
Cleantha berusaha makan dengan cepat supaya tidak terlalu lama berada di restoran.
"Mbak, tolong billnya," kata Raja memanggil pelayan.
Pelayan restoran pun menyerahkan tagihan kepada Raja.
"Tuan, biar saya yang membayar tagihan makanan saya," kata Cleantha.
"Aku yang akan membayarnya dulu supaya kita bisa segera pulang. Sekalian aku harus menjemput Ivyna di rumahmu," jawab Raja.
Ia merasa kesal karena sikap Cleantha yang terlalu berlebihan. Seakan wanita itu tidak ingin menerima kebaikannya barang sedikitpun.
Mereka kembali saling berdiam diri hingga tiba di rumah Cleantha.
"Oh, kalian pulang bersama?" tanya Ny. Marina melihat Raja mengantarkan Cleantha.
"Aku mau menjemput Ivyna, Ma. Kata Papa Bayu dia ada disini."
"Itu Ivy ada di ruang tengah sedang menonton film," kata Ny. Marina memberitahu Raja.
"Ma, apa Almero sudah tidur?" tanya Cleantha kepada ibu mertuanya.
"Iya, dia baru saja tertidur sekitar sepuluh menit yang lalu."
"Kalau begitu aku ke atas dulu, Ma. Aku mau istirahat. Ivy, Mommy Clea ke kamar ya," ucap Cleantha menyentuh ringan pipi Ivyna.
"Iya, Mommy. Good night."
Cleantha menaiki anak tangga, meninggalkan Ivyna, Raja, dan Ny. Marina di lantai bawah.
Melihat sikap dingin Cleantha, Raja buru-buru mengajak putrinya meninggalkan rumah itu.
"Ivy, ayo kita pulang."
"Dad, apa bisa aku menginap disini? Just for today. Di rumah aku merasa bosan," rengek Ivyna.
"Jangan Ivy, nanti kita mengganggu Almero dan mommynya."
"Tapi, Daddy, aku senang berada di rumah Mommy Clea. Mommy Clea adalah mommyku juga. Dia tidak akan marah kalau aku tinggal disini."
"Ivy, Stop it! Turuti perkataan Daddy. Kita pulang sekarang," kata Raja memaksa putrinya.
"Raja, biarkan saja Ivy menginap disini. Clea tidak akan keberatan. Kamu juga bisa menemani Ivy tidur di kamar tamu," ucap Ny. Marina mendukung keinginan Ivyna.
"Maaf, Ma. Aku lebih nyaman tidur di rumahku sendiri. Aku tidak mau merepotkan Cleantha. Selamat malam, Ma."
Setelah berpamitan, Raja membawa Ivyna keluar dari rumah Cleantha. Ia tidak mempedulikan rengekan Ivyna yang merasa enggan untuk pulang ke rumahnya sendiri.
Sebenarnya Raja bukan marah pada putrinya, tapi dia merasa patah arang menghadapi Cleantha. Sikap wanita itu sulit ditebak. Kadang ia ramah dan bersahabat namun dalam sekejap berubah dingin dan acuh tak acuh.
"Aku tidak boleh membiarkan Ivyna terlalu dekat dengan kehidupan Almero dan Cleantha. Itu hanya akan membuatnya berharap yang tidak-tidak. Apalagi dia masih menganggap Clea sebagai ibunya,"
__ADS_1
gumam Raja sembari menggandeng tangan Ivyna.
Ny. Marina geleng-geleng kepala melihat tingkah laku Cleantha dan Raja. Dengan sikap mereka yang saling menjauh, mustahil mereka bisa dipersatukan lagi dalam ikatan pernikahan. Jika terus seperti ini, Raja bisa memilih wanita lain untuk dijadikan istrinya. Dan itu berarti persatuan di dalam keluarga Adhiyaksa tidak akan terwujud.
Untuk menghilangkan rasa gundahnya, Ny. Marina masuk ke dalam kamar lalu menghubungi Tuan Bayu.
"Malam, Bayu, apa kamu sudah tidur?"
"Belum, Marina, aku sedang membaca buku. Apa terjadi sesuatu sehingga kamu menelponku malam-malam begini?"
"Aku hanya ingin meminta pendapatmu soal Cleantha dan Raja."
"Ada apa? Bukankah mereka berdua semakin dekat karena Ivyna dan Almero?"
"Tidak, Bayu, justru mereka saling menjaga jarak. Aku bisa melihat itu dari gestur tubuh serta perkataan mereka. Aku tidak tahu harus berbuat apa lagi. Mungkin sebaiknya kita batalkan saja rencana untuk menjodohkan Cleantha dan Raja."
"Marina, jangan menyerah semudah ini. Kita perlu bersabar untuk menunggu perkembangan hubungan mereka."
Tuan Bayu berpikir sejenak lalu meneruskan ucapannya.
"Aku punya rencana untuk membuat mereka bersama."
"Rencana apa, Bayu?"
"Kita akan membujuk Ivyna dan Almero untuk mengajak kedua orang tuanya liburan di akhir pekan. Kita berdua juga harus ikut untuk meyakinkan mereka. Bagaimana menurutmu?"
"Tapi kita akan berlibur kemana?"
"Ke vilanya Raja. Raja memiliki vila di dekat pegunungan. Udaranya sejuk, cocok sekali untuk melepas lelah."
...****************...
Cleantha merasa lega sesudah melewati meeting selama tiga jam dengan Tuan Kenny dan Bu Devi. Mereka nampak puas mendengarkan penjelasan Cleantha mengenai kondisi keuangan Adhiyaksa Group. Di samping itu, Raja juga memberikan bantuan kepadanya.
Selesai meeting, Cleantha kembali ke ruangannya sendiri untuk menenangkan diri.
Ia melihat sebuah undangan berwarna emas diletakkan di atas mejanya.
"Undangan pernikahan siapa ini? Aku akan menanyakannya pada Ryan,"
batin Cleantha sambil menekan tombol interkom.
"Selamat sore, Bu?" sapa Ryan.
"Sore, Ryan, apa kamu yang meletakkan undangan di mejaku?"
"Iya, Bu, itu undangan pernikahan putra pemilik Dewantara Group, Tuan Hadinata. Tuan Hadinata adalah mantan relasi bisnis Tuan Wijaya. Beliau juga sangat akrab dengan Tuan Alvian dan Tuan Raja. Dia mengirimkan dua undangan. Satu untuk Tuan Raja dan satu lagi untuk Bu Cleantha."
"Baik, Ryan, terima kasih," ucap Cleantha menutup telponnya.
Cleantha membaca isi undangan itu dengan seksama. Sejujurnya ia tidak ingin menghadiri pesta apapun. Namun mengingat Alvian dekat dengan Tuan Hadinata, mau tidak mau ia harus memenuhi undangan itu.
__ADS_1
"Undangannya masih minggu depan. Aku akan mengajak Mama Marina untuk datang ke resepsi pernikahan. Hari ini aku akan pulang tepat waktu supaya bisa menemani Almero belajar,"
pikir Cleantha menyimpan undangan tersebut di laci mejanya.
...****************...
"Mom, can I go with Ivyna on Saturday?" tanya Almero saat makan malam.
"Where do you want to go?"
"I want to go to the mountain," jawab Almero polos.
"Mountain? Are you sure?" tanya Cleantha tercengang.
Melihat ekspresi terkejut Cleantha, Ny. Marina segera memberikan penjelasan.
"Tadi Bayu dan Ivyna mengajak kita berlibur selama dua hari di vilanya Raja. Lokasinya dekat dengan pegunungan. Mama setuju karena Mama rasa Almero membutuhkan hiburan. Sejak Daddynya tiada, Almero jarang sekali keluar rumah. Liburan kali ini pasti akan membuatnya ceria."
Mendengar tentang vila di pegunungan, seketika memori lama Cleantha terputar kembali.
Vila itu adalah tempatnya menghabiskan bulan madu bersama Raja. Banyak kenangan yang tersimpan disana, termasuk saat Raja menggendongnya untuk pertama kali. Sungguh ia tidak ingin menjejakkan kaki di vila itu. Baginya yang perlu diingat hanyalah cintanya bersama Alvian.
"Ma, aku tidak bisa mengizinkan Almero berlibur kesana. Vila itu dikelilingi hutan, tidak cocok untuk anak-anak. Lebih baik aku mengajak Almero bermain ke jungle park," tolak Cleantha.
"Come on, Mommy. I want to go there," ucap Almero merajuk.
"Clea, jangan khawatir. Disana nanti ada Mama, Bayu, dan Raja. Kami semua bisa membantumu menjaga Almero. Lagipula Mama terlanjur mengatakan iya pada Bayu."
Almero menelusupkan kepalanya dengan manja di pelukan Cleantha.
"Please, Mommy..."
"Okay, Honey. We will go there," jawab Clea terpaksa mengalah demi kebahagiaan putra kecilnya.
...****************...
Raja masuk ke dalam kamar Ivyna untuk memeriksa apakah putrinya itu sudah tidur. Ia keheranan melihat Ivyna masih membaca komik kesukaannya.
"Ivy, hari ini kamu tidak main ke rumah Almero?"
"Aku kesana, Daddy. Tapi aku pulang cepat karena ingin meminta sesuatu pada Daddy."
"Apa itu, Sayang?" tanya Raja penasaran.
Ivyna beringsut mendekati Raja. Matanya membentuk puppy eyes agar Daddynya bersedia mengabulkan permintaannya.
"Daddy, Sabtu nanti aku mau mengajak Almero, Grandma, dan Mommy Clea ke vila kita di pegunungan. Boleh kan, Daddy? Grandpa juga sudah menyetujuinya."
Raja menautkan alisnya sehingga membentuk satu garis lurus.
"Kenapa mendadak Ivyna minta berlibur ke vila? Vila itu adalah tempat bulan maduku bersama Cleantha. Kalau aku kesana, aku akan teringat lagi semua kenangan masa lalu,"
__ADS_1
pikir Raja merasa gundah.
BERSAMBUNG