADS_2