
"Untuk apa Tuan mempertahankan saya? Justru Tuan yang akan tersakiti bila bertemu saya setiap hari. Lagipula bila Tuan tidak mau menceraikan saya, saya yang akan mengajukan gugatan cerai pada Tuan," jawab Cleantha menantang balik Raja.
Raja mendekatkan bibirnya ke bibir Cleantha. Dia sendiri tidak tahu apa yang terjadi pada dirinya. Seharusnya dia marah dan benci pada istrinya setelah melihat foto itu.
Namun menatap ke kedalaman mata Cleantha, justru membuatnya terpengaruh. Intuisinya mengatakan bahwa Cleantha sedang rapuh. Apa yang terucap dari bibirnya belum tentu sama dengan isi hatinya.
"Lepas, Tuan," ucap Cleantha menghindar dari bibir Raja.
"Aku ingin tahu apa kamu sebenci itu padaku? Apa kamu tidak menyimpan sedikitpun perasaan untukku setelah semua kebersamaan yang kita lalui? Dan kita akan bertaruh hati siapa yang akan lebih menderita. Aku atau kamu?"
Tanpa menghiraukan penolakan Cleantha, Raja memaksa untuk mencium bibir istrinya itu.
Namun suara ketukan keras di pintu, sontak membuatnya berhenti.
"Kak, tolong buka pintunya. Ini aku," panggil Alvian dari balik pintu.
Mendengar suara Alvian, membangkitkan lagi kemarahan dalam diri Raja.
Selama ini ia begitu sayang pada Alvian, meski mereka terlahir dari rahim ibu yang berbeda. Alvian adalah satu-satunya saudara sedarah yang dia miliki. Ia juga percaya penuh pada adiknya itu untuk mengawasi Cleantha. Tak disangka Alvian justru bak pagar makan tanaman.
Dengan geram, Raja melepaskan Cleantha dan membuka pintu.
Cleantha sendiri merasa begitu lega. Kehadiran Alvian sudah menyelamatkannya dari intimidasi Raja.
"Kak," sapa Alvian berdiri di ambang pintu.
Ia melihat wajah Raja menegang. Sorot matanya merah dan suram, tidak lagi penuh dengan cahaya layaknya seorang kakak yang memandang adiknya.
"Boleh aku masuk, Kak? Aku harus membicarakan hal yang penting denganmu," kata Alvian menatap Raja.
"Apa kamu tidak bisa lihat, aku sedang berdua dengan istriku? Oh ya, aku hampir lupa sekarang istriku sudah menjadi kekasihmu. Karena itu kamu bisa berbuat seenaknya dan menerobos masuk kesini," sentak Raja.
Sindiran tajam Raja membuat Alvian terhenyak. Pasti Fendi telah mengirimkan foto atau provokasi tertentu kepada Raja tentang malam penjebakan itu.
"Bukan begitu, Kak. Mungkin sikapku ini terlihat lancang. Tapi aku melakukannya semata-mata supaya rumah tanggamu bersama Cleantha tetap utuh."
Raja membuka pintu ruangannya dan membiarkan Alvian masuk.
Sementara Cleantha hanya membisu. Tidak tahu apa yang harus dilakukan. Ia khawatir akan terjadi perkelahian antara kakak beradik itu gara-gara dirinya.
"Jangan bersandiwara dengan pura-pura peduli pada rumah tanggaku! Kamu pasti kemari karena merindukan kekasihmu ini," tunjuk Raja kepada Cleantha.
"Kakak sudah salah paham. Aku dan Cleantha tidak ada hubungan apa-apa. Kami hanya difitnah oleh Fendi."
__ADS_1
"Fitnah? Lalu apa bisa kamu jelaskan foto-foto ini??? Jelas-jelas kalian tidur bersama di dalam kamar hotel!" bentak Raja sembari melemparkan ponselnya ke tangan Alvian.
Bola mata Alvian membesar, melihat banyaknya foto-fotonya bersama Cleantha yang dikirimkan kepada Raja.
Sambil mengepalkan tangan, Alvian mendengus kesal. Anda saja Fendi ada di depannya, pasti ia sudah menghajar sepupunya itu habis-habisan.
"Ini semua perbuatan Fendi, Kak. Dia menelponku untuk minum bersamanya di bar hotel La Vierra. Dia pura-pura memohon bantuanku supaya bisa minta maaf padamu. Ternyata dia memasukkan obat tidur dalam minumanku."
"Dia membawaku ke kamar hotel lalu meninggalkan aku dalam keadaan tertidur. Entah kapan Fendi membawa Clea. Yang jelas dia menggunakan cara yang licik untuk menjebak kami berdua. Coba amati baik-baik foto-foto ini. Aku dan Cleantha tertidur lelap karena kami diberi obat tidur," jelas Alvian secara detail.
"Kamu pintar sekali mengarang cerita, Al. Fendi memang laki-laki tidak bermoral, tapi dia tidak mengenal Cleantha. Bagaimana mungkin dia bisa menjebak wanita yang wajahnya saja dia tidak tahu," ucap Raja tidak percaya.
"Aku yakin ada orang lain yang menyuruhnya. Dalangnya pasti orang dalam rumah ini yang mengenal Cleantha. Tujuannya adalah untuk merusak pernikahan Kakak dan juga menghancurkan persaudaraan kita."
Sebenarnya kecurigaan Alvian tertuju pada kakak ipar pertamanya, Zevira. Siapa lagi yang diuntungkan oleh perceraian Raja dan Cleantha selain Zevira. Namun ia tidak mengatakan secara langsung, sebelum mendapatkan bukti-bukti yang kuat.
"Fendi sekarang kabur entah kemana. Tapi aku punya saksi yang bisa membuktikan bahwa aku dan Clea tidak bersalah. Saksi itu adalah Keyla, kakaknya Cleantha. Keyla menemukan kami berdua tidak sadarkan diri. Dia juga ikut menjaga Cleantha semalaman di dalam kamar hotel."
Penjelasan yang diberikan Alvian sedikit mengurangi kemurkaan Raja.
Namun emosinya kembali terusik saat mengingat betapa intimnya Alvian dan Cleantha dalam foto itu. Barangkali memang benar mereka telah dijebak. Tapi tetap saja Alvian sudah menyentuh Cleantha, wanita yang seharusnya hanya menjadi miliknya.
Selama ini ia rela berbagi apapun dengan Alvian, terkecuali istrinya sendiri. Noda yang terlanjur tertoreh ini, tidak akan bisa dilupakan begitu saja.
"Jujurlah padaku, Al! Apa kamu menikmati malammu dengan Cleantha? Apa kamu sudah pernah menjamahnya selama kalian tidur bersama?"
Pertanyaan Raja sontak mengejutkan Cleantha dan Alvian.
"Aku tertidur pulas karena pengaruh obat tidur. Mana mungkin aku melakukan hal tidak senonoh pada Cleantha," tepis Alvian.
Raja berdecih, seolah meragukan jawaban Alvian.
"Aku tidak percaya kalau kamu tidak pernah menyentuh Clea. Paling tidak kalian pernah berpegangan tangan, berpelukan atau melakukan kontak fisik lainnya selama aku pergi. Katakan padaku, yang mana yang pernah kamu lakukan pada Cleantha?" tanya Raja semakin mempererat cengkeramannya.
Melihat sorot mata tajam Raja yang menuntut penjelasan, Alvian tidak dapat mengelak.
Ia merasa harus mengaku secara jujur, supaya di kemudian hari tidak terjadi kesalahpahaman.
"Aku...memang pernah...memeluk Cleantha kemarin di rumah sakit. Tapi itu karena dia sedang pingsan dan mengigau tentang ibunya," terang Alvian jujur.
Mendengar pengakuan Alvian, gemuruh dalam hati Raja semakin menguat. Tiba-tiba saja ia kehilangan kendali dan melayangkan hantaman keras ke wajah adiknya.
Darah segar pun mengalir dari sudut bibir Alvian.
__ADS_1
Melihat kejadian itu, serta merta Cleantha menjadi panik.
Ia berlari dan berusaha memisahkan Raja dari Alvian untuk mencegah terjadinya hal yang lebih buruk.
"Stop, Tuan! Anda tidak boleh menyakiti Pak Alvian. Dia adalah adik Anda sendiri," kata Cleantha mengingatkan Raja sembari merentangkan tangannya.
"Sekarang kamu berani membela Alvian secara terang-terangan. Nasibmu saja belum aku tentukan, tapi kamu sudah mencoba melindunginya. Apa sebesar itu cintamu padanya?" tanya Raja tersulut amarah.
"Iya, saya mencintai Pak Alvian. Karena itu segera ceraikan saya," tegas Cleantha berbohong dengan suara lantang.
"Clea, apa kamu sudah gila??? Kenapa kamu berbohong seperti ini di hadapan Kak Raja?" tanya Alvian membelalakkan matanya.
"Saya masih waras, Pak. Jangan halangi saya," jawab Cleantha bersikeras.
Sambil mengusap darah dari bibirnya, Alvian mencoba menjelaskan pada Raja.
"Kak, jangan dengarkan Cleantha. Dia sengaja berbohong padamu supaya diceraikan. Dia dipaksa dan diancam oleh kakaknya, Keyla, agar meminta cerai darimu. Aku mendengarnya sendiri dan..."
"Cukup, Al! Aku sudah muak mendengar penjelasanmu. Sekarang juga keluar dari rumahku! Atau aku tidak akan mengingat hubungan pertalian darah kita lagi!"
Raja beralih memandang Cleantha dengan perasaan tersakiti yang dalam.
"Sepertinya kamu sangat ingin bercerai dariku. Jika memang itu yang kamu mau, maka aku akan berbaik hati mengabulkannya. Mulai saat ini juga kamu bukan lagi istriku. Pernikahan kita selesai sampai disini," ucap Raja mengucapkan kalimat talak.
Mendengar Raja sudah menjatuhkan talak padanya, Cleantha berusaha keras menahan air mata.
Bukankah memang ini yang diinginkannya? Agar Raja segera menceraikannya. Dengan demikian ia akan terbebas dari rasa bersalah.
Semestinya ia justru merayakan peristiwa langka ini. Tidak lama lagi ia akan kembali ke rumahnya, kembali pada ayahnya dan keluarganya. Sekaligus melepaskan cap pelakor dan perebut suami orang yang tersemat pada dirinya. Namun tak disangka, rasanya sepedih ini ketika harus berpisah dari Raja.
"Terima kasih, Tuan. Saya harap proses perceraian kita berlangsung dengan cepat. Saya mengucapkan terima kasih atas semua kebaikan yang telah Tuan berikan kepada saya. Saya berjanji suatu hari akan membalas budi pada Tuan, tapi bukan dengan cara menjadi istri Tuan. Saya permisi," ucap Cleantha berupaya tampil tegar di depan Raja.
Raja tidak menjawab. Hanya kekosongan dan kehampaan yang dirasakannya saat ini. Dengan nanar, ia menatap kepergian Cleantha dari ruang kerjanya.
"Kenapa Kakak menceraikan Cleantha? Bukankah Kakak mencintainya? Cleantha terpaksa berbohong karena dipaksa oleh Keyla. Jika dia tidak mau bercerai, maka dia akan dibuang dari keluarganya."
"Nasibnya juga sangat malang. Dia membutuhkan pria seperti Kakak untuk melindunginya. Sekarang belum terlambat bagi Kakak untuk rujuk kembali dengan Cleantha," sambung Alvian meyakinkan Raja.
"Aku hanya memenuhi keinginannya. Aku tahu dia menderita selama menjadi istri keduaku. Sudah saatnya aku melepaskannya. Sekarang tinggalkan aku sendiri! Keluar dari sini dan jangan tampakkan dirimu di hadapanku untuk sementara waktu!" tegas Raja mengusir Alvian.
BERSAMBUNG
Jangan lupa berikan comment, like, dan vote sebanyak-banyaknya.
__ADS_1