
"Nyonya, apa Anda yakin akan menyuruh mereka pergi?" tanya Pak Darma sekali lagi.
"Iya, Pak."
"Bagaimana kalau Tuan Raja marah, Nyonya?" tanya Pak Darma cemas.
"Biarkan saja. Kalau dia marah katakan padanya saya yang menolak perintahnya," kata Cleantha menutup pintu kamarnya.
Tindakan Cleantha yang terkesan berani membuat Pak Darma tercengang.
Entah ada apa gerangan, sehingga istri muda Tuannya itu berubah drastis. Cleantha yang biasanya sabar dan penurut kini menunjukkan sisi pemberontaknya.
Sambil meminta maaf, Pak Darma mengantarkan dua wanita itu keluar dari kediaman Raja.
Sementara Bi Dewi yang menjadi mata-mata Zevira, langsung melaporkan apa yang terjadi pada majikannya. Dia memang sudah menguping pembicaraan antara Cleantha dan Pak Darma sejak tadi.
"Nyonya, saya punya kabar penting untuk Anda."
"Kabar apa itu?" tanya Zevira tidak bersemangat.
"Tuan Raja mengirimkan dua orang penata rias untuk istri mudanya. Tapi Pak Darma mengantar kedua wanita itu pulang. Sepertinya gadis kampung itu menolaknya, Nyonya."
Zevira segera bangkit dari tempat tidurnya. Darahnya serasa mendidih setelah mendengar informasi yang diberikan Bi Dewi.
"Apa kamu yakin Raja yang mengutus mereka?"
"Iya, Nyonya. Saya mendengarnya sendiri dari Pak Darma."
Zevira menggertakkan giginya. Wajahnya menegang dipenuhi oleh kebencian dan rasa cemburu.
Ia tidak percaya jika Raja sampai berbuat sejauh itu untuk Cleantha. Selama menjadi istri Raja, ia bahkan belum pernah diperlakukan seistimewa itu.
"Sombong sekali dia. Tapi untuk apa Raja menyuruh mereka merias Cleantha? Apa jangan-jangan Raja akan menghadiri acara lelang itu?" ucap Zevira menerka-nerka.
"Soal itu saya tidak tahu Nyonya."
Sudut mata Zevira mulai basah oleh air mata.
Belum cukup hantaman yang diterimanya pagi ini, kini sudah muncul kejutan yang lain yang sama menyakitkan. Dan penyebab semua penderitaannya hanyalah satu orang, yaitu Cleantha.
"Aku harus mencegah gadis kampung itu pergi bersama suamiku."
Zevira buru-buru meminta Bi Dewi membantunya untuk naik ke atas kursi roda.
"Aku harus ke kamar Cleantha sekarang juga, Bi."
...****************...
Cleantha berdiam di kamarnya seraya membalas pesan masuk dari Keyla.
Kakaknya itu menanyakan alasan kenapa dia tidak masuk kantor hari ini.
"Aku sedang tidak enak badan, Kak. Besok aku usahakan untuk masuk kerja. Bagaimana keadaan Ayah?"
tulis Cleantha membalas pesan Keyla.
Mustahil ia mengatakan pada Keyla bahwa ia tidak masuk kerja karena telah kehilangan kehormatannya.
"Ayah baik-baik saja. Dia mau makan dan minum seperti biasa,"
__ADS_1
tulis Keyla.
"Clea, tolong buka pintunya. Ini aku," seru Zevira dengan suara lantang.
Meski enggan, Cleantha bergeser dari tempat tidurnya. Emosinya yang sedang naik turun membuatnya malas bertemu siapapun. Namun tak ada pilihan baginya selain membukakan pintu untuk Zevira.
Saat bertemu muka dengan Zevira, Cleantha menundukkan kepalanya.
Rasa bersalah menyeruak di kalbunya. Pasalnya, ia merasa sebagai seorang pengkhianat yang telah merebut suami wanita itu.
Cleantha teringat akan janji yang pernah diucapkannya pada Zevira, bahwa dia akan membuat Raja menjauhinya. Namun kenyataan berbicara lain. Ia malah memadu kasih dengan Raja walaupun bukan atas kehendaknya sendiri.
Jika Zevira mengetahui kenyataan itu, pastilah perasaannya akan hancur berkeping-keping.
"Clea, apa kamu sakit? Wajahmu kuyu dan pucat," kata Zevira pura-pura bodoh.
"Aku hanya masuk angin saja, Kak."
"Apa kamu sudah minum obat?"
"Aku cuma butuh istirahat, Kak. Nanti juga akan membaik."
"Kebetulan sekali. Aku ingin mengatakan padamu kalau aku berubah pikiran. Malam ini aku yang akan menghadiri undangan lelang Good Foundation. Aku juga akan mengajak Raja bersamaku. Dengan begitu kamu bisa beristirahat dengan tenang di kamar."
"Apa kamu setuju, Clea?" sambung Zevira memancing reaksi Cleantha.
"Aku setuju, Kak."
"Bagus kalau begitu. Sekarang istirahatlah, aku tidak akan mengganggumu lagi. Aku harus ke salon agar tampil cantik nanti malam," ucap Zevira tersenyum bahagia.
Cleantha mengangguk. Ia segera menutup pintu ketika Zevira sudah berlalu dari kamarnya.
batin Cleantha merasa lega.
Cleantha merebahkan diri di ranjang sambil meletakkan sebelah lengannya di atas kening. Berusaha mengenyahkan kerumitan pikirannya sendiri.
Mulai hari ini, ia sudah membulatkan tekad untuk melawan siapa saja yang bertindak tidak adil terhadapnya, tak terkecuali Raja. Dia tidak akan menjadi gadis lemah yang selalu diremehkan dan dimanfaatkan orang lain.
Biarpun Raja berkuasa dan kaya raya, dia tidak gentar untuk menghadapinya. Dia akan menjadi Cleantha yang baru. Cleantha yang tidak mudah tunduk pada perintah orang lain. Memang sepantasnya ia berhak mengendalikan jalan hidupnya sendiri.
Bila Raja nanti marah besar, ia juga tidak peduli. Pria itu tidak akan bisa merampas apapun darinya karena ia sudah kehilangan segalanya.
...****************...
"Maaf, Tuan, tapi Nyonya menyuruh kedua petugas salon itu pulang. Apa saya perlu memanggil mereka lagi?" lapor Pak Darma melalui telpon.
"Tidak perlu, Pak. Aku yang akan menangani Cleantha."
Raja memijit pelipisnya sendiri. Baru kali ini dia dibuat pusing oleh karakter aneh seorang wanita. Dia tidak mengerti dengan sifat keras kepala dari istri keduanya itu.
Sesungguhnya, ia ingin meminta maaf secara tidak langsung pada Cleantha dengan mengajaknya datang ke undangan Good Foundation. Barangkali gadis itu bisa sedikit terhibur disana.
Raja juga ingin Cleantha tampil sempurna malam ini sebagai pasangannya. Namun entah mengapa gadis itu malah menolak maksud baiknya.
"Dion, aku akan pulang sekarang. Tolong bereskan dokumen-dokumen ini," titah Raja sembari membereskan laptopnya.
"Baik, Tuan."
Tanpa membuang waktu, Raja menuju ke lift khusus CEO. Dia melirik jam tangan mahalnya untuk memeriksa pukul berapa sekarang.
__ADS_1
"Jam lima lewat tiga menit. Aku masih punya waktu untuk membawanya pergi ke salon."
...****************...
"Clea, bangunlah. Kenapa kamu tidur di petang hari begini?" gerutu seorang pria di dekat telinganya.
"Hmmmm," jawab Cleantha setengah sadar.
"Ayo bangun, sebentar lagi kita harus pergi," ucap pria itu sekali lagi.
Cleantha mengerjapkan mata beberapa kali. Kelopak matanya masih ingin terpejam. Andai nyawanya telah pulih sepenuhnya, ingin sekali ia memarahi pria cerewet yang membangunkannya dari mimpi.
Samar-samar, Cleantha melihat wajah tampan Raja tengah memandangnya.
Cleantha terkesiap dan segera memasang mode siaga. Ia tidak akan memperbolehkan Raja menyentuhnya lagi seperti kemarin.
"Anda sudah pulang?" tanya Cleantha sinis.
"Iya. Bersiaplah, kita akan pergi ke undangan lelang," kata Raja menjauh dari Cleantha.
Ia tahu gadis itu masih trauma atas perlakuan buasnya semalam.
"Saya tidak akan pergi, Tuan," tukas Cleantha.
"Kenapa? Apa kamu tidak mau pergi bersamaku? Bukankah kemarin kamu setuju untuk menghadiri acara itu bersama Alvian?"
Cleantha beranjak dari tempat tidur.
Ia terkejut melihat Raja melepas bajunya dengan santai di depan matanya.
Kendatipun ia telah melihat semua bagian tubuh suaminya, pemandangan semacam itu tetap saja membuatnya malu.
"Tanyakan saja pada diri Tuan, kenapa saya tidak mau pergi malam ini. Lagipula saya tidak berminat datang ke acara kalangan atas. Sebelumnya saya setuju ditemani oleh Pak Alvian karena dia pria yang sopan dan penuh pengertian," balas Cleantha ketus.
Ia sengaja memuji Alvian di hadapan Raja agar suaminya itu semakin panas hati. Sekalian saja ia berakting mengagumi Alvian agar Raja cepat menceraikannya.
Raja memalingkan wajahnya dengan ekspresi datar.
"Kalau Alvian yang menemanimu apa kamu tetap akan berangkat?"
"Tidak juga. Saya masih ingat semalam ada orang yang mengatakan kepada saya, sebagus apapun gaun yang saya pakai tidak akan menutupi identitas saya sebagai orang miskin. Saya hanya menuruti nasehat orang itu," sindir Cleantha tajam.
"Jadi karena alasan itu kamu menolak juru make up yang aku kirimkan? Kamu masih tersinggung dengan ucapanku?"
Melihat bibir Cleantha yang mengerucut karena kesal, justru membuat Raja ingin mencium gadis itu. Merasakan lagi bibir lembut nan manis milik istrinya. Namun Raja buru-buru mengalihkan pandangannya.
"Ucapan Tuan memang benar, untuk apa saya tersinggung. Lebih baik Tuan yang bersiap-siap karena Kak Vira akan mengajak Tuan menemaninya ke acara lelang. Mungkin sebentar lagi dia pulang dari salon," jawab Cleantha dingin.
"Kamu semakin pintar adu mulut denganku. Siapa yang mengajarimu?" tanya Raja mendekat pada Cleantha.
Tiba-tiba saja ia merasa kesal karena tidak diacuhkan oleh istrinya itu.
"Tidak ada yang mengajari saya. Saya belajar secara otodidak berdasarkan pengalaman saya bergaul dengan orang arogan," jawab Cleantha menyindir Raja.
Tanpa diduga Cleantha, Raja bergerak cepat dan meraih pinggangnya.
Sudut bibirnya terangkat ke atas membentuk sebuah seringai.
"Kamu pikir dengan bersikap seperti ini kamu bisa menggertakku? Baiklah jika kamu tidak ingin pergi, aku akan mengabulkannya. Aku juga tidak akan pergi kemanapun. Kita akan berdua di kamar ini sepanjang malam."
__ADS_1
BERSAMBUNG