Istri Bayaran Milik Tuan Raja

Istri Bayaran Milik Tuan Raja
Bab 40 Bumerang


__ADS_3

Cleantha mengedarkan pandangannya. Berusaha mencari baju-bajunya yang semalam berserakan di lantai. Namun bajunya sudah tidak ada lagi. Hanya terlihat sebuah piyama tidur yang diletakkan di ujung ranjang.


Cleantha memungut piyama hitam itu lalu memakainya sembarang saja.


Tanpa mempedulikan rasa nyeri yang menyiksa raga, Cleantha mengambil tasnya dari atas nakas.


Ponselnya masih tersimpan di dalam tas sejak semalam. Beruntung ponsel itu belum kehabisan daya baterai.


Yang ada di pikiran Cleantha saat ini hanya satu. Yaitu segera menghubungi Pak Setyo, sang manajer.


Cleantha menghirup nafas dalam-dalam. Untuk kesekian kalinya, ia terpaksa harus berbohong soal alasannya tidak masuk kerja hari ini.


"Tuutt, tuuttt...." Bunyi nada panggilan yang tersambung.


Pak Setyo tidak kunjung menerima panggilan itu. Barangkali ia masih sibuk mengurusi berbagai macam tugas kantor di pagi hari. Maklum saja ia menjalankan tugas ganda, sebagai pimpinan di divisi finance sekaligus bawahan Alvian Adhiyaksa.


Pada panggilan kelima, barulah Pak Setyo mengangkat telponnya.


"Selamat pagi saya Setyo Handoko, maaf dengan siapa saya bicara?" tanya Pak Setyo penuh sopan santun.


Pak Setyo memang belum menyimpan nomor ponsel Cleantha, hingga ia tidak tahu siapa yang telah menghubunginya.


"Selamat pagi, Pak. Ini saya Cleantha."


"Oh, Cleantha. Apa kondisi kesehatanmu sudah membaik?" tanya Pak Setyo.


Pertanyaan Pak Setyo membuat Cleantha kebingungan. Entah siapa yang memberikan kabar bohong pada Pak Setyo bahwa dirinya sedang sakit.


"Bapak tahu dari mana kalau saya sedang tidak enak badan?" tanya Cleantha menyelidiki.


"Tadi pagi Tuan Dion yang memintakan izin secara langsung untukmu. Katanya kamu tidak bisa masuk kerja selama dua hari ke depan."


"Dion? Apa Tuan Raja yang menyuruhnya melakukan hal itu?"


"Cleantha, kamu baik-baik saja? Kamu masih mendengarkan saya kan?" tanya Pak Setyo khawatir.


"I..iya, saya mendengarkan Bapak. Besok jika saya sudah sehat, akan saya usahakan untuk masuk kerja, Pak," jawab Cleantha merasa sungkan.


"Tidak masalah, Cleantha. Pastikan dulu kamu benar-benar pulih. Saya tutup dulu telponnya, sebentar lagi saya harus menghadap Pak Alvian."


"Baik, Pak, terima kasih."


Selesai berbicara dengan Pak Setyo, Cleantha melangkah dengan kaki gemetar ke kamar mandi.


Di kamar mandi yang didominasi marmer bercorak hitam putih itu, Cleantha tertunduk lesu.


Perlahan, ia melepaskan piyama yang melekat pada tubuhnya lalu memutar kran shower.


Air hangat pun mengucur deras, membasahi rambut dan tubuhnya. Dengan jemarinya, Cleantha menguar rambutnya, menggosoknya berulang kali sambil merasakan pancaran air yang mengenai kulitnya.


Ia ingin berteriak, marah, dan menjerit sekeras mungkin, namun semua itu tak ada gunanya.


Harusnya dia mengetahui resiko ini sebelum memutuskan untuk menerima uang dari Raja.


"Ini terjadi karena kesalahanku sendiri,"


sesal Cleantha di dalam hati.


Sebelum keluar dari kamar mandi, Cleantha membasuh wajahnya dengan air. Ia harus kembali tegar dan menghapus jejak kesedihan yang tersisa pada wajahnya.


Setelah mengeringkan tubuh, Cleantha mengenakan baju longgar lalu kembali ke kamarnya.


"Nyonya, maaf saya datang lagi. Apa Anda sudah selesai? Boleh saya masuk?"


Terdengar suara Narti yang mengetuk pintu seraya memanggil namanya.

__ADS_1


"Iya, Mbak, sebentar."


Begitu Cleantha membuka pintu, ia melihat Narti membawa nampan dengan wajah cemas.


"Nyonya, silakan segera dimakan sarapannya. Kalau perut Anda kosong, Anda bisa sakit."


"Iya, Mbak letakkan saja di atas meja."


Sesungguhnya Cleantha tidak memiliki selera makan sama sekali.


Ia justru menjatuhkan pandangan ke arah seprai yang ternoda. Noda yang mengingatkannya pada tragedi semalam.


Ia harus segera menyingkirkan benda itu dari hadapannya.


Dengan kedua tangannya, Cleantha menarik seprai itu dari atas ranjang hingga membuat Narti terkejut.


Tanpa disuruh, Narti maju dan menawarkan bantuan.


"Nyonya, biar saya saja yang mengganti seprai Anda."


"Tidak usah, Mbak. Bawa saja seprai ini keluar dan tolong dicuci sampai bersih."


"Baik, Nyonya."


...****************...


Zevira masih menggenggam ponselnya sambil menunggu Narti keluar dari kamar Cleantha. Ia sangat penasaran dengan apa yang terjadi pada madunya itu.


Pasalnya hari ini Cleantha tidak masuk kerja dan belum keluar dari kamarnya.


Tadi pagi, ia juga melihat Raja begitu tergesa-gesa berangkat ke kantor.


"Narti, kesini!" seru Zevira.


"Apa Cleantha sudah bangun? Bagaimana keadaannya?"


"Nyonya Cleantha sedang sarapan, Nyonya Vira. Dia kelihatan kurang sehat. Wajahnya pucat dan lesu."


"Lalu apa itu yang ada di keranjang?" tanya Zevira penasaran.


"Oh, ini baju kotor dan seprai milik Nyonya Cleantha. Dia menyuruh saya mencucinya karena ada nodanya, Nyonya."


"Noda apa? Keluarkan dari keranjang, aku ingin melihatnya."


Meskipun permintaan Zevira terkesan aneh, sebagai pelayan Narti hanya bisa menurut. Ia menunjukkan bercak berwarna kecoklatan itu kepada majikannya.


Mata Zevira langsung terbelalak. Ia tahu benar apa arti dari tanda itu, karena dia pernah mengalaminya.


"Ini bekas darah? Apa semalam Raja telah..."


Bibir Zevira bergetar hebat. Ia tidak percaya kalau rencananya justru berbalik menjadi bumerang bagi dirinya sendiri.


"Bi Dewi!" teriak Zevira penuh kemarahan.


"Iya, Nyonya," jawab Bi Dewi datang tergopoh-gopoh.


"Antarkan aku sekarang ke kamar!"


"Baik, Nyonya."


Melihat mata Zevira yang memerah, Bi Dewi bergegas mendorong kursi rodanya menuju kamar.


"Nyonya, Anda kenapa?"


"Tinggalkan aku sendiri dan tutup pintunya!" tandas Zevira.

__ADS_1


Zevira melempar peralatan makeupnya ke segala arah.


"Aku benci gadis kampung itu! Dia sudah merusak rencanaku. Sekarang dia pasti menertawakan aku karena berhasil merebut suamiku!" pekik Zevira melampiaskan rasa frustasinya.


Teriakan Zevira yang terdengar dari dalam kamar membuat Bi Dewi khawatir.


"Nyonya, apa Anda baik-baik saja?" ketuknya beberapa kali.


Zevira tidak menghiraukan panggilan dari pelayan setianya itu. Ia malah menangis tersedu-sedu.


Dunianya yang serba sempurna kini runtuh seketika, meninggalkan puing-puing kehancuran yang mengoyak hatinya.


Bagaimanapun Raja adalah cinta pertama, suami sekaligus ayah dari putrinya.


Meski telah bersama dengan Fendi, ia tidak akan pernah merelakan Raja menjadi kepunyaan wanita lain.


Pikiran, tubuh, dan harta pria itu adalah miliknya seorang.


Namun yang terjadi sungguh di luar perkiraannya. Kini Raja telah berubah. Ia membagikan cintanya pada Cleantha, gadis yang seharusnya hanya pantas menjadi pelayan di rumahnya.


"Kenapa Raja? Kenapa aku saja tidak cukup bagimu? Dan kenapa kamu tidak mau memaafkan aku?"


teriak Zevira putus asa.


"Nyonya, buka pintunya. Jangan melakukan hal-hal yang akan Anda sesali," ucap Bi Dewi berusaha mengingatkan Zevira.


Sambil menatap pantulan dirinya di cermin, Zevira mengusap air matanya.


"*T*idak, belum waktunya aku menyerah. Aku Zevira Adhiyaksa. Tidak mungkin aku dikalahkan oleh gadis bodoh seperti Cleantha. Yang perlu aku lakukan hanyalah membuat Cleantha meninggalkan rumah ini. Dan aku harus memastikan gadis itu tidak mengandung anaknya Raja."


Zevira membuka pintu kamarnya lalu membiarkan Bi Dewi masuk.


"Nyonya, tenanglah. Kalau Anda tertekan seperti ini, Anda bisa jatuh sakit."


"Aku tahu, Bi. Mungkin rencanaku kali ini gagal. Tapi aku masih punya banyak kesempatan untuk menyingkirkan Cleantha."


...****************...


Raja duduk di meja kerjanya sambil memeriksa laporan hasil pembayaran nasabah. Entah kenapa hari ini dia merasa sulit untuk berkonsentrasi pada pekerjaannya.


Raja menekan tombol interkom lalu memanggil Dion masuk ke ruangannya.


"Permisi, Tuan."


"Dion, tolong bacakan ulang jadwalku setelah makan siang."


"Anda akan bertemu perwakilan bank Union, lalu jam empat sore ada meeting dengan Regional Manajer."


"Katakan kepada Regional Manajer bahwa meeting hari ini dibatalkan. Kita akan menjadwal ulang besok."


Dion mengernyitkan dahinya.


"Tapi Tuan, bukankah Anda sendiri yang meminta agar meeting diadakan hari ini?"


"Aku berubah pikiran. Nanti malam aku punya urusan yang jauh lebih penting. Sekarang tolong hubungi Alvian, suruh dia datang ke ruanganku," titah Raja memberikan instruksi.


"Baik, Tuan."


Dalam hati, Dion merasa keheranan. Tidak biasanya Raja menyuruhnya untuk menghubungi Alvian. Bila ada masalah yang hendak dibicarakan, Raja selalu menelpon adiknya itu secara langsung.


"Ada apa dengan Tuan Raja hari ini? Sikapnya benar-benar aneh,"


batin Dion seraya menekan tombol interkom.


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2