Istri Bayaran Milik Tuan Raja

Istri Bayaran Milik Tuan Raja
Bab 117 Menunggu Cintamu Kembali (Final)


__ADS_3

Dengan berat hati, Cleantha berangkat meninggalkan Almero. Ia enggan berpisah dari putranya barang sehari pun. Tapi kondisi memaksanya harus melakukan hal ini.


Cleantha merasa gelisah selama penerbangan ke Bali. Ia jarang sekali membuka mulut bahkan ketika mereka sudah sampai di vila milik Tuan Bayu.


Melihat bahasa tubuh Cleantha, Raja memahami apa yang ada di pikiran istrinya. Ia berencana mengajak Cleantha menikmati keindahan alam supaya wanita itu tidak dirundung kecemasan.


"Pemandangan di sekitar vila ini sangat indah. Tidak jauh dari sini juga ada pantai. Apa kamu ingin melihatnya? Aku akan menemanimu," tanya Raja dengan lembut.


"Saya lelah, mau istirahat saja di vila," kata Cleantha menolak. Masih saja ia menggunakan bahasa formal di depan Raja.


Penjaga vila yang mendengar jawaban Cleantha, segera mengantarkan mereka ke dalam kamar.


"Silakan istirahat, Tuan, Nyonya," kata penjaga vila itu meletakkan koper milik Raja dan Cleantha.


"Terima kasih, Pak Agung," kata Raja sambil tersenyum.


Perubahan yang terjadi pada diri Raja sungguh di luar dugaan Cleantha. Sekarang ia menjadi pria yang murah senyum dan ramah kepada orang lain. Padahal dulu pembawaannya begitu dingin, seolah tidak mempedulikan manusia di sekitarnya.


Setelah penjaga vila pergi, Raja menutup pintu. Ia menyibakkan tirai yang menutup jendela agar Cleantha bisa melihat pepohonan hijau yang menyejukkan mata.


"Clea, kamu bisa melihat pemandangan lewat jendela kalau merasa bosan."


"Iya, Tuan," jawab Cleantha singkat.


Daripada canggung, Cleantha menyibukkan diri dengan mengeluarkan bajunya dari koper.


"Kenapa tidak jadi istirahat? Biar aku yang merapikan baju-baju ini," ucap Raja menawarkan bantuan.


"Sebentar lagi selesai, Tuan."


Raja membalikkan punggung Cleantha yang sedari tadi membelakanginya. Kini wajah mereka saling berhadapan.


"Apa kamu tidak nyaman karena kehadiranku? Kalau iya aku akan pindah ke kamar yang lain," tanya Raja berusaha menahan kekecewaan.


"Tidak, saya hanya...."


"Jangan membohongiku, Clea. Aku sangat mengenalmu. Sekarang istirahatlah, aku akan kembali saat makan malam."


Tanpa menunggu reaksi Cleantha, Raja berlalu keluar dari kamar itu.


Melihat kepergian Raja, Cleantha mengalami pergolakan batin. Ada rasa menyesal di sanubarinya karena telah berbuat salah pada lelaki itu. Tidak sepantasnya seorang istri menolak suaminya. Namun di sisi lain ia sangat membutuhkan waktu untuk sendirian.


...****************...


Cleantha tidak tahu kemana Raja pergi sepanjang siang hingga sore. Apakah dia tidur di kamar lain atau dia berjalan-jalan ke pantai. Yang jelas pria itu baru muncul pada pukul tujuh malam.


"Tadinya aku ingin mengajakmu makan malam di tepi pantai. Tapi sebentar lagi sepertinya akan hujan. Besok saja kita kesana," kata Raja duduk di meja makan. Ia sudah menyuruh penjaga vila untuk memesan makanan dari restoran terdekat.


Raja dan Cleantha makan dalam keheningan.

__ADS_1


Hubungan mereka memang terbilang cukup rumit. Sepasang suami istri tapi bagaikan dua orang asing yang saling menjaga jarak.


Raja menyelesaikan makan malamnya lebih dulu. Ia beranjak dari kursi lalu berpamitan kepada Cleantha.


"Aku tidur di kamar depan. Jika kamu butuh sesuatu, panggil saja aku," kata Raja mengecup singkat dahi Cleantha.


Sesudah Raja meninggalkannya, Cleantha membantu Pak Agung membereskan meja makan.


Suara petir mulai terdengar di luar. Cleantha buru-buru meninggalkan dapur dan masuk ke kamarnya. Ia mengganti bajunya dengan kimono tidur lalu merebahkan diri di kasur.


Cleantha mencoba menenangkan pikiran. Tempat tidur berukuran king size itu terasa kosong tanpa ada seorangpun di sampingnya.


Cleantha mencoba menutup mata lebih awal. Namun untuk kedua kalinya terdengar bunyi guntur yang mengejutkan. Selanjutnya disusul derasnya gemuruh air hujan yang menerpa kaca jendela kamarnya.


Cleantha bangkit dari tempat tidur. Membuka setengah tirai untuk melihat hujan yang turun di luar.


Dari jendela, Cleantha menyaksikan derai air hujan disertai angin kencang. Pohon di dekatnya sampai bergoyang kesana kemari karena tertiup angin.


Cleantha menjauh dari jendela dan kembali ke tempat tidur. Namun ia melonjak kaget ketika mendengar suara guntur yang nyaring. Getarannya cukup dahsyat hingga lantai kamarnya serasa bergetar. Sungguh keadaan ini membuatnya merasa ketakutan. Ditambah lagi ia merasa cemas bila listrik akan padam dengan tiba


"Apa sebaiknya aku memanggil Tuan Raja untuk menemaniku? Aku tidak bisa tidur jika sendirian,"


pikir Cleantha ragu-ragu.


Kali ini ia harus mengesampingkan rasa malunya.


Karena Raja tidak kunjung membuka pintu, Cleantha mengetuk lebih keras.


"Tuan, tolong buka pintunya," seru Cleantha.


"Clea? Ada apa?" tanya Raja setengah mengantuk.


Cleantha menggigit bibir bawahnya sebelum mengatakan maksud kedatangannya. Dan entah mengapa itu terlihat sangat menggoda di mata Raja.


"Bisakah Tuan menemani saya di kamar? Saya takut karena di luar sedang hujan badai," ucap Cleantha dengan suara lirih.


Permintaan Cleantha membuat Raja bersorak kegirangan. Namun ia menahan diri di depan Cleantha demi menjaga harga dirinya.


"Baiklah, ayo ke kamar."


Raja memeluk bahu Cleantha dan membimbingnya ke kamar agar lebih rileks.


Setelah mengunci pintu, Raja menyuruh Cleantha untuk beristirahat.


"Tidurlah, aku akan menjagamu," kata Raja.


Cleantha hendak naik ke tempat tidur, namun suara guntur kembali mengejutkannya. Sontak Cleantha memeluk pinggang Raja hingga tubuh mereka saling menempel.


Baik Raja maupun Cleantha bisa merasakan detak jantung masing-masing. Hawa dingin yang semula menyergap mereka berubah menjadi hangat.

__ADS_1


Tanpa sadar, hasrat cinta yang terpendam bangkit seketika. Sulit bagi Raja untuk mengendalikan diri saat mereka sudah seintim ini.


Secara refleks, ia membelai rambut panjang Cleantha. Menggerakkan jari jemarinya untuk menelusuri bibir merah istrinya. Lalu ia mulai mencecap bibir lembut yang telah lama dirindukannya itu. Rasanya begitu manis. Mula-mula dengan ciuman lembut namun semakin lama makin menuntut.


Cleantha tidak dapat menghindar. Entah mengapa sentuhan pria ini mengembalikan ingatan akan rasa cinta yang pernah tumbuh di hatinya.


Merasa akan lepas kendali, Raja menghentikan dirinya. Sebagai lelaki ia harus menepati janji untuk tidak menyentuh Cleantha sebelum sang istri sendiri yang mengizinkan.


"Maaf, Clea, aku sudah keterlaluan. Aku tidak akan mengulanginya," ucap Raja menjauh.


Cleantha bisa melihat Raja sedang berusaha keras melawan keinginannya. Sebagai istri pastilah ia berdosa karena telah menyiksa batin dan raga suaminya.


Melihat Cleantha bimbang karena perbuatannya, Raja merasa bersalah.


"Aku harus menyingkir sebentar. Jika aku tetap disini mungkin aku akan melanggar janji," kata Raja sembari menetralkan rasa di dalam dirinya.


Cleantha menatap nanar pemilik punggung kokoh yang hendak menghilang dari hadapannya. Tiba-tiba saja ia merasa harus menghentikan Raja. Sudah cukup lama ia menyakiti hati pria itu.


"Tuan, jangan pergi," ucap Cleantha menahan lengan Raja.


Raja menoleh dan memegang tangan Cleantha.


"Nanti aku kembali kesini. Tapi sekarang aku harus pergi karena aku takut...."


"Tidak perlu takut, Tuan. Saya yang bersalah. Ketika menjadi seorang istri, maka saya harus siap menyerahkan semuanya untuk suami saya. Itulah kewajiban saya."


Raja menatap dalam mata Cleantha, berusaha mencari kebenaran atas perasaan sang istri.


"Kamu yakin sudah siap menerimaku, Sayang?" tanya Raja. Ia tidak dapat menyembunyikan kebahagiaan yang membuncah di dalam hatinya.


Cleantha mengangguk perlahan.


"Iya, saya siap."


Detik berikutnya, ia membiarkan Raja melakukan apa yang diinginkannya.


Raja memulainya dengan lembut. Ia ingin penyatuan pertama mereka lebih didominasi oleh rasa cinta daripada sekedar gairah yang meledak-ledak. Dan Cleantha bisa merasakan hal itu dalam setiap sentuhan sang suami.


Rintik hujan dan hembusan angin malam menjadi saksi bersatunya kembali dua insan yang pernah mengalami pahit dan manisnya cinta. Sungguh tidak ada yang bisa menebak bagaimana takdir akan mempertemukan sepasang anak manusia. Bila memang berjodoh, maka alam semesta akan mendekatkan, bukan menjauhkan. Jalanilah setiap momen dalam hidupmu dengan ikhlas, karena hanya Tuhan yang tahu kapan waktunya untuk memberimu kebahagiaan.


...ΩΩΩΩΩΩΩ THE END ΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Terima kasih author ucapkan untuk semua readers yang setia mengikuti novel ini sampai akhir. Apalagi yang selalu memberikan komen positif, like, dan vote yang bisa menambah semangat author. Maaf bila ada yang kurang berkenan karena author masih dalam tahap belajar.


Nantikan novel author selanjutnya yang tidak kalah seru.


Lope you all 🤗 🙏


ICHA Lauren

__ADS_1


__ADS_2