Istri Bayaran Milik Tuan Raja

Istri Bayaran Milik Tuan Raja
Bab 70 Pertemuan di Pesta (Part 2)


__ADS_3

Cleantha berusaha keluar pelan-pelan dari dalam taksi agar belahan gaunnya tidak terbuka lebar. Ia benar-benar tidak nyaman dengan gaun yang dipilihkan Keyla. Ditambah model rambut panjangnya yang sengaja ditata ke samping oleh pihak salon. Membuat sebagian leher jenjangnya terpampang dengan sangat jelas.


"Tingkahmu jangan seperti itu, Clea. Berjalanlah dengan anggun. Sebentar lagi kita akan masuk ke ballroom hotel," tegur Keyla.


"Tapi, Kak, aku merasa penampilanku sangat berlebihan sebagai penerima tamu."


"Siapa bilang? Justru kamu terlihat cantik dan lebih menarik. Lihat saja, resepsionis itu sampai memandangimu. Ayo, cepat kita ke ballroom. Kamu harus bersiap-siap sebelum tamu datang."


Keyla menarik tangan Cleantha menuju ke ballroom hotel.


Di depan pintu telah terpasang sederet papan bunga sebagai ucapan selamat para kolega atas hari jadi Adhiyaksa Group.


Galih dan Irna sudah tiba terlebih dahulu. Mereka berdiri di ambang pintu, bersiap menyambut para tamu.


Tidak jauh dari mereka berdiri, terlihat Pak Setyo dan beberapa manajer divisi lain sedang mengobrol. Mereka menggunakan setelan jas, lengkap dengan dasi dan sepatu hitam yang mengkilap.


Semua karyawan memang ingin tampil sebaik mungkin malam itu.


Ketika Cleantha dan Keyla datang, tatapan mereka semua mengarah pada kedua gadis itu.


Mulut Galih sampai menganga lebar. Ia terpukau melihat penampilan Cleantha.


"Clea, aku tinggal ke dalam ya. Aku mau cari kursi di bagian tengah," kata Keyla berjalan masuk ke dalam ballroom.


Cleantha mengangguk. Ia berjalan menghampiri kedua temannya, Galih dan Irna.


"Mas Galih, Mbak Irna," sapa Cleantha menghampiri mereka.


"Eh, ini beneran Mbak Cleantha? Saya kira model dari mana? Cantik sekali," puji Galih terkagum-kagum.


Irna menepuk bahu Galih dengan keras.


"Hush, jangan berani menggoda Clea! Nanti kalau Pak Alvian tahu, kamu bisa dipecat dari pekerjaanmu," ancam Irna menakut-nakuti Galih.


"Oh, maaf, saya akan tutup mulut," kata Galih ketakutan.


Cleantha hanya tersenyum sambil menggelengkan kepala. Hingga saat ini pun teman-teman kantornya masih menganggapnya sebagai kekasih Alvian. Padahal sudah lama dia tidak bertemu dengan atasannya itu.


"Kenapa ya bos-bos kita belum datang?" bisik Galih kepada Irna.


"Mana aku tahu, paling sebentar lagi. Duh, perutku malah melilit. Aku ke toilet dulu ya. Clea, tolong kamu ambil alih buku tamunya," ucap Irna menyodorkan pena dan buku tamu ke tangan Cleantha.


"Iya, Mbak."


Cleantha menerima buku itu lalu meletakkannya di meja.


"Tulis dulu namamu di buku tamu untuk mewakili papamu, Ayesha," terdengar suara seorang pria yang sangat dikenal Cleantha.

__ADS_1


"Pak Alvian dan tunangannya,"


batin Cleantha terkesiap.


Cleantha terpaksa mendongakkan kepalanya. Ia melihat Alvian sedang mengantarkan Ayesha menuju ke meja penerima tamu.


Alvian nampak lebih tampan dengan setelan tuxedo berwarna hitam, sedangkan Ayesha menggunakan gaun panjang berwarna biru.


"Dimana saya harus menulis..."


Ayesha menghentikan pertanyaannya ketika menatap wajah wanita yang menjadi penerima tamu itu. Begitu juga dengan Alvian.


Wanita muda di balik meja itu sangat cantik dengan balutan gaun merahnya. Dan ia adalah Cleantha, bawahannya, sekaligus mantan kakak iparnya.


"Cleantha, kenapa kamu ada disini? Kamu tidak mendampingi Tuan Raja?" tanya Ayesha terkejut.


"Saya menjadi penerima tamu, Nona Ayesha."


Sekilas Ayesha melirik kepada Alvian yang tengah memandang Cleantha. Hatinya semakin panas membara, dipenuhi oleh api cemburu. Ia segera menarik Alvian menjauh dari meja penerima tamu.


"Ayo, kita masuk, Al. Bukankah kamu harus menemui para tamu?" ujar Ayesha sambil menggandeng tangan Alvian.


"I...iya," jawab Alvian.


Alvian tidak mengucapkan sepatah kata pun kepada Cleantha. Ia hanya berlalu mengikuti Ayesha ke dalam ballroom.


Sementara Galih kembali melongo menyaksikan Alvian digandeng mesra oleh gadis lain.


Cleantha belum sempat menjawab pertanyaan Galih, saat seorang pria berjas abu-abu tua menghampirinya.


Pria itu bertubuh jangkung dengan rambut cepak berwarna coklat gelap. Wajahnya tampan, blasteran Eropa dan Indonesia. Dari penampilannya yang elegan, Cleantha menebak bahwa pria itu adalah salah satu pengusaha muda, relasi bisnis Adhiyaksa Group. Namun entah mengapa, Cleantha tidak suka melihat cara pria itu menatapnya.


"Selamat malam, Nona, dimana saya harus menuliskan nama saya," tanya pria itu dengan suara beratnya.


Cleantha merasa sorot mata pria itu tak lepas memandangnya. Dimulai dari bibir, leher, lalu turun ke bagian atas tubuhnya yang lain.


"Di..sini, Tuan..."


"Evander Natakusuma. Itu nama saya, Nona," kata pria itu memperkenalkan diri.


"Ini penanya Tuan Evander, silakan," ucap Cleantha bersikap hormat. Ia menyerahkan pena berwarna silver ke tangan Evander.


Namun bukannya mengambil pena, Evander justru memegang tangan Cleantha dengan erat.


"Siapa namamu, Nona?" tanya Evander tersenyum tipis.


Tindakan Evander itu membuat Cleantha tercengang. Sama halnya dengan Galih yang berdiri di samping Cleantha.

__ADS_1


"Saya Cleantha, Tuan. Bisa tolong lepaskan tangan saya," ucap Cleantha berusaha tetap bersikap sopan.


Tepat saat itu, Raja beserta Zevira tiba di hotel.


Raja nampak tergesa-gesa berjalan mendahului Zevira.


"Raja, tunggu aku. Kursi rodaku tidak bisa mengimbangi kecepatan jalanmu," keluh Zevira.


"Kalau begitu kamu tidak usah ikut ke acara ini," desis Raja kesal.


"Aku datang demi menjaga image perusahaan dan juga nama baikmu, Raja. Kita harus terlihat sebagai sepasang suami istri yang serasi dan bahagia. Dengan begitu para investor dan kolega bisnis akan semakin mempercayaimu."


Raja tidak mengindahkan perkataan Zevira. Ia tetap berjalan ke arah ballroom tanpa menoleh ke belakang.


Para karyawan yang melihat kedatangan Raja menganggukkan kepala mereka penuh hormat. Beberapa orang juga menyapanya dan mengucapkan selamat malam. Jarang sekali mereka memiliki kesempatan emas untuk bertemu secara langsung dengan sang CEO Adhiyaksa Group.


Raja hendak melewati pintu, namun ia berhenti karena melihat Evander.


Evander adalah mantan teman kuliahnya sekaligus calon investor perusahaannya. Pria itu nampak sedang berbicara intens dengan seorang wanita di meja resepsionis.


Dengan langkah cepat, Raja menghampiri Evander untuk menyapanya.


"Evan, akhirnya kita bisa bertemu disini," sapa Raja menepuk bahu temannya itu.


Tak ayal, Raja melihat tangan Evander sedang menggenggam tangan sang wanita penerima tamu.


Karena merasa sungkan dengan kedatangan Raja, Evander melepaskan tangannya dari Cleantha.


"Raja," ucap Evander terkejut.


Raja pun mengalihkan pandangannya. Ia mengamati wanita bergaun merah yang menjadi penerima tamu di acaranya.


Meskipun telah berpisah, tapi Raja sangat mengenali wajah dan lekuk tubuh wanita di hadapannya ini.


"Cleantha,"


gumam Raja terkejut menatap mantan istrinya.


Cleantha segera menundukkan wajahnya, menghindari tatapan tajam yang dilemparkan Raja Adhiyaksa.


Sejenak, Raja tersihir oleh penampilan Cleantha yang mempesona malam ini. Ditambah gaun merah menyala yang dikenakannya. Memperlihatkan kulitnya yang putih mulus tak bercela, serta bentuk tubuhnya yang ramping.


Namun beberapa detik kemudian, rasa kagumnya berubah menjadi amarah. Ia tidak menyangka Cleantha telah berubah. Gadis itu tidak lagi lugu dan malu-malu seperti ketika masih menjadi istrinya. Namun ia malah berani berpenampilan menggoda.


Pantas saja bila Evander sampai tergoda oleh Cleantha. Apalagi Evander memang terkenal sebagai lelaki cassanova sejak duduk di bangku kuliah. Ia pasti akan merayu wanita yang diincarnya untuk dijadikan teman kencan.


"Kenapa sekarang kamu berubah, Clea? Proses perceraian kita belum selesai, tapi kamu sudah mencoba untuk menggoda pria lain. Apa kamu sengaja berpenampilan begini untuk mendapatkan perhatian para lelaki?"

__ADS_1


batin Raja merasa cemburu.


BERSAMBUNG


__ADS_2