
Rasa mual dan pusing membuat Cleantha enggan menyentuh sarapannya. Ia lebih suka minum teh hangat untuk menenangkan perutnya yang masih bergejolak.
"Nyonya, apa sarapannya tidak enak? Kenapa Anda tidak makan? Kalau perut Anda kosong, Anda bisa muntah lagi," ucap Narti khawatir.
"Aku hanya tidak berselera melihat nasi goreng ini, Mbak. Aku ingin makan sesuatu yang manis," ucap Cleantha.
Melihat makanan yang tersaji di hadapannya, Cleantha merasa ada dorongan tak lazim dalam dirinya.
Ia justru menginginkan makanan lain yang tidak ada di atas nampan itu.
"Nyonya, kalau begitu saya akan menyiapkan makanan yang manis untuk Nyonya. Nyonya mau roti panggang dengan selai cokelat atau pancake dengan saus maple?" tanya Narti mendapatkan ide cemerlang.
Mata Cleantha langsung berbinar mendengar nama makanan yang baru saja disebutkan Narti.
"Saya mau keduanya, Mbak."
"Baik, Nyonya, akan saya beritahukan ke bagian dapur. Tapi Nyonya sebaiknya coba makan dulu beberapa suap supaya perut Nyonya tidak kosong. Kalau perut Nyonya tidak terisi makanan, Nyonya bisa muntah lagi."
"Iya, Mbak Narti, terima kasih."
Sesudah Narti keluar, Raja melangkah masuk ke dalam kamar Cleantha.
Ia melihat Cleantha tampak malas dan tidak berselera untuk menghabiskan makanannya.
"Apa kamu masih mual?" tanya Raja memperhatikan paras cantik Cleantha yang kuyu.
"Masih, Tuan."
Raja bergerak mendekat lalu duduk di tepi tempat tidur. Ia mengulurkan tangannya untuk menyentuh dahi istrinya. Memastikan apakah Cleantha mengalami demam atau tidak.
"Kamu tidak demam. Apa kamu lupa makan saat acara pesta semalam? Kalau aku tahu kamu ditugaskan menjadi penerima tamu, aku tidak akan mengizinkannya," ucap Raja terdengar kesal.
"Bagaimanapun kamu harus makan. Biar aku menyuapimu."
"Tu...an, mau menyuapi saya?" tanya Cleantha tidak percaya.
Tanpa menjawab keraguan Cleantha, Raja mulai menyendokkan nasi goreng dengan hati-hati ke mulut Cleantha.
Tindakan Raja ini menyentuh hingga ke dasar hati Cleantha. Tak disangkanya bila CEO Adhiyaksa Group yang angkuh dan berkuasa, bersedia melakukan hal remeh untuk dirinya.
"Ternyata Tuan Raja sudah berubah. Dia sekarang penuh pengertian dan sabar. Mungkin aku harus memberi kesempatan kedua *untuk pernikahanku. Aku tidak perlu takut pada penilaian orang lain. Sekarang saatnya aku memikirkan kebahagiaanku*,"
gumam Cleantha.
"Tuan," kata Cleantha memandang Raja.
"Ada apa? Apa kamu tidak ingin makan lagi?" tanya Raja balas menatap Cleantha.
"Bukan, saya ingin memberitahu soal keputusan saya."
Tiba-tiba saja pintu kamar terbuka. Cleantha menghentikan kalimatnya karena melihat Narti tergopoh-gopoh masuk. Pelayan itu membawakan nampan berisi makanan yang dipesannya.
Narti pun terkejut karena melihat Raja ada di kamar bersama Cleantha. Apalagi Tuannya itu sedang menyuapi istrinya dengan penuh kasih sayang.
"Ma...af, Tuan. Saya tidak tahu Anda ada disini. Seharusnya saya mengetuk pintu dulu," kata Narti tergagap.
"Tidak apa-apa," jawab Raja.
"Nyonya, ini roti panggang dan pancake yang Nyonya minta. Semoga Nyonya suka. Saya permisi," ucap Narti buru-buru pergi. Ia tidak ingin menjadi obat nyamuk yang mengganggu kemesraan pasangan suami istri itu.
"Tuan, saya tidak mau makan nasi goreng lagi. Saya ingin makan roti panggang saja."
Dengan penuh semangat, Cleantha mencicipi makanan itu. Ekspresinya nampak kegirangan seperti anak kecil yang menikmati permen gulali.
Raja tersenyum sendiri memandang tingkah menggemaskan Cleantha.
__ADS_1
Baru saja istrinya itu enggan menyentuh makanan, kini sikapnya berbalik seratus delapan puluh derajad. Cleantha bahkan menghabiskan kedua makanan manis itu secara bersamaan.
Melihat kelakuan ajaib Cleantha, Raja teringat akan kenangan masa lalunya dengan Zevira.
Kala itu mereka adalah sepasang pengantin baru. Zevira tiba-tiba berubah manja, sering muntah-muntah dan kerapkali meminta makanan manis kepadanya. Dan ternyata ia sedang mengandung putri pertama mereka, Ivyna.
"Apa mungkin Cleantha hamil? Jika benar dia mengandung anakku, aku pasti sangat bahagia. Aku akan memastikan hal ini,"
pikir Raja penuh harap.
"Clea, jika kondisimu sudah lebih baik, mandi dan bersiaplah. Kita akan pergi ke dokter obgyn. Aku akan ke kamarmu satu jam lagi," ucap Raja tiba-tiba.
Cleantha mengerutkan kedua alisnya.
Setahunya dokter obgyn adalah dokter yang khusus menangani ibu hamil dan melahirkan. Lalu kenapa Raja ingin memeriksakan dirinya ke dokter obgyn, bukan ke dokter umum biasa. Sungguh keputusan yang tidak masuk akal.
...****************...
Raja memeluk bahu Cleantha dan membawanya masuk ke dalam ruang tunggu VIP rumah sakit. Beruntung di akhir pekan ada dokter kandungan yang praktek, meskipun jumlah pasiennya dibatasi.
Perlakuan hangat Raja membuat Cleantha berbunga-bunga. Sekarang ia bertambah yakin bila Raja mencintainya, walaupun pria itu tidak menyatakannya secara langsung.
Saat memasuki ruang tunggu, Cleantha melihat empat pasang suami istri sedang duduk berdampingan. Dua wanita di antaranya perutnya telah membuncit. Menandakan bahwa mereka akan segera melahirkan seorang bayi ke dunia.
Suami mereka tampak begitu perhatian. Bahkan ada yang sedang memijat tangan istrinya untuk mengurangi rasa pegal.
Pemandangan tersebut membuat Cleantha menjadi iri. Ia juga ingin diperlakukan semanis itu oleh Raja seandainya nanti ia benar mengandung.
Namun Cleantha buru-buru menepis keinginannya itu. Ia justru was-was membayangkan hadirnya anak dalam pernikahannya.
Pasalnya di usianya saat ini, dia merasa belum mampu menjadi seorang ibu. Hidupnya sendiri masih kacau balau. Dia juga memiliki tanggung jawab besar untuk merawat ayahnya.
Sementara di meja perawat, Raja mendaftarkan ulang Cleantha untuk melakukan pemeriksaan dengan dokter Kartika.
"Kita periksa berat badan dan tekanan darah dulu, Nyonya."
"Nyonya, silakan tunggu sebentar. Setelah pasien yang di dalam keluar, Nyonya bisa masuk," ucap perawat itu.
Karena menjadi pasien khusus VIP, Cleantha tidak perlu mengantri lama seperti pasien lain.
"Clea, apa kamu ingin minum atau makan sesuatu?" tanya Raja mencemaskan Cleantha.
"Tidak, Tuan. Saya masih kenyang karena sarapan terlalu banyak tadi," jawab Cleantha menyandarkan kepalanya pada sandaran kursi.
"Kalau kamu pusing atau mual, bilang saja padaku."
"Iya, Tuan."
Tak lama berselang, perawat datang untuk memanggil Cleantha.
"Nyonya Cleantha Adhiyaksa, mari masuk. Dokter Kartika sudah menunggu," kata perawat itu mempersilakan Cleantha dan Raja mengikutinya.
Saat Cleantha masuk, dokter Kartika menyapa dengan ramah.
"Selamat pagi, Bapak dan Ibu Adhiyaksa. Silakan duduk."
"Selamat pagi, dokter," jawab Raja.
Dokter Kartika memandang Cleantha sambil tersenyum.
"Ibu, ada keluhan apa?"
"Saya sejak kemarin muntah-muntah dokter. Kepala saya juga pusing dan badan saya mudah lelah," keluh Cleantha.
"Saya ingin memastikan apakah istri saya hamil, Dok," sahut Raja berterus terang.
__ADS_1
Senyuman tersungging di bibir dokter Kartika.
"Baik, Pak, kita akan melakukan USG pada Ibu Cleantha."
Dokter Kartika beralih memandang Cleantha.
"Ibu Cleantha, kapan terakhir Anda datang bulan?"
Cleantha terhenyak mendengar pertanyaan dokter Kartika. Ia baru sadar bahwa bulan ini ia belum mengalami menstruasi sama sekali..Seharusnya ia menyadari keganjilan itu lebih awal dan melakukan suatu pencegahan.
"Seingat saya sekitar tanggal tiga bulan lalu, Dokter," jawab Cleantha.
"Baik, silakan berbaring. Kita akan melakukan USG transvaginal untuk memastikan kehamilan Ibu," ucap dokter Kartika.
Perawat segera maju untuk membantu Cleantha berbaring. Sedangkan dokter Kartika menyiapkan alat USG yang akan dipakainya.
"Ibu, jangan tegang, rileks saja supaya tidak sakit. Saya akan memasukkan alat USG pelan-pelan."
Cleantha bergidik ngeri ketika melihat sebuah benda asing akan dimasukkan ke bawah tubuhnya yang sensitif. Maklum saja, ini adalah pengalaman pertama kali baginya.
Cleantha menatap Raja, seolah meminta pertolongan dari suaminya itu.
Melihat raut wajah Cleantha yang ketakutan, Raja mendekat untuk memberikan dukungan.
"Tenanglah, Clea, ini cuma sebentar. Aku ada disini menemanimu."
"Benar, Ibu, tetap rileks."
Dokter Kartika pun memasukkan alat USG untuk mengecek kehamilan Cleantha.
Tubuh Cleantha menggeliat, menahan rasa nyeri. Namun tak ada pilihan selain pasrah menjalani prosedur pemeriksaan tersebut.
"Wah, selamat Bapak dan Ibu. Usia kandungan Ibu sudah lima minggu. Ini dia letak janinnya."
Cleantha memandang layar monitor dengan perasaan haru. Ingin sekali ia menitikkan air mata. Tak diduganya jika kini sebuah kehidupan sedang berkembang di dalam rahimnya.
Walaupun merasa belum siap secara mental, namun ia tetap bersyukur atas anugerah yang diberikan Yang Maha Kuasa.
Mata Raja berbinar bahagia, ketika menatap calon bayinya yang dikandung Cleantha. Sudah lama ia tidak mengalami perasaan seindah ini. Terakhir kali ia merasakannya adalah enam tahun lalu ketika Ivyna akan hadir ke dunia.
Kini ia akan mendapatkan keajaiban yang telah lama dinantikannya dari Cleantha. Dan yang pasti bayi mungil ini akan menjadi pemersatu hubungan mereka berdua.
Setelah dokter Kartika mengeluarkan alat USGnya, perawat menolong Cleantha untuk bangun.
"Pak, saya akan memberikan asam folat dan suplemen kalsium untuk Ibu Cleantha. Karena tekanan darah ibu Cleantha rendah, saya juga akan memberikan vitamin tambahan."
Sambil menuliskan resep, dokter Kartika memberikan saran pada Cleantha.
"Ibu, mulai sekarang harus cukup istirahat. Makan makanan bergizi dan hindari stres."
"Baik, Dok," jawab Cleantha mengangguk.
"Bapak, ini resepnya," ucap dokter Kartika menyerahkan selembar kertas putih berbentuk persegi panjang pada Raja.
"Terima kasih, Dokter. Kami permisi," kata Raja mohon diri.
Raja menggandeng tangan Cleantha keluar dari ruang pemeriksaan. Mereka menuju bagian pengambilan obat lalu bergegas keluar dari rumah sakit.
"Clea, kamu harus banyak istirahat. Mulai besok Senin, kamu tidak boleh bekerja lagi. Tinggal saja di rumah," ucap Raja sesudah mereka berada di dalam mobil.
"Tapi Tuan, saya butuh pekerjaan untuk..."
"Turuti saja kata-kataku. Aku yang akan memenuhi semua kebutuhanmu dan keluargamu. Setelah kita sampai di rumah, aku akan menghubungi Tuan Mateo untuk membatalkan perceraian kita. Kita tidak boleh berpisah karena kita akan memiliki anak," ucap Raja bersungguh-sungguh.
Suara Raja mulai melembut. Tiba-tiba saja ia mencium kening Cleantha.
__ADS_1
"Clea, terima kasih karena memberiku kebahagiaan ini," ucap Raja.
BERSAMBUNG