
Di dalam taksi, tidak seuntai kata pun yang terucap dari bibir Cleantha. Ia hanya menatap ke luar jendela mobil sembari meremas tangannya sendiri. Berharap kesedihannya akan segera berlalu.
Jika dulu ia bisa hidup tanpa Raja, sekarang pun pasti bisa. Prioritas utamanya saat ini adalah kariernya dan juga kesembuhan ayahnya.
Keyla memandang ke arah adiknya yang tampak rapuh dan terguncang.
"Clea, tidak perlu sedih dengan perceraianmu. Keputusanmu itu sudah benar. Kamu masih muda. Jalanmu masih panjang untuk bertemu dengan pria lain. Yang penting jodohmu nanti harus pria yang belum memiliki pasangan."
Cleantha menoleh kepada Keyla. Tatapan matanya menunjukkan bahwa ia meragukan perkataan kakaknya itu.
"Aku sedang tidak ingin membahas soal jodoh, Kak. Lagipula siapa pria yang mau menerimaku? Aku hanyalah seorang janda, bekas istri kedua."
Keyla memegang bahu adiknya. Ia merasakan tubuh mungil Cleantha sedang gemetaran. Barangkali adiknya terlanjur mencintai Raja Adhiyaksa, hingga merasa patah hati saat harus berpisah dari lelaki itu.
"Siapa bilang janda muda tidak bisa menikah lagi? Banyak pria di luar sana yang justru lebih menyukai janda daripada gadis perawan. Apalagi kamu belum memiliki anak. Peluangmu masih besar untuk mendapatkan pria baru."
Keyla memicingkan matanya.
"Jika Tuan Raja sungguh mencintaimu, dia pasti akan mengejarmu lalu menceraikan istri pertamanya. Buktinya dia tidak melakukan apa-apa. Itu artinya dia hanya menganggapmu sebagai penghangat ranjang, tidak lebih dari itu. Jadi lupakan saja pria yang mendua hati seperti Tuan Raja."
"Iya, Kak," jawab Cleantha pasrah.
"Aku juga sudah menyuruh Suster Novi pulang. Aku tidak ingin kita berhutang budi lagi pada Tuan Raja. Sekarang hapus air matamu dan mulailah hidup yang baru," kata Keyla menyemangati adiknya.
Setibanya di rumah, Ana langsung mengomeli Cleantha. Gayanya masih seperti dulu, pura-pura menjadi orangtua yang menjadi korban ketidakadilan.
"Clea, dari mana saja kamu? Sebenarnya apa yang kamu perbuat pada Tuan Raja sampai Suster Novi harus pergi dari sini? Kalau dia tidak ada, Tante yang harus menderita. Setiap hari mengurusi ayahmu, memasak, membersihkan rumah. Tante sudah tua tapi malah dijadikan pembantu di rumah ini. Apa kamu tidak punya belas kasihan pada Tante?" cerocos Ana.
Cleantha enggan menjawab omelan Ana. Ia hanya berjalan lurus ke kamar ayahnya.
"Kebiasaan si Cleantha itu. Tidak pernah menghormati orangtua," gerutu Ana sebal.
"Dengar ya, Tante. Tante seharusnya bersyukur masih bisa tinggal dan makan gratis disini. Aku dan Cleantha bekerja di kantor, sedangkan Tante hanya menganggur saja di rumah. Sudah kewajiban Tante untuk mengurusi Ayah karena dia suami Tante. Tidak perlu mendramatisir keadaan. Lebih baik Tante tidur sekarang," tegas Keyla meninggalkan Ana.
Ana hanya bisa melotot mendengar sindiran tajam Keyla. Sebenarnya ia kesal pada kedua anak tirinya itu. Sayangnya tidak dapat dipungkiri bahwa ia bergantung secara finansial pada mereka. Mau tak mau, ia harus mengalah pada kedua gadis itu untuk sementara waktu.
Cleantha membuka pintu perlahan dan masuk ke kamar ayahnya. Melihat ayahnya tertidur lelap, Cleantha tidak tega untuk membangunkannya.
__ADS_1
Rasanya ingin sekali ia berbaring di pangkuan ayahnya sambil menangis. Berkeluh kesah dan menumpahkan kesedihannya. Namun ia tidak boleh menambah beban bagi ayahnya. Lelaki setengah baya itu sudah cukup menderita melawan penyakitnya. Biarlah beban ini dia tanggung sendiri. Betapapun terasa berat, waktulah yang akan menyembuhkan segalanya.
...****************...
Pak Darma mempersilakan seorang pria berjas hitam masuk ke ruang kerja Raja.
"Permisi, Tuan Raja," kata pria itu membungkukkan badan.
"Silakan duduk, Tuan Mateo," ucap Raja kepada pria berusia lima puluhan awal itu.
"Saya memanggil Anda kesini untuk mengurus perceraian saya dengan istri kedua saya, Cleantha Hastomo," terang Raja sembari menyerahkan surat perjanjian pranikah yang pernah ditandatangani oleh Cleantha.
Tuan Mateo menerima berkas itu lalu membacanya dengan teliti.
"Tuan, pernikahan Anda baru akan berakhir tahun depan. Kenapa Anda ingin mempercepat perceraiannya sekarang?"
"Karena tadi malam saya sudah mengucapkan talak kepada Cleantha. Jadi saya mau prosesnya dipercepat secara hukum. Lagipula Cleantha sudah menyetujuinya. Tidak ada pembagian harta dan saya juga tidak akan hadir di persidangan. Seharusnya perceraian bisa diputuskan dengan cepat. Berapa lama waktu yang Anda butuhkan?" tanya Raja.
"Jika Nyonya Cleantha juga tidak hadir di persidangan, sekitar tiga bulan prosesnya bisa selesai, Tuan."
"Baik, Tuan Raja. Akan saya siapkan sesuai permintaan Anda," ucap pengacara itu undur diri.
Raja mengantarkan Tuan Mateo keluar dari ruang kerjanya. Namun di depan pintu, ia berpapasan dengan Zevira.
"Raja, kenapa kamu memanggil Tuan Mateo? Dan dimana Cleantha? Aku tidak melihatnya pagi ini. Padahal kemarin malam aku melihatnya pulang ke rumah," tanya Zevira pura-pura bodoh.
Raja mendesah panjang sambil melayangkan pandangan sedingin es kepada Zevira.
"Aku muak dengan sandiwaramu, Vira. Kamu pasti sudah tahu kalau aku dan Cleantha telah berpisah. Aku memanggil Tuan Mateo untuk mengurus perceraianku. Tapi jangan senang dulu, karena setelah perceraian ini aku tidak akan pernah kembali padamu. Mungkin juga aku akan menikahi wanita lain atau mencari kekasih. Tidak ada hal yang tidak bisa kulakukan," ucap Raja hendak berjalan pergi.
Zevira menahan tangan suaminya itu, seakan tidak percaya pada apa yang barusan didengarnya.
"Raja, kamu masih ingin menikah lagi? Apa tidak cukup denganku saja? Aku akan mengabdikan hidupku untukmu dan Ivyna."
Raja memalingkan wajahnya dan menatap Zevira penuh kebencian.
"Kamu pikir aku ini bodoh dan tidak mengetahui perbuatanmu? Tidak mungkin Fendi tiba-tiba menjebak Alvian dan Cleantha tanpa alasan. Aku akan memaksanya mengaku siapa yang menyuruhnya. Kalau ternyata kamu dalangnya, maka aku pasti menceraikanmu dan mengusirmu dari sini. Nasibmu akan sama saja dengan Cleantha. Aku tidak peduli lagi dengan keadaanmu yang cacat maupun statusmu sebagai ibu putriku," ancam Raja.
__ADS_1
"Raja, aku tidak mengerti apa maksudmu. Aku kesini untuk menghiburmu, tapi kamu malah menuduhku. Aku masih sangat mencintaimu. Aku bahkan rela diduakan olehmu selama ini demi menebus kesalahanku. Keinginanku hanya satu yaitu menjaga keutuhan rumah tangga kita," ucap Zevira dengan suara bergetar.
Raja menghempaskan tangannya dan berlalu meninggalkan Zevira tanpa bicara.
Bulir air mata membasahi pipi Zevira. Harapannya untuk bersatu dengan Raja pupus sudah. Semua jerih payahnya menyingkirkan Cleantha ternyata tidak mampu membuat Raja kembali padanya.
"Kamu keterlaluan Raja! Berapapun wanita yang akan kamu nikahi, aku bersumpah akan menyingkirkannya,"
gumam Zevira merasa tersakiti.
...****************...
Cleantha mendorong kursi roda ayahnya untuk mengajaknya berjalan-jalan di sore hari. Ia mengisi akhir pekannya dengan menemani sang ayah sepanjang waktu.
Wajah Tuan Sigit tampak berseri. Ia bahagia karena Cleantha mengatakan akan tinggal selamanya di rumah seperti dulu.
"Ayah, minggu depan aku akan mengajak Ayah ke tempat wisata? Ayah perlu menghirup udara segar langsung dari alam. Apa Ayah mau?" tanya Cleantha.
Tuan Sigit mengangguk senang. Ia memang sudah lama tidak bepergian ke luar rumah. Dan kini karena Cleantha sudah kembali, ia bersemangat lagi untuk menjalani kehidupannya.
"Sebentar Ayah, ada telpon masuk," ucap Cleantha mengambil ponselnya dari dalam tas selempang.
"Selamat sore, maaf ini dengan siapa?" tanya Cleantha.
Terdengar suara berat seorang pria dari balik telpon.
"Sore, Nyonya Cleantha. Saya Mateo, pengacara Tuan Raja Adhiyaksa. Apa Nyonya punya waktu hari ini? Saya ingin membicarakan soal perceraian Nyonya dengan Tuan Raja."
Sejenak Cleantha terkesiap. Tak disangkanya Raja bertindak secepat itu untuk mengurus perceraian mereka. Nampaknya apa yang dikatakan Keyla memang benar, bahwa ia harus menghapuskan Raja dari pikirannya.
"Bisa, Tuan. Tapi jangan menemui saya di rumah. Sebutkan saja dimana tempatnya, saya akan segera menemui Anda."
"Saya menunggu kedatangan Nyonya satu jam lagi di restoran Steak Youth. Saya akan mengirimkan foto saya ke ponsel Nyonya, supaya Nyonya tidak kebingungan mencari saya disana."
"Baik, Tuan, terima kasih," ucap Cleantha.
BERSAMBUNG
__ADS_1