
Alvian memutuskan untuk pulang lebih cepat dari biasanya. Pikirannya sedang kusut karena banyak hal yang terjadi bersamaan. Namun dering telpon menghentikan langkahnya.
"Al, datanglah ke ruanganku sekarang. Kita harus menyelesaikan masalah di antara kita," tukas Raja dari balik telpon.
"Baik, Kak. Aku akan kesana," ucap Alvian menyanggupi.
Sambil menarik nafas panjang, Alvian menuju ke lantai sepuluh untuk menemui Raja.
Ia tidak tahu apa yang hendak dibicarakan Raja. Tapi pasti ada hubungannya dengan masalah seputar Cleantha. Barangkali Raja telah mempercepat keputusannya untuk rujuk dengan Cleantha.
Siap atau tidak siap ia harus menerima keputusan tersebut. Walaupun nanti harus kehilangan wanita yang dicintainya, itu adalah resiko yang mesti dia tanggung.
"Tuan Alvian, silakan masuk. Tuan Raja sudah menunggu Anda," kata Dion menyapa Alvian.
Sesungguhnya, Dion merasa was-was menyaksikan pertemuan kakak beradik itu. Ia takut akan terjadi perkelahian antara mereka. Pasalnya hubungan mereka semakin memanas akhir-akhir ini.
Ketika Alvian memasuki ruangannya, Raja langsung menatap tajam kepada adiknya.
"Kamu tahu kenapa aku memanggilmu kesini?" tanya Raja dingin.
"Apa Kakak sudah membatalkan proses perceraian dengan Cleantha?" ucap Alvian balik bertanya.
"Kelihatannya kamu sangat tidak sabar. Apa kamu ingin segera memiliki mantan istriku itu?"
"Bukan, Kak. Aku justru ingin kalian bersama kembali demi calon bayi kalian."
"Jangan bersikap munafik, Al! Kamu pikir bisa membodohi aku. Dengan mata kepalaku sendiri, aku melihat kalian berangkat bersama ke kantor. Mungkin kalian juga sudah tinggal satu atap. Aku tidak akan menerima wanita yang menjadi bekas kekasih lelaki lain sebagai istriku," tandas Raja menekankan suaranya.
"Kenapa Kakak tega menghina Cleantha seperti itu?" tanya Alvian tersulut kemarahan.
"Aku hanya mengatakan kebenaran. Sekaligus aku ingin memberikan kabar baik untukmu. Aku tidak akan membatalkan perceraianku. Lanjutkan saja hubungan kalian, aku tidak peduli. Tapi dengar baik-baik, setelah kamu mengambil istriku, aku tidak akan membiarkanmu mengambil posisiku di perusahaan," tandas Raja.
Alvian mengerutkan kedua alisnya.
"Posisi apa yang Kakak bicarakan?"
"Sekarang aku paham kenapa kamu berani menentang keputusanku di hadapan Manajer HRD. Ternyata kamu berencana mengincar jabatan CEO. Aku ingin mengucapkan selamat padamu karena ada orang yang mendukungmu. Tapi aku tidak gentar sama sekali menghadapimu. Karena kemampuanku sudah terbukti dalam memajukan perusahaan ini."
__ADS_1
Alvian semakin bingung mendengar perkataan Raja yang menyudutkannya. Namun ia mulai tidak tahan mendengar tuduhan bertubi-tubi yang ditujukan kepadanya.
"Cukup, Kak! Selama ini aku mengalah dan terus bersabar menerima setiap tuduhanmu. Tapi kesabaranku ada batasnya. Meskipun aku adikmu, tapi aku punya harga diri. Aku tidak pernah menginginkan posisimu di perusahaan ini. Seandainya ada yang memberikannya secara cuma-cuma, aku juga akan menolaknya," tegas Alvian.
"Dan soal Cleantha, aku mengembalikan pekerjaannya karena itulah tambatan hidupnya saat ini. Aku tidak mau melihat Cleantha hancur untuk kedua kalinya setelah dia ditinggalkan oleh suaminya sendiri," sindir Alvian.
Wajah Raja menegang mendengar sindiran tajam dari Alvian.
"Aku berharap Kakak tidak akan menyesal jika nanti aku memiliki Cleantha. Karena aku tidak akan merelakannya untuk kembali padamu," kata Alvian melangkah pergi.
...****************...
Seraya meredam perasaannya yang kacau balau, Alvian membuka pintu rumahnya.
Di kala begini, ia hanya ingin mengurung diri di kamar tanpa gangguan siapapun.
Sayang sekali rencananya tidak berjalan lancar karena Ny. Marina sudah menunggu di ambang pintu.
"Al, Mama ingin bicara serius denganmu," ajak Ny. Marina menggandeng tangan Alvian ke ruang kerjanya.
"Om Bayu? Kabar apa yang dia sampaikan kepada Mama?" tanya Alvian merasa curiga.
"Bayu akan mencalonkanmu sebagai CEO di rapat dewan direksi," jelas Ny. Marina.
"Akhirnya kamu punya kesempatan menjadi pimpinan tertinggi di Adhiyaksa Group. Cukup katakan "iya", maka namamu akan dimasukkan sebagai calon kandidat terkuat untuk menggantikan Raja," pinta Ny. Marina penuh harap.
Berita yang disampaikan Ny. Marina membuat Alvian terhenyak. Kini ia tahu mengapa Raja menuduhnya hendak merebut posisi CEO.
Semua itu berawal dari ide tidak masuk akal seorang Bayu Narendra. Entah apa tujuan pria itu, hingga ia memperkeruh suasana. Secara tidak langsung, Bayu Narendra sudah mengadu domba dirinya dengan Raja.
"Al, kenapa diam saja? Kamu setuju kan? Ini semua demi masa depanmu," ucap Ny. Marina membujuk Alvian.
"Maafkan aku, Ma. Aku tidak bersedia dicalonkan sebagai CEO. Aku tidak suka mencuri hak orang lain. Lagipula aku sudah puas dengan pekerjaanku yang sekarang," tolak Alvian.
Ekspresi Ny. Marina berubah seketika mendengar penolakan dari putranya.
"Sampai kapan kamu terus mengecewakan Mama, Al? Kamu akan membuang kesempatan berharga ini hanya demi Raja? Apa dia lebih penting bagimu daripada Mama?"
__ADS_1
"Ini murni keputusanku sendiri. Tidak ada hubungannya dengan siapa yang lebih penting bagiku."
"Oh begitu. Mama tidak heran kenapa kamu jadi sebodoh ini. Pasti kamu sudah dipengaruhi oleh wanita pelakor yang bernama Cleantha itu."
Rahang Alvian menegang mendengar mamanya menyinggung tentang Cleantha.
"Dari mana Mama tahu soal Cleantha?"
"Tidak penting Mama tahu dari siapa. Yang jelas Mama melarangmu berhubungan dengan wanita rendahan itu. Apalagi dia adalah mantan istri Raja. Keluarga kita akan dipermalukan jika kamu terus berhubungan gelap dengan wanita itu!" seru Ny. Marina memperingatkan Alvian.
"Aku tidak berhubungan gelap dengan Cleantha, Ma. Tapi aku berencana untuk menikahinya," jawab Alvian datar.
Bagaikan tersengat listrik tegangan tinggi, tubuh Ny. Marina bergetar hebat. Ia sampai memegangi pinggiran meja agar tidak hilang kendali.
Bermimpi pun tidak pernah bila putra kebanggaannya akan menikahi janda kakaknya. Perbuatan Alvian ini sungguh akan mencoreng nama baiknya di depan semua orang.
"Al, apa kamu sudah gila??? Seberapa dalam pengaruh wanita itu sehingga kamu kehilangan logika? Percuma saja Mama mendidikmu dan menyekolahkan kamu ke luar negri, jika kamu berakhir seperti ini. Kamu hanya bisa mempermalukan Mama."
"Sejak dulu Raja selalu lebih unggul darimu. Sekarang pun juga. Kamu menolak menjadi CEO dan malah ingin menikahi bekas istrinya. Entah kesialan apa yang menimpa Mama," ucap Ny. Marina sambil terisak.
"Jadi Mama menyesal sudah memiliki anak seperti aku? Mungkin selama ini aku belum pernah membuat Mama bangga. Tapi setidaknya aku tahu membedakan mana yang baik dan mana yang buruk. Dan aku selalu menyayangi Mama. Aku minta maaf kalau aku sudah mengecewakan Mama," jawab Alvian sedih.
"Mama tidak menerima permintaan maaf. Yang Mama minta lakukan dua hal ini untuk Mama. Terima pencalonanmu sebagai CEO dan tinggalkan wanita rendahan bernama Cleantha itu. Jika kamu tidak menurut, maka Mama tidak akan menganggapmu lagi sebagai anak Mama," ancam Ny. Marina dengan suara parau.
"Maafkan aku, Ma. Tapi aku tidak bisa memenuhi kedua permintaan Mama itu."
"Kalau begitu tinggalkan rumah ini! Mama tidak ingin melihatmu," ucap Ny. Marina mengacungkan tangannya.
"Baiklah, aku akan pergi. Jaga kesehatan Mama baik-baik," ucap Alvian membalikkan punggungnya.
Dengan langkah gontai, ia berlalu dari hadapan Ny. Marina.
Sambil mengusap air matanya yang berlinang, Ny. Marina mengucapkan ikrar di dalam hati.
"Cleantha, kamu sudah membuat aku kehilangan putraku. Aku akan membuat perhitungan denganmu dan menyadarkanmu dimana posisimu sebenarnya."
BERSAMBUNG
__ADS_1