
Bak tersengat listrik ribuan voltase, otot leher Keyla mengetat. Entah adiknya ini sedang mengigau atau telinganya yang salah mendengar. Namun Keyla bisa melihat bulir air mata jatuh dari pipi Cleantha
Sungguh miris!
Jika apa yang diucapkan Cleantha benar adanya, artinya kekhawatirannya selama ini telah menjadi kenyataan. Adiknya telah bermain api dengan suami orang. Bahkan secara terang-terangan menyatakan diri sebagai istri kedua.
Dengan kata lain, Cleantha adalah seorang pelakor. Orang ketiga yang telah mengganggu pernikahan wanita lain. Tentu saja status yang disandang adiknya ini adalah status yang paling dibenci oleh masyarakat.
Sudah pasti, ia dan seluruh anggota keluarganya akan menjadi bulan-bulanan warga bila mereka mengetahui perbuatan Cleantha.
Keyla mengepalkan telapak tangannya, menahan rasa marah, kalut, dan malu yang berbaur menjadi satu.
Ia mencengkeram ujung kerah kemeja Cleantha sambil menatap tajam sang adik.
"Clea, apa kamu serius dengan ucapanmu? Kamu sudah menikah dengan Tuan Raja? Kapan kamu melakukan perbuatan memalukan itu?"
Dengan sudut mata yang basah, Cleantha menganggukkan kepalanya.
"I..iya, Kak. Tuan Raja sudah menikah denganku di villa, saat aku berhasil memenangkan hadiah seratus juta. Sebenarnya kompetisi wanita itu bukan untuk mencari pengasuh, tapi untuk mencari istri kedua bagi Tuan Raja. Aku baru mengetahuinya menjelang akhir kompetisi," ungkap Cleantha memberi penjelasan.
"Jadi kamu menukar kehormatanmu hanya senilai seratus juta? Dimana harga dirimu, Clea? Dan kenapa kamu menyembunyikan rahasia sebesar ini dariku?" tanya Keyla sambil mengguncangkan tubuh Cleantha.
"Aku minta maaf, Kak. Aku tidak punya pilihan lain. Uang hadiah itu sangat aku butuhkan untuk membayar hutang kepada Tante Puspa. Jika tidak, dia akan menjualku kepada pria hidung belang. Aku juga punya hutang pada Tuan Raja. Aku pernah tidak sengaja menyebabkan Tuan Raja mengalami kecelakaan. Kalau aku tidak bersedia menjadi istri keduanya, Tuan Raja akan memenjarakan aku," jawab Cleantha berurai air mata.
Alvian yang berdiri di belakang Keyla ikut terhenyak. Tak disangkanya Cleantha memiliki kisah hidup yang begitu memilukan. Nasib gadis itu sungguh malang, hingga dia harus bersedia menjadi istri kedua di usia yang masih muda.
"Aku tidak mau tahu apa alasanmu, Clea. Yang jelas kamu sudah melakukan dua kesalahan besar padaku dan Ayah. Pertama, kamu berbohong pada kami dan menutupi status pernikahanmu. Kedua, kamu sudah menjadi perebut suami orang. Kamu sudah menorehkan aib di keluarga kita," sentak Keyla dengan tatapan nyalang.
"Maafkan aku, Kak."
Hanya kalimat itu yang bisa terucap dari bibir Cleantha. Hatinya kini hancur lebur setelah mengetahui kakaknya begitu marah padanya. Ia memang bersalah dan mungkin kesalahannya itu tidak akan termaafkan seumur hidup.
__ADS_1
"Keyla, tenanglah dulu, Cleantha sedang tertekan," kata Alvian mencoba meredakan amarah Keyla.
"Jangan ikut campur, Pak! Ini urusan pribadi antara saya dan adik saya," tandas Keyla.
Keyla kembali memandang Cleantha dengan tatapan murka.
"Tidak ada gunanya kamu minta maaf berkali-kali padaku. Sekarang juga perbaiki kesalahanmu! Jika kamu masih memikirkan kebaikanku dan Ayah, maka tinggalkanlah Tuan Raja. Ajukan gugatan cerai padanya secepat mungkin dan kembalilah ke rumah."
Dengan bahu yang terguncang menahan pilu, Cleantha berusaha membuat kakaknya itu memahami kesulitannya.
"Kak, aku tidak bisa melakukan itu. Aku terikat perjanjian pernikahan dengan Tuan Raja selama satu tahun. Kalau aku melanggarnya, Tuan Raja akan menuntutku dan memintaku mengembalikan uang seratus juta yang sudah aku terima."
Air mata Cleantha sama sekali tidak menggoyahkan pendirian Keyla. Dengan tegas, Keyla mengulangi ancamannya.
"Aku tidak peduli apapun konsekuensi yang harus kamu terima. Aku memberimu waktu sampai akhir bulan ini. Bila kamu tidak mengajukan gugatan cerai, maka jangan harap kamu bisa kembali ke rumah. Aku juga akan mengatakan pada Ayah dan Tante Ana mengenai kelakuan burukmu," ucap Keyla sembari mengacungkan telunjuknya pada Cleantha.
"Tapi bila kamu menuruti kata-kataku, aku akan menerimamu lagi di rumah. Aku juga tidak akan membocorkan perbuatanmu pada Ayah. Sekarang pilihan ada di tanganmu. Semuanya terserah padamu!" bentak Keyla seraya melangkah pergi meninggalkan Cleantha.
Namun Keyla tidak menghiraukan panggilan Cleantha. Ia berjalan pergi sambil menahan ledakan emosi yang membuncah dalam dirinya. Baginya Cleantha sudah melakukan tindakan yang sangat keterlaluan dan melewati batasan moral.
Sementara Cleantha hanya bisa menatap nanar kepergian kakaknya. Ia terduduk lemas di lantai dengan sorot mata hampa.
Baru saja ia mengalami kejadian buruk bersama Alvian, kini pil pahit harus ditelannya untuk kedua kalinya.
"Clea, kamu tidak apa-apa?" tanya Alvian merasa prihatin.
"Saya ingin sendiri, Pak. Tolong tinggalkan saya," tutur Cleantha. Suaranya terdengar lemah, seolah pikirannya berada di tempat yang sangat jauh.
Alvian merundukkan badannya. Entah kenapa hatinya tergerak untuk meringankan penderitaan gadis yang malang ini. Rasanya ia ingin meminjamkan bahunya sebagai tempat bersandar bagi Cleantha. Namun hal itu tidak mungkin dia lakukan mengingat Cleantha adalah istri kakaknya.
"Aku tidak mungkin meninggalkanmu dalam keadaan seperti ini. Ayo berdiri, aku akan mengantarmu pulang," kata Alvian coba membujuk Cleantha.
__ADS_1
"Saya harus pulang kemana, Pak? Tidak ada yang mau menerima saya," jawab Cleantha putus asa.
"Tentu saja kamu bisa pulang ke rumah Kak Raja. Kamu adalah istri sahnya. Kakakku juga sangat peduli padamu."
Cleantha tersenyum kecut mendengar jawaban Alvian.
"Istri? Sebentar lagi saya tidak akan menyandang status itu lagi. Tuan Raja pasti akan mengusir saya kalau dia mengetahui peristiwa hari ini. Apalagi jika orang yang menjebak kita mengirimkan foto pada Tuan Raja. Bisa Bapak bayangkan sendiri bagaimana reaksinya."
"Clea, aku akan menjelaskan semuanya pada kakakku. Kak Raja pria yang cerdas, dia pasti tahu kalau kita hanyalah korban dari rencana busuk Fendi. Lagipula ada Keyla dan bartender hotel yang bisa dijadikan saksi bahwa kita telah dijebak. Kita sama sekali tidak melakukan perbuatan yang tercela," jelas Alvian.
"Percuma saja, Pak. Walaupun Bapak membela saya sekali pun, Tuan Raja tidak akan percaya. Dan itu tidak penting lagi untuk saya. Peristiwa ini sudah digariskan harus terjadi, agar mempermudah jalan bagi saya untuk berpisah dari Tuan Raja."
Iris mata Alvian membesar. Ia tahu hal gila apa yang sedang dipikirkan Cleantha.
"Clea, jangan katakan kamu akan memenuhi permintaan Keyla. Berpikirlah dulu sebelum mengambil keputusan. Aku yakin Kak Raja sekarang mencintaimu. Dia telah menerimamu sebagai istri yang sebenarnya," ucap Alvian meyakinkan Cleantha.
"Darimana Bapak bisa seyakin itu? Tuan Raja memang bersikap baik akhir-akhir ini, tapi dia tidak pernah mengatakan cinta pada saya. Dan Bapak tahu saya sudah tidak sanggup menjalani beban ini. Apa yang dikatakan kakak saya memang benar. Saya sudah berbuat dosa karena menjadi perebut suami orang. Apapun alasannya saya adalah pihak ketiga dalam pernikahan Tuan Raja dan Kak Vira."
Cleantha berdiri dari posisinya semula dengan berpegangan pada dinding kamar.
"Saya akan kembali pada keluarga saya. Ayah saya adalah satu-satunya yang paling penting dan berharga dalam hidup saya. Saya tidak akan menukar Ayah saya dengan apapun, sekalipun itu dengan cinta."
Setelah berkata demikian, Cleantha hendak meninggalkan kamar hotel. Namun mendadak pandangannya kabur. Tekanan batin yang terlalu berat membuat raganya kehilangan daya.
Melihat tubuh Cleantha yang limbung, Alvian segera berlari untuk menolongnya.
"Clea, sadarlah. Clea,..." ucap Alvian berupaya menyadarkan Cleantha yang jatuh pingsan dalam pelukannya.
"Aku harus membawanya ke rumah sakit sekarang juga,"
pikir Alvian mengambil keputusan.
__ADS_1
BERSAMBUNG